BAB 64

862 Kata

“Gue perhatiin lo jarang pake kutek,” kata Janied seperti sebuah kesimpulan dari dirinya sendiri. Refleks Saima melihat kuku tangannya yang bersih, tidak ada warna apa pun di sana. “Tapi gue pernah pake kutek.” “Iya, tapi jarang, kan?” “Males beresinnya lagi kalau kuteknya mulai kelupas.” Saima menjawab. “Tapi kuku gue selalu bersih.” “Harus.” Melihat tatapan Janied, Saima jadi curiga. “Apa yanga da di pikiran lo?” Janied nyengir, sebab Saima menyadarinya. “Kalau lo ingin memuaskan diri lo sendiri—“ “Oke, stop.” Saima menutup kedua telinganya. “—kuku lo harus bersih.” Namun Janied meneruskan, membuat Saima meringis nyaris mengumpat. Janied tertawa. “Gue bercanda terus, ya?” “Iya. Annoying.” Saima langsung memberi tahu Janied. “Jari-jari gue lebih enak, Sai.” Saima hanya bisa mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN