“Apa lo berpikir untuk jadi volunteer di negara lainnya setelah ini?” Saima mendengar pertanyaan yang terlontar dan menatap pria itu, Janied Elang Hartono, teman seumur hidupnya. Mereka berdua sudah duduk berhadapan ketika beberapa menit lalu Janied selesai mencuci rambut Saima. Kini mereka berdua berendam dengan segelas jus jeruk di tangan mereka sebab terlalu pagi untuk wine. “Gue gak tahu.” Saima menaikkan bahunya ke atas. “Gue pergi ke Edin aja belum.” “Jadi belum ada rencana?” Janied balas menatap Saima dengan posisi punggungnya bersandar pada pinggiran bathtub. “Belum.” Saima menggeleng. “Pernah berpikir ke Antartika?” Kening Saima mengerut mendengar pertanyaan Janied. “Lo mau gue beku di sana?” “Kayanya seru liat pinguin dari deket.” “Di sana dingin banget, Janied. Lagian ad

