“Mau mandi bareng gak?” Entah hanya Saima saja, atau ia merasakan pertanyaan dari Janied itu membuat telinganya semakin memerah. Pasti, wajahnya juga lebih memerah melebihi apel-apel yang siap dipetik dari pohonnya. Hanya saja Saima takut ia tidak terjatuh ke tanah seperti apel yang lain, melainkan jatuh ke tubuh tegap Janied jika ia setuju untuk mandi bersama. Sepertinya Janied menyadari perubahan sikap Saima, sehingga pria itu menaikan sebelah alisnya. “Apa lo udah berfantasi hal nakal?” lalu Janied menaruh tangannya yang terkepal di dedap bibirnya yang menahan tawa. “Mandi bareng di pikiran lo seperti apa, Saima?” “Seperti apa? Ya mandi, biasa,” Saima tidak suka tertangkap basah oleh Janied bahwa beberapa detik lalu ia memikirkan tubuh setengah telanj*ng milik Janied. Meski sekarang

