"Kamu ngapain didepan pintu kamar bolak balik nggak jelas kayak gitu". Tanya ibu heran
"Astagfirullah ibu ngagetin aja. nggak buk aku hanya lagi olahraga kok buk."
"Olahraga kok depan pintu kamar. Kamu takut mau masuk nak? kamu takut kalau suami kamu minta haknya sebagai suami?".
"Ibu seperti cenayang bisa tahu apa yang ada dipikiran ku buk. Embun belum siap buk." kataku sambil menundukkan kepala
"Embun, sekarang kamu adalah seorang istri sejatinya seorang istri harus berbakti dan melayani suami. Itu sudah menjadi tugas seorang istri. Jadi kamu harus ikhlas ya nak."
"ibuk, aku belum siap bu.."
hiksss,hikksss,hiksss
" Kamu akan berdosa jika kamu tidak memberikan hak suami kamu. Sekarang kamu adalah milik suami kamu."
kata ibuku
"Aku harus gimana buk"
" berikan apa yang sudah menjadi kewajiban. Pergilah jangan buat suamimu menunggu." ucap ibu sambil mengelap air mataku
"Masuklah, tapi sebelum masuk perbaiki wajahmu yang jelek jadi tamba jelek heheheh." Canda ibu
****
Setelah aku membasuh wajahku aku kembali kedepan pintu kamarku. Aku meyakinkan hatiku untuk masuk kedalam kamar.
"Kamu pasti bisa Embun" Gumamku lirih
Ceklek
saat membuka pintu kamar aku terkejut bukan main kamarku yang sempit itu disulap menjadi kamar seorang princess dalam waktu 2 jam saja.
"Hebat banget kekuatan duit." batinku
Aku masuk tidak lupa mengunci pintu kamar. Terpaksa mencari keberadaan om-om tampan yang sayangnya sekarang sudah menjadi suami aku.
"Gila,, keren banget kelihatan ya ni om-om kalau dilihat sambil kerja kayak gini." batinku
"Kenapa kamu liatin saya. Apa kamu tidak pengen tidur?".
Perasaan gugup yang sudah hilang kembali lagi bahkan ini lebih parah dari sebelumnya.
"I.ii.iya aku mau tidur kok om eh mas. Aku mau ganti baju tidur dulu mas." ucapku sambil mencari keberadaan kamar
Ternyata lemari yang di beli tadi karena tidak memungkinkan kamar yang begitu kecil membawa masuk lemari segitu gedenya.
***
"Duh gue mesti gimana dong nih, aku gugup banget." gumamku
Aku mengganti piyama warna cokelat dengan celana pendek selutut baju yang dijual di pasar dengan harga 50rbu. Tetapi tidak bisa menyembunyikan aura kecantikanku walau tanpa make up sekalipun aku terlihat sangat imut malam itu.
***
Om bara tidak mengetahui aku sudah berada disampingnya pada saat aku akan naik secara perlahan di atas kasur om Bara melirikku
Dia tertegun melihatku malam itu om Bara meneguk Salivanya saat melihatku.
"Mas Ada apa. Ada yang aneh dengan pakaianku?". Tanyaku padanya
" Nggak kamu cantik malam ini. Apa kita akan segera tidur malam ini?." Kata om Bara
"I.ii.iya mas aku sudah sangat kelelahan," Jawabku gugup tanpa menjawab pujiannya
"Aduhh,, gimana nihh apalah malam ini saatnya aku.... aaarrrggghhhh aku belum siap buk." Jerit Batinku
"Iya udah ayo kita tidur, kenapa malah bengong disitu ayo naik sini " Kata om itu tanpa rasa merasa bersalah
"ba,baa.ik ." Aku semakin gugup serasa rasanya kakiku sudah tidak menopang badanku.
setelah aku naik di atas tempat tidur kami sama-sama terdiam.
"Tidurlah, malam ini saya tidak akan meminta hakku saya akan menunggumu siap lahir batin menjadi istri saya."Kata om Bara sambil melihatku
"akhhhhhh, plong rasanya mendengarkannya apa yang." batinku
"Benar mas,, nggak grepe-grepe juga kan?." kataku
"Kenapa kamu bahagia banget, kalau itu saya tidak janji namanya orang tidur tidak tahu apa yang terjadi." Tanya om Bara heran
"hehehe gak kok mas,, dih dasar om-om m***m oops." jawabku keceplosan
"m***m sama istri sendiri kan gak salah, sudah ayo kita tidur sebelum saya berubah pikiran dan meminta hak sat sekarang." Kata tegas om Bara
Tanpa berpikir 2 kali aku langsung tidur dan menyelimuti badanku. Om Bara senyum melihat kelakuanku.
"Selamat tidur sayang."
cup
Aku melihat om Bara merebahkan badannya di sampingku setelah mengecup keningku.
"arrgghhhh,, udah gak perawan kening gue." batinku
Tidak lama aku mendengar suara dengkur yang kecil menandakan om Bara sudah tidur, baru aku mengantuk dan tidur.
****
Terdengar suara alarm yang aku setel jam 4 pagi Aku terbangun dan mematikan alarm.
"kok aku gak bisa gerak sih". Batinku, Aku melihat ada tangan yang melingkar di perutku
"Ya ampun gila nih om-om udah semalam ambil keperawanan kening gue sekarang malah peluk-peluk lagi."
Aku.menyingkirkan tangan om Bara dengan perlahan-lahan agar om Bara tidak terbangun.
Setelah berhasil aku masuk kamar mandi lalu membersihkan diri kemudian mempersiapkan diri untuk menghadap sang Ilahi.
"Mas,, mas bangun.. ayo kita sholat udah mau lewat waktu sholatnya." kataku
"Mas bangun ayo bangun". lanjutku
"hoaaamm, ada apa sayang?." Kata om bara nasih setengah mengantuk
Akusudah tidak kaget lagi om Bara memanggil sayang. Malah aku senang.
"Apa gue sudah mulai menerima om bara ya??" Batinku
"Mas ayo bangun, kita sholat yuk udah mau habis waktu sholatnya." kataku lagi
"Sholat?."
"Iya sholat subuh udah mau habis waktunya." kataku
Om Bara masih terdiam dengan apa yang aku katakan. belum ada tanda-tanda ia akan bergerak.
"Mas gak sholat?." Tanyaku heran
"Mm,m,m Sholat sayang ya udah saya bersihkan diri dulu." Kata om Bara masih dengan kaku
****
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh."
Hari ini aku sholat sudah menjadi makmum. Kami berdoa dengan khusyuk aku mendengar suara om bara dengan merdu melantunkan doa-doa.
"Amin"
"Amin"
Setelah itu om Bara menengadahkan tangannya padaku aku mencium dengan takzim. Om Bara mencium keningku dengan lama, kemudian ia memelukku.
"Terima Kasih". Katanya
"Terima kasih untuk apa mas?" Tanyaku heran
"Terima kasih karena sudah mengingatkan saya pada tuhan, setelah istri saya meninggal 10 tahun yang lalu saya tersesat, saya melupakan sholat bahkan saya sudah tidak pernah lagi menjalankan kewajiban saya, tapi hari ini saya merasa sudah mendapatkan jalan pulang. Terima kasih sayang." Katanya
Ini perkataan om Bara terpanjang selama aku mengenal om Bara.
"Iya mas mari kita sekarang sama-sama saling mengingatkan ya, jika salah satu dari kita melupakan kewajiban kita." kataku
Om Bara menatap mataku, aku seperti terhipnotis dengan tatapan om Bara. Aku menghapus air matanya yang menetes.
cupp
Bibir merah om Bara menempel di bibir merahku. aku melotot merasa tidak ada respon dariku Om Bara semakin memperdalam ciuman. Aku hendak melepaskan ciuman kami tapi Om Bara memegang tengkuk leherku dan memaksa lidahnya mau masuk.
Aku mengingat apa kata ibu semalam. Akhirnya aku membiarkan apa yang Om Bara melakukan apa yang dia mau, Aku membuka mulutku dan membiarkan lidah om Bara mengabsen gigiku, dan aku mulai mengikuti apa yang om Bara lakukan aku mulai terhanyut dalam ciuman om Bara.
Akhhh
Terdengar desahan keluar dari mulutku, om Bara menghentikan ciuman kami dan menyatukan kening kami. Aku seperti tidak rela om Bara melepaskan ciuman kami.
"Kita harus hentikan jika tidak mas tidak bisa tahan apa yang akan terjadi selanjutnya." katanya dengan hasrat yang sudah tidak tertahan
Aku Mengerti bahwa om Bara sudah menahan hasratnya, sebenarnya aku kasihan tapi aku benar-benar belum siap.
"I.iiya mas, terima kasih sudah mau mengerti denganku. Aku bantu ibu masak siapkan sarapan pagi, Mas mau berangkat pagi ini kan?". kataku untuk mengalihkan kecanggungan
"Iya, mas kembali kota pagi ini. Nanti mas jemput kamu 3 hari lagi. Mas harap pada saat itu kamu sudah menerima pernikahan ini dan mau menjadi istri mas seutuhnya." Jelasnya
Deghhh
"Buset deh ini om-om ya udah buat bibir ini sudah tidak perawan. Sekarang iya minta unboxing lagi aduh gimana nih..."Teriak Batinku
"Insya Allah mas, ya udah aku bantu ibu ya. Mas siap-siap gih. Mau aku buatin Air Hangat buat mandi?"
"Nggak usah mas butuh air dingin pagi ini."
"Tapi mas Airnya dingin banget."
"Udah gak apa-apa, mas butuh kok." kata om Bara
"Tapi mas,,."
"Udah kamu siapin baju kantor mas, baju yang mas bawa tinggal aja disini." Potong om Bara dan mengusirku
"Baiklah mas."
Aku menyiapkan semua yang dibutuh om Bara di atas kasur kemudian mengisi pakaian om Bara di dalam lemariku yang kecil.
***
"Mas udah selesai belum, makan udah siap, pak Andra juga sudah diluar mas." Kataku yang sudah masuk kembali ke dalam kamar
"Udah siap sayang." katanya santai
"masya allah tampan sekali suamiku, gak seperti laki-laki umur 45 tahun."Batinku
Aku hanya melihat om Bara dengan tatapan terpesona dengan gayanya yang cool.
"hey Sayang, kenapa diam."
"eh gak mas. Udah siap mas."
"iya udah. sayang sini sebentar ada yang mau aku berikan."
Aku mendekat padanya. Dan om Bara memberikan paperbag entah isinya apa lala memberikan kartu yang di keluarkan dari dalam dompetnya
"Itu kartu Buat kamu disitu nanti uang bulanan mas berikan padamu, terus itu kartu kredit gak ada batasnya buat kamu mas berikan padamu." Katanya
iya memberikan kartu ada 3,Warna hitam, emas dan silver. Untuk apa kartu ini kalau tidak bisa digunakan disini.
" Sayang kok bengong?." tanya om Bara
"Mas ambil aja kartunya." Tolakku
"Loh kamu tidak mau sayang itu nafkah mas buat kamu. Ambil aja."
"Mas, percuma kartu-kartu itu gak bisa digunakan disini."
"Oh iya mas lupa. udah kartu kamu simpan aja. Ini mas kasih uang jajan kamu." Kata om Bara yang mengeluarkan uang dari dalam tas kerjanya
"Masya Allah ini beneran uang jajan??" Kagetku
"Kenapa sayang, kurang?"
"Gak mas ini kebanyakan uang jajan apa sebanyak ini?"
"Mas kira kurang. Udah kalau banyak kasih ibu aja lainnya."
"Tapi mas.."
" Udah ambil saja, kamu sekarang istri CEO loh jadi harus biasa dengan uang segini."
"Ayo kita sarapan" ajaknya
"Iya mas, aku simpan dulu uangnya "
Gimana aku tidak syok uangnya ads 3 ikat seikatnya sekitaran 10 juta. Aku saja tidak pernah memegang uang lebih dari 100rbu. Aku menaruh uang itu di laci kamar.
***
"Mas pergi dulu, kamu hati-ati disini. Nanti mas Balik lagi." kata om Bara
Aku merasa om Bara mulai tidak kaku selepas kami berciuman tadi.
"Iya mas bilang pak andra hati-hati dijalan, terus jangan lupa makan sama sholat ya mas."
" Kenapa gue jadi perhatian gini sih." Batinku
" Iya sayang."
ibu sama bapak dan mas Andra yang memperhatikan keromantisan kami hanya bisa melihat sambil senyum-senyum bahkan mereka terkejut dengan panggilan om Bara terhadapku. Mungkin mereka heran secepat itu om Bara mengucapkan sayang.
"Jangan kangen sama embun ya mas hehehe."
"Kalau itu mas gak janji." mencubit pipiku yang tembem
"Jangan cubit-cubit dong mas nanti pipi aku jadi kempes nih." kataku kesal
"hahaha"
"kenapa diketawain sih".
"Kamu lucu sayang. Udah jangan cemberut nanti mas bawain oleh-oleh deh." bujuk om Bara
"Beneran mas??"
" Iya,, mau di bawain apa?".
" Apa aja yang mas berikan Embun terima"
"Baiklah sayang." Sambil mengelus rambutku
"Ehm, ehm Tuan kita harus segera berangkat." interupsi pak Andra
seketika kami melihat sekeliling, kami lupa bahwa disitu tidak hanya kami berdua ternya kami jadi tontonan bapak dan ibu juga dan pak Andra untung para tetangga belum ada yang di halaman rumah.
Aku jadi malu melihat mereka semua mereka hanya senyum-senyum melihat kami
"Ya udah mas pergi dulu sayang."
"Iya mas"
Aku mencium takzim tangan om Bara dan ia mencium keningku.
" Pak, buk saya titip Embun dulu nanti saya kembali mengambilnya". ucapnya
"Iya mas mantu nanti kami jagain Embun kok. Embun juga masih anak kami. Hati di jalan mas mantu." Kata ayah dan ibu hanya tersenyum
"iya Pak kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."
"Walaikum salam." ucap kami serentak
om Bara melihatku sejenak setelah itu ia balik badan dan berjalan kearah mobil dimana pak Andra sudah menunggu samping mobil yang telah terbuka.
Aku melambaikan tangan pada om Bara yang juga melambaikan tangan, setelah mobil tidak terlihat baru aku masuk dalam rumah
***
"Tuan seperti anak Abg yang lagi pacaran aja senyum-senyum tidak jelas. Tuan Bahagia dengan pernikahan ini" Tanya pak Andra.
Tbc