Duarrrrrrrr
"apa-apaan sih om.. gak jelas banget katanya tadi mau pulang sekarang malah mau nginap, terus mau tidur di kamar mana coba, dirumah ini hanya ada 2 kamar. Kalau tidur di kamarku mana muat berduaaaaaaaa." seruku dalam hatiku aku tidak berani menyuarakannya
"Baiklah Mas Mantu aja ya. Kalau begitu kalian tidur di kamar ibu saja. Karena tempat tidur Embun gak cukup buat 2 orang." kata ibu
"ibu seperti cenayang mengerti apa yang aku fikirkan." Batinku
"Itu aja Lebih baik. Nggak usah bu, biar kami tidur di kamar Embun saja." Kata Mas Bara
"gila ya ni om-om masa dia mau tidur di kamar gueee. Gimana kalau gue di grepe-grepe sama dia sih,, sebenarnya kalaupun om Bara minta haknya gak salah juga kita udah halal. Tapi kan gue belum siap" batinku
"Ya udah kalau begitu Embun ajak Mas Mantu kedalam kamar sana." Kata bapak
Mereka seperti sedang mengantarkan anaknya kedalam kandang harimau. Aku menoleh pada Om Bara Tak banyak bicara Karena tidak tahu apa yang harus aku katakan.
Merasa aku tidak merespon apa kata bapak. Om Bara memegang tanganku dan mengajakku pergi ke dalam kamar.
"Kalau begitu Kami berdua masuk kedalam kamar dulu buk pak." Kata om Bara dengan sopan
"Ayo temani mas Kedalam Kamar." kata om Bara lagi
Aku hanya pasrah apa yang akan terjadi sekarang. kayaknya aku harus siap-siap jadi bolong.. "Ya Allah aku belum siap."
***
Om Bara melepaskan tanganku dan kami berdua. duduk canggung di tepi kasur tanpa ada obrolan apapun.
Aku jadi berkeringat dingin di buatnya. Entah apa yang harus aku katakan. Kemudian aku menoleh pada om Bara. Aku melihat om Bara biasa aja bahkan ia dengan asyik memainkan hpnya entah apa yg di lakukan.
"Jam segini toko peralatan masih buka?" Tanya om Bara
"om eh mas nanya aku?" tanyaku balik
"iya emang ada orang lain selain kita berdua dalam kamar ini? " Tanya om dengan sarkas
"Dih,, gitu aja julid". batinku
"Ini masih jam 3, aku rasa masih ada sih.. Tapi di pasar kayaknya. Emang mau beli apa om eh mas?" Tanyaku
Bukannya menjawab om Bara menekan hpnya seperti sedang menelepon seseorang.
Tuutt Tuuttt Tuuutt
"Iya pak ada apa?"
"Saya mau kamu pergi cari dimana saja kasur yang muat 2 orang dan cukup di kamar istriku Dan jangan lupa beli pendingin ruangan. Saya tunggu secepatnya".
deghhh
"Istri, entah bagaimna hatiku sedikit risih om Bara menyebutku istri pada orang lain. Terus mau beli kasur dan AC emang listrik mampu pake AC..Dayanya nggak cukup kali Om." Batinku
"Maaf pak saya boleh bertanya, apa daya dirumah mertua bapak cukup untuk pasang pendinginn Ruangan:"
" Mana aku tahu, itu tugas kamu cari tahu. Cepat saya sudah kelelahan mau istirahat. Saya tunggu 30 menit."
Klikk
"Busett ni om udah nyuruh malah kasih waktu lagi, dia fikir dari sini ke pasar bisa apa hanya 5 menit. terbang kali orang itu. Dasar orang kaya.. Yang penting ada duit main seenaknya nyuruh-nyuruh." Gerutuku dalam hati
"M,,Mm, mm mas mau mandi? Nanti saya siapkan air hangat buat mas mandi." Tanyaku
"Iya,. Aku udah gerah." Katanya
"Baiklah, tunggu sebentar ya mas. Mas Istirahat dulu." Kataku
"Hmmm".
"Dih irit banget." Dumelku
Aku hanya bersyukur dalam kamar ini memiliki di kamar mandinya tapi yah kamar mandi bukan kayak di hotel-hotel loh ya.. Aku beranjak keluar kamar untuk memasak air panas terlebih dahulu.
Aku membawa air yang aku panasi terlebih dahulu. Aku membawa dengan perlahan-lahan. Agar tidak tertumpah mengenai kulitku yang mulus ini. Hanya ini yang bisa aku banggakan kulit mulus,, bersih, halus.
ceklek
"Astaga Embun apa yang kamu bawa itu?"
"Air panas mas, katanya mas mau mandi air hangat disini gak ada yang showernya mas. kalau mau mandi air hangat ya harus masak." kataku
"Mas boleh minta tolong bukain pintu kamar mandinya." Lanjutku
"iya tunggugu disitu." ucapnya
"Aduh pelan-pelan. Nanti kamu tersiram air panas." kata mas Bara dengan cemas melihatku
"Iya mas, udah mas menyingkir dulu dari pintunya." Kataku dengan lelah
Aku melihat om Bara dengan raut wajah yang cemas dan khawatir aku terus menyiapkan air hangat om Bara. Air dirumahku sangat dingin jika belum terbiasa pasti auto sakit.
"Udah pas belum hangatnya mas, coba deh rasain airnya, kalau belum nanti tambah lagi masih ada di di dapur lagi."
Om Bara hanya terdiam melihatku, mungkin dia aneh liat kita mandi gini amat, padahal disini udah gak aneh kayak gini
"Kok Bengong sih mas ini loh cepat mandi ntar airnya keburu dingin."
"Maaf mas disini nggak ada shower hehehehe jd mandinya pakai gayung. Bisakan mas mandinya?" kataku sambil tersenyum memperlihatkan gigiku yang putih.
"I.iiya. Terima kasih Sa..yang." Jawab grogi mas Bara
Deghhh
Apa yang om Bara bilang aku tertegun beberapa saat karena terkejut apa yang dia bilang
"A.aa.aapa mas?." Kataku dengan gugup
"Airnya udah pas, mas mau mandi tolong ambilin handuk mas yah sama baju buat ganti mas."kata mas Bara yang mengalihkan pembicaraan dan mendorongku keluar dari dalam kamar mandi
Aku masih terdiam di depan pintu kamar mandi masih syok dengan apa yang aku dengar.
"Sayang, iihhh serem dengarnya kalau om-om yang ngomong kayak gitu bulu kudukku sampai merinding di buatnya." Gumanku lirih
Aku memberikan pesanan om Bara dan menaruh pakaian ganti yang masih di dalam koper yang mas bara bawa dari rumah.
Aku menaruh kaos rumahan dgn celana Pendek selutut Diatas kasur.
"Apa lagi yang belum ya,, ya ampun Underwear om Bara belum ada. Duh,, gimana cara ambilnya aku belum pernah ngambil underwear cowok isss." Batinku
Entah mau ngambil gimana setelah berpikir sejenak aku memilih gak usah mengambilnya biarkan om Bara yang memilih sendiri dan menaruh pakaian di atas kasur lalu aku keluar dari kamar pergi membantu ibu menyiapkan makan malam
***
"Embun, Bun, sini nak cepat kemari." Panggil ibu dengan suara panik
"Ada apa buk. Embun lagi Nyuci piring buk di belakang." jawabku
"Berentiin dulu nyucinya coba kamu ke depan dulu, ada mobil yang lagi nurunin barang-barang katanya ini di pesan nyonya Embun gitu." cerocos ibu kayak petasan meledak
"Aduh apa jangan-jangan pesanan si om Bara lagi." Gumamku
***
"Pak ada apa ini, kok pada rame depan rumah sih pak." Tanyaku yang sudah nyampe di depan
"itu loh nak, kamu yang pesan barang-barang itu katanya itu pesanan ibu Embun Salma Ambasarini. Emang benar kamu pesan itu nak?". Jelas Bapak
Aku melihat barang-barang apa ada di mobil Truk tersebut. Tidak berselang lama muncul lah mobil porsache hitam. Dari dalam mobil Keluar seorang lelaki tampan, seperti Oppa-oppa korea. Ia datang menuju pada kami.
"Assalamalaikum"
"Walaikum Salam." Jawab kami serentak
"selamat sore,, saya kesini ingin mencari nyonya Embun saya asisten pak Barata Arya Wijaya nama saya Andra vincent panggil saja saya Andra buk." Kata pak Asisten Om Bara yang sedang.memperkenalkan diri
"Dengan saya sendiri pak,, loh asisten om eh mas Bara ya, ada yang bisa saya bantu pak Andra? Tapi jangan panggil nyonya dong panggil aja Embun seperi yang lain saya masih muda pak hehee." Kataku dengan senyuman yang termanis
"Njir,, muda banget bini bos gue. Mana cantik lagi pintar juga si bos nyari istri." Batin Andra
"Aduh nyonya Saya tidak berani panggil nama, Nanti pak Bara bisa marah pada saya. Saya kesini mau nganterin pesanan pak Bara tadi nyonya." Jawab Andra ramah
"Tapi saya gak suka di panggil nyonya kesannya ke tuhan banget." Jawabku dengan wajah yang cemberut
"Nanti kita bahas dengan tuan ya. Bisa saya bertemu dengan tuan Bara."
"oh, iya tunggu sebentar. Mari masuk pak Andra." ucapku
"Biar saya tunggu di luar saja nyonya."
"Tapi...."
"Saya tidak apa-apa bila menunggu disini aja."
"Oh ya udah kalau begitu tinggu sebentar ya pak Andra."
Sebelum aku masuk, aku melihat sudah banyak tetangga yang mengerumuni mobil truk depan rumah.
"buset,, itu ibu-ibu ngapain pada kumpul disana sih. Udah kayak mau demo kenaikan sembako depan istana presiden aja" batinku
***
Tok Tok Tok
"Mas Bara..."
TBC