Hari minggu bukanlah tanggal merah bagi kami, hari minggu justru kesempatan kami mendapatkan orderan lebih banyak(mereun).
Dan jam tujuh pagi ini, aku harus terdampar di Rancamanyar untuk mengantar gosend reguler. Daerah yang terkenal dengan keramaiannya(macet lebih tepatnya) membuatku jarang ambil orderan ke sini. Dan benar saja, kemacetan telah menungguku meski tak separah hari kerja.
"Tit... Tit... Tit", seorang bocah membunyikan klakson di sampingku.
"Gandeng ari maneh", tegur ku padanya.
"Bae weh kumaha urang", jawabnya.
"Eh siah di bejaan teh", lanjut ku yang kesal dengan tingkahnya.
"Aaaahhhh kang ojek", ucapnya meledek sambil menarik gas dan pergi.
"Eh siah kehed, b***k saha maneh?", kesal ku semakin menjadi.
Aku yang membawa barang cukup lebar hanya bisa bersabar menunggu giliran (tak bisa sat set sat set).
Dan handphone ku berbunyi, aku menepikan motorku untuk mengangkatnya sejenak.
"Hai mantan, apa kabar", Rianty menyapa.
Dia adalah mantan yang memutuskanku tiga bulan lalu, dia memilih cowok yang menurutnya lebih keren dariku, padahal hanya lebih ganteng, lebih kaya dan lebih menyayanginya.
"Kayaknya aku ngerasa jauh lebih baik deh sejak lepas dari kamu", jawabku berlebihan.
"Masa?, udah punya pacar lagi belum?, pasti belum bisa move on kan dari aku", lanjutnya meledek ku.
Jujur saja iya, Rianty bisa di bilang primadona di tempat kerjaku sebelumnya dan aku yang berhasil mendapatkan hatinya. Menjalani hubungan selama dua tahun dan harus kandas karena orang ketiga.
Jika di bandingkan dengan mantanku yang lain, Rianty jelas unggul segalanya, lebih cantik, lebih menarik dan lebih besar(tekadnya).
Tapi gengsi yang tinggi menuntunku untuk berbohong menjawab pertanyaannya.
"Udah dong bahkan itu gak lama setelah kita putus. Dan asal kamu tahu aku bisa dapatin perempuan yang 10 kali lebih segalanya dari kamu kalau aku mau, jadi gak usah kepedean ya", jawabku dengan angkuh.
"Oh ya?, Orang mana coba?", tanyanya lagi seakan tak percaya.
"Emmm", aku berpikir.
"Rancamanyar", lanjut ku yang hanya terpikirkan tempat dimana aku sekarang.
" Okee... Kalau gitu, malem ini kita double date gimana?", ajaknya yang membuatku terkejut.
Aku diam kebingungan, mana mungkin aku bisa dapatkan perempuan hari ini juga dan yang bisa aku ajak makan malam bersama mantanku.
"Eeeee... Kami udah ada acara malam ini, keluarga nya ngundang aku makan malem di rumahnya, maklum lah ya mantu idaman jadi pengennya ketemu terus", aku berdalih.
"Weekday?", dia menawarkan opsi lain.
"Eeee... Gak bisa juga, dia sibuk sama kerjaannya", lanjutku yang lagi lagi berbohong.
"Kalau gitu sabtu depan, aku gak mau ada penolakan lagi. Kalau nolak berarti kamu boong soal pacar baru kamu dan aku pengen liat siapa diantara kita yang paling mesra sama pasangan barunya, gimana?", lanjutnya yang meragukanku.
"Ya gak bisa gitu dong", aku berusaha menolak.
"Daaahhhh... Mantan", pungkasnya menutup telpon.
"Aaaaaarrrgggghhhh... Nyebelin banget sih Rianty", ucapku kesal.
" Tit... Tit... Tit... ", bocah tadi balik lagi membunyikan klaksonnya dan kali ini sengaja untuk meledek ku.
"Eh si kehed, balik deui", ucapku.
"Teu maju maju mang?", ucapnya sambil tertawa.
"Awas siah, panggih deui ku aing di ulty badang!!!", teriakku yang membuatnya ngebut.
Aku mengabaikannya dan mulai berpikir siapa yang bisa membantuku mencari pacar di sini. Aku scroll kontak temanku di handphone dan aku teringat teman yang kebetulan orang sini, namanya Dadang. Menurutku dia jauh dari kata tampan, badannya juga tak ideal dan status ekonominya tak jauh berbeda denganku, tapi soal cinta, jangan pernah meragukannya sehingga aku sering menyebutnya "si buruk rupa penakluk wanita".
--------------------