DADANG ASMARA

726 Kata
Setelah mengantar paket gosend, aku menelpon Dadang berharap dia ada di rumahnya. "Halo dang, keur naon euy", sapaku, lama sekali aku tak menghubunginya. "Tumben nelpon maneh, pasti aya pangabutuh", Jawabnya surau seperti bangun tidur. "Kangen atuh ka dulur, nya bari sakalian kitu aya perlu, maneh ker di imah?", tanyaku. "Aya tapi mun rek nginjem duit mah euweuh", jawabnya curiga. "Maneh mah ka urang teh duh, loba urang duit mah moal nginjem, urang rek konsultasi masalah awewe lah", ucapku bercanda. "Sebenarnya perempuan hanya perlu di mengerti, jadi tidak ada yang harus di diskusikan", jawabnya berubah elegan. " Tapi kan urang lain maneh, nu gampang menang awewe", lanjut ku. "Yaudah kamu kesini aja, sepertinya kamu memang harus di bimbing masalah percintaan", ucap Dadang yang sebenarnya mulai menyebalkan. "Maneh rek di bawakeun martabak moal?", tawar ku basa basi. "Aya kitu jam sakieu?", tanyanya. "Euweuh matak nawaran ge", pungkas ku tertawa dan mulai berjalan ke rumahnya di daerah Cembul. *** Sesampainya di rumah Dadang, dia sedang santai melinting rokok dan kopi. Itu adalah kebiasaannya dan setiap aku tanya alasannya lebih suka rokok linting di banding kan rokok lainnya, dia selalu menjawab 'karena pria punya selera'. Belum sempat aku menyampaikan masalahku, handphonenya berbunyi. "Hai cinta, maaf aku gak bisa jemput ya hari ini, ada temen aku nih berkunjung", ucapnya mengangkat video call. Percaya atau tidak, saat dia sempat menunjukan handphonenya ke arahku, aku melihat perempuan cantik yang sedang berbicara dengannya. Wajahnya glowing timpang sekali dengan Dadang yang... Aku tak bisa bayangin kalau mereka foto berdua. "Padahal aku kangen sama aa", ucap perempuan itu kecewa Dadang tak bisa menjemputnya. "Nanti malem aku jemput ya, kita bisa ketemu sepulang kamu kerja", Dadang memberinya pengertian. " Yaudah deh, aa jangan lupa makan ya, aku mau siap siap dulu. Dah sayang love u", perempuan itu pamit dari video call. "Love u too honey", jawab Dadang mesra. Melihat aku diam terpukau, Dadang melihat ke arahku. "Vera, kabogoh urang nu kedua", ucapnya mengangkat alis. "Si Risma masih?", tanyaku yang memang setahu ku pacarnya adalah Risma. "Masih, dek satahun", jawabnya. "Bisa kitu, make pelet naon maneh?", tanyaku bercanda. "Hanya pria yang tak punya rasa percaya diri yang menggunakan bantuan semacam itu untuk mengejar apa yang diinginkannya, dan itu tak berlaku untukku", jawabnya penuh percaya diri. "Maneh teh rek nanyakeun naon?", tanyanya tentang maksudku menemuinya. Aku pun bercerita tentang Rianty yang mengajakku bertemu sambil membawa pasangan masing masing. Dan dia memberiku waktu seminggu untuk mempersiapkan nya. "Kumaha tah maneh aya kenalan teu?", tanyaku. "Loba stok mah tapi urang moal bisa mere mun kur saheureuyeun mah, watir atuh ka awewe na", jawabnya cukup bijak. "Urang mah tara heureuy, mun bener bener mah nya urg ge pasti nyaah", ucapku yang ingin serius. Dia kemudian membuka handphonenya, memperlihatkan satu kontak yang foto profilnya perempuan muda berumur kira kira 21 tahun. "Geulis teu?, ngaranna Annisa, budakna bageur, nyaahan, moal gagal lah", terangnya. Aku pun meminjam handphonenya, memperhatikan foto itu. Annisa memang tak kalah cantik dari Rianty, aku yakin dia tak akan mambuat aku malu saat membawanya kencan nanti. "Geulis Dang, hayang lah", jawabku antusias. "Ku urang telpon heula nya", lanjutnya coba menghubungi Annisa. " Halo manis... Lagi apa, aa ganggu gak?", sapanya. "Iya a, nggak kok lagi santai, kenapa?", tanya Annisa. "Maaf nih mau nanya, kamu masih sendiri atau udah punya pasangan sekarang?", lanjut Dadang. "Masih sendiri a, kayaknya aku belum nemu yang cocok buat di jadiin pacar", jawab Annisa terdengar jelas karena Dadang mengaktifkan load speaker. "Oh kebetulan temen aa lagi nyari pacar, dia baik kok, orangnya gak aneh aneh, maksud aa mungkin kalian mau saling mengenal, siapa tahu jodoh", terang Dadang. "Oh boleh a, yang penting buat aku mah ya bisa serius dan sayang sama aku", jawab Annisa membuatku senang. " Yaudah nanti aa kirimin foto sama kontaknya ya, dah maniiiissss", Dadang menutup telponnya. Dadang mengambil fotoku untuk di kirimkan ke Annisa. "Eh kela atuh si beungeut heula", ucapku yang belum siap. "Perempuan itu butuh kamu senatural mungkin, jika yang kamu maksud persiapan itu untuk merekayasa penampilanmu, itu saja sudah jadi perkenalan yang tak jujur", ucapnya yang ingin aku terlihat seperti biasanya. "Nya atuh kumaha maneh, menta urang WA na", aku meminta nomer Annisa. "Kela ningali heula responna, bisi embungeun", jawabnya sedikit membuatku sakit. "Perasaan jeung maneh ge gantengan urang", respon ku terhadap jawabannya. "Tuh oke cenah", Annisa membalas chat Dadang. Dadang memberikan nomernya Annisa kepadaku dan aku mulai menghubunginya. -------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN