Setelah menghubungi Nisa(panggilan Annisa) dan berkenalan singkat lewat w******p. Aku berniat menjemputnya sepulang kerja malam ini pukul 8.
Waktu pun berlalu, setelah isya aku selesai DO di Soreang menuju Miko mall(tempat nisa bekerja). Jalan yang tak terlalu padat membuatku sampai lebih cepat, sembari menunggu kepulangannya aku pesan kopi di warung sebrang mall.
Tiba tiba seorang pria(sebut saja Danu) menghampiriku dan meminta mengantarnya ke terminal.
"A offline dong ke terminal", sapanya.
" Terminal mana a?, leuwipanjang?", tanyaku.
"Iya a, bisa?", lanjutnya meminta.
Aku pikir masih tersedia 40 menit, lebih dari cukup kalau hanya mengantar ke leuwipanjang.
" Yaudah ayo", jawabku menyanggupi.
"Pak titip heula nya, ka leuwipanjang heula sekedap", ucapku pada bapak penjual kopi yang sama sekali kopinya belum ku minum.
" Mhun sep", jawabnya.
Aku dan mas Danu pun berangkat ke leuwipanjang, berbincang ringan yang memberi tahuku bahwa ia adalah orang Bogor yang habis main ke Ciwidey, mampir ke Miko mall dan hendak menemui temannya yang janjian di terminal.
Sesampainya di terminal leuwipanjang, aku menghentikan motorku tepat di jembatan flyover yang tengah di bangun.
"Di sini a?", tanyaku pada mas Danu.
"Kayaknya bukan deh, coba yang di samping a", jawabnya sedikit bingung.
Kami pun menuju samping terminal dan berhenti di Dunkin Donuts.
" Yang ini?", tanyaku kembali.
"Bukan juga deh, coba yang di jalan Kopo nya a", jawabnya lagi yang kali ini salah juga.
Kami memutar ke arah jalan Peta dan menuju samping belakang terminal. Dan mas Danu kembali terlihat bingung, perasaanku mulai tak enak sisa lima belas menit sebelum Nisa pulang.
" Aduh... kok kyak bukan ini juga deh", ucapnya.
"Aku telpon temen aku dulu ya", lanjutnya.
Dia pun menelpon temannya, benar saja ternyata bukan terminal Leuwipanjang melainkan terminal Ledeng.
" Waduh... Jauh dong", ucapku yang tak menyanggupi kalau harus kesana.
"Anterin ya a, saya kasih seratus deh", ucapnya mengiming imingiku.
" Maaf ya cari yang lain aja, ini saya ada janji... ", jawabku yang tak ingin melewatkan moment berharga bersama Nisa.
"Dua ratus?, Mau?", tawarnya lebih tinggi.
" Hayu", aku luluh.
Kami berangkat ke Ledeng mengebut, aku ingin menyelesaikan kedua misi ku kali ini, mengantarkan mas Danu yang menjanjikan ongkos besar dan kencan pertama bersama Nisa.
"A haus gak?, mampir dulu ke alfa ya, aku haus", ucapnya yang baru sampai Pajajaran.
"Boleh a", jawabku yang tak enak sudah mau dibayar besar.
Sembari mampir ke alfa Sukajadi dan menunggu mas Danu beli minum. Aku chat Nisa menyampaikan maaf karena akan sedikit terlambat.
"Nih(memberi ku satu minuman), yuk jalan lagi", ucap mas Danu dan kami melanjutkan perjalanan.
Belum lama berjalan mas Danu kembali memintaku untuk berhenti kembali di depan.
" A nanti mampir ke Mandiri dulu ya yang di depan, mau ambil uang tadi di sana gak bisa", ucapnya lagi yang mulai mengesalkan.
Tapi aku mengiyakan, pikirku ambil uang tak akan menyita waktu yang terlalu lama. Aku bisa sangat mengebut nanti dari Ledeng ke Kopo.
Setelah selesai ambil uang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Aku harap tak ada lagi permintaan untuk berhenti, aku bisa batal menemui Nisa kalau sampai kejadian.
Memasuki Setiabudi semua berjalan baik, harapanku tak ada permintaan dari mas Danu terkabulkan sampai di depan Unpas, lagi lagi mas Danu menepuk pundakku.
"A berhenti berhenti, balik ke bawah dulu yuk. Aku pengen beli surabi NHI buat temen aku, sama buat aa juga nanti aku bungkusin", ucapnya yang kali ini memintaku sedikit putar balik ke Surabi NHI.
Nisa mulai menelpon sepertinya dia sudah pulang. Tak ku angkat dulu, aku pikir aku bisa jelaskan nanti sembari menunggu mas Danu memesan surabi NHI.
"Nunggu di dalem aja tuk, takut lama", ucapnya.
" Gak apa apa a, di sini aja", jawabku yang ingin menelpon Nisa.
Mas Danu pun memesan makanannya ke dalam, aku menunggu di luar dan menelpon balik Nisa.
"Halo Nis, maaf tadi gak ke angkat", sapaku.
"Kamu dimana?", tanyanya.
" Aku di Setiabudi", jawabku gugup.
"Hah?, kok di Setiabudi sih, katanya mau jemput", ucapnya kecewa.
" Aku tadi udah nyampe Miko tapi ada penumpang minta offline ke terminal, aku pikir Leuwipanjang taunya Ledeng. Gak apa apa kan kamu nunggu?, bentar lagi mau nyampe ini, aku langsung ke sana beneran", kelasku berharap Nisa mau memaklumi.
"Nggak", singkatnya.
"Alhamdulillah, aku pikir kamu bakal marah", ucapku senang Nisa mau menunggu.
" Gak mau maksudnya, udah ya aku mau pulang aja", lanjutnya yang ternyata memang marah.
"Waduh... Aku minta maaf ya Nis udah buat kamu kecewa, aku gak enak banget sama kamu, jadinya gimana?, reschedule?, besok ya?", harapku Nisa mau memaafkan.
" Gak usah!!! ", pungkasnya menutup telpon.
"Nis?, Nis?", panggil ku dan tak ada jawaban.
WA ku pun di blok, sepertinya ini bukan awal yang baik dari misi pencarian cintaku.
" A maaf ya lama, ini buat aa", mas Danu memberikan satu kresek surabi.
"Iya a makasih", jawabku.
Kami melanjutkan perjalanan yang memang sudah tak jauh, ketika sampai terminal Ledeng benar saja temannya mas Danu sudah menunggu.
Aku pun di kasihnya uang yang di janjikan di awal. Yap, aku menukar kencan pertamaku dengan uang dua ratus ribu, satu kresek surabi dan minuman.
Aku menelpon Dadang untuk mengabarinya bahwa mission Failed, Nisa marah padaku.
"Halo dang?", sapaku.
" Teu baleg maneh, Nisa ngadat ka urang sateh ah", kesal Dadang yang kena semprot Nisa.
"Heueuh hampura euy, urang kagiur ku ongkos gede, kumaha atuh?" tanyaku berharap masih ada kesempatan.
"Jangan pernah meremehkan perasaan perempuan. Kalau kamu tak sanggup memberikan sesuatu termasuk waktumu jangan pernah memberikannya harapan. Dan satu lagi, jangan pernah menukar janjimu pada perempuan dengan sesuatu apapun yang menurutmu lebih berharga", jawabnya yang menyudutkan ku tapi kali ini aku belajar sesuatu darinya.
"Hampura heueuh?, urang ka imah maneh nya ayeuna mawa surabi NHI", ucapku yang ingin meminta opsi lain selain Nisa.
" Heueuh, urang hayang nu coklat, keju jeung original", jawabnya.
"Ah kehed ngalunjak", candaku.
-----------------------