Melani

766 Kata
"Assalamu'alaikum", aku memanggil Dadang d depan rumahnya. Dadang tak menyautku, beberapa kali dipanggil namanya pun tak ada respon. " Sare kitu jelema teh?", gumamku dalam hati. Aku mencoba menelponnya yang ternyata dalam panggilan lain. Pantas saja dia tak merespon ku. "Dadang... Dadang... Dadang... Dadang, ieu urang di hareup!", teriakku berharap kali ini dia membukakan pintu. " Gandeng ari maneh!", kesalnya yang membukakan pintu. "Udah dulu ya honey, aa ada tamu. Kamu istirahat ya, love u", ucap Dadang hendak mengakhiri percakapannya dengan Vera. " Bohong teh bohong ketang", candaku yang senang mengganggunya. "Kehed!!!", kesalnya lagi. " Hayu asup! ", ajaknya mempersilakan ku masuk. Sambil memakan makanan yang ku bawa, aku pun menceritakan apa yang terjadi tadi hingga gagal menemui Nisa. "Nya angger weh salah maneh, yeuh dengekeun nya. Siapapun perempuannya, yang di pegang dari laki laki itu omongannya. Jadi mun maneh can bisa nerapkeun prinsip ieu nya wayahna bakal gagal jeung gagal deui. Maneh putus jeung Rianty ge kan karena maneh teu bisa nepati janji maneh", terangnya yang tahu semua tentangku dan Rianty. "Geus atuh ulah di bahas eta mah, jadi kumaha ieu urang?, bisa panggih moal jeung si Nisa", tanyaku berharap mendapat kesempatan kedua. " TEU BISA!!!", jawabnya penuh penekanan. "Nisa bageur?, jelas. Tapi b***k na saklek, mun teu resep nya teu resep, maneh niat serius, si eta nu ka baca ku urang geus ngarep ka maneh. Tuluy di kecewakeun ku maneh, kumaha rasana?", lanjut Dadang yang aku akui memang aku yang bersalah. "Heueuh sih, terus kumaha ieu urang?, bere solusi atuh", aku meminta perempuan lain yang mungkin bisa memulai semua dari awal. "Aya deui teu?, heueuh ayeuna mah urang moal ngecewakeun deui(mereun)", ucapku yang bertekad memperbaiki kesalahanku sesebelumnya. "Awas nya mun teu baleg deui siah", peringat Dadang. " Heueuh moal dang", aku menyanggupi. Dadang mencari kontak di handphonenya, aku mencuri curi mengintip tapi di tegurnya. "Cicing!!!", ucap Dadang yang tak mau aku melihat koleksi kontak perempuan di handphonenya. Aku yang meminta bantuannya tak ingin membuatnya marah dan memilih menunggunya. "Ieu ngarana Melani, 23 tahun, siap nikah", ucap Dadang sambil menunjukan foto perempuan di handphonenya. Melani, perempuan cantik, tinggi, langsing, trendy dengan gaya sosialita. Ya, setidaknya itu kesan pertamaku melihat foto yang di tunjukan Dadang. "Waduh, daekeun kitu ka urang", ucapku pesimis. "Hmmm, gini ya bro, tak selamanya yang kamu lihat itu harus di sikapi berlebihan. Berjalan saja, mengalir seperti air, jangan kalah sebelum bertanding, jangan kumeok memeh di pacok", pesan Dadang. "Heueuh lah sok wanieun(kumaha engke weh)", ucapku siap. "Ieu keur online, urg VC nya, di nu caang atuh meh rada katingali ganteng", ucap Dadang. " Puguh imah maneh nu poek", jawabku sambil mencari tempat yang lebih terang. Kami pun pindah ke tempat yang lebih terang dan Dadang mulai melakukan panggilan ke Melani. "Halo Melan, lagi apa nih", sapa Dadang. "Hey, lagi gabut aja a", jawabnya. "Ada yang pengen kenal sama kamu, besok ada waktu gak?", lanjut Dadang. "Oyah?, ada kok a kebetulan lagi gak ada kerjaan di rumah, cuman bisnis online aja, itu juga lagi sepi", jawabnya yang ternyata pedagang online. "Hai, Melan?", sapaku yang gugup, Dadang memberikan handphonenya tiba-tiba. "Ieu urang ngomong naon?", bisikku pada Dadang. " Hai juga aa, siapa namanya?", tanya Melani. "Aku Septian, panggil aja Tian", jawabku yang masih gugup. " Terus?", lanjutnya. "Terus apa?", aku balik tanya. " Katanya pengen kenal", jawabnya. "Iya, boleh?", tanyaku lagi dan dia mengangguk. "Boleh", jawabnya. "Besok mau jalan gak, hmm makan atau nonton gitu. Ya anggap perkenalan aja, kalau ngerasa cocok lanjut, nggak juga gak apa apa", ucapku yang melihat Dadang. Dadang memperlihatkan ekspresi kecewa, mungkin ada yang salah dengan ucapanku. " Bisa bisa, jam berapa?", tanya Melani. "Besok aku kabarin lagi ya", jawabku yang memberikan handphonenya ke Dadang. Setelah percakapan 'basa basi'nya, Dadang menutup VCnya dan melihat ke arahku dengan tatapan kekecewaan. " Naon?", tanyaku. "Can nanaon geus ngomong kitu, udag heula atuh jadi lalaki mah hasil mah nya kumaha engke ulah ngomong cocok lanjut nggak juga gak apa apa, BEUNGEUT!", ucapnya menegurku. " Heueuh hampura atuh, urang kaweur euy", jawabku. Tak berselang lama dan Dadang memberikan nomor Melani, aku pun pamit karena malam semakin larut. Saat aku keluar, sepatuku hilang sebelah. Beberapa saat aku mencarinya dan Dadang pun ikut membantu. Sampai kami menengok ke atas, sepatuku ada di atas genteng tetangga Dadang. "Kang ojek", suara bocah yang tak asing terdengar sambil tertawa. Aku mencari arah suara itu, benar saja bocah yang kemarin meledek ku di kemacetan lari sambil tertawa. " Kehed siah, b***k saha itu sih Dang?", tanyaku pada Dadang yang ternyata masih satu daerah bersamanya. "Teuing, teu katingali beungeut na", jawab Dadang. Aku pun mengambil sepatuku dan pamit pulang. ---------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN