Tujuan Baru

1052 Kata
Karena tahu tidak ada pilihan lain yang bisa dia ambil, Evander pun memilih ikut bersama Ferris dan rekan-rekannya. Mereka kini sedang berada di dalam mobil militer yang akan membawa mereka menuju markas Aegis. Sejak tadi Evander hanya diam melamun dengan kepala tertunduk. Masih sulit baginya mempercayai bahwa istri dan keluarganya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Namun, dia juga merasa mustahil Ferris membohonginya. Evander sadar dia harus belajar menerima kenyataan pahit ini dengan hati yang lapang. "Hei, namamu Evander, kan?" Evander yang sedang melamun dengan kepala tertunduk lesu itu pun seketika mengangkat kepalanya begitu mendengar seseorang mengajaknya bicara. "Ya," sahutnya. "Namaku James. Aku mendengar yang kau katakan pada Ferris di rumah sakit tadi." Kening Evander mengernyit dalam, merasa bingung karena dia tak tahu ucapan mana yang didengar pria bernama James itu. "Kau yang mengatakan lebih baik mati ikut dengan istri dan keluargamu yang tewas di tangan zombie. Kau menyalahkan kami, anggota Aegis yang telah menyelamatkanmu saat insiden penyerangan zombie di hari resepsi pernikahanmu berlangsung." "Oh, kau mendengar kata-kataku itu?" "Ya, karena ada alat pelacak di tangan android-mu itu. Tentu saja kami bisa mendengar semua perkataanmu dan melihat pergerakanmu." Evander mendengus. "Huh, aku merasa sedang diawasi sekarang." "Ya, karena kau memang diawasi. Terutama oleh para ilmuwan Aegis karena kau ini objek penelitian mereka yang berharga," celetuk Ferris yang mengundang tawa meledak di dalam mobil tersebut. Semua orang menertawakan Evander seolah kemalangan yang menimpanya itu sesuatu yang lucu di mata mereka semua. Tentu saja Evander tak terima. "Silakan kalian tertawa sepuasnya. Ternyata kalian ini memang orang-orang yang bahagia di atas penderitaan orang lain. Kalian puas sekali sepertinya melihat orang tidak beruntung sepertiku." Seketika suara tawa pun terhenti karena mendengar ucapan Evander yang memilukan. "Menurutku, kau justru orang yang sangat beruntung. Karena dari sekian banyak orang di acara resepsi pernikahanmu yang diserang zombie hingga tewas, hanya kau seorang yang selamat. Seharusnya kau bersyukur, Kawan." Anggota Aegis yang lain menyahuti. Namun, Evander tak mengatakan apa pun, masih merasa hidupnya yang kini sebatang kara sangat menyedihkan untuk diingat dan dibahas. "Yang dikatakan Ferris benar, bukan hanya kau satu-satunya orang yang kehilangan banyak hal dan hidup sebatang kara sekarang. Kami semua juga seperti itu." James kembali bersuara dan tatapan Evander tertuju sepenuhnya pada pria itu. "Seperti aku contohnya. Aku bergabung dengan Aegis setelah hampir mati di tangan zombie yang nyaris menangkapku, beruntung anggota Aegis menyelamatkanku tepat waktu. Tapi sayangnya istri dan anakku tidak bisa diselamatkan. Padahal kami sedang berbahagia saat itu." Wajah James berubah sendu, pria berkumis dan berkulit hitam itu tampak bersedih jika melihat dari kedua matanya yang berkaca-kaca. "Aku dan istriku sudah menikah hampir sepuluh tahun, tapi kami tidak juga dikaruniai anak. Tahun lalu kami nekat mengikuti program bayi tabung dan kami bersyukur karena program bayi tabung itu berhasil. Istriku akhirnya mengandung." Baik Evander maupun anggota Aegis yang lain tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka mendengarkan cerita James dengan seksama dan tak ada yang berani menyela karena mereka tahu James sedang serius menceritakan dukanya di masa lalu. "Istriku melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan, sama sepertiku." James terkekeh di akhir ucapan. Yang hanya dibalas dengusan oleh semua orang yang mendengarkan ceritanya. "Hari itu, aku membawa pulang istriku dari rumah sakit. Tentu saja bersama bayi kami yang tampan dan menggemaskan. Bayi yang kami nantikan kehadirannya selama sepuluh tahun lamanya itu aku beri nama James Junior." "Huh, seperti tidak ada nama lain saja, kenapa namanya harus sama persis denganmu?" tanya Ferris yang berani berkomentar. "Aku sengaja melakukannya agar semua orang tahu bahwa bayi itu putraku." "Oh, ya, ya, aku mengerti," sahut Ferris seraya menganggukkan kepala, memilih tak berkomentar lagi dan membiarkan James melanjutkan ceritanya yang belum selesai. "Kami baru saja tiba di depan rumah, bahkan belum sempat masuk ke dalam rumah karena baru turun dari mobil, tiba-tiba insiden mengerikan itu terjadi." Air mata di pelupuk mata James pun akhirnya berjatuhan karena pria itu tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Semua orang terdiam, ikut memasang raut sendu karena merasa kasihan pada nasib James dan keluarganya yang begitu tragis. "Para zombie tiba-tiba berlarian ke arah kami. Mereka menyerang kami dengan membabi buta. Aku Mencoba menyelamatkan istri dan bayi kami, tapi aku gagal. Istri dan bayiku tertangkap dan mereka tewas karena menjadi santapan empuk para zombie. Itulah kenapa aku sangat membenci para zombie. Akan kupastikan mereka semua mati di tanganku seperti yang telah mereka lakukan karena membunuh istri dan anakku." Suara isak tangis James pun mengalun kencang, pria yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk punggungnya pelan. Sedangkan Evander hanya diam membisu, setelah mendengar cerita James, dia semakin percaya bahwa bukan hanya dirinya yang kehilangan banyak orang yang dicintai karena penyerangan para monster bernama zombie ini. "Sekarang kau percaya, kan?" Refleks Evander menoleh ke arah sumber suara, pada Ferris yang tiba-tiba mengajaknya bicara. "Kau seharusnya percaya sekarang bahwa bukan hanya kau orang yang paling menderita dan hidup sebatang kara di dunia ini." Evander awalnya hendak menjawab ucapan Ferris, tapi urung dia lakukan karena mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti melaju. "Kita sudah sampai di markas." Salah seorang dari mereka memberikan informasi. Pintu belakang mobil militer itu pun dibuka, satu demi satu anggota Aegis melompat turun dari mobil. Sudah saatnya mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat setelah seharian ini menjalankan misi yang melelahkan. Mereka harus menyiapkan tenaga dan stamina agar besok bisa kembali menjalankan misi dan tugas penting menghabisi para zombie. "Ferris." Ferris yang hendak melompat turun itu mengurungkan niat ketika telinganya mendengar suara Evander yang memanggil namanya. "Kenapa?" sahutnya. "Di rumah sakit tadi kau mengajakku untuk berhenti menjadi orang lemah dan pengecut, bukan?" "Ya." Satu alis Ferris terangkat naik mendengar Evander yang tiba-tiba membahas pembicaraan mereka saat di rumah sakit tadi. "Kalau begitu akan kuturuti nasihatmu. Tolong bantu aku agar bisa bergabung dengan Aegis." Detik itu juga Ferris menyeringai lebar, terlihat senang karena Evander akhirnya sadar dan menemukan tujuan baru untuk melanjutkan hidup. "Tentu, dengan senang hati akan kubantu kau hingga bisa bergabung bersama kami dan berhenti dijadikan objek penelitian para ilmuwan Aegis. Ayo turun, akan kuajak kau menemui seseorang yang bisa mengabulkan keinginanmu ini." ""Memangnya siapa yang akan kita temui?" tanya Evander penasaran. "Huh, nanti juga kau akan tahu. Jangan banyak bertanya, sekarang cepat ikut aku." Tak ingin membantah lagi ucapan Ferris yang sudah baik padanya dan membuang-buang waktu yang berharga, Evander pun ikut melompat turun dari mobil, dia sudah siap menemui siapa pun orang yang dimaksud Ferris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN