Alasan Bertahan Hidup

3126 Kata
Kedua mata Evander memelotot ketika melihat tubuh sang zombie terus keluar dari bawah tempat tidur. Berawal dari kedua tangannya, zombie itu merangkak keluar hingga memperlihatkan wajahnya yang menyeramkan. Zombie itu seorang pria muda saat masih manusia normal. Namun, setelah menjadi zombie, wajahnya begitu menjijikan. Sebagian wajahnya hancur bahkan tulang wajahnya terlihat jelas karena tak ada daging atau kulit yang menempel di sana. Sepertinya dia salah satu korban yang anggota tubuhnya dilahap hidup-hidup oleh zombie yang menyerangnya sebelum dia menjadi bagian dari para zombie itu. Sang zombie sepertinya seorang pasien semasa hidup sebagai manusia normal jika dilihat dari pakaian khas pasien rumah rumah sakit yang masih melekat di tubuhnya walau sudah compang camping karena robek di mana-mana. “Sial, kenapa ada zombie yang sembunyi di bawah tempat tidur?” Evander menggerutu, dia juga ketakutan bukan main. Berusaha melepaskan genggaman tangan sang zombie pada kakinya, tapi sekuat tenaga pun dia berusaha, tetap saja genggaman tangan itu tak bisa terlepas. “Lepaskan aku!” teriak Evander yang tentu saja tak digubris sang zombie yang kini sudah mulai sepenuhnya keluar dari bawah tempat tidur, hanya menyisakan kedua kakinya saja. Melihat pemandangan itu tentu saja membuat Evander ketakutan bukan main. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana caranya agar aku bisa melepaskan diri dari zombie sialan ini?” Evander semakin panik dan ketakutan sehingga otaknya yang cerdas berubah menjadi begitu bodoh. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang untuk bisa menyelamatkan diri dari zombie yang bisa saja membunuhnya, paling mengerikan akan mengubahnya menjadi zombie sepertinya. ‘Ah, bodohnya aku, bukankah di luar ada Ferris dan anggota Aegis yang lain? Aku hanya perlu berteriak meminta tolong pada mereka,’ batin Evander, yang baru mengingat ada anggota Aegis yang masih menunggunya di luar rumah sakit. “Tolooong! Toloooong!” Evander berteriak sekencang yang dia bisa, berharap Ferris dan rekan-rekannya datang untuk menyelamatkannya, tapi yang terjadi adalah tak ada seorang pun yang datang. Evander masih sendirian di ruangan itu bersama dengan zombie yang kini sudah sepenuhnya keluar dari tempat persembunyiannya. Bahkan zombie itu kini sedang merangkak mendekati kaki Evander yang dia tangkap. Setelah keluar dari bawah tempat tidur, baru terlihat salah satu kaki sang zombie telah hancur, itulah sebabnya dia tak bisa berdiri dan hanya bisa merangkak. “Jika aku bisa melepaskan genggaman tangan zombie ini pada kakiku, aku pasti akan selamat. Zombie ini tidak akan bisa mengejar atau menangkapku.” Evander pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan dia mendapatkan sebuah ide ketika melihat sebuah kursi yang tergeletak di lantai tak jauh darinya. Dengan susah payah Evander berusaha mengambil kursi itu, dia membungkuk karena kakinya yang masih digenggam erat sang zombie sehingga Evander yang malang tak bisa melangkah mendekati kursi tersebut. Evander tak menyerah, dia membungkuk berusaha mengambil kursi hingga perjuangannya membuahkan hasil yang memuaskan, dia berhasil meraih kursi itu dan mengambilnya. Evander lantas mengangkat kursi dan tanpa ragu menghantamkan kursi itu pada kepala sang zombie sesaat sebelum gigi-gigi tajam zombie itu menancap di kakinya. Satu kali hantaman sama sekali tak berpengaruh apa pun pada zombie itu karena genggaman tangannya pada salah satu kaki Evander belum juga terlepas. Namun, Evander pun tak menyerah begitu saja. Dia terus menghantam-hantamkan kursi pada kepala sang zombie hingga akhirnya berhasil melepaskan diri. Evander pun bergegas keluar dari ruangan itu. “Hah … hah … hah … syukurlah aku selamat,” gumam Evander seraya membungkuk memegangi lututnya sendiri untuk mengatur deru napasnya yang memburu begitu dia sudah berada di luar ruangan di mana ada zombie di sana. Evander lega bukan main karena berpikir dia sudah selamat. Evander sangat yakin zombie yang baru saja dia lawan itu pasti tidak bisa mengejarnya karena tak memiliki kaki. Namun, kelegaan Evander itu tak berlangsung lama ketika dia mendengar suara aneh dari arah belakangnya. Dengan gerakan perlahan Evander menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan zombie tanpa kaki itu ternyata masih bisa bergerak dengan bebas dan sedang mengejarnya, bukan dengan berlari melainkan sedang merangkak di lantai dengan cepat. “Mustahil, kenapa dia masih bisa mengejarku?” Evander pun tak berpikir panjang lagi, dia mengambil langkah seribu untuk melarikan diri dari sang zombie yang memang sedang mengejarnya. Zombie itu merangkak dengan cepat di lantai seolah dia hewan melata yang bisa berjalan dengan kedua tangan dan satu kakinya. “Sial, dia masih mengejarku. Toloong! Tolooong aku!” Evander kembali berteriak meminta pertolongan, berharap kali ini ada anggota Aegis yang mendengarnya dan datang untuk menyelamatkannya seperti saat dia nyaris mati di acara resepsi pernikahannya karena dikepung zombie, atau ketika dia terhisap rawa hidup di hutan. Namun, sialnya pertolongan itu tak pernah datang. Tak ada satu pun anggota Aegis yang datang untuk menyelamatkannya. “Jangan-jangan mereka sudah pergi. Mungkin mereka meninggalkanku di rumah sakit ini.” Hilang sudah harapan Evander akan diselamatkan oleh anggota Aegis lagi setelah berpikir demikian. Ada kemungkinan dia memang ditinggalkan seorang diri di rumah sakit tersebut. Menyadari dia tak bisa mengandalkan bantuan orang lain dan hanya bisa berjuang sendiri untuk mempertahankan hidup, Evander pun terus berlari. Sayangnya karena terlalu takut dan panik sedang dikejar zombie, Evander mengalami kesialan. Dia terus berlari sambil terus menatap ke belakang untuk memastikan masih ada jarak antara dirinya dan zombie yang sedang mengejarnya, alhasil dia tidak memperhatikan ke arah depan. Pria malang itu tersungkur jatuh karena tak menyadari ada jasad zombie tanpa kepala yang tergeletak di depannya dan kakinya tersandung karena menabrak zombie itu. Evander jatuh dan tubuhnya tepat menimpa jasad zombie tanpa kepala. “Waaaaaaa!!” Evander berteriak histeris karena wajahnya tepat beada di atas leher sang zombie yang berlumuran darah karena kepalanya telah hilang entah ke mana. Darah yang melumuri tubuh zombie itu kini menempel di pakaian dan kulit Evander. “Kenapa darah zombie ini masih segar? Jangan-jangan dia belum lama mati?” Ya, ini keanehan yang disadari Evander, jasad zombie yang berada di bawahnya itu masih mengeluarkan darah segar pertanda kekacauan di rumah sakit belum lama berlalu. Evander berusaha bangkit berdiri dan menjauh dari jasad zombie itu, dan kesialan kembali menimpanya ketika dia tak menyadari zombie yang sedang mengejarnya kini sudah berada di dekatnya. Pria malang dan penakut itu hanya bisa melebarkan mata ketika merasakan salah satu kakinya kembali digenggam seseorang. “Jangan bilang zombie tadi berhasil menyusul dan menangkapku?” Evander memutar lehernya dengan gerakan perlahan, sangat takut pemikirannya benar terjadi. Sedetik kemudian peluh sebiji jagung bercucuran di pelipisnya karena ternyata apa yang dia pikirkan tadi, itulah yang terjadi. Sang zombie tanpa kaki memang pelaku yang menangkap salah satu kakinya. Evander mencoba memberontak, kakinya yang bebas mencoba menendang-nendang kepala dan wajah zombie yang berhasil menangkapnya itu, tapi semua usahanya sia-sia karena genggaman tangan zombie itu teramat kuat. “Tidaak! Lepaskan aku! Lepaskaaaan!” Evander berteriak histeris karena terlalu takut, terlebih ketika dia melihat zombie itu membuka mulutnya, siap menancapkan gigi-gigi tajamnya di kaki pria itu. Evander masih memberontak, sayangnya kekuatan sang zombie lebih besar darinya, Evander tak berkutik ketika satu kakinya yang bebas kini ikut digenggam zombie itu. ‘Aku belum boleh mati sekarang. Padahal aku belum menemukan Cagali,’ gumam Evander dalam hati karena sungguh dia belum siap untuk meninggalkan dunia ini sebelum mengetahui kondisi istrinya. Mulut zombie itu semakin menganga lebar, air liurnya yang berwarna hijau lumut terus menetes-netes dan hampir mengenai kaki Evander yang masih dia genggam erat. Evander tak ingin menyerah begitu saja, tapi dia sadar tak bisa melakukan perlawanan apa pun. Tak ada benda di dekatnya yang bisa dia gunakan untuk melawan zombie itu agar melepaskan genggamannya. Evander juga hanya sendirian di sana, tak ada orang yang bisa dia mintai tolong. Yang paling menyedihkan Evander menyadari sepenuhnya bahwa tenaganya kalah telak dari sang zombie yang entah mendapatkan tenaga sebesar itu dari mana. Evander berpikir mungkin ini akhir hidupnya, Dewi Fortuna meninggalkannya kali ini karena tak ada lagi bantuan yang datang. “Cagali, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa mencarimu. Aku harus pergi sekarang,” gumam Evander seraya memejamkan mata karena tak sanggup menyaksikan zombie itu yang sesaat lagi akan melahap kakinya. Dorr! Hingga suara letusan tiba-tiba terdengar, seketika Evander membuka matanya yang terpejam dan mendapati pemandangan miris di depannya. Kepala zombie yang berhasil menangkapnya itu kini hilang, ah lebih tepatnya hancur tak bersisa karena tembakan dari shotgun yang dilepaskan seseorang. “Huh, kau ini selalu merepotkan, ya. Tadi di hutan kami harus berjuang susah payah demi bisa mengangkatmu keluar dari dalam rawa. Sekarang aku harus menggunakan senjata kesayanganku untuk menyelamatkanmu. Beruntung masih tersisa peluru di dalamnya.” Evander yang sedang berusaha mengatur napasnya agar kembali normal itu pun menoleh ke arah sumber suara, dia melihat sosok Ferris sedang berjalan mendekatinya. “Ck, menjijikan sekali. Kenapa kau begitu tahan berlama-lama di dekat zombie-zombie yang bau busuk itu? Cepat kau ke sini.” Saat mengatakan ini Ferris membekap hidungnya seolah dia tak tahan mencium aroma busuk yang menguar dari zombie-zombie yang ada di dekat Evander. Evander menurut, dia berdiri dan bergegas berjalan mendekati Ferris yang berdiri cukup jauh darinya. “Ternyata kau masih di sini, aku pikir kau sudah pergi meninggalkanku.” Ferris mengangkat kedua bahu. “Tadinya aku memang berniat meninggalkanmu, tapi karena ini perintah dari markas agar membawamu dalam kondisi hidup jadi ya … terpaksa aku masih di sini dan menolongmu. Bisa tidak sekarang kau ikut dengan kami ke markas tanpa perlu dipaksa? Dan berhenti merepotkan kami.” “Aku juga tidak ingin merepotkan kalian. Aku tidak pernah meminta bantuan kalian.” Seketika suara tawa pun meluncur kencang, itu suara tawa Ferris yang menertawakan mentah-mentah ucapan Evander. “Tidak meminta bantuan kami, kau bilang? Padahal tadi jelas-jelas kau berteriak-teriak meminta tolong.” “Huh, jadi kau mendengar teriakanku?” tanya Evander jengkel. “Ya, jangan lupa ada alat pelacak di tanganmu jadi kami tahu semua gerak gerikmu walaupun dari kejauhan.” Kedua mata Evander memicing tajam. “Lantas kenapa kau dan rekan-rekanmu itu tidak cepat datang menolongku padahal tahu aku sedang dikejar zombie?” “Kami sengaja melakukannya,” jawab Ferris tak terlihat merasa bersalah sedikit pun karena sudah mengabaikan Evander yang nyaris tewas di tangan zombie. “Apa kau bilang? Kalian sengaja mengabaikan aku yang membutuhkan pertolongan dan nyaris mati?” “Ya,” sahut Ferris tanpa ragu. “Karena orang keras kepala dan sering bersikap seenaknya sepertimu memang harus merasakan sendiri seperti apa kondisi dunia yang sedang kita hadapi ini. Di mana-mana banyak zombie yang mengincar nyawa kita, menganggap kita sebagai santapan empuk mereka. Kondisi dunia sudah sekacau ini tapi kau tetap bersikap seolah tidak percaya. Kau bahkan begitu keras kepala ingin mencari istri dan keluargamu padahal sudah jelas mereka semua sudah mati.” Evander memelotot, marah mendengar teguran Ferris. “Jaga bicaramu. Istri dan keluargaku belum mati. Mereka masih hidup!” bentaknya. Ferris mendengus seraya tersenyum miring penuh cibiran. “Lalu apa kau menemukan mereka di sini? Bukankah kau sudah menelusuri semua ruangan di rumah sakit ini, apa kau menemukan istri dan keluargamu?” Evander terdiam karena faktanya dia tidak menemukan keberadaan mereka, orang-orang yang sangat dia sayangi yang begitu dia percayai masih hidup sepertinya. “Aku sudah bilang mereka itu tewas karena menjadi korban penyerangan zombie di acara resepsi pernikahanmu. Hanya kau yang kami temukan masih hidup dan masih bisa diselamatkan.” Evander mengepalkan tangannya erat, tubuhnya bergetar karena menahan amarah yang tengah memuncak dalam dirinya. “Jika memang benar istri dan keluargaku telah tewas karena kejadian waktu itu, kenapa kalian malah menolongku? Seharusnya kalian biarkan saja aku mati bersama mereka!” Ferris kembali mendengus keras. “Karena tugas kami adalah menyelamatkan umat manusia yang masih bisa kami selamatkan dari para zombie. Aegis diciptakan untuk memerangi para zombie yang berusaha menginvasi bumi dan menyelamatkan umat manusia yang tersisa, tentu saja termasuk kau.” Kedua mata Evander berkaca-kaca, masih sulit baginya menerima kenyataan orang-orang terkasihnya sudah tak ada lagi di dunia ini. “Untuk apa aku hidup jika orang-orang yang kusayangi sudah tidak ada lagi? Apa gunanya aku hidup sebatang kara tanpa istri dan keluargaku? Lebih baik aku ikut mati bersama mereka.” Ferris yang kesal bukan main mendengar Evander yang mengeluh putus asa dan tak tahu cara bersyukur itu pun mencengkeram leher Evander kuat, mendorongnya hingga punggung pria itu membentur dinding. “Apa kau ini seorang pria? Hah?!” bentak Ferris, tak lagi menahan kekesalannya. “Seharusnya kau bersyukur karena masih selamat, setidaknya dengan begitu kau bisa berjuang untuk menyelamatkan orang lain dan berusaha mengembalikan kondisi bumi seperti dulu sebelum para zombie itu berdatangan.” Evander tak mengatakan apa pun, pria itu juga tak melakukan apa pun walau cengkeraman tangan Ferris pada lehernya semakin mengerat. “Apa menurutmu hanya kau yang kehilangan orang-orang yang kau sayangi?” Ferris menggelengkan kepala. “Tidak. Bukan kau seorang yang kehilangan, tapi kami semua anggota Aegis merupakan orang-orang yang bernasib sepertimu. Kami juga kehilangan orang-orang terdekat kami.” Mendengar ucapan Ferris itu Evander pun melebarkan mata. “Apa kalian awalnya hanya orang biasa? Bukan prajurit militer khusus?” Ferris menggelengkan kepala. “Aku bukan anggota militer awalnya, aku bergabung dengan Aegis belum lama ini. Aku baru bergabung setelah kehilangan ibu dan adik perempuanku karena mereka tewas di tangan para zombie. Bahkan dengan tanganku sendiri aku menembak kepala ibu dan adik perempuanku yang sudah berubah menjadi zombie.” Evander semakin terbelalak sempurna mendengar pengakuan Ferris yang begitu memilukan. “Alasanku bergabung dengan Aegis awalnya karena ini. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ibu dan adikku diserang zombie, mereka disantap hidup-hidup sebelum akhirnya berubah menjadi zombie juga. Aku tidak sanggup melihat orang-orang yang aku cintai menjadi monster, bagiku lebih baik melihat mereka menjadi jasad daripada menjadi monster seperti itu.” Ferris mengulas senyum tipis, tengah mengenang alasannya bergabung dengan Aegis beberapa waktu yang lalu. “Setelah diterima menjadi anggota Aegis, hal pertama yang kulakukan adalah mencari ibu dan adikku yang telah menjadi zombie. Setelah menemukan mereka …” Ferris melepaskan cengkeraman tangannya pada leher Evander dan kini dia menatap senjata miliknya yang tergeletak di lantai setelah tadi dia jatuhkan. “… aku sendiri yang menghancurkan kepala mereka dengan senjata ini. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu?” Evander tak berkata-kata karena dia tak sanggup membayangkan rasa sakit dan hancur yang dirasakan Ferris kala itu. “Tapi aku tidak pernah menyesal melakukan itu karena seperti yang kukatakan tadi, aku lebih rela melihat orang-orang yang kusayangi menjadi jasad dibandingkan menjadi monster.” Ferris mengembuskan napas pelan. “Bukan hanya aku yang mengalami kejadian menyedihkan lalu pada akhirnya memilih bergabung dengan Aegis, melainkan anggota Aegis yang lain juga. Karena itu jangan menganggap dirimu satu-satunya orang yang paling menderita dan kehilangan. Kita semua mengalami seperti yang kau alami, tapi berbeda denganmu, kami tidak menyerah semudah itu. Kami memutuskan terus berjuang memerangi zombie-zombie yang sudah merenggut kebahagiaan kami dengan bergabung bersama pasukan Aegis.” Ferris mengambil senjata miliknya yang tergeletak di lantai sebelum dia menoleh pada Evander yang masih berdiri mematung di tempat. “Sekarang terserah kau mau percaya atau tidak bahwa istri dan keluargamu sudah tewas, yang pasti aku sudah memberitahu kebenarannya.” Evander menundukan kepala dengan kedua tangan terkepal erat. “Memang ini menyakitkan, tapi anggap semua ini sebagai takdir kita. Takdir yang tak bisa diubah, tapi kita bisa membalas kematian orang-orang yang kita cintai.” Kening Evander mengerut. “Maksudnya?” Ferris tersenyum miring. “Sebenarnya alasan lain aku bergabung dengan Aegis karena ingin balas dendam pada zombie-zombie yang sudah membunuh ibu dan adikku. Semua zombie yang kutemui adalah musuhku. Dengan membunuh mereka, aku merasa lega karena berpikir aku sudah berhasil membalaskan kematian ibu dan adikku.” Ferris pun menyantuh bahu Evander dan menepuknya pelan. “Aku memahami rasa sakit yang sedang kau rasakan, tapi jangan kau sia-siakan nyawamu yang berharga. Kau masih hidup sampai sekarang pasti karena Tuhan sudah merencanakan sesuatu untukmu. Mengerti? Berhenti memikirkan lebih baik mati menyusul istri dan keluargamu.” Ferris pun melangkah pergi membuat Evander tertegun dalam diam. “Mau ke mana kau?” tanya Evander. Ferris menghentikan langkah dan kembali menoleh pada Evander yang sudah dia punggungi. “Kembali ke markas. Tugasku hari ini sudah selesai, waktunya istirahat. Cepat kau ikut denganku atau aku akan kena hukuman karena gagal membawamu kembali ke markas.” Evander mendengus, tapi toh dia langkahkan juga kakinya mengikuti Ferris sehingga kini mereka berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit yang sudah tak berpenghuni itu dan hanya berisi jasad-jasad manusia yang telah menjadi zombie. “Zombie-zombie di sini, kenapa mereka tidak memiliki kepala?” tanya Evander tiba-tiba ketika mengingat kondisi jasad para zombie yang dia temukan di rumah sakit itu. “Karena kami yang membunuh mereka dan sengaja memisahkan kepala mereka. Sudah kukatakan kepala mereka kami bawa ke markas untuk diteliti.” “Tunggu, jangan bilang kau dan rekan-rekanmu yang menghabisi zombie-zombie di sini?” Ditanya seperti itu oleh Evander, Ferris menyengir lebar. “Ya, memang kami yang melakukannya. Sebenarnya hari ini kami sedang menjalankan misi menyerang zombie yang menguasai rumah sakit ini. Seharusnya kami sudah kembali ke markas sejak tadi jika saja kami tidak mendapat perintah mendadak dari markas untuk menolongmu yang terhisap rawa hidup di hutan. Huh, ini kenapa aku bilang kau sangat merepotkan. Kau menambah pekerjaan kami saja padahal seharusnya sekarang kami sedang istirahat di markas.” Evander tersenyum tipis, ada rasa bersalah dalam hatinya tapi dia enggan mengatakannya. “Oh, ya. Sepertinya kau tidak tahu cara menghabisi zombie, ya?” tanya Ferris. Evander memutar bola mata. “Mana mungkin aku tahu caranya, aku bahkan baru tahu hari ini bahwa ada banyak zombie di mana-mana.” “Kepala mereka. Hancurkan kepala mereka baru mereka akan terbunuh.” “Huh, mudah bagimu mengatakan itu karena kau memiliki senjata yang dengan mudah bisa menghancurkan kepala zombie. Orang biasa sepertiku yang sama sekali tidak memegang senjata, mana bisa menghancurkan kepala mereka yang kuat itu. Tenaga zombie juga sangat besar, kecepatan bergerak mereka sangat mengerikan, aku yang lemah ini mana mungkin bisa melawan mereka.” “Karena itu berhentilah menjadi orang lemah dan pengecut. Sampai kapan kau akan menjadi orang lemah dan pengecut seperti ini?” Evander terdiam, tengah mencerna baik-baik maksud perkataan Ferris. “Bergabunglah dengan kami. Jadilah anggota Aegis dan bantu kami membasmi para zombie, dengan begitu kau akan menjadi orang kuat dan berguna.” Evander masih mengatupkan mulutnya, belum tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Lagi pula benarkah orang sepertinya bisa menjadi anggota Aegis yang setiap saat harus berperang melawan para zombie? Evander sendiri tak yakin dirinya sanggup karena dia akui memang dirinya lemah dan pengecut. Melihat sosok zombie saja dia sudah ketakutan setengah mati, apalagi harus melawan para zombie itu, sungguh Evander ragu bisa melakukannya. "Kalau kau masih ragu, kau bisa memikirkannya dulu baik-baik. Pikirkan dengan matang apa rencanamu di masa depan." Evander mendengus. '"Bukankah aku ini hanya bahan percobaan bagi para ilmuwan di markas Aegis? Mana mungkin aku bisa menjadi anggota Aegis sepertimu." Ferris tersenyum tipis. "Jangan menyerah. Masa depanmu hanya kau sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Saranku, pikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan untuk kedepannya karena kau masih harus melanjutkan hidup." Setelah ini entah keputusan apa yang akan diambil Evander setelah mendengar nasihat bijak dari Ferris?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN