Benak Evander masih penuh dengan tanda tanya, ucapan pria bernama Ferris menyimpan banyak makna yang sulit untuk ditebak. Evander rasanya ingin menanyakan apa gerangan yang sudah terjadi di rumah sakit, tapi ego dan gengsinya terlalu tinggi untuk menanyakannya langsung pada Ferris yang kini sedang duduk di sampingnya.
Mereka sudah keluar dari hutan dan kini sedang berada dalam mobil militer yang akan mengantar mereka menuju rumah sakit seperti yang diinginkan Evander.
Awalnya, benak dan pikiran Evander memang penuh dengan tanda tanya, tapi sekarang dia mencoba berhenti memikirkannya. Dia pun mengalihkan tatapan ke arah samping, pada kaca mobil di mana dia bisa melihat pemandangan sekitar yang dilewati mobil yang dia tumpangi.
“Kenapa di jalanan ini sepi sekali?” gumam Evander pelan, tapi sepertinya gumaman pelannya itu masih bisa didengar oleh Ferris karena pria itu refleks menoleh ke arah Evander yang duduk di sampingnya.
“Wajar kalau jalanan sekarang sepi karena memang nyaris tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.” Ferris menjelaskan.
“Apa semua orang terlalu takut keluar dari rumah karena banyak zombie berkeliaran di luar?”
Ferris terkekeh, menertawakan pertanyaan Evander yang sangat serius itu.
“Kenapa malah tertawa? Ada yang lucu dengan pertanyaanku?” Evander tersinggung tentu saja.
“Kau ini sepertinya memang tidak tahu apa-apa, ya. Alasan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di jalanan bukan karena orang-orang takut keluar rumah karena banyak zombie yang berkeliatan di luar, melainkan karena hampir semua penduduk di kota ini sudah berubah menjadi zombie.”
Detik itu juga Evander melebarkan mata. “Mustahil. Mana mungkin seperti itu.”
Ferris mengedikan kedua bahunya dengan santai walau respons lawan bicaranya terlihat meragukan ucapannya tersebut. “Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Manusia yang masih normal seperti kita tidak banyak lagi, sebagian besar sudah berubah menjadi monster seperti yang kamu lihat di hutan tadi. Umat manusia mungkin sebentar lagi akan punah dan bumi ini akan dihuni oleh para zombie.” Dan Ferris pun kembali tertawa.
Sedangkan Evander memicingkan mata tak suka mendengar ucapan Ferris yang begitu enteng menganggap kepunahan manusia merupakan hal yang sepele baginya.
“Ini masalah serius, kenapa kau malah tertawa?”
“Lantas aku harus bagaimana? Menangis atau berteriak ketakutan?” Ferris memakukan tatapan seriusnya pada Evander. “Tidak, bukan? Karena percuma saja melakukan tindakan tak berguna begitu. Hanya membuang-buang waktu. Lebih baik kita bersikap tenang dan hadapi kenyataan ini dengan lapang. Jika para zombie itu tidak dihentikan maka umat manusia benar-benar akan punah, sayangnya inilah kenyataan yang harus kita terima sekarang.”
Evander meneguk ludah, masih sulit baginya mempercayai dunia yang semula indah, damai dan tentram kini berubah semenyeramkan ini.
“Sebenarnya apa penyebab manusia bisa berubah menjadi zombie? Aku yakin pasti ada penyebab awalnya, bukan?” Sehingga pertanyaan yang selalu membuat Evander penasaran pun terlontar juga dari mulutnya.
“Pertanyaanmu itu tidak bisa aku jawab begitu saja karena informasi sepenting ini tidak bisa disebar ke orang sembarangan apalagi kau ini bukan anggota Aegis.”
Evander memicingkan mata, tentu saja tak suka karena jawaban Ferris tak sesuai harapannya. “Kenapa begitu? Padahal semua orang berhak tahu penyebab dunia bisa dikuasai zombie dan manusia normal berubah menjadi zombie. Kenapa hanya anggota Aegis yang boleh mengetahui informasi ini?” Tatapan Evander kini memicing penuh curiga. “Jangan katakan penyebab kekacauan ini bisa terjadi karena ada hubungannya dengan Aegis?”
“Hah? Apa maksudmu?” tanya Ferris tak paham.
“Aku curiga yang terjadi sekarang seperti di film-film. Ada kesalahan di laboratorium Aegis yang mungkin sedang menciptakan percobaan aneh. Lalu hasil percobaan itu bocor keluar dan berubah menjadi virus yang mengubah manusia menjadi tidak normal dan buas, lalu mereka menjadi zombie.”
Awalnya Ferris melongo mendengar tebakan asal Evander, hingga sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak mengundang atensi anggota Aegis lain yang berada di mobil itu kini menatap dirinya dan Evander.
“Kenapa kau selalu tertawa setiap kali aku bertanya? Aku serius bertanya, tidak sedang bercanda.” Evander semakin geram karena orang di sampingnya itu terus menganggap pertanyaan seriusnya sebagai lelucon.
“Yang barusan itu lucu sekali. Sepertinya kau terlalu banyak menonton film, ya. Mana bisa kejadian yang nyata sedang kita alami ini disamakan dengan cerita di film-film.”
Tatapan Evander masih memicing penuh curiga. “Ini karena jawabanmu tadi memang mencurigakan. Aku jadi curiga Aegis ada hubungannya dengan kemunculan para zombie.”
Kali ini Ferris tersenyum tipis. “Pemikiranmu salah besar. Justru Aegis itu … ah, sudahlah. Aku sudah mengatakan tadi informasi ini tidak bisa dibagi dengan sembarang orang, apa lagi dengan orang yang bukan anggota Aegis.”
Setelah itu, Evander hanya mendengus keras karena tahu percuma saja dia terus bertanya, jawaban Ferris tampaknya akan tetap sama seperti itu. Evander memilih bungkam, tak lagi mengajak Ferris berbincang. Tatapan pria itu kembali tertuju pada pemandangan sekitar dan sekali lagi dia menyadari keanehan yang lain.
“Aku yakin di sekitar sini seharusnya banyak zombie yang berkeliaran.”
“Oh, ya? Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanya Ferris, terlihat penasaran.
“Karena …”
Evander tak melanjutkan ucapannya karena kini dia sedang tertegun, penyebabnya karena dia melihat mobil truk yang dia dan sang supir tumpangi kini sudah dalam kondisi mengenaskan. Mobil itu menabrak tebing di pinggir jalan sehingga depan mobil tampak hancur.
“Bukankah kamu melarikan diri dengan menaiki truk itu?”
Evander terbelalak kaget karena Ferris yang ternyata mengetahui hal itu, tapi mengingat ada alat pelacak yang ditanam di salah satu tangannya, Evander pun tak merasa heran lagi jika semua gerak geriknya diketahui Ferris dan anggota Aegis yang lain.
“Ya, aku naik truk itu.”
“Di mana supir truk yang menaiki truk bersamamu?”
Ditanya seperti itu oleh Ferris, seketika Evander teringat pada sang supir yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Dia pun berubah menjadi panik. “Gawat, aku baru ingat supir truk itu mungkin dalam bahaya.”
“Kenapa memangnya dengan supir itu?”
“Kami dikejar sekumpulan zombie, lalu kami melompat dari truk yang masih melaju demi bisa menyelamatkan diri. Setelah itu, kami berpencar, aku melarikan diri dengan masuk ke hutan, sedangkan supir itu lari ke jalan setapak yang mungkin akan membawanya ke pemukiman warga.”
“Hm, jadi kalian berpisah, ya. Aku rasa supir itu mungkin tidak selamat.”
Evander mengernyitkan dahi, dia tak mengerti kenapa dengan mudahnya Ferris bisa berpikir demikian. “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Kau mengatakan ada sekumpulan zombie yang mengejar truk kalian, tapi saat kami datang ke lokasi, kami tidak menemukan satu pun zombie di sana. Kecuali jika zombie-zombie itu mengejarmu ke hutan. Apa sekumpulan zombie yang mengejar truk sama dengan zombie yang mengejarmu di hutan?”
Dengan tegas Evander menggelengkan kepala. “Tidak. Mereka berbeda.”
Evander tak mungkin salah mengingat, sekumpulan zombie yang mengejar truk yang dia naiki merupakan zombie-zombie di sekitar tempat yang truk lewati, mereka mengejar karena mendengar suara letusan pistol yang dilepaskan sang supir truk. Sedangkan kumpulan zombie yang mengejarnya di hutan memang sejak awal sudah berada di sana.
“Oh, berarti memang benar supir truk itu kemungkinan tidak selamat.”
“Ck, jelaskan kenapa kamu berpikir begitu?”
Ferris mendengus pelan. “Sederhana saja. Kawanan zombie itu pasti berkumpul di dekat truk yang hancur tadi karena mereka mengejarnya, tapi tadi kita tidak melihat satu pun zombie di sana. Artinya ada hal lain yang lebih menarik minat mereka dibandingkan mengejar truk itu. Jika mereka tidak mengejarmu, artinya mereka mengejar supir itu. Apa supir truk itu terluka dan mengeluarkan darah setelah melompat dari truk?”
Sekali lagi kedua mata Evander terbelalak karena tebakan Ferris itu selalu tepat sasaran. Evander pun mengangguk-anggukan kepala. “Y-ya. Dia sepertinya terluka karena aku melihat ada darah di tanah tempat supir itu mendarat setelah melompat dari truk.”
“Oh, dia memang berdarah, ya? Artinya dia memang tidak selamat. Mungkin sekarang dia sudah menjadi bagian dari para zombie itu.”
Evander meneguk ludah. “Benarkah? Kenapa bisa kau seyakin itu?”
“Karena para zombie memiliki pendengaran dan indera penciuman yang sangat tajam. Mangsa mereka yang terluka apalagi sampai mengeluarkan darah segar, sudah jelas para zombie itu akan menemukannya dengan mudah. Hm, kasihan sekali nasib supir truk itu.”
Evander mengepalkan tangan, jika benar seperti yang dikatakan Ferris, dia kini dilanda rasa bersalah yang amat besar. Sang supir truk jadi bernasib tragis seperti itu karena menolongnya.
“Para zombie bukan musuh yang mudah untuk dilawan untuk orang biasa sepertimu. Jadi lain kali, jangan coba-coba melarikan diri lagi dari markas kalau kau belum siap mati atau menjadi zombie,” tambah Ferris, tapi Evander tak berkomentar apa pun. Pria itu terlalu mengkhawatirkan keadaan sang supir truk. Perbincangan di antara kedua pria itu pun berakhir sampai di sana. Hingga tak terasa mobil militer yang mereka tumpangi berhenti melaju.
“Kita sudah sampai di rumah sakit,” ucap Ferris memberitahu. “Kau bilang ingin memastikan kondisi istri dan keluargamu karena kau yakin mereka selamat dan dirawat di rumah sakit ini, bukan?”
Evander mengangguk tegas. “Ya, aku yakin mereka masih hidup dan berada di rumah sakit ini.”
Ferris mendengus kecil. “Kalau begitu silakan buktikan sendiri. Keyakinanmu atau ucapanku tadi yang benar. Silakan kau turun dan periksa sendiri rumah sakit itu.”
Untuk kesekian kalinya Evander meneguk ludah. “Kau tidak ikut masuk ke rumah sakit bersamaku?”
Ferris mengangkat kedua bahu. “Tidak perlu karena aku sudah tahu ada apa di dalam rumah sakit itu. Cepat sana, masuk dan carilah istri dan keluargamu.”
Evander tak ingin membuang waktu lagi, dia pun melompat turun dari mobil militer.
“Pak, apa Anda yakin membiarkan dia masuk ke dalam sendirian?”
Namun, ucapan salah satu rekan Ferris membuat Evander memelankan langkahnya, dia ingin mendengar jawaban seperti apa yang akan diberikan Ferris.
“Ya, biarkan dia pergi. Sudah kukatakan dia baru akan percaya pada kenyataan jika melihat dengan mata kepalanya sendiri.”
Kini Evander semakin penasaran memangnya apa yang akan dia temukan di dalam rumah sakit. Dia pun mempercepat langkahnya, dia masuk ke dalam rumah sakit yang terlihat sepi, tak terlihat ada karyawan rumah sakit, tenaga medis atau pasien yang berlalu lalang. Gedung rumah sakit itu terlihat tak berpenghuni.
Evander terus berjalan semakin dalam memasuki rumah sakit hingga langkahnya terhenti dan refleks dia membekap hidung beserta mulutnya untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba dirasakannya. Ini karena tepat di hadapannya dia menemukan banyak tumpukan jasad tanpa kepala, sama persis seperti yang dia lihat saat di hutan.
Jasad-jasad itu berlumuran darah dan tampak menjijikan, dari pakaiannya mereka jelas merupakan karyawan dan tenaga medis di rumah sakit tersebut.
“Mereka semua mati? Kenapa bisa?”
Evander menggulirkan bola mata ke sekeliling dan dia semakin susah payah menahan agar isi perutnya tak dimuntahkan keluar karena rasa mual yang semakin menyiksa. Bagaimana tidak mual, dia melihat pemandangan begitu menjijikan di mana banyak potongan tubuh manusia yang sudah tak utuh, bahkan potongan daging bergeletakan di lantai. Darah menggenang dan berceceran di mana-mana, termasuk di dinding. Bau anyir darah dan bau menyengat dari daging yang membusuk merasuki indera penciuman Evander. Di sana memang banyak tumpukan jasad tanpa kepala, tapi tak ada satu pun potongan kepala yang tergeletak. Evander meneguk ludah sebelum kembali melanjutkan langkah karena masih penasaran apa saja yang bisa dia temukan di rumah sakit tersebut.
Namun, yang Evander temukan ternyata hanya kengerian di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi dan mencekam. Jasad tanpa kepala dan tubuhnya hancur bergeletak di mana-mana. Di sepanjang jalan, Evander terus membekap mulut dan hidungnya karena aroma menyengat itu terus menyeruak memenuhi indera penciumannya. Kendati demikian Evander masih belum mau menyerah, dia terus berjalan menelusuri rumah sakit itu. Baginya lebih baik dia menemukan jasad istri dan keluarganya sehingga dia mengetahui kondisi mereka walau sangat menyakitkan karena mereka tak selamat seperti yang dikatakan Ferris, dibandingkan seperti ini, dia tak tahu nasib mereka karena jasad mereka pun tak dia temukan.
Sekarang Evander mulai memeriksa satu demi satu ruangan di rumah sakit itu. Namun, hasilnya nihil karena yang dia temukan tetaplah jasad mengenaskan karena tak memiliki kepala.
“Ck, sepertinya Cagali dan keluargaku tidak ada di sini,” gumam Evander setelah dia yakin sudah hampir memeriksa semua ruangan di rumah sakit tersebut.
“Apa aku pergi saja dari sini dan terpaksa harus ikut dengan anggota Aegis kembali ke markas mereka? Ck, ini menyebalkan. Bagaimana aku bisa hidup tenang jika tidak tahu kondisi istri dan keluargaku?”
Evander terlihat putus asa, dia pun berniat melangkah pergi meninggalkan ruangan yang baru saja dia periksa. Evander berjalan menuju pintu, jika saja dia tidak merasakan tiba-tiba ada tangan yang menangkap kakinya dari arah bawah tempat tidur yang diletakan tak jauh dari pintu.
Evander terbelalak, bola matanya melebar seolah siap menggelinding keluar dari kelopaknya, jantung pria itu berdetak luar biasa cepat dan rasa takut kini menghantam hatinya. Dengan gerakan perlahan Evander memutar leher untuk menatap ke arah tangan yang tiba-tiba menangkap kakinya.
Setelah itu, Evander hanya bisa mematung di tempat tatkala melihat seseorang mencoba keluar dari bawah tempat tidur itu, rupanya ada yang bersembunyi di sana. Sayangnya bukan manusia normal seperti Evander, melainkan zombie dengan penampilannya yang menyeramkan.