Kembali Selamat

2471 Kata
Supir truk itu mencoba menenangkan diri walau jantungnya berdetak sangat cepat. Suara langkah kaki terdengar semakin memasuki kamar. Benar sang supir sangat ketakutan, tapi di sisi lain dia juga sangat penasaran siapa gerangan pemilik langkah kaki itu sehingga dia pun nekat memberanikan diri mengintip dari celah pintu lemari. Tatapannya mengedar ke sekeliling kamar hingga akhirnya berhenti tepat pada pintu karena dia mendengar suara langkah kaki itu semakin mendekati kamar tersebut. Deru napas sang supir semakin memburu, detak jantungnya pun semakin menggila tatkala muncul sosok seorang pria yang berjalan masuk ke dalam kamar setelah pintu benar-benar dibuka. Dari penampilannya yang mengenakan kaos dan jaket serta topi yang bertengger di kepalanya, sosok pria itu tak terlihat seperti zombie, melainkan terlihat seperti manusia normal. Detik itu juga sang supir mengembuskan napas lega, dia sangat yakin pria itu merupakan pemilik rumah yang dia masuki ini dan pria itu masih manusia normal sepertinya. “Syukurlah. Sepertinya aku akan selamat. Aku harus keluar dari lemari ini dan meminta bantuan orang itu. Luka di pinggangku ini harus segera diobati atau aku akan mati karena kehabisan darah,” gumam sang supir, telah yakin dengan keputusan yang diambilnya. Setelah itu, tanpa ragu supir itu pun membuka pintu lemari yang dia jadikan tempat bersembunyi, menimbulkan suara derit yang memekakan telinga. Keanehan terjadi karena walau suara dari pintu lemari yang terbuka terdengar begitu keras, tapi pria yang sedang berdiri di kamar itu tak melakukan gerakan apa pun layaknya manusia normal yang terkejut karena ada orang tak diundang masuk ke kamarnya, bahkan bersembunyi di lemarinya. Tak menyadari keanehan itu karena terlalu senang bertemu dengan manusia normal sepertinya, sang supir pun berjalan menghampiri pria itu. “Hei, apa kau pemilik rumah ini?” sapa sang supir setelah kini dia berdiri tepat di belakang pria yang dia yakini manusia normal sepertinya jika dilihat dari penampilannya yang tak menyeramkan layaknya zombie. Sang supir mengernyitkan dahi karena tak mendapat respons apa pun dari pria tersebut. “Apa kau mendengarku? Hei, apa kau pemilik rumah ini? Maaf, jika aku masuk ke rumahmu tanpa permisi. Aku terpaksa karena di luar banyak zombie yang mengejarku.” Supir truk itu kini memiringkan kepala dengan tatapan heran pada pria yang tak kunjung mengeluarkan suara padahal sejak tadi dia ajak bicara. “Pak, kenapa diam saja? Benar kau pemilik rumah ini? Oh, ya. Apa kau punya obat untuk mengobati luka di pinggangku ini?” Sang supir pun berdecak jengkel karena untuk kesekian kalinya dia diabaikan. Tak kuasa lagi menahan amarah, dia pun nekat melakukan tindakan kurang ajar. Dia memegang bahu pria itu dan memutarnya paksa agar menghadap dirinya. “Pak, tolong jawab pertanyaanku. Aku sudah bertanya secara baik-baik dan sudah meminta maaf karena masuk ke rumahmu tanpa permisi, karena itu …” Namun, sang supir tak melanjutkan perkataannya saat menyadari sesuatu. Tubuh pria di hadapannya menguarkan aroma busuk yang sangat menyengat dan meskipun pria itu sedang menundukan kepala, sang supir yakin ada banyak lalat yang beterbangan di sekitar wajah pria itu. Jangan lupakan banyak belatung kecil yang menggeliat-geliat di wajah si pria yang ternyata penuh dengan luka. Ketika pria itu melakukan gerakan dan mengangkat kepalanya dengan gerakan perlahan, sang supir hanya bisa meneguk ludah. Lantas yang terjadi setelah itu adalah …. “Waaaaakh!” Sang supir berteriak histeris karena melihat wajah menyeramkan pria bertopi tersebut. Kedua matanya hilang sehingga hanya terlihat lubang yang meneteskan cairan berwarna hitam pekat, lalu banyak belatung kecil yang mengelilingi kelopak mata tersebut. Ketika pria yang ternyata zombie itu menyeringai, memperlihatkan isi mulutnya yang teramat bau dan menjijikan, sang supir pun tak kuasa lagi menahan rasa takut. Dia mengambil langkah seribu detik itu juga, berlari sejauh mungkin demi menyelamatkan diri dari zombie yang tentu saja tak mungkin membiarkannya lolos. Sang supir terus berlari hendak menuju pintu, dia berniat keluar dari rumah tersebut. Namun, belum sempat kakinya melangkah melewati pintu yang tengah terbuka, detik itu juga dia mengurungkan niat tatkala melihat di luar sana banyak kumpulan zombie yang baru saja berdatangan. Itu kumpulan zombie yang mengejarnya karena mencium bau darahnya dan kini mereka sudah tiba di depan rumah tersebut. Panik dengan situasi yang dialaminya, sang supir memilih tetap berada di dalam rumah itu. Bukankah menghadapi satu zombie jauh lebih baik dibandingkan dia yang harus menghadapi sekumpulan zombie yang bahkan jumlahnya saja tak dapat dihitung dengan pasti? Sang supir tanpa pikir panjang lagi menutup pintu, dia kembali berlari menuju ruangan lain di rumah itu, berniat kembali bersembunyi. Sang supir baru berhenti berlari setelah menemukan sebuah ruangan, jelas itu kamar mandi yang tampak kotor dan menjijikan. Banyak darah berceceran di dinding dan lantai, tapi karena indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang mendekat, akhirnya sang supir pun nekat masuk ke dalam kamar mandi yang aromanya sukses membuat perutnya seolah siap mengeluarkan seluruh isinya saking baunya. “Zombie itu tidak memiliki mata. Aku yakin dia tidak akan menemukanku. Ya, aku akan aman bersembunyi di sini.” Sang supir tersenyum lega, sangat yakin keputusannya sudah tepat karena memilih bersembunyi di dalam kamar mandi tersebut. Namun, rasa leganya tak bertahan lama setelah lagi-lagi indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang mendekat. “Sial, jangan bilang dia tahu aku ada di sini. Kenapa bisa dia menemukanku padahal tidak punya mata?” Supir truk itu terus menggerutu, matanya mengedar ke sekeliling untuk mencari tempat persembunyian karena dia sadar keluar dari kamar mandi sama saja dengan bunuh diri, zombie tak memiliki mata itu pasti sudah berada di depan pintu kamar mandi jika didengar dari suara langkahnya yang terus mendekat. “Aku sembunyi di bak mandi saja. Dia tidak mungkin menemukanku karena matanya buta.” Sebuah keputusan kembali diambil sang supir, meski merasa jijik karena di dalam bak mandi itu berisi air berwarna keruh bercampur darah, dia tetap memasukan kedua kakinya ke sana. Lalu berjongkok untuk menyembunyikan kepalanya. Beruntung air di dalam bak itu hanya mencapai pahanya sehingga dia masih bisa berjongkok di sana menyembunyikan diri. Ukuran bak yang cukup besar membuat tubuhnya bisa masuk seutuhnya. Dengan jantung berdetak cepat sang supir mencoba membungkam mulut dengan telapak tangannya sendiri agar tak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Kini ketakutan luar biasa dia rasakan ketika pintu kamar mandi yang semula tertutup, mulai terbuka karena seseorang membukanya dari luar. Lalu hanya bisa menahan napas ketika melihat zombie tanpa mata itulah yang masuk ke dalam kamar mandi seperti perkiraannya. ‘Dia tidak akan menemukanku. Dia tidak akan menemukanku.’ Sang supir terus bergumam demikian di dalam hatinya, sangat yakin dirinya akan selamat. Dia tetap membungkam mulutnya dengan telapak tangan ketika sang zombie mulai mencarinya. Zombie itu berjalan di kamar mandi dengan pose seolah sedang mengendusi sesuatu. Dan ketika zombie itu mendekat ke arah bak mandi, sang supir tahu pemikirannya salah besar. Tampaknya dia tidak akan selamat. ‘Sial. Aku lupa penciuman mereka sangat tajam. Pasti ini karena darah sialan di pinggangku ini makanya dia bisa menemukanku.’ Menyadari kecerobohannya sekarang pun percuma karena sang zombie sudah berdiri tepat di dekat bak mandi yang dijadikan tempat persembunyian. “Aku tidak akan membiarkanmu menangkapku. Aku belum mau mati!” teriak sang supir seraya berusaha keluar dari bak. Namun, malang nasibnya karena sang zombie tak tinggal diam. Dengan cepat dia menangkap salah satu kaki supir truk yang belum sepenuhnya keluar dari bak mandi. “Tidak. Lepaskan aku! Lepaskan!” Sekali lagi supir truk itu melakukan kesalahan fatal dengan mengeluarkan teriakan keras. Dia benar-benar lupa indera pendengaran para zombie sangat tajam. Sang supir hanya bisa pasrah ketika mendapati bukan hanya satu zombie yang masuk ke dalam kamar mandi, melainkan beberapa zombie dari luar rumah yang masuk ke sana secara bersamaan karena mendengar teriakannya. Yang terjadi setelah itu sang supir hanya bisa pasrah menerima inilah akhir dari hidupnya. Tubuhnya dikerumuni zombie, tubuhnya digigit dan dagingnya dikoyak oleh taring-taring tajam para zombie. Awalnya, hanya suara teriakan kesakitan supir itu yang terdengar, hingga lambat laun suara teriakan itu melemah hingga hilang sepenuhnya. Itulah akhir hidup sang supir bermulut pedas yang harus mengalami nasib buruk ini karena menyelamatkan orang asing yaitu Evander. Setelah tubuh sang supir babak belur di mana banyak dagingnya yang disantap hidup-hidup oleh para zombie, juga setelah nyawa sang supir direnggut paksa oleh para zombie, tiba-tiba saja jasadnya yang mengenaskan itu bergerak seolah hidup kembali. Kedua matanya yang melotot kini berkedip dan dia yang semula terlentang pasrah di lantai kini mulai bangkit hingga benar-benar berdiri sepenuhnya. Sang supir truk kini telah menjadi salah satu dari zombie-zombie tersebut, siap memangsa manusia yang masih berkeliaran di dunia yang berubah bagai neraka itu. *** Evander pikir ketika tubuhnya sedikit demi sedikit dilahap rawa hidup hingga akhirnya terhisap sepenuhnya, maka itulah akhir hidupnya. Evander juga berpikir ketika dia sudah tak bisa bernapas lagi karena sepenuhnya berada dalam kubangan lumpur, maka itulah hari terakhir dia melihat dunia. Namun, ternyata pemikirannya salah besar. Evander mengerjap-erjapkan mata ketika merasakan indera penciumannya kembali bisa bernapas, menghirup udara segar di dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon. “Dia masih hidup. Sekarang sudah siuman.” Dan ketika mendengar suara seseorang yang berkata demikian, Evander akhirnya membuka kedua matanya. Dia terbelalak ketika melihat beberapa pria mengenakan pakaian militer dan memegang senjata di tangan mereka kini sedang mengelilingi dirinya, dan salah satu dari mereka berjongkok tepat di depannya yang sedang bersandar pada batang pohon. “Huh, untung kami datang tepat waktu. Sepertinya Dewi Fortuna masih menyertaimu karena kau selalu berhasil diselamatkan tepat waktu.” Evander masih kebingungan. Dia menatap dalam diam satu demi satu para anggota militer itu. Ketika tatapannya tertuju pada tulisan AEGIS di seragam militer yang mereka kenakan, kini dia tahu sekali lagi anggota Aegis telah menyelamatkan hidupnya. “K-kalian, kenapa bisa menemukanku di sini?” tanya Evander bingung karena dia yakin saat melarikan diri dari markas Aegis, tak ada yang menyadarinya selain supir truk yang telah menolongnya dengan mengizinkan untuk menumpang di truk. Evander juga yakin saat dia terjebak di hutan belantara dan dikejar kawanan zombie, dia hanya seorang diri di sana. Namun, kenapa pasukan militer ini bisa menemukannya yang terhisap rawa hidup? Benak Evander penuh dengan tanda tanya. “Percuma saja kalau kau ingin melarikan diri dari kami, kau tidak akan pernah berhasil karena kami selalu memantaumu,” sahut salah seorang anggota Aegis yang bernama Ferris jika dilihat dari nama yang tertempel pada baju seragamnya di bagian d**a. “Kalian selalu memantauku?” “Ya, di tanganmu yang telah diubah menjadi android sudah dipasang alat pelacak sehingga ke mana pun kau pergi, kami akan selalu menemukanmu.” Evander refleks menatap salah satu tangannya yang tak lagi normal karena telah diganti dengan mesin. Dia mendengus karena tak berpikir sampai ke sana. Dia akan dijadikan bahan eksperimen para ilmuwan di markas Aegis, tentu saja akan ada alat pelacak yang dipasang di mesin itu agar dia tak bisa melarikan diri ke mana pun. Kini Evander sadar dirinya akan selalu terkurung di markas Aegis untuk selamanya, walau tak dipungkiri dia bersyukur karena sudah dua kali nyawanya diselamatkan oleh para anggota Aegis. Evander tiba-tiba terenyak saat menyadari sesuatu, kedua matanya mengedar ke sekeliling disertai perasaan takut bukan main. “Ada apa? Apa yang kau cari?” tanya Ferris yang heran dengan sikap Evander yang seolah sedang mencari sesuatu. “Zombie. Ada banyak zombie di hutan ini. Mereka memangsa binatang-binatang penghuni hutan. Mereka juga mengejarku. Mereka pasti masih ada di hutan ini, kita harus segera pergi dari sini.” Evander mencoba menjelaskan ketakutan yang sedang dia rasakan. “Huh, kalau monster-monster bodoh itu yang kau maksud, mereka sudah menjadi abu.” Evander mengikuti arah yang ditunjuk Ferris dan seketika kedua matanya terbelalak tatkala menemukan ada gunungan jasad yang tidak lain merupakan jasad para zombie yang sudah terpisah dengan kepalanya. Gunung jasad zombie itu tengah dilahap api dan hanya menyisakan gunung berisi kepala para zombie yang sengaja dibiarkan seperti itu, tak ikut dibakar. “K-kalian membunuh para zombie yang ada di hutan ini?” tanya Evander, terkejut bukan main pasalnya dia tahu persis jumlah zombie di hutan itu sangat banyak. Tanpa ragu Ferris mengangguk. “Ya, kami sudah menghabisi mereka semua.” “B-bagaimana bisa kalian melakukan itu?” Ferris menyeringai. “Huh, itu sangat mudah untuk kami karena kami pasukan khusus untuk membasmi para zombie. Dengan senjata ini kami bisa menghabisi monster-monster itu dengan mudah,” sahut Ferris seraya mengangkat senapan laras panjang miliknya yang tergeletak di atas tanah. Tatapan Evander kini beralih pada kepala para zombie yang dibuat menggunung. “Kenapa kalian tidak membakar kepala mereka juga?” tanyanya penasaran. “Kami akan membawa kepala mereka ke markas untuk diteliti. Daripada banyak bertanya lebih baik kau cepat berdiri. Kita harus segera kembali ke markas.” Evander meneguk ludah. “Maksudnya kalian akan membawaku lagi ke markas Aegis?” “Ya, memangnya markas mana lagi menurutmu?” Dengan tegas Evander menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan. Sia-sia usahanya melarikan diri jika pada akhirnya harus pasrah ikut kembali ke markas Aegis. “Aku tidak mau kembali ke sana.” Satu alis Ferris terangkat naik. “Kenapa tidak mau? Kau beruntung karena bisa masuk ke markas Aegis yang untuk saat ini menjadi tempat teraman di kota ini.” “Aku harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan istri dan keluargaku masih hidup.” “Hah? Istri dan keluargamu? Bukankah mereka sudah mati di tangan para zombie?” “Jangan bicara sembarangan!” bentak Evander tak terima mendengar ucapan Ferris tersebut. “Istri dan keluargaku pasti selamat.” “Tidak. Yang aku dengar mereka semua sudah mati. Di hari kami menyerbu tempat resepsi pernikahanmu, kami sudah terlambat karena para zombie itu sudah memangsa semua orang yang berada di sana. Hanya kau saja yang masih hidup dan masih bisa kami selamatkan waktu itu.” Kedua mata Evander membulat sempurna. “Tidak mungkin. Kau pasti bohong. Apa kau juga ada di lokasi saat kejadian itu terjadi?” Ferris menggelengkan kepalanya berulang kali. “Tidak ada. Aku tidak ikut dalam misi penyerbuan waktu itu.” “Kalau begitu jangan asal menyimpulkan. Aku yakin istri dan keluargaku pasti masih hidup. Mereka pasti sedang dirawat di rumah sakit.” “Kau ini keras kepala sekali. Sudah kukatakan mereka sudah mati, jadi lebih baik kau ikut dengan kami ke markas.” “Tidak akan. Aku tidak akan pernah ikut dengan kalian sebelum pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi istri dan keluargaku.” “Pak, kita bawa paksa saja dia.” Salah seorang rekan Ferris menyarankan demikian, sukses membuat Evander takut karena dia sadar tak mungkin bisa menang atau melarikan diri dari pasukan militer yang sudah terlatih ini. “Jangan. Dia bilang ingin pergi ke rumah sakit dulu, kan? Baiklah. Itu yang akan kita lakukan. Kita antar dia ke rumah sakit dan biarkan dia melihat sendiri bagaimana kondisi di sana sekarang. Hanya dengan melihat menggunakan mata kepalanya sendiri biasanya manusia baru percaya pada kenyataan.” Ferris pun berdiri, memberi komando pada rekannya yang lain untuk mengabulkan permintaan Evander sebelum membawanya kembali ke markas Aegis yaitu mendatangi rumah sakit. Evander senang tentu saja, sangat berharap istri dan keluarganya memang selamat sepertinya. Walau dia mulai penasaran memangnya apa yang akan dia temukan di rumah sakit nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN