Malam hari ketika aku terbangun untuk sholat tahajud, ponsel yang kuletakkan di meja belajarku bergetar dan berdering keras. Aku menghernyit heran, di pagi buta begini siapa yang menelpon? Jangan-jangan hantu? Atau maling? Seketika aku jadi takut. Terdiam lama membiarkan ponsel itu berdering begitu saja. Aku bahkan tidak berani melihat siapa penelponnya. Aku masih di posisiku yang berada di atas kasur. Suasana malam itu sunyi, membuat dering ponsel itu terdengar sangat keras dan akupun semakin takut. Kalian harus tau, aku takut sekali dengan hantu. Apalagi akhir-akhir ini aku sering melihat video youtube paranormal experience yang entah kenapa itu membuatku semakin parno jika malam seperti ini. Bunda sering marah jika aku melihat youtube seperti itu, karena itu membuatku takut untuk shalat tahajud.
Setelah lima menit, dering ponsel itu berhenti. Aku menghembuskan nafas sedikit lega. Karena penasaran, aku memberanikan diri untuk mengambil ponselku. Penasaran siapa yang telpon malam-malam. Apa benar hantu? Atau maling sesuai dugaanku. Ketika aku hendak meraih ponselku, ia berdering kembali. Membuatku kaget dan melemparnya jauh-jauh. Ya Allah aku takut!! Jeritku dalam hati. Tiba-tiba aku teringat nasehat Abi.
"Kamu itu kenapa takut hantu? Kan hantu sama kita, sama. sama-sama makhluk Allah. Kalau kamu takut hantu berarti kamu nggak percaya Allah dong? Kan Allah Maha pelindung yang selalu ngelindungi kamu."
kalau dipikir lagi, bener juga kata Abi. Aku harus percaya kalau ada Allah dan Dia akan melindungiku.
Dengan keberanian yang sudah terkumpul sekalipun masih lebih banyak dari rasa takutku, aku mengambil ponselku. Dan disana, ada tertera nama Agam.
Sial! Ternyata bukan hantu-.- tapi Agam.
"halo, ra!" suara Agam terdengar bersemangat.
"Ada apa Gam?" Aku menjawabnya dengan malas dan kesal. Entah kenapa aku jadi marah sama Agam, karena dialah yang membuatku ketakutan.
"Lo tadi belum bangun ya? Udah gua telpon beberapa kali, tapi kenapa baru diangkat?"
Malah dibahas, aku jadi semakin kesal.
"halo ra?"
"Ada apa sih telpon malam-malam?"
"Gue mau lapor aja."
"Lapor apaan?"
"Dio uda tahajud."
"Ha? Harus ya dilaporin?"
"Iya dong, biar lu tau progresnya."
"Progres apaan cobak."
Suara Tawa Dio terdengar pecah, aku semakin kesal. Di jam-jam seperti ini, bisa ya dia bercanda.
"Oh ya, lo tau nggak ra? Sekarang Dio kayaknya bakal jadi murid Abi gue deh."
Aku menghernyit heran, "Ha? Maksudnya?"
"Dia kan ditanya Abi gue tadi, kenapa kok ke rumah? Terus dia jujur, bilang ke Abi kalau mau belajar sholat tahajud."
"Terus?"
"Abi seneng banget dan nyuruh dia tidur di rumah."
"Jadi Dio lagi di rumah lo?"
"iya. Ini dia lagi dengerin kita."
"Ha?"
"Tadi gue suruh dia hubungin lo, tapi katanya dia udah janji buat nggak ganggu lo sampai misinya berhasil. Dia keren banget kan bisa nepatin janjinya?"
"Lo kok sekarang banyak bacot ya Gam?"
Agam terdengar tertawa terbahak, "ya biar lo bisa bahagia."
Kalau Dio tidur di rumah Agam, berarti Nina tau dong? Aduh, pasti sepupuku yang satu itu marah besar.
"Oh ya, Nina tau nggak kalau Dio tidur di rumah?"
"Tau lah. Dia marah-marah dan ngomel nggak jelas. Tapi tenang, gue rahasiain kok tentang misi 40 hari merebut hati lo."
"GIlak!"
Agam tertawa, "Oh ya, lo mau nggak ngomong sama Dio? Ini manusianya dari tadi diem aja, kayanya pengen banget ngomong sama lo."
"Nggak. Udah ya gue tutup! Assalamu'alaikum."
"Wassalamu--" tanpa menunggu Agam menyelesaikan salam, aku sudah mematikan panggilan telepon. Aneh, kenapa jantungku jadi deg-degan pas Agam ngomongin Dio?
~0~
Nina jarang sekali main ke kelasku. Namun pagi ini ketika aku masuk kelas, aku sudah menemukannya dan Keila duduk di satu bangku kelas. Aku melihatnya tengah sibuk berbicara dengan raut wajah kesal, sementara Mayang dan Keila sibuk mendengarkan dengan serius. Aku yakin, ini pasti ada masalah, karena Nina rela pagi-pagi datang ke kelasku. Ketika mereka tau aku sudah datang, Keila menyeretku untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa ni?" Tanyaku penasaran, apalagi kini Nina menatapku dengan wajah sedih. "Ada apa Na?"
"Sedih gue," Ucapnya.
"Kenapa hemm? Ada apaa?"
"Dio Ra," jantungku berdegub kencang ketika mendengar nama dio dari mulut Keila.
"Ha? Kenapa Dia?"
"Dia kayaknya mau tobat deh." Ucap Mayang asal.
yang membuat Keila tertawa, "Dia bakal jadi playboy hijrah," sambungnya. Mereka pun tertawa bersama.
Sementara Nina hanya diam.
Aku mengerti sekarang, kemana arah pembicaraan mereka dan apa yang membuat Nina sudah memasang wajah kusut di pagi hari. Pasti perihal tentang Dio yang tidur di rumahnya. Aku tidak tau sekarang harus bagaimana, yang jelas aku harus jujur dan mengatakan semuanya pada ketiga temanku. Tapi tidak sekarang, karena aku belum siap. Aku takut mereka marah karena aku sudah memberi Dio kesempatan. Huft.
"Gue nggak masalah sih kalau dia mau hijrah atau tobat, tapi yang jadi masalah kenapa harus pakai nginep di rumah gue si? Ya gpp, kalau semalem doang. Tapi dia mau nginep selama 40 hari!! coba bayangin, gue bakal di rumah dan ketemu dia terus selama 40 hari!!" Ucap Nina dengan penuh emosi.
Keila dan mayang pun berhenti tertawa. Suasana berubah menjadi mencekam.
Aku baru tau, jika Dio akan tinggal selama itu di rumah Agam. Dan dia rela melakukan itu demi aku, Z-a-r-a?
"Gue penasaran, apa yang ngebikin Dio jadi kayak gitu." Ucap Mayang.
"Habis kena karma maybe?" Ucapku asal, aku takut ketauan.
"Bisa jadi, atau dia habis mimpi mati? Makanya langsung tobat?" Keila terkikik geli dengan jawabannya sendiri.
"Ngawur lo Kei!"
"Tapi bisa aja kan? Artis-artis kan biasanya gituu!" Ucap Keila.
"Masa bodoh dengan alasan Dio, gue mau pindah rumah aja rasanya!!!" Ucap Nina.
"Udah, Na. Syukuri dan nikmati. Kapan lagi bisa tiap hari liat Dio?" Keila memang yang paling ngawur dari tadi. Dia tau benar jika Nina sangat membenci Dio, jadi kenapa malah bilang begitu? Ucapannya itu bukannya membuat Nina tenang, malah membuat Nina semakin marah.
Tanpa berpamitan, sepupuku itu pergi begitu saja. Meninggalkan aku dan Mayang yang kini menatap Keila gemas.
"Apa? Gue bener kan? Lagian, dari dulu Nina aneh! Masak iya sebenci itu sama Dio? Padahal yang disakitin kan gue, dan gue pun udah fine-fine aja."
"Tapi lo harusnya bisa jaga omangan lo! Nggak bisa liat sikon ya!" Ucap Mayang gemas,
"Iyaiya gue emang salah, tapi gue jadi mikir jangan-jangan si Nina punya feeling hate but love ke Dio?"
"Keila lo uda overdosis novel di w*****d deh kayaknya," Ucapku yang membuat Keila memutar bola matanya kesal.
"Bener lu ra," Mayang terkikik geli.
"Huft. Yauda kalau kalian nggak percaya! Gue mau ke kelas dulu."
Sepeninggal Keila, Mayang mendekat ke arahku.
"Ra, lo gada hubungannya kan sama tobatnya Dio?" bisiknya.
Aku sangat terkejut, bagaimana bisa tebakan Mayang benar? "
Dengan wajah yang kembali datar dan pura-pura tidak tau apa-apa, aku menjawab "Enggaklah."
Mayang menatap wajahku lama, seolah ia bisa mendeteksi kebohonganku. "Gpp Ra, ngaku aja."
"Nggak May!!"
"Pokoknya kalau kalian jadian, jangan lupa ngasih gue PJ!"
"Gila lu." Ucapku geram.