20. Sekotak s**u dan sepucuk surat

1213 Kata
Aku duduk di depan kelas sembari menunggu Mayang yang masih sibuk berbicara dengan Arifin di depan pintu. Aku dan Mayang akan pergi ke kantin. Jam di tanganku masih menunjukkan pukul sembilan lebih lima, waktu istirahat masih terisisa banyak, sebab itu aku tak menyuruh Mayang cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Arifin. Mereka sepertinya membahas tentang tugas Sejarah yang akan dikumpulkan besok. Sembari menunggu Mayang, aku memperhatikan jalanan utama menuju kantin yang kini dilalui banyak siswa. Hingga kemudian mataku tak sengaja menangkap kedua bola mata Dio yang juga tengah menatapku. Membuat kita berdua saling beradu pandang, terkunci dalam ruang dan aku tak bisa keluar. Tidak lama, karena Dio buru-buru memalingkannya. Ia kemudian berjalan menunduk melewatiku menuju kantin. Aku menghembuskan nafas panjang, dadaku tiba-tiba sesak, jantungku pun menjadi tak karuan. Ini gila, apa yang terjadi pada diriku? Kenapa semuanya terasa sangat asing? Berkali-kali aku hembuskan nafas, namun aku masih panik. Aku tak pernah merasakan ini, dan aku tak tau apa namanya ini. Atau, aku tau tapi aku masih tak mau mengakuinya? Lamunanku kemudian pecah ketika Mayang menepuk bahuku. "Ciye yang habis pandang-pandangan sama Dio!" "Ha?—eh.." Aku tak menyangka, menatap mata Dio membuatku melupakan semuanya. Bahkan kehadiran Mayang yang sedari tadi memperhatikanku. "Jadi benerkan Ra?" Mayang malah duduk di sampingku, sembari menatapku penasaran. Mulut gadis itu tersenyum lebar, tapi itu membuatku semakin kesal. "Bener apanya!!" aku suda tidak bisa menahan emosi, kini suaraku terdengar kesal. Tapi tampaknya itu tak membuat Mayang mundur untuk menanyaiku. "Ya dugaan gue, kalau dio berubah gara-gara lo!" "Orang gila, mana mungkin May!" "Ya mungkin aja Sayang, gue masih ingat yaa dia nembak lo waktu acara camping!" "Itu kan cuma drama." "Tapi dia beneran ngomongnyaaa." "Udah deh May, gue laper. Makan aja yok?" Mayang menatapku sembari menahan senyum, kemudian berdiri dan menggeret tanganku menuju kantin. Kantin ramai, hampir tidak ada meja yang kosong. Membuat kami berdua hanya bisa menatap keramaian itu dengan tatapan nanar. "Keila nggak ke kantin Ra?" Kata Mayang, kami masih berdiri sembari memperhatikan penjuru kantin. Berharap ada dua atau satu anak yang meninggalkan mejanya. "Tadi uda gue chat, katanya ngerjain tugas sama Nina," Jawabku. "Yah...bakal sulit kayaknya." "Sulit?" "Sulit buat dapetin bangku kosong, kan selama ini kalau kita ke kantin dan meja kantinnya penuh selalu ditolong ama kecantikan Keila." "Haha, iya-iya. Kalau ada Keila pasti para cowo sok mau berkorban dan nyuruh kita duduk." "Iya. Sayangnya mereka gitu cuma sama yang cakep kayak Keila. Sama yang jelek kayak gue? Mana mau mereka nolongin dan ngalah." "Hahah" Aku tertaawa melihat Mayang yang kini tengah terlihat kesal. "Tapi kita juga nggak boleh nyuruh mereka ngalah sih, kan mereka juga bayar uang sekolah sama kayak kita. Jadi mereka berhak buat nikmatin meja dan kursi yang uda mereka tempatin lebih dulu. Dan kita, harus nunggu mereka sampai selesai karena kita datangnya telat." "Iya sih." "Yauda mending kita mesen makan dulu. Lo mau makan apa may?" "Gado-gado enak kali ya?" "Yauda gue ke Bu Neneng, dari kemarin pingin makan Rawon." "Oke." Kami pun berpisah, Mayang ke stan Bu Galuh yang menjual gado-gado, dan aku menuju stan bu Neneng yang kini hanya tersisa beberapa anak mengantri. Aku pun berbaris menunggu antrian, sembari menatap ke papan menu yang diletakkan Bu Neneng di depan stan. Melihat ada menu baru yaitu Nasi Gule, aku jadi goyah. Keinginan makan nasi Rawon menjadi samar, dan bayangan mantapnya aroma kuah gule kini menghantuiku. "Mbak!" terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, membuatku tak sadar jika antrian sudah habis dan suda saatnya aku memesan makanan. "Mbak!!" "Mbak mau pesen apa!!" Bu Neneng ini terkenal judes, dan hobi berteriak. Jadi suaranya kini sudah menggelegar ke penjuru bagian kantin. "Mbakk kok bengong sih! Mbak pesen apa! Cepat itu yang belakang nungguin!!" Aku pun segera mendekat ke tempatnya, menahan malu karena kini pasti suda jadi tontonan banyak anak yang ada di sekitar stan Bu Neneng. "Maaf buk, ehm...aku pesan nasi gule satu sama es jeruk satu." "Okay, Mbak tapi gpp kan? saya tadi khawatir Mbaknya ketempelan." "Gpp bu, tapi malu tadi diliatin banyak anak!" "Hahah, maaf mbak." Setelah menunggu beberapa menit, pesananku sudah siap. Aku membawanya, sembari mencari keberadaan Mayang. Bukannya Mayang yang kudapati, aku malah menemukan cowok tinggi kurus di hadapanku. Aku pernah melihatnya sebelumnya, tapi aku tak yakin dia teman sekelasku. Aku hanya menatapnya bingung. "Cari tempat duduk kan? Tuh, sana aja!" Dia menujuk kursi kosong yang tak jauh dari tempat kami. Kursi itu berada di meja yang dipenuhi laki-laki, dan aku mendapati sosok Dio duduk di sana. Sontak aku menggeleng, membuat cowok dihadapanku sontak tersenyum. "Bener kata Dio, lo bakal nolak. Haha" Katanya yang membuatku semakin bingung, "Uda gpp. Gue sama Dio mau balik kelas kok" Aku kembali melirik meja itu, tepat disaat Dio menatapku. Kali ini, dia segera memalingkan tatapannya. Membuat kami tak punya waktu untuk saling bersitatap. Dio kemudian berdiri, meninggalkan mejanya seolah menyuruhku untuk duduk. Jantungku yang tadinya sudah aman dan tenang, kini kembali berdetak tak normal. Aku tidak bisa berbohong lagi, sikap Dio kali ini benar-benar membuatku tersentuh. "Tuhkan anaknya uda berdiri, uda ya..Gue tinggal dulu." Cowok itu pun pergi meninggalkanku. Menyusul Dio yang berjalan keluar kantin. Aku segera menuju meja itu, meletakkan sepiring nasi gule dan segelas es jeruk yang sedari tadi di tangan. Di meja itu ada sekotak s**u yang belum diminum, awalnya aku mengira itu milik Dio, tapi setelah mendapati sepucuk surat kecil yang ada di bawahnya, membuatku penasaran untuk membacanya. Diminum ya zara, maaf nggak bisa nepatin janji buat nggak ganggu hidup lo. D -- Zara menatap sepucuk surat itu lama, rasa bahagia pun menyusup ke dalam hatinya. Sekalipun berkali-kali Zara tahan untuk tidak merasakannya, Zara tidak bisa. Perasaan itu terlalu besar, bahkan hanya dengan melihat kertas kecil dengan tulisan Dio yang acak-acakan saja Zara tak bisa berhenti tersenyum. Zara segera menyembunyikan kertas itu di sakunya, ketika mendapati Mayang menghampirinya. "Kok lo nggak manggil gue si kalau uda dapet tempat!" Kata Mayang sembari duduk di hadapan Zara dengan raut wajah kesal. Zara tersenyum kikuk, ia sembunyikan raut wajah anehnya dengan pura-pura minum. Zara emang nggak bisa bohong. "Oh itu, iya tadi lo mau gue panggil May." Kata Zara sembari menundukkan wajahnya dengan tangan mengaduk kuah Gule. "Lo beli s**u?" Kata Mayang sembari meraih s**u di hadapannya. "Ha..eh..iya." "Beli s**u, beli es jeruk terus makan gule? Ya Allah Ra, kalau makan jangan ngawur dong! kita itu harus jaga tubuh kita!" Zara baru sadar sekarang, kalau Mayang itu bawel banget. selama ini Zara kemana aja yaa? Sumpah rasanya Zara ingin menutup mulut Mayang, agar berhenti bicara. "Uda May, nanti aja ngomelnya. ayo makan dulu, sumpah aku laper. Lagian susunya gue minum nanti kok!" Bagus Ra, udah pinter ya sekarang bohongnyaa—desis Zara dalam hatinya sendiri. "Oke, entar gue minta! jangan diminum sendiri." "Iya iya Mayang, uda jangan bawel terus ah!" Kata Zara. Mereka pun kini sibuk dengan makanannya masing-masing. Tapi sembari makan, Zara masih tak bisa menghilangan bayangan Dio di benaknya. Sumpah, tuh cowok kenapa sweet banget!!! Bikin Iman Zara menjadi lemah! Gak..gak..Zara ga boleh kayak gini! Dia harus ingat pesan Abi untuk selalu menjaga hatinya dari Patah hati. Udah Raa...jangan mikirin Dio lagi!! Udah...fokus nasi gule yang ada dihadapanmu! Yang ternyata nggak seenak bayanganmu tadi. huaaa, tau gitu Zara beli Rawon aja. tbc xoxo, muffnr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN