24. Eriskha

1132 Kata
Ruang kelas itu ramai, di pintu dan jendela dipenuhi para siswa yang tengah mengintip keribuatan yang ada dalam kelas. Dua anak cewek itu tengah berdiri, saling berhadapan. Lebih tepatnya, salah satu dari mereka ada yang dipaksa berdiri padahal lagi asyik-asyiknya makan Martabak telor. Dia adalah Nina. Wajahnya terlihat merah karena menahan amarah. Ya wajar juga sih, siapapun pasti akan marah kalau tengah diganggu ketika makan. “Kenapa sih Ris? Lo mau apa?” kata Nina dengan memajukan wajahnya. Emang ya, Nina nggak ada takut-takutnya. Padahal sekarang Eriskha datang ke kelasnya dengan lima dayang-dayang yang siap ikut menyerang Nina. Eriskha tertawa, “nggak usah sok polos ya lu! Dasar anak Dajal!” Waw, semua orang terkejut mendengar ucapan Eriskha. Kasar sekali, padahal citra gadis itu selama ini sebagai cewek anggun, baik, dan idaman. Nina tersenyum simpul, “ngomongin diri sendiri lo?” “Anjir, nggak!” “Udah deh Ris, ada apa?” “Selama ini lo jadi selingkuhannya Dio kan Nin? Ngaku aja deh, sumpah lo munafik banget!” Ruang kelas itu pun semakin riuh, rasanya Nina ingin menyumpal mulut Eriskha dengan kaos kakinya agar tak lagi bicara sembarangan. “Ha? Nina lo beneran pacaran sama Dio?” “Waw, nggak nyangka banget!” “Ih tapi mereka cocok kok, aku dukung!” Dan masih banyak lagi komentar teman sekelas Nina yang membuat kepala Nina pening. “Lo tau nggak sih Ris, lo sekarang lagi ngefitnah gue?” “Fitnah apa sih sayang? Lo tadi ke sekolah sama Dio kan? Yauda itu uda jadi buktinya!” “Orang gila, nggak logis! Kalau lo liat gue sama Dio cium-ciuman sih wajar, tapi ini lo Cuma liat gue sama dia ke sekolah bareng! Masak gitu aja udah nyimpulin yang nggak-nggak!” Teriak Nina di hadapan Eriskha dengan suaranya yang memenuhi penjuuru kelas. “Tuhkan lo emang munafik Nin!” Nina nyerah, nggak tau harus ngomong pakek bahasa apa agar Eriskha ngerti. Ia pun memundurkan posisinya, sembari menghembuskan nafas berkali-kali. Andai saja ini bukan di sekolah, pasti Nina uda melayangkan tinju ke wajah gadis itu. Tahan..tahan...tahan nina, percuma ngomong sama orang gila! nggak bakal ngerti!!—ucap Nina pada dirinya sendiri. Ketika Eriskha akan melayangkan tangannya pada wajah Nina, seseorang mencegahnya. Dio, datang dengan deru nafas terengah-engah setalah lari dari kelasnya ke kelas Nina yang letaknya cukup jauh. “Di-Dio?” Kata eriskha dengan terbata. “Ris? Kamu ngapainn?” suara Dio terdengar tenang, ia menurunkan tangan Eriskha. Eriskha nggak kuat, tatapan Dio sekarang lembut sekali. membuatnya merasa bersalah padahal Dio Cuma tanya begitu. “Eriskha, kamu kenapa? Kamu nggak biasanya kayak gini..” Kedua tangan Dio menyentuh bahu Eriskha, dan matanya menatap cewek itu lekat. Melihat itu Nina memutar bola matanya, jengah dengan sikap Dio yang seperti ini. yang selalu baik kepada semua perempuan. Okeh, gpp baik sama perempuan tapi ya liat-liat dong! Masak sama orang yang udah ngefitnah tetep aja bersikap baik!! “Dio kamu beneran pacaran sama Nina?” suara Eriskha terdengar sangat pelan. “Ha? Kata siapa Ris?” “Bener nggak Yoo? Kalau bener, berarti kamu putusin aku gara-gara Nina?” “Nggak Ris, nggak kayak gituu. Kamu salah!” Air mata eriskha jatuh, membuat suasana di sana semakin canggung. “Aduh, mulai deh dramanya,” Sindir Nina. “Terus Nina siapa kamuu Dio?” “Bukan siapa-siapa Ris, Nina kan saudaranya Agam. Lah tadinya kita berangkat sama Agam, tapi Agam nggak bisa ada urusan.” “Kalau gitu gosip itu bohong?” “IYAAA Orang gila!! kan dari tadi udah gue jelasin kalau gue sama Dio nggak ada hubungan apa-apa!!!” Tegas Nina. Dio menoleh menatap Nina dan menyuruh cewek itu untuk diam. Nina pun semakin kesal, kekesalannya kini tak hanya pada Eriskha tapi juga pada Dio. Hiiiii!!! Rasanya Nina ingin menjambak rambut cowok itu! “Udah ya Ris, aku nggak mau kamu salah paham lagi.” Eriskha mengangguk, “maafin aku ya Yoo.” “Minta maafnya sama Nina dong,” kata Dio. Nina memalingkan muka, “kalau nggak ikhlas minta maafnya mending gausa!” “Nin!” “Ya bener kan yo? Buat apa minta maaf kalau nggak dari hati?” “Kan yang penting dia uda ngaku salah!” “Males, sakit hati gue.” “Ya Allah Nin, aku nggak ngapa-ngapain kamuu.” “Iya nggak ngapa-ngapain tapi bikin malu aku di depan semua anak kayak gini??” kata Nina sembari menatap ke penjuru arah yang dipenuhi oleh teman-temannya memperhatikan mereka. “Maaf” “Yauda awas aja lo ulangin lagi! kalau lo kayak gini lagi, berarti lo yang anak dajal!” “Ninaa..” “Dia duluan Yo yang manggil gue anak dajal!”  ucap Nina terima. Dio hanya berdecak sembari menggelengkan kepala, urusan ini memang ribet sekali. Untung saja tadi ada temennya yang memberi tau tentang ini, jika tidak pasti masalahnya akan lebih besar. Entah Nina yang akan diskors atau Eriskha. Setelah permasalahan selesai, Eriskha meminta Dio untuk mengantarkannya ke kelas. Dio tidak menolak, karena masih takut Eriskha akan melakukan hal bodoh lagi. Jadi ia akan memastikan Eriskha sudah masuk kelas dengan aman. Ketika mereka berdua keluar kelas, mata Dio mendapati sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Membuat Dio resah, dan takut. “Dio!” dan sialnya, seseorang membuatnya harus berhenti di dekat pemilik sepasang mata itu. “Iya kai?” ujar Dio sembari melirik Zara yang berdiri di sampingnya. semua siswa kini sudah pergi ke kelasnya masing-masing. membuat kondisi depan kelas Nina cukup lenggang. “Sori ya,  tadi gue yang nyuruh anak buat manggil lo.” “Gpp Kai.” “Tapi lo beneran nggak pacaran sama Nina kan?” sumpah ya, Kaila ini b***k atau gimana. padahal tadi Dio udah jelasin tentang hubungan keduanya. “Ih Kai, kok lo tanya gitu sih!” Bisik Mayang. “Ya habisnya gue kaget aja tadii, kalau emang mereka beneran pacaran berarti tebakan gue bener kan!” Dio nggak fokus, bukannya natap Kaila dia malah ngeliatin Zara. Zara yang diliatin Cuma bisa diem dan menghindari dua bola mata itu. Bisa gawat kalau semisalnya mata mereka bertemu. Bisa-bisa jantung Zara deg-degan lagi. “Emang tebakan lo apa Kai?” bukan Dio yang bertanya, tapi Eriskha. “Kepo lo Ris!” Ketus Kaila. “Halah, palingan ya lo nebak Nina diem-diem suka Dio kan? huu gue juga uda tau kali!” “Ha?” Kaila dan Mayang terkejut dengan penuturan Eriskha. Kok bisa bener? Pikir mereka. “Udah ah, kita masuk aja. “ Zara meninggalkan mereka, meninggalkan tatapan Dio yang turut mengantarnya hingga hilang di balik pintu. “Yoo, sekali lagi gue makasi ya dan maaf.” Kata kaila. Dio mengangguk, kemudian mencoba mengendalikan diri agar tidak terlalu terpengaruhi oleh sosok Zara. Memang yaa, bahaya sekali Zara itu. Padahal baru sebentar muncul di kehidupan Dio, tapi udah bikin Dio gila!  tbc xx, muffnr    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN