🍂Delapan🍂

1066 Kata
"Bye Mami dan Papi. Hati-hati di jalan. Love you!" ucap Mine sambil melambaikan tangannya saat aku dan Kak Gandra berjalan ke arah mobil. Aku naik ke dalam mobil lantas menurunkan kaca. Aku tersenyum kecil sambil membalas lambaian tangannya. "We love you Mine," ucapku kemudian setelah itu mobil yang dikendarai Kak Gandra bergerak menuju ke tempat acara pernikahan Faisal. "Tadi kamu sudah beli makanan untuk Mine makan siang kan?" tanya Kak Gandra tanpa melirik ke arahku. "Sudah." "Sudah dibawakan buah juga kan?" "Sudah." "Buku gambar kesukaan dia sud-" ucapan Kak Gandra terpotong saat aku berdecak sebal. "Semua kebutuhan Mine sudah aku bawakan. Percaya aja sama aku. Semuanya aman." Kalau tidak dibilang begitu, pasti Kak Gandra akan terus bertanya. "Yaudah," ucap Kak Gandra sebelum akhirnya kami berdua terdiam diselimuti keheningan. Sesampainya di sana, aku turun lebih dahulu dari mobil. Menit selanjutnya baru Kak Gandra menyusulku. "Gandeng aku dong kak," ucapku saat kami sedang berjalan masuk ke dalam gedung. "Ga usah." "Walaupun engggak ada Mine, genggam tangan aku aja kenapa sih. Pura-pura romantis di depan teman-teman aku. Ayo Kak, gandeng tangan aku!" ucapku lagi. Namun, pria di sampingku ini masih diam membisu, seolah dia enggak paham bahwa aku baru saja meluncurkan kalimat berupa perintah. Merasa kesal, akhirnya aku yang lebih dahulu menarik tangannya. Aku melingkarkan tanganku pada lengan kekarnya. Sedetik, dua detik, aku tidak merasakan penolakan. Aku mencebikkan bibirku, kayanya aku harus terus memulai duluan agar keinginanku dituruti oleh pria ini. "Senyum kak." "Sudah." Aku melirik lantas mengusap sudut bibirnya. "Tipis amat. Kaya orang sakit gigi." "Ribet, Nda." Heum, yaudah. Padahal cuma minta senyuman lebar, tapi dibilang ribet. Saat masuk ke dalam Ballroom, para tamu seakan berkumpul melingkari bagian tengah ruangan. Mereka bersorak-sorai, entah apa yang sedari terjadi. Aku yang penasaran akhirnya menarik tangan Kak Gandra agar berjalan lebih cepat. "Buru-buru banget," Kak Gandra berusaha menepis tanganku yang terus menariknya, "takut kehabisan makanan gubukkan apa?" Aku enggak memedulikan ucapan itu. Aku memilih terus menariknya agar lebih cepat berjalan kemudian saat berada di tengah Ballroom, langkahku terhenti. Menatap ke arah depan, rupanya saat ini sedang ada sesi pemotongan kue pernikahan kemudian di lanjut dengan kedua pengantin yang saling menyuapkan potongan kue itu ke mulut masing-masing. Aku tersenyum miris. Mantan terlama dan terindahku saat ini sudah bahagia dengan perempuan lain. Seharusnya aku senang melihat mereka, tapi aku enggak bisa. Bahkan untuk merasa biasa aja, aku enggak bisa. Rasanya sedih dan aku merasa ditinggalkan. Padahal, akulah yang lebih dahulu meninggalkannya. Aku memutuskan hubungan kami dua hari sebelum pernikahanku dengan Kak Gandra berlangsung. "Acaranya lebai," komentar Kak Gandra yang berada di sebelahku, "dulu pernikahan kita enggak selebai itu. Simpel aja konsepnya." Bukan konsepnya yang simpel, tapi memang Kak Gandra yang enggak mau ribet. Dia membuat resepsi kami super simpel dengan dihadiri oleh beberapa kerabat terdekat. Acara resepsinya pun hanya sekedar salam-salaman dengan para tamu. Tanpa ada acara adat. Tanpa ada sesi potong kue. Tanpa ada panggung live musik. Tapi aku berusaha paham sih. Ini kan pernikahan kedua Kak Gandra. Pastinya dia sudah enggak punya lagi semangat untuk membuat acara pernikahan yang meriah. Bahkan kalau bisa, Kak Gandra maunya hanya acara ijab kabul, tanpa ada resepsi. "Ayo salam-salaman dulu sama pengantinnya," ucapku kemudian berjalan lebih dahulu, sedangkan Kak Gandra mengikutiku dari belakang. Dari kejauhan, aku menatap Faisal yang juga menatapku. Aku mau tersenyum, tapi enggak bisa. Aku bawaannya mau nangis. Enggak tahu, aku merasa bersalah dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Saat berada di depan Faisal, enggak ada satu kalimat yang terucap. Bibirku kelu, mau mengucapkan kata selamat aja, aku enggak bisa. Aku takut kalau aku bersuara yang keluar bukan kata-kata, melainkan isak tangis. "Kita sudah bahagia dengan pilihan masing-masing, Nda," kalimat pertama yang dia ucapkan, "bahagia terus, Alamanda." Aku enggak bahagia dengan pilihanku. Aku sudah menikah dengan Kak Gandra satu tahun lebih, hampir dua tahun, tapi sampai detik ini aku enggak bahagia. Aku menatap Faisal dan istrinya secara bergantian. Aku yang meninggalkan pria ini duluan, tetapi dia yang lebih dahulu bahagia. "Maaf," satu kata yang akhirnya keluar dari lidahku yang kelu, "maafin aku, Sal," ucapku lagi. Faisal menggeleng. "Jangan merasa bersalah. Kalau enggak ditinggalkan kamu," pria itu melirik ke arah istrinya, "aku enggak mungkin ketemu dia. Aku bahagia sama dia. Kami dua orang yang saling mencintai dengan hebat." Setetes air mataku terjatuh. Dulu Faisal begitu hebat mencintaiku, tapi aku malah memilih Kak Gandra yang sama sekali enggak mencintaku. "Maaf curhatnya dipotong," Kak Gandra tiba-tiba bersuara, "antrean di belakang panjang," ucapnya yang membuat aku ingin mencubitnya sekarang juga, saking kesalnya. "Oh iya," Faisal mengambil tanganku lantas dia menjabatnya, "terima kasih sudah datang." Aku mengangguk, melepaskan jabatan tangan Faisal dan berlanjut menjabat tangan pengantin perempuannya. "Kamu beruntung, Mbak," ucapku sambil menatap perempuan itu lekat, "kamu beruntung dapat dia," ucapku kemudian turun dari panggung pelaminan. "Nda," Kak Gandra menyamakan langkah kami, "kamu juga beruntung." Aku mengerutkan kening tanpa berbicara apa-apa. "Tadi saya dengar dari sana," Kak Gandra menunjuk sebuah perkumpulan orang yang memakai kebaya biru, sepertinya itu keluarga pengantin, "katanya untuk mengadakan acara ini, mereka sampai mengutang di bank." Aku diam karena bingung. Aku lagi diajak gibah ini ya. "Kalau enggak mampu, seharusnya enggak perlu dipaksakan bikin acara semeriah ini. Ijab kabul aja sudah cukup. Lihat kondisi keuangan suami juga." Kok pria ini ngomongnya nyelekit banget. "Acara pernikahan kamu simpel, tapi kondisi keuangan suami kamu kompleks. Kamu lebih beruntung, Nda." "Mending diam aja deh kak," ucapku lalu berjalan meninggalkannya. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Part Ke-1 sampai Part Ke-61 (Ending) Total 61 Part ; 241 Halaman Hanya dengan Rp46.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Part Ke-1 sampai Part Ke-61 (Ending) _ Mutualism Marriage _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp46.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN