Nine : Send A Revenge

1534 Kata
DERAP langkah sepatu pantofel itu menggema di lorong kamar privat rumah sakit. Tidak ada seorang pun yang bebas berkeliaran, kecuali mereka yang mendapat izin. Bahkan pihak rumah sakit pun harus yang selektif dan diperiksa sebelum dan sesudah check-up kondisi pasien. Setiap sudut dipasangi CCTV dengan penjagaan super ketat. Kalau tidak terdaftar sebagai pihak yang diizinkan, pasukan yang stand by siap kapan pun ‘mengurus’ si tamu tak diundang itu. Bagian gedung yang khusus dibuat untuk privasi keluarga. Tapi lain dengan pria ini, tentu saja CCTV pun tidak berhak menyorotnya. Setiap penjaga di balik dinding-dinding itu menurunkan senjata dan memberi hormat biarpun kaca tembus pandang satu arah itu tidak bisa membuat mereka dilihat si pria. Sebuah keharusan menunduk setiap keluarga majikan mereka tertangkap penglihatan.  Di depan ruang inap, penjaga lebih banyak lagi dan bersenjata lebih lengkap. Sikap sempurna setiap saat. Ketika pria itu mendekat, hal yang dilakukan mereka. Menunduk sebagai penghormatan. Tidak menyudahkannya sebelum pria itu pergi dari hadapan mereka. “Pak,” sapa seseorang di antara mereka. Seragamnya berbeda, Darius mengangguk singkat. Dia yang bertanggung jawab di bagian keamanan pasien yang akan dijenguknya, pak Farhan. “Bagaimana perkembangannya?” Tangannya menyusup ke saku celananya. Pak Farhan tergagap. Bukan hanya karena aura khas Kyle, tapi jawabannya yang menentukan dia masih hidup atau tidak. Astaga, Darius adalah orang terakhir yang ingin dia temui dari semua keluarga Kyle. Argh, kenapa juga tadi dia menyapanya!? “Apa aku menyuruhmu bungkam, Farhan?” ulang Darius tanpa ekspresi. “Ti-tidak, Pak.” Masa bodo dengan citranya sebagai kepala keamanan di depan semua bawahannya dianggap pengecut, atasannya yang satu ini sulit ditebak. Salah bicara sedikit saja bisa jadi nyawanya melayang. “Jadi, aku masih menunggu jawabanku.” “Pe-perkembangannya ... membaik.” “Benarkah?” Alis Darius mengangkat sebelah, meragukan jawaban pria yang nyaris berkepala empat itu. “Kau tahu aku mengharapkan kabar baik, tapi kau juga dengar bukan tentang orang yang berkhianat kepadaku?” Pak Farhan menelan ludah dengan susah payah. Mengangguk pelan. “Jadi ... apa menurutmu berbohong termasuk berkhianat?” Dia bungkam sementara Darius melanjutkan, “Kau tahu hukuman bagi pengkhianat?” “Apa kau—” “Darius, hentikan!” Interupsi itu membuat rahang Darius mengeras. Tangannya terkepal di dalam saku. Tidak ada satu pun orang yang berhak menegurnya, tak terkecuali Mr. Kyle. “Siapa kau berani menghentikanku?” Suara itu menggema. Jason menghela napas dalam. Padahal ini akan selesai kalau Darius tidak memperpanjangnya, tapi adiknya terbiasa dihormati. Dan apa yang dilakukannya tadi termasuk mencoreng nama baiknya yang dijunjung tinggi oleh keluarga Kyle. “Darius, sudahlah.” “Apa?” Darius menoleh, menghunus tajam tepat pada mata sang kakak. “Kau mau bilang jika aku ini kekanakan, begitu?” “Darius, kau—” “Tidak ada seorang pun yang boleh menyelaku, Jason!” Kedua kakak beradik itu berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Para penjaga ikut tegang meski hanya menjadi pengamat. Ibaratnya batu melawan air. Iya, Darius batunya dan Jason airnya. Batu terlalu merasa dirinya kuat tanpa peduli air bisa menenggelamkannya tanpa perlawanan. “Oke. Baiklah. Aku minta maaf.” Jason mengendikan bahunya, mengalah. Sudah watak dan keharusan seorang kakak untuk mengalah, bukan? Darius masih berdiri di sana beberapa saat sebelum masuk ke dalam ruang inap dengan langkahnya yang dientakkan. Sementara itu pak Farhan bergegas berlutut di depan Jason sembari bergumam banyak terima kasih. Jason memaksanya berdiri lantas menyentuh kedua bahunya. “Sudahlah, Pak. Maafkan Darius, memang wataknya seperti itu.” Di dalam ruang inap, Darius yang masih kesal mematung sekejap di pintu. Tubuh itu ... entah sudah berapa lama terbaring lemah tanpa kepastian berarti. Amarahnya menguap seketika. Darius kembali menemukan sisi rapuhnya di sini. Kursi di samping brankar dingin, tidak ada yang menjenguknya dalam waktu dekat. Bahkan bunga aster kiriman anggota keluarga Kyle tampak layu, sekitar dua minggu yang lalu mungkin. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan suster rumah sakit, mengganti bunga contohnya. Mereka dibayar untuk tidak melakukannya. Darius mengamati sang pasien. Rambut halus kembali mampir di bagian rahang dan dagunya dari terakhir kali dicukur Darius. Selebihnya masih sama, mata cekung itu tak kunjung terbuka. Bagaimana bisa seseorang tidak sadar begitu lama? “Om,” bisiknya menggenggam tangan dingin itu. “Darius minta maaf. Karena Darius Om jadi begini.” “Om gak mau liat Darius? Terakhir kali Om sadar kita main bola, Om. Waktu itu Darius kalah telak dari Om, terus Darius ngambek deh.” Pria itu terkekeh pahit. “Tapi sekarang enggak kok, Om. Darius gak marah, Darius ingin tanding ulang.” Tidak ada respons. Alat pendeteksi detak jantung pun berbunyi tidak begitu nyaring, yang justru menambah rasa waswas jikalau benda itu tidak berbunyi lagi.  Darius menguatkan hatinya untuk tidak terbawa emosi. Omnya rela berkorban demi keselamatan Darius, oleh karena itu Darius harus tetap hidup dan membuat omnya bangga. Jason menyaksikannya dalam diam dari kaca pintu. Adiknya hidup dihantui rasa bersalah dan ambisi yang dulu seharusnya tidak dimiliki anak seusianya. Kursi besi itu berdecit ketika Darius berdiri. Diambilnya bucket bunga aster putih segar dan mengganti aster yang lama. Harapan selalu hidup bersama orang-orang yang berjuang. Sekali lagi dia memandang sang paman sebelum mengambil langkah untuk pergi. *** “Zar, kamu gak mau masuk?” Nizar menggeleng sambil menghirup dan mengusapkan minyak kayu putih ke beberapa bagian tubuhnya. “Enggak, Len. Masih mau di luar, nanti ke dalem.” Alena menggeleng. Kasihan juga Nizar yang mual-mual karena diajak naik mini bus yang sopirnya ‘kesetanan’, untungnya enggak sampai muntah beneran. “Ya udah, aku duluan. Nanti kalau udah enakan masuk.” Agak berlebihan memang ke kota Cuma mau nge-warnet, tapi ya bagaimana lagi. Akses internet yang bagus Cuma di sini, dekat pusat layanan internet. Apalagi Alena ‘kan mau kirim surel, kalau jaringannya enggak bagus bisa-bisa pending terus. Warnet cukup ramai, untungnya ada beberapa komputer yang kosong. Alena mengambil tempat dekat mbak-mbak yang jaga biar kalau ada apa-apa mudah bertanya. Dia lihat, kebanyakan yang pakai warnet buat gaming. Duhh, bagaimana mau maju generasi muda kalau tolak ukurnya kepiawaian bermain gim? Mumpung di tempat yang sinyal internetnya bagus, Alena menyempatkan diri untuk buka hape-nya. Memang banyaknya info yang tidak terlalu penting, tapi dia perlu minimal say hi ke Jo dan bilang kalau dia sudah bikin blog-nya. Selagi menunggu komputer siap, nada tunggu panggilan Jo menjadi prioritas wanita itu. Jo bilang nomor ini tersambung ke ponsel pribadinya, jadi Alena tidak perlu khawatir di-reject Jo kalau dia lagi malas bicara soal bisnis. “Halo, Jo?” Alena agak berseru karena warnet sedang ramai. [“Alena?”] Wesss. Alena sontak menjauhkan ponselnya dari jangkauan indra pendengarnya. Itu Jo? Suaranya beda banget. Terdengar berat dan berwibawa, bukan suara Jo si kameramen lagi. “Ini Jo? Kok suaranya beda?” Pria di seberang sana terkekeh. [“Perubahan itu mutlak adanya, Alena. Dan dari yang kudengar, kamu juga banyak berubah.”] “Gara-gara kamu juga ‘kan aku dipecat. Eh, taunya apa sekarang? Bisa-bisanya kamu gantiin pak Burhan gak ada bilang ke aku.” [“Ya udah deh, maaf.”] Atensi Alena fokus ke layar komputer yang sudah siap pakai. Pertama-tama dia check jaringan internet, bagus. Keyboard dan mouse juga berfungsi. Saatnya eksekusi. Jakarta, i’ll come back. [“Alena?”] “Hmmm.” [“Kamu lagi ada di mana? Ada bawa headset?” “Eh, headset?” gumamnya. “Bentar aku cari dulu.” Tas selempangan Alena obrak-abrik, tapi tidak menemukannya. Seingatnya Alena memang tidak bawa, toh dia tidak merasa akan membutuhkannya. Dia melirik samping kanannya, ada seorang gadis remaja. Yang jadi fokusnya, dia pakai headset. “Dek, dek,” panggil Alena mencolek gadis itu. Gadis itu menoleh. Alena harap dia bukan tipe cewek pelit. “Eh, iya, Kak?” “Boleh pinjem headset-nya gak? Bentar saja.” Dia tampak menimbang-nimbang sebelum berkata, “Boleh, Kak.” Sambil menyerahkan headset dengan kabel merah muda itu. “Makasih.” Alena tersenyum lebar, semanis mungkin. “Halo, Jo?” periksa Alena begitu memasang ujung headset ke ponselnya. [“Iya, Al. kamu udah buat yang aku suruh?”] “Udah.” Wanita itu teleponan sambil mengoperasikan e-mail. Tapi sebelumnya, dia perlu berurusan sedikit dengan alamat e-mailnya karena dia sudah lama tidak berurusan dengan dunia digital. [“Oh, ya. Pakai e-mail sekali pakai.”] Ketikan jarinya yang mengetikan alamat email-nya dulu terhenti. “Loh, kenapa?” [“Kamu tau ‘kan keluarga Kyle itu berpengaruh? Aku gak mau kamu kenapa-napa kalau berita ini bawa hal buruk.”] “Oh, oke.” Biarpun agak janggal, tapi Alena enggan bertanya lebih jauh. Ada bagusnya, dia jadi tidak perlu berkutat dengan sandi e-mail yang dilupakannya. “Ya udah bentar aku bikin e-mail yang baru.” Beberapa menit Jo diam saja sementara Alena berkutat dengan serangkaian identitas yang harus dia isi. “Jo, kamu gak sibuk?” tanya Alena. Jo sekarang sudah menduduki posisi yang penting. Alena tidak mau mengganggunya untuk persoalan yang tidak begitu penting.  [“Enggak tuh. Kamu tau gak kenapa pak Burhan bisa melar banget? Karena sekarang aku tau kerjaan dia kayak gimana.”] “Oh ya, gimana?” [“Kebanyakan duduk doang. ‘Kan gampang, bisa merintah.”] Alena terkekeh. “Iyalah, bos begitu.” “Oh ya, alamat e-mail sta—” “Len.” Nizar datang dan memotong ucapannya pada Jo. Pria itu tampak lebih baik, walau wajahnya masih kelihatan pucat. Tangannya tak henti memegangi perut. Wanita itu melepas earphone-nya. “Kamu sudah baikan, Zar?” Nizar mengangguk lemas. “Masih lama gak?”  Alena menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Eumm, kayaknya sih iya,” katanya tak enak. Sudah jelas Nizar tidak merasa nyaman dan ingi segera pulang. “Kamu boleh keliling dulu cari angin. Entar jam ...” Diliriknya arloji pukul 11:46. “Jam 12 deh, kamu balik lagi. Aku usahain udah beres. Ya?” “Heem, ya sudah.” “Eh,” cegah Alena mencekal tangannya. “Kamu gak akan nyasar, ‘kan?” Nizar mengendikan bahunya. “Mudah-mudahan.” Pria itu keluar dari warnet dan mengambil ruas trotoar ke sebelah kanan. [“Itu siapa, Al?”] tanya Jo begitu Alena memasang kembali earphone.  “Itu kameramenku, Jo. Bentar, ...” gumam Alena melanjutkan ketikannya. “Eh, udah beres nih. E-mailnya masih yang dulu, Jo?” [“Iya, kirim aja, Al. jangan lupa pake anonim.”] “Siap!” Alena berdebar-debar saat mengirim surel itu. Kebiasaannya jika menanti sesuatu yang besar, yang diharapkannya akan berhasil. Semoga. “Udah, Jo, beres.” [“Nanti aku suruh tim seleksi buat pisahin yang kamu. Jangan khawatir, Al, kamu pasti dapat kembali pekerjaan itu.”] “Aamiin. Oh ya, Jo, nanti mungkin aku terima kabar dari kamu agak lama. Ya bisanya Cuma pas aku di kota aja soalnya sinyal internet di kampungku hampir gak ada.” [“Oke. Aku janjiin pekerjaan kamu kembali, Alena.”] *** A.N : Sepi banget nih kolom komentar. Komen Napa komen :')
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN