Eight : Victim Clarification

1482 Kata
KURSOR komputer itu berkedip-kedip, seolah mengejek Alena untuk segera menyelesaikan tugasnya. Di warnet ini hanya ada dia dan penjaga warnet, wajar saja karena ini sudah sore dan warnet biasanya ramai saat malam. Oh ya walaupun namanya warnet, di sini tidak ada akses internet. Hanya ada sekumpulan komputer, tapi akrab dipanggil warnet. Dilihatnya lagi perintah dari Jo yang diterimanya ketika di kota kemarin: Buat video ini jadi blog. Kalau viral, kamu bisa kerja lagi di sini. Rekaman video itu berdurasi 6 menit 34 detik, berisi seorang pria yang duduk sendirian di sebuah ruangan. Dikirim sekitar 1 setengah bulan lalu. Yang menurut Alena janggal, pria itu kelihatan tegang. Dan menurut pengakuannya, namanya Peter Fernando. Di mana hasil konferensi pers kemarin, itu nama yang sama dengan KTP yang menjadi identitas korban mutilasi. Jo dapat dari mana coba!? Tidak mungkin ‘kan dia terlibat semua kriminal ini? Alena ingin menelepon Jo, untuk meluruskan rasa ingin tahunya. Tapi di desa begini, sinyal susah. Paling dekat dua desa ke arah kota, itu saja kualitasnya tidak terlalu bagus. “Teh, lami keneh?” Alena melonjak kaget begitu penjaga warnet mendadak bertanya padanya. Duhh, lagi enak-enak mikir juga. “Eh, enya, A. Warnetna bade nutup sanes?” Penjaga warnet yang kelihatannya anak remaja itu menggeleng. “Oh, sanes, Teh. Abdi bade netepan. Engkin mun Teteh tos rengse, komputerna cabut we nya colokanna.” “Enya, A. Nuhun.”  Setelah remaja itu pergi, Alena mengerang. Jo dan segala teka-tekinya begitu menyiksa kekepoan Alena. Pokoknya saat dia punya kesempatan ke kota lagi, Jo harus menjelaskan semuanya. Video kiriman Jo Alena putar kembali. Detik 1-11, ruangan masih kosong. Alena mempercepat sampai detik 26. Di sana, sosok Peter itu muncul dari pintu di belakang dan duduk tepat di depan kamera. Peter tampan, sayang harus dibunuh secara mengenaskan begitu. “Nama gue Peter Fernando.” Alena memang tidak pandai menganalisis ekspresi seseorang, tapi Peter itu jelas merasa tegang dan wajahnya pucat. “Kalau kalian nemuin video ini, mungkin gue udah gak ada.” “Gue gak tahu kemungkinan siapa nanti yang bunuh gue, tapi dia pasti ada relasinya sama keluarga Kyle.” Napas Alena tercekat seperti sebelum-sebelumnya. Keluarga Kyle, salah satu anggotanya Alena benci. Darius, pria yang membuatnya berada di situasi ini. Tapi, di sisi lain Jason, pria baik itu harus terjebak dalam keluarga yang buruk. “Di sini, gue mau kasih tau lo semua kejahatan keluarga Kyle.” Peter menunduk, jarinya bertautan. Sepertinya dia bingung. Alena menunggunya dengan perasaan yang berdebar-debar. Sampai sini, dia belum berani menontonnya. “Yang pertama, center keluarga Kyle, Mister Luos Kyle.” “Apa lo baru tau nama asli owner DK groups itu? Sama, gue juga.” Kedengarannya Peter mencoba berimprovisasi dan berbincang santai, tapi pria itu enggak santai sama sekali. “Lo perhatiin gak sih Cuma Mister Kyle ini yang namanya gak ada akronim D? Apa lo juga bertanya-tanya apa itu D dari semua nama keluarga Kyle?” Peter terkekeh dengan ekspresinya yang tetap datar. “But sorry, gue sendiri gak tahu jawabannya.” “Balik lagi ke kejahatan mereka, Mister Kyle adalah kunci dari semua bisnis gelap yang menopang generasi Kyle sejak kematian ayahnya Mister Kyle, Master Kyle.” “Kayaknya gue gak perlu sebutin, karena semua kejahatan keluarga Kyle yang akan gue kasih tau, secara enggak langsung adalah bisnisnya juga.” “Pertama, Jonah D. Kyle, adik pertama Mister Kyle.” “Jangan kira karena dia cewek, dia polos. Generasi setingkat Mister Kyle, semuanya licik, man. Termasuk tiga orang cewek di keluarga mereka; Ciara, Jonah, sama Laura.” Jeda beberapa detik, pria itu hanya diam. Matanya menatap tajam kamera. Alena waswas, bagaimana kalau ternyata ini video gore? Awas saja Jo kalau berani kirim yang kayak begitu. “Mungkin lo penasaran kenapa gue sebegitu taunya tentang keluarga ini, tapi satu hal yang perlu lo tau. Gue emang pengkhianat, dan karena itu gue bikin video ini. Tapi gue bersumpah di video ini, gue jujur. Gue tau hidup gue gak ada lama lagi, oleh karena itu lo harus bisa bongkar kejahatan keluarga Kyle.” “Bisnis Jonah ada dua, tapi yang satunya diambil alih sama Bondan. Kasusnya klise, penyelundupan barang-barang ilegal. You know, kayak mobil yang gak diperjualbelikan, not drug. Dia emang gak berkedok kayak yang lain, cewek ini dikenal orang karena dia keluarga Kyle, bukan pebisnis atau lainnya.” “Permainannya cantik, selama 15 tahun gak pernah tersentuh hukum. Lewat darat, udara, perairan, semuanya berhasil. Kalau enggak? Anak buahnya yang ada di situ gak segan-segan dimusnahkan di tempat bersama calon pembeli mereka.” “Next, Immanuel D. Kyle.” Peter menggeleng. “Oh, gak usah deh. Toh dia kayaknya udah mati.” “Skip, Bondan D. Kyle. Dia dalang dibalik musnahnya musuh keluarga Kyle, bisa jadi gue juga sasaran dia.” “Bisnis dia pembunuh bayaran. Bisnis yang awalnya dikelola Jonah, tapi diambil alih karena waktu itu nih cewek lagi hamil. Yang akhirnya jadi bisnis tetap dia bahkan pas Jonah keguguran. Tapi, saat ini, salah satu keluarga Kyle yang lain jadi partner Bondan.” “Terakhir dari generas ini, Ciara D. Kyle, anak bungsu Master Kyle.” “Dia itu dokter, tapi jangan salah. Kerjanya bukan nyembuhin orang, tapi justru ambil organnya. Santai, itu Cuma musuh keluarga Kyle, kalau Bondan lagi gak niat nyiksa orang sih. Lagi-lagi, kemungkinan gue juga bakal ketemu dia.” Alena bergidik. Jadi, keluarga seperti itu tidak hanya ada dalam film? Astaga, bahkan film bisa jauh lebih manusiawi. “Selanjutnya, generasi berbeda dari orang-orang yang sudah gue sebutin tadi. Di keluarga Kyle, Cuma dua orang yang udah nikah dan satu orang yang punya keturunan.” “Anak pertama Mister Kyle, Jason D. Kyle.” Detak jantung Alena berpacu lebih cepat. Kalau sampai pria itu juga terlibat, mungkin pemikiran Alena tentang orang kaya bisa berubah. Jason ... please, jangan mengecewakanku. Akan tetapi, wajah Alena merona mengingat dia salah mengira antara Jason dan Darius. Sampai hari ini, dia masih sulit menerima kalau Jason itu seorang kakak, Darius lebih cocok dengan penampilan dewasanya dan sikapnya yang enggan berinteraksi. “Cowok ini, seenggaknya adalah satu-satunya keluarga Kyle yang bersih. Selama gue berhubungan sama keluarga Kyle, gue gak pernah liat Jason terlibat bisnis gelap apapun. Cuma DK groups, itu pun banyaknya dia ngurusin hak istimewa adiknya.” “Darius,” gumam Alena. “Soal yang satu ini, dia yang paling parah. Umur delapan belas taun udah terlibat. Semua jenis bisnis gelap om tantenya pernah dia cicipin. Gak Cuma itu, dia juga—” Alis Alena bertaut. “Berhenti?” Durasinya videonya masih lama, bahkan belum mencapai 5 menit, tapi detik putaran video kembali ke titik awal. Lho? Alena menggebrak meja sambil menyerapah, “Sialan!” Video itu ternyata belum selesai di-download sehingga berhenti sebelum video selesai. Ahh, padahal ini bagian paling penting, Darius. Alena punya peluang membalas dendamnya kepada pria kaya hedonis itu. “Ishhhh.” Alena gregetan. Kalau dia bisa membongkar kedok Darius, pria itu tidak bisa lagi berlindung di balik citra baiknya sebagai pebisnis jujur. Eh, tunggu. Itu berarti, yang waktu wawancara itu .... Alena mendadak bersemangat membuat blog. Dia membeberkan semua yang dia tahu di video tadi, biarlah Darius kali ini lolos. Setidaknya citra keluarga itu buruk. Tidak lupa Alena mengubah gaya menulisnya, mengantisipasi kalau-kalau nanti dia diincar bahaya. Darius D. Kyle, habis kau! *** “Halo, Zar?”  Alena menelepon Nizar di pagi hari setelah kemarin dia membuat blog. Dokumen itu sudah aman di flashdisk dengan bandul boneka kecil pemberian Hanin. Tapi karena ini bukan kota Jakarta, Alena mengalami kesulitan. Dia tidak bisa mengirimnya langsung ke bagian surat kabar. Mau lewat pos juga tidak mungkin. Flashdisk ini satu-satunya dan tersimpan rahasia keluarga penting. Lagi pula biaya kirim pos pasti mahal dan memakan waktu yang lama. Pos juga adanya dekat kota, sama saja bohong. Untungnya kali ini sinyal telepon ada dua batang, bisa lah buat teleponan. Tapi mustahil buat telepon ke kota, Jo saja nomor w******p-nya ganti dan itu bukan nomor SIM yang aktif. [“Halo, Len? Ada berita?”] Alena menggeleng pelan “Enggak.” [“Kenapa atuh? Tumben nelepon kalau gak ada berita.”] “Zar, kita kapan ke kota lagi?” tanya Alena duduk di kursi kayu di depan rumahnya. Hari ini belum ada kabar berita yang harus diliput, jadi dia dan Nizar bisa bersantai sejenak. Siapa tahu ‘kan Alena di sini tidak lama lagi. Maksudnya, dia bisa kembali bekerja di kota atas bantuan Jo. Jadi, merekam suasana desa untuk jaga-jaga kalau beneran terjadi. [“Mau apa ke kota lagi? ‘Kan berita kemarin sudah selesai. Nanti kali kalau ada berita lagi.”] Alena memberengut. “Ish, kelamaan. Itu juga belum tentu ada.” Nizar kedengarannya menguap. Pria itu pasti merasa tidurnya diganggu dering telepon Alena. [“Emangnya mau apa gitu? Ada keperluan?”] “Iya, aku teh ada perlu sama teman aku yang di kota. Anterin ya.” [“Ih, males, Len. Macetnya edun. Kalau enggak penting-penting amat mah males kemarin juga.”] “Ihhh, ayo dong,” bujuk Alena. Nizar ini kalau soal kerja ada saja cadangan semangatnya, lah selain itu ada saja alasannya buat malas-malasan. “Nanti aku kasih nomor Jane dehh.” [“Jen teh siapa?”] Alena berdecak. Nizar memang lebih muda, tapi dia cowok. Enggak pantes sok ingin dibujuk kayak begini. “Yang kemarin itu lohh, Jane yang di pers.” [“Oh!”] seru Nizar. [“Eteh yang kemarin?!”] “Iyaaa. Ya, mau ya?” [“Tapi kita ke sana naik apa? Pak Wahyudi kayaknya gak bakal minjemin van yang kemarin, Len.”] Jentikan dibunyikan Alena. Assa! Yang penting Nizar sudah setuju, soal transportasi urusan belakangan. “Gampang. Kayaknya aku masih punya tabungan dikit. Cukup buat ongkos ke kota.” [“Heem, ya udah atur-atur aja. Aku mau lanjut tidur dulu.”] *** Oh ya, sebenernya ada banyak banget kata-kata yang di-italic, tapi kayaknya enggak kena ya? Seharusnya kata-kata Peter itu Italic. Harap maklum aja ya, hehe. Oh ya kenapa aku pakai kurung [] karena kalau Italic gak kebaca pasti ribet bedain siapa yang bicara. Jadi ya aku pakai itu, soalnya kurung biasa kemarin ada yang protes di apk sebelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN