Pagi kembali menyapa, kini Airin terbangun tanpa senyuman manis dan kecupan hangat dari suaminya. Semenjak perdebatannya pagi itu bersama Radit, membuat Airin sulit untuk menghubungi suaminya.
Radit sama sekali tidak menghubungi Airin, pesan yang dikirimkan Airin pun hanya dibacanya saja tanpa ada balasan sedikit pun, membuat Airin merasa kesal dan khawatir.
Tapi demi menuntaskan keinginannya untuk berkarier, Airin membuang sejenak masalah pribadi yang membuatnya sulit tidur semalaman.
“Kamu sedang apa, Mas? Aku rindu kamu. Baik-baik ya di sana. Cepat pulang,” gumam Airin sambil menatap foto dirinya dan Radit yang sengaja ia setel sebagai wallpaper ponsel.
Tak lupa Airin mendaratkan kecupan pada layar ponselnya, tepat pada wajah Radit yang terlihat begitu bahagia di dalam foto tersebut.
Berulang kali Airin menekan kontak Radit untuk diteleponnya. Tapi tetap saja, Radit tidak menjawabnya.
Untung saja Airin memiliki nomor Rian, sampai akhirnya ia jadikan jalan untuk dapat mengetahui keadaan suaminya. Airin tidak peduli sekali pun Radit akan marah, ketika dirinya menghubungi lelaki lain selain suaminya.
Radit termasuk lelaki pencemburu, melihat Airin berbincang dengan Rian pun Radit selalu salah paham. Tapi Airin tidak pernah mempermasalahkan sifat suaminya itu, selagi Radit masih dalam batas wajar, Airin hanya akan membiarkan saja.
Toh, Airin menganggap jika kecemburuan Radit adalah bentuk dari kasih sayang untuk dirinya. Tanpa dicemburui pun Airin sudah tahu seberapa besar cinta Radit untuknya.
Setelah mengirim beberapa pesan kepada Rian, Airin segera menuruni ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Setelahnya Airin bersiap untuk melaksanakan shalat subuh dan membereskan rumahnya yang besar.
Tiga jam Airin berkutik ke sana ke mari di dalam rumah mewahnya, kini Airin sudah tiba di perusahaan yang akan mewawancarainya hari ini.
Airin terlihat sangat cantik, setelan rok dan baju hitam putih melekat pada kulit mulusnya. Belum lagi olesan bedak dan lipstick yang tidak terlalu tebal membuat Airin terlihat cantik natural.
Tak hanya itu, rambut panjang Airin turut serta melengkapi kecantikan istri dari CEO PT. Mahendra Sejahtera itu. Tak hanya satu atau dua tatapan yang kini ia dapatkan dari lelaki yang berpapasan dengannya, banyak karyawan lelaki yang terpana dengan paras cantik seorang Airin Nadira, calon karyawan baru di PT. Argantara Group.
Pantas saja jika Radit begitu mencintainya dan selalu ekstra menjaga Airin, bahkan Radit selalu melarang jika Airin hendak pergi seorang diri. Pikir Radit, dia tidak ingin jika istrinya dijadikan bahan angan bagi lelaki mana pun yang memiliki otak kotor.
“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Resepsionis yang menyambut kedatangan Airin dengan ramah.
“Saya mau interview, Mbak. Barusan saya langsung disuruh masuk oleh security di depan,” jelas Airin sambil memberikan surat panggilan.
Resepsionis itu mengambil surat panggilan yang disodorkan oleh Airin, membacanya dengan saksama dan akhirnya mempersilakan Airin untuk menemui HRD di lantai 7 yang diantar oleh salah satu security pintu utama.
Setelah setengah jam Airin berbincang dengan HRD yang merekrut pegawai baru, kini Airin dibawa untuk menemui Presiden Direktur yang ruangannya berada di lantai paling atas.
Airin tidak bisa mengendalikan ritme detak jantungnya yang dirasa sangat cepat. Airin sangat gugup ketika ternyata dirinya akan ditempatkan menjadi Sekretaris Presiden Direktur PT. Argantara Group.
Itu artinya hari ini pula Airin akan mengetahui siapa pemilik perusahaan yang sangat menjadi buah pikirnya. Airin berharap jika pemiliknya adalah seseorang yang sangat ia harapkan kehadirannya. Sehingga Airin dapat mengembalikan sesuatu yang pernah orang itu berikan untuknya dulu.
Krek!
Pintu ruangan yang hendak Airin pijaki terbuka dengan lebar seiring keluarnya seorang lelaki berperawakan tinggi dan gagah berdiri di hadapannya.
Airin tertegun melihat sosok lelaki itu. Lelaki yang memiliki kharisma sangat kuat.
“Bu Airin, ini bos besar kita. Namanya Bapak Marvin Argantara.” Security itu memperkenalkan Presiden Direktur yang kini nampak terburu-buru.
“Selamat pagi Pak Marvin,” sapa Airin dengan sopan.
“Selamat Pagi,” sahut Marvin.
“Kamu sekretaris saya yang baru, ‘kan?” Marvin memastikan setelah teringat akan adanya karyawan baru yang akan menempati posisi yang dekat dengannya.
“Betul Pak.”
“Kalau begitu kamu boleh pulang sekarang dan mulai bekerja besok pagi. Hari ini saya sedang buru-buru.”
“Ada apa, Pak?” sela Security.
“Biasa.”
“Saya antar, Pak?”
“Tidak perlu, saya bisa sendiri. Dan untuk kamu ...,” Marvin mengalihkan pandangannya kepada Airin.
“Ambil semua berkas di atas meja saya. Pelajari semuanya di rumah dan bawa kembali besok. Jangan sampai ada yang terlewat.”
Airin menganggukkan kepalanya, dan segera memasuki ruangan Marvin untuk mengambil berkas yang diperintahkan setelah mendapat izin dari pemiliknya.
Airin merasa aneh dengan sikap bos besarnya, terlihat buru-buru dan seperti ada yang disembunyikan. Tetapi anehnya, Pak Bambang, security yang mengantarnya tadi seolah paham dengan apa yang dikatakan bos besar mereka. Mungkin karena Airin karyawan baru, sehingga Airin belum tahu apa-apa.
Tapi satu hal yang membuat Airin merasa kecewa, ternyata pemilik perusahaan yang dua bulan ini diincarnya bukanlah orang yang Airin cari selama ini. Meski nama belakang mereka begitu sama.
“Kamu di mana, Kak. Aku hanya ingin mengembalikan ini ....” Airin merogoh tas kecil miliknya, ditatapnya sebuah jam tangan berwarna merah muda yang selama ini selalu Airin sembunyikan dari Radit.
Setelah beberapa menit Airin mematung, Airin segera mengembalikan kesadarannya dan bergegas menuruni lift dengan beberapa berkas di tangannya.
“Kalau aku tahu pemiliknya bukan dia, pasti sekarang aku sedang menemani Mas Radit. Ih ... bodoh banget, sih. Tertipu dengan sebuah nama. Hasilnya ... udah ribut sama suami, ditambah terkaanku salah. Argh!” Airin menghentakan kakinya di atas lantai lift, merasa kesal dengan keputusan yang sudah dibuatnya.
Setelah lift mendarat di lantai dasar kini Airin berjalan keluar meninggalkan perusahaan tempat barunya bekerja. Di sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Airin mengumpat kebodohannya.
Sampai hal itu terhenti ketika ponsel yang ia simpan di dalam tas berdering menandakan satu pesan masuk. Airin menepikan mobilnya dan membuka pesan yang entah dari siapa.
My Husband
Airin terlonjak kegirangan ketika mendapati nomor Radit membalas pesannya. Airin segera membuka pesan itu dan lagi-lagi Airin kesal akibat ulah suaminya.
My husband : Sudah berani ya menghubungi lelaki lain.
Airin mengerucutkan bibirnya, Airin pikir Radit sudah berdamai dengannya, tetapi Airin salah, Radit malah semakin kesal ketika dirinya menghubungi Rian pagi tadi.
Airin : Habis Mas gak balas pesanku. Jadinya aku tanya ke Kak Rian saja. Aku gak salah loh, Mas. Mas tuh yang salah.
My husband : Kamu tahu ‘kan aku sedang marah?
Airin : Mas jangan marah terus, dong. Aku kangen tahu.
My husband : Simpan kangen kamu itu, aku akan menagihnya kalau aku sudah pulang. Jangan hubungi Rian lagi. Aku baik-baik saja. Jaga diri kamu, jangan sampai keluyuran.
Airin tersenyum membaca pesan terakhir yang dikirim Radit. Kelegaan kembali ia rasakan setelah dari kemarin Airin merasa bersalah kepada suaminya.
“Iya Mas Manjaku, aku akan menyimpan kangenku ini. Aku tunggu kamu, ya, muach,” Airin mengirim voice note untuk Radit yang diharapkan akan mengobati kekesalan Radit kepadanya.