Radit menghentikan langkahnya ketika sampai di samping pintu mobil, melihat Airin yang kini terengah-engah di hadapannya setelah berhasil mengimbangi kecepatan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Radit datar.
“Mas jangan marah. Maafkan aku.” Airin memelas sambil bergelayut di lengan Radit.
Radit sedikit mengulas senyumnya, dia rasa cara ini berhasil membawa Airin untuk ikut dengannya menuju Bandung.
“Jadi bagaimana, kamu bisa ikut?” Radit memastikan dengan nada datar.
Airin mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Radit dengan leluasa, meski kini ada rasa takut di dalam jiwanya, tetapi Airin berharap jika Radit akan memahami kondisinya.
Airin mengembangkan senyum dengan sempurna meski jantungnya terasa bertalu dengan cepat, belum lagi napas yang masih memburu menyertai Airin yang kini dilanda takut akan murka sang suami, “Gak bisa. Maaf, ya,” ujar Airin sambil tersenyum memperlihatkan gigi geriginya yang rapi.
Radit kembali meredupkan raut wajahnya. Dia sudah salah menilai jika istrinya akan luluh dengan apa yang dia lakukan.
Radit melepaskan tangan Airin dengan kasar dan beralih membuka pintu mobil. Kali ini Radit benar-benar marah.
“Mas—”
“Diam!”
Radit menyentak Airin sampai membuat Airin mengedikkan bahunya. Jika saja perusahaan yang akan mewawancarainya esok hari bukan perusahaan yang selama ini menjadi buah pikirnya, Airin pasti akan menolak dan bersedia ikut bersama Radit seperti biasa.
“Mas, buka dulu. Maafkan aku.” Airin menggedor kaca mobil milik suaminya, berharap Radit akan membuka dan memberikan senyum tanda damai dari permasalahan yang kini dibuatnya.
Radit menatap Airin dari dalam kaca mobil dengan perasaan kesal. Radit merasakan perubahan Airin selama tiga minggu terakhir ini setelah Airin memutuskan untuk bekerja.
Radit tidak mengerti apa penyebab perubahan dari Airin, yang Radit rasakan Airin mulai membantahnya perlahan demi perlahan. Terlebih Radit merasa aneh kepada Airin yang begitu minat bekerja di salah satu perusahaan yang dari dua bulan lalu diincar oleh Airin.
“Mas, buka.” Airin mengiba, kali ini air mata menyertai permohonannya.
Melihat Airin menangis, Radit menurunkan kaca mobilnya, “Kayak anak kecil aja, jangan nangis!” Radit mengusap kebasahan di pipi Airin sedikit kasar.
Bukan Radit tidak ingin menenangkan Airin, sekadar memeluk pun akan membuat Radit sulit untuk pergi tanpa sang istri.
“Idih ... yang kayak anak kecil itu kamu, Mas. Emang gak mikir nih, si Mas Manja,” batin Airin menyeruak.
Awalnya Airin memang benar-benar menangisi penyesalannya karena sudah membuat Radit marah, tetapi setelah mendengar kalimat yang dilontarkan suaminya membuat Airin berbalik kesal.
Namun kekesalannya berhasil Airin sembunyikan, dia tidak ingin membuat suaminya semakin marah layaknya angin p****g beliung.
“Maaf ya, Mas,” ujar Airin.
“Ya.”
“Kok gitu, sih. Mas gak ikhlas ya maafin aku?”
“Sudah Airin. Aku harus cepat pergi, Rian dan Rossi sudah menungguku. Aku tidak ingin terlambat.”
Deg!
Jantung Airin kembali bertalu ketika Radit menyebut nama Rossi.
Bagaimana tidak? Rossi adalah mantan kekasih Radit yang kini bekerja di perusahaan Radit dan bertugas sebagai sekretarisnya.
“Mbak Rossi ikut juga?” Airin memastikan.
“Iya. Dia ‘kan sekretarisku, jadi dia harus ikut ke mana pun aku pergi.”
Sebenarnya bukan hanya karena Radit tidak bisa jauh dari Airin, tetapi salah satu alasan Radit membawa Airin ketika dirinya hendak pergi ke luar kota adalah menjaga pikiran buruk Airin mengenai dirinya dengan Rossi.
Awalnya Airin memang bisa menerima kehadiran Rossi di perusahaan Radit. Tapi setelah dua tahun Rossi menjadi sekretaris Radit, ada satu kejanggalan yang dirasakan oleh Airin.
Perhatian Rossi enam bulan terakhir ini membuat Airin harus ekstra menjaga Radit. Meski Airin tahu dan Radit selalu meyakinkan jika Rossi sudah tidak menaruh hati lagi kepadanya.
Tapi insting seorang istri terkadang tidak pernah melenceng, Airin akan tetap menjaga Radit dari serangan wanita perebut suami orang. Terlebih wanita itu adalah mantan kekasih suaminya, yang dulu sempat memadu kasih meski tidak lama.
“Kenapa?” Radit memastikan ketika melihat Airin hanya diam menatapnya.
“Kamu cemburu? Atau kamu berpikir di sana aku akan tidur bersamanya?” lanjut Radit dengan amunisi yang kembali ia luncurkan.
Dada Airin kembali memburu, mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya. Rasa cemburu memang begitu menggebu di dalam hati Airin, tetapi semua itu berhasil ia tampik ketika mengingat jika Radit hanya mencintainya. Belum lagi rasa penasaran terhadap perusahaan yang esok hari akan dia datangi, membuat Airin meneguhkan keyakinannya.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu, Mas. Karena aku yakin ... kamu tidak akan pernah menghianatiku. Tetapi jika itu terjadi … aku tidak akan pernah memberikanmu kesempatan kedua bahkan untuk memaafkanmu pun aku tidak akan sudi,” jawab Airin dan berlalu pergi setelah meraih tangan Radit untuk diciumnya.
Radit membuang napasnya dengan kasar, mengeratkan kedua tangannya pada kemudi dengan mata tertuju kepada Airin yang berjalan cepat menuju rumah.
“Airin!” Radit berteriak sambil memukul kemudi yang sedari tadi ia cengkeram setelah melihat Airin menutup pintu dengan kasar.
Radit menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata, berharap hati dan pikirannya akan sedikit tenang.
“Aku tidak akan pernah menghianatimu, Airin. Tapi kenapa kamu menjadi seperti ini. Apa salahku, Sayang?” gumam Radit di dalam pejaman matanya.
Beberapa menit Radit terdiam, akhirnya dia memutuskan untuk segera melesat menuju perusahaan miliknya. Radit tidak ingin jika masalahnya bersama Airin akan mengganggu keberangkatannya menuju Bandung untuk bertemu dua klien penting yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Empat puluh lima menit Radit membelah jalanan Ibu Kota, tibalah ia di PT. Mahendra Sejahtera, tepatnya di kantor pusat miliknya.
“Radit!” seru Rian, asisten Radit yang sudah menunggunya di Lobi Perusahaan.
“Kok telat?” Rian memastikan setelah sampai di hadapan Radit.
“Iya. Tadi aku membujuk istriku dulu. Tapi sayangnya ... dia tidak bisa ikut.”
“Kenapa?”
“Ada interview besok.”
Rian mengangguk-anggukkan kepalanya, Rian sudah tahu alasan Airin memilih untuk berkarier, itu sebabnya Rian tidak banyak bertanya.
Rian Aldiansyah, 28 tahun, adalah sahabat baik Raditya dari masa SMP. Mereka selalu bersama, sampai akhirnya Radit membawanya untuk bekerja di perusahaan peninggalan almarhum papa Radit setelah lulus kuliah 5 tahun yang lalu.
“Radit!” seru seorang wanita, yang tak lain adalah Rossiana. Sekretaris sekaligus mantan kekasih Raditya.
“Airin mana?” tanya Rossi setelah sampai di depan Radit.
“Tidak ikut. Ada urusan mendadak.”
“Apa?”
“Gak usah menyelidik Ros, bukan urusanmu,” sela Rian.
Rossi mengerucutkan bibirnya, merasa tidak puas dengan alasan yang Radit berikan. Sebenarnya Radit tahu kalau Rossi masih menaruh hati untuknya, semenjak 5 bulan terakhir hal berbeda selalu dirasakan oleh Radit.
Tak hanya Radit yang mengetahui itu, ada Rian yang sama-sama mengetahui rasa cinta Rossi yang tidak pernah pudar untuk Radit. Itu sebabnya, Radit selalu menjaga jarak dengan Rossi. Bahkan Radit selalu menyuruh Rian untuk mendekati Rossi agar Rossi berhenti mengejarnya.
“Ya sudah. Ayo berangkat,” ajak Radit.
“Sebentar.” Rossi menghentikan langkah Radit dan Rian.
“Ada apa?” Rian memastikan.
“Kamu gak bawa koper, Dit. Airin tidak mempersiapkannya?” Rossi menyelidik kembali.
“Baju ganti bisa aku beli di sana. Aku sedang malas membawanya dari rumah,” jawab Radit ketus sambil kembali melangkah meninggalkan perusahaannya.
Rossi menyunggingkan senyumnya, ada setitik kemenangan yang dia dapatkan kali ini. Kepergiannya bersama Radit dan Rian, tidak akan terjaga oleh hadirnya Airin yang selalu menutup ruang untuknya dalam mendekati Radit.