Part 10

1157 Kata
? something gotta give by Camilla cabello? Aghata menarik Nugi memasuki sebuah salon di mall itu, saat keduanya memasuki salon mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian. "Ada yang bisa dibantu mbak?" tanya salah satu karyawan yang bekerja disalon tersebut. "Mau pendekin rambut," jawab Aghata "Oh, boleh boleh. Silahkan duduk." Aghata pun duduk disebuah kursi yang didepannya ada kaca besar, sedangkan Nugi pria itu tengah duduk dikursi tunggu. "Modelnya yang seperti apa mbak?" "Kek rambut Wendy redVelvet." "Ok." Aghata membutuhkan waktu satu jam untuk perawatan rambutnya, soalnya dia tak hanya memendekkan rambutnya tapi juga creambath dan sejumlah perawatan rambut lainnya. itulah kenapa dia tak suka orang-orang memegang rambutnya karna perawatannya sangat membutuhkan waktu yang lama dan lagi, mahal boss! Selesai dengan rambut, kini Aghata mengajak Nugi untuk makan. "Lo mau makan apa?" tanya Aghata saat mereka sudah sampai disebuah restoran Italia. Nugi yang tak mengerti bahasa Italia dan makanan Italia hanya bisa menunjuk salah satu makanan yang ada di menu. Aghata mengerutkan keningnya saat melihat makanan yang ditunjuk Nugi. "Yakin mau makan itu?" tanyanya memastikan yang diangguki oleh Nugi "Yakin nih?" "Iya!" "Ok, awas kalau gak habis gue tinggalin Lo jadi tukang cuci piring buat bayar ntu makanan." akhirnya Aghata pun memanggil waiters untuk memesan, waiters itupun pergi setelah mencatat pesanan keduanya. Tak berapa lama pesanan mereka pun datang, waiters tersebut meletakkannya dimeja mereka setelah itu kembali bekerja. Nugi terdiam saat menatap hidangan didepannya, "kenapa? Kok gak dimakan?" tanya Aghata sembari menahan tawanya. "Ini.. apa?" tanya Nugi menatap Aghata "Keju." jawab Aghata sembari menikmati pesanannya. "Yaudah makan, kan tadi pesennya itu." Nugi hanya menatap yang dipesannya itu dalam diam. "Kenapa diliatin aja? Makan! Awas kalau gak abis gue tinggal Lo, biarin mereka jadiin Lo tukang cuci piring." omel Aghata. Tak mau ditinggal oleh Aghata, Nugi pun menyendokkan keju itu kedalam mulutnya tetapi sebelum itu terjadi Aghata lebih dulu menahan tangan Nugi. Nugi menatap gadis itu dengan alis terangkat satu membuat Aghata berdecak kesal. "Gak usah dimakan." ucap Aghata "Kok?" "Kak kok kak kok. Lo mau makan tu keju basi? Liat noh ada larvanya iyuhh gak jijik?" tanya Aghata beruntun membuat Nugi terdiam "Gak papa, kalau cuma larva saya masih bisa makan kok. Lebih dari ini sudah pernah saya alami sebelum tuan Aslan memungut saya." ucap Nugi dengan lirih diakhiri kalimat yang masih bisa didengar oleh Aghata. "Pantes Lo jadi d***o gini." ucap Aghata menusuk "Kalau gak tau itu nanya! Lo punya mulut kan? Bahkan si Rios aja gak mau makan ini." ucap Aghata menyingkirkan cazu marzu dari depan Nugi, fyi Rios itu adalah jaguar peliharaan Athan. Ya, yang dipesan Nugi adalah cazu marzu yang artinya keju basi dalam bahasa Italia, keju 'basi' ini merupakan makanan tradisional Italia yang berupa balok keju domba yang berisi larva serangga yang masih hidup. tak ada yang salah memang dari keju itu tetapi larva yang bergerak-gerak didalam keju itu membuat siapapun enggan untuk memakannya tak terkecuali Aghata, bulu kuduknya langsung berdiri kala melihat hidangan itu. "Ck, nyusahin." gumam Aghata. "Nih makan," Aghata menyodorkan spaghetti carbonara kehadapan Nugi. "Lalu itu, bagaimana?" tanya Nugi menunjuk keju 'basi' tersebut "Ya dibuang lah, emang Lo mau makannya?" Nugi menggeleng polos menatap Aghata. "Yaudah cepat dimakan sebelum gue tinggal Lo biar jadi tukang cuci piring." Nugi pun menyantap spaghetti tersebut dengan cepat dia takut Aghata meninggalkannya. Aghata menopang dagunya dengan kedua tangannya dan menatap gemes pada Nugi. "Gemes bat sih, gak pernah berubah nih si anjir." ucapnya dalam ginjal. ... Kini Rolls-Royce ghost yang dipakai oleh Aghata dan Nugi sudah memasuki kediaman keluarga Jordan. Aghata memasuki rumah dengan Nugi yang mengikuti dari belakang "Dari mana?" tanya Aslan yang kini tengah duduk diruang keluarga dengan koran ditangannya. "Dari luar." Aslan menatap putri sematawayangnya itu dengan sinis, "jawab yang bener kalau daddy nanya," "Yakan udah bener kalau Aghata dari luar." Aslan berdecak lalu mengibaskan tangannya "Sudah, sudah sana kamu masuk bisa stress daddy ngomong sama kamu." "Dih, gadanta banget sih suami Aileen ini." ucap Aghata yang dibalas lemparan koran dari Aslan yang sayangnya meleset "Gak kena, wlee. Nyenyenyenye." ejek Aghata membuat Aslan mengusap dadanya sabar. Kini Aslan beralih pada Nugi, "kamu ikut saya keruang kerja." Aslan pun berlalu melewati Nugi, Nugi menghela napas panjang pasti peristiwa dengan Aghata di mall tadi sudah sampai kepada Aslan. ... Seorang gadis tengah memilih bahan makanan disebuah super market, gadis itu tengah kesulitan mengambil barang yang letaknya di rak paling atas. "Ck, tinggi bangat sih." gumamnya kesal sendiri. Saat tangannya kembali mengambil barang itu sebuah tangan lain kini ikut mengambil barang itu. Sigadis mendongak guna menatap wajah orang itu, orang itu pun menunduk saat merasakan jika seseorang sedang menatapnya. Orang itu berdehem yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. "Nih," orang itu menyerahkan barang yang diambilnya tadi kepada si gadis "Ah, iya, makasih." ucap gadis itu dengan senyum manis "Sama-sama." jawab orang itu dengan nada datar Orang itu berlalu melewati gadis itu, "anjing! Jantung gue berdetak kencang banget, ihh.. gak bisa gini gak boleh, inget dia itu siapa." ucap gadis itu menepuk-nepuk pipinya. ... "Jauhi putriku." ucapan itu yang pertama kali keluar setelah keduanya memasuki ruang kerja Aslan. "Maksudku jangan terlalu dekat dengannya, apalagi sampai jatuh cinta padanya. Ingat posisimu," ucap Aslan tenang membuat Nugi terdiam "Aku menyuruhmu untuk mengawasinya, jadi jangan melewati batas. Putriku sudah memiliki kekasih yang setara dengannya, jadi ku harap kejadian hari ini tidak terulang lagi." Aslan menatap Nugi yang juga kini tengah menatapnya, "kalau Sampai terulang lagi, kamu Taukan apa akibatnya." "Baik tuan, saya tau. Dan kejadian ini tidak akan terjadi lagi, maaf saya sudah lancang." ucap Nugi dengan menundukkan kepalanya. "Baiklah kamu boleh kembali kekamar mu, sepertinya kamu terlihat lelah." Nugi pun pamit undur diri dan pergi ke kamarnya. Aslan memutar kursi kerjanya menghadap jendela kaca yang menampakkan lapangan golf dan danau buatan dibelakang kediamannya. Lelaki empat puluh lima tahun itu tengah bergelung dengan pikirannya. ... "Marissa, gimana hubunganmu dengan Ruli?" tanya sang ayah "Biasa aja," balas Marissa malas, masih menatap majalah didepannya. Kini pasangan ayah dan anak itu tengah duduk di taman belakang rumah mereka, untuk sekedar bersantai atau saling bertukar cerita. "Teruslah mengakrabkan diri dengannya kalian kan tunangan, dan mungkin sebentar lagi meni--" "Meninggal." potong Marissa membuat Martin–ayah marissa– berdecak. "Marissa gak mau nikah sama dia." ucap Marissa saat melihat sang ayah ingin protes Marissa langsung menyela. "Marissa gak suka pah sama dia. Harus berapa kali sih Marissa bilang!" ucap Marissa hampir memekik karna tingkah papanya yang keras kepala. "Papa gak mau tau, pokoknya papa cuma mau Rulli jadi menantu papa." "Dih, dikira dia tuhan kali." gumam Marissa kesal "Marissa udah punya pacar papa!" Raut wajah Martin mengeras, "putusin!" ucapnya tak terbantahkan "Gak bisa dong Marissa--" "Putusin! Papa gak sudi punya mantu selain Rulli inget itu." setelah mengatakan itu Martin membanting korannya dan berlalu dari sana. "Bodo amat Martin, bodo amat. Ini nih akibat kelamaan menduda jadi ngeselin kan! Ck, nyonya Martin yang terhormat kenapa kamu mati terlalu cepat sih!?" Marissa mersungut sungut sembari menatap langit berharap sang ibu bisa melihatnya dari sana. Abis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN