Part 9

1137 Kata
?i'm gonna love you by Uco Exo? Aghata berjalan memasuki area mall dengan wajah ceria sedangkan Nugi dibelakang mengikuti dengan wajah masam, niat hati ingin beristirahat sebentar setelah mengawal gadis didepannya ini disekolah tetapi dikacaukan oleh Aghata yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjangnya sembari berkata 'temani gue ke mall kuy!' gadis itu bahkan tidak peduli jika dia sedang bertelanjang d**a. Huuh menyebalkan! Tetapi anehnya dia malah menuruti gadis itu "Heh! Cepetan dong, lambat bat kek siput!" gerutu gadis itu dengan raut wajah yang lucu, tanpa sadar Nugi terkekeh. "Iya sabar, kaki saya tuh lagi lemah makanya jalannya lambat emang situ kaki pendek tapi tenaganya dah kek Hulk." cibir Nugi "Udah diem, gosah kaki Shiming Lo." Nugi hanya bisa mengelus dadanya sabar. Saat Nugi berdiri disampingnya Aghata langsung menggandeng lengan lelaki itu, Nugi menunduk menatap Aghata dengan alis terangkat sebelah Aghata mendongak saat merasakan Nugi tengah menatapnya lalu beralih pada tangannya yang menggandeng lengan Nugi, "gue takut Lo ilang, Lo kan gak pernah kesini." jawab Aghata sekenanya saat menyadari pandangan Nugi. Nugi mencibir pelan, "gii tikit li iling, li kin gik pirnih kisini, omong kosong!" "Apa?" tanya Aghata "Gak." Keduanya memasuki beberapa wahana permainan, Aghata menarik Nugi untuk mencoba beberapa permainan seperti Turangga-rangga, capit boneka, saat bermain capit boneka Aghata mendapatkan satu boneka cumi-cumi setelah sekian kali gagal dan boneka itu didapat oleh Nugi dengan satu kali bermain. Kini Aghata menarik Nugi menuju Danz base, Nugi dengan malas mengikuti langkah gadis itu. "Ayo sini, Lo kudu ikut biar Lo kurusan dikit." ucap Aghata saat melihat Nugi yang berdiri diluar Danz base, Nugi yang sudah kurus saat mendengar ucapan Aghata hanya bisa memasang wajah jengkelnya. "Ihh... Ayok!" Aghata menarik Nugi untuk berdiri disampingnya. Gadis itu memilih musiknya, saat musik sudah berputar Aghata meliuk-liukkan badannya mengikuti irama musik diikuti Nugi yang menggerakkan badannya seperti orang yang kurang vitamin. Aghata yang melihat Nugi seperti itu menyenggol lelaki itu, "serius, serius!" ucapnya yang dibalas dengan decakan malas. Nugi pun mulai menggerakkan badannya dengan serius saat Aghata melotot padanya, lama kelamaan lelaki dua puluh empat tahun itupun mulai keasikan dia menyenggol Aghata agar menjauh, Aghata yang diperlakukan seperti itu tidak terima dan balas menyenggol Nugi dan acara senggol senggolan pun terjadi. Hingga Nugi menyenggol Aghata terlalu keras dan membuat gadis itu limbung dengan refleks Nugi memegangi pinggangnya tetapi keburu mereka jatuh, merek terjatuh dengan Aghata dibawah Nugi dan bibir Nugi menempel di leher Aghata. Aghata menahan napasnya kala merasakan sesuatu yang dingin area sensitifnya. Nugi terdiam dengan kejadian yang baru saja terjadi, bibirnya masih menempel di leher gadis itu dan dengan refleks dia menggigit leher putih bersih milik Aghata "Ahkk..." Aghata memekik tertahan Nugi mengangkat wajahnya dari leher Aghata masih di posisi yang sama, menindih gadis itu. Nugi menatap dalam mata gadis dibawahnya ini, begitu pun sebaliknya. Perlahan tapi pasti Nugi mendekatkan wajahnya pada Aghata dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu, hanya menempelkan tidak lebih. Aghata menutup matanya meresapi setiap rasa yang bisa dia cecap di bibir lelaki itu. Tanpa sadar air mata Aghata mengalir, dia menangis, dia menangis karna terlalu merindukan sosok diatasnya ini. Dengan tergesa tangan Aghata meraih tengkuk Nugi dan memperdalam ciumannya dengan sedikit lumatan. Nugi terkejut dengan perlakuan Aghata tetapi sedetik kemudian dia membalas ciuman gadis itu. "Adek sini sayang, biar kamu makin lincah kamu---ahhhkkkk! Oh my God!" teriaknya histeris saat menatap pemandangan didepannya sang anak yang mendengar teriakan ibunya menatap kearah sang ibu menatap lalu melototkan matanya dan langsung saja dia menutup mata ibunya supaya tidak terkontaminasi dengan pemandangan yang bikin iri dengki, soalnya ibunya janda. Seperti inilah kira-kira anak itu menutupi mata sang ibu. Aghata yang mendengar teriakan itu langsung saja melepas pungutan bibir mereka, lalu menyembunyikan wajahnya diantara d**a Nugi. Nugi sendiri wajahnya sudah memerah menahan malu dia bangkit dengan Aghata digendongnya. *** Disebuah cafe seorang gadis dan seorang pria tengah menikmati hidangannya masing-masing dengan raut wajah yang berbeda, satu hanya menampilkan wajah datar dan satunya lagi menampilkan raut senang. "Kamu mau coba yang ini gak?" tanya si gadis yang dijawab gelengan dari si pria "Kalau yang ini?" tanyanya lagi menunjuk sebuah makanan "Gak." Masih belum menyerah gadis itu kembali menawarkan, "kalau pie apel?" Pria itu menatap tajam gadis didepannya itu, "gue bilang enggak ya enggak, gak usah basa-basi sok nawarin gue." ucapnya tajam Gadis didepannya itu hanya tersenyum tetapi dihatinya sudah memaki pria sialan dihadapannya ini, "iya gak lagi-lagi, maaf." ucapnya. Pria itu hanya mendengus dan melanjutkan makannya tetapi suara ponsel berbunyi mengalihkan atensinya, dia meraih ponselnya yang berbunyi dan menatap nama yang tertera disana tanpa menunggu lama pria itu mengangkat telponnya. "Halo sayang?" "Frans, kamu bisa jemput aku gak? "Kamu dimana?" "Di toko buku biasa, kamu bisa datang?" "Iya iya, aku ke sana sekarang. Kamu tunggu ya jangan kemana-mana." setelah mengatakan itu panggilan terputus. Ruli meraih dompet dan kunci motornya, "kamu mau kemana?" tanya Marissa, ya gadis itu adalah Marissa dan pria itu adalah Ruli. "Jemput Laras." jawabnya singkat "Ck, manja banget sih." gumam marissa yang tak bisa didengar oleh Ruli. "Gue pergi dulu," Ruli akan pergi tetapi Marissa menahannya. "Terus aku gimana?" "Lo bisa pulang sendiri, taksi banyak jangan manja." "Kalau gitu si Laras juga bisa pulang pake taksi, kenapa harus telpon kamu?" "Gue pacarnya," "dia cuma pacar kamu, aku yang tunangan kamu Ruli. Kamu tega ninggalin aku?" tanya Marissa dengan wajah sedih, Ruli menghempaskan tangan Marissa yang memegangi ujung bajunya "Lo pulang pake taksi, gue bayarin!" Ruli memberikan beberapa uang pada Marissa dan berlalu keluar dari cafe. Wajah yang sedari tadi menampilkan raut sedih dan kecewa digantikan dengan wajah angkuh dan sinis. "Sianjing! Sok ganteng anjir! Dibandingin cowok gue dia belum ada apa-apanya! najis, kalau bukan gegara si tua Bangka udah gue abisin tuh cowok." Gadis itu menatap uang yang diberikan Ruli di atas meja, dan memanggil waiters "Ada yang bisa dibantu mba?" tanya waiters itu "Lo ambil nih duit! Najis banget gue megang duit dia, cuih!" setelah mengatakan itu Marissa meninggalkan cafe tersebut karna tadi sang kekasih sudah mengirim pesan jika dirinya sudah didepan cafe. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sang pujaan hatinya, saat maniknya menatap punggung seseorang yang mengenakan pakaian dinas dengan lambang bintang satu yang menunjukkan pangkat yang bertengger di bahu kanan atas. "Dorr." Marissa mengagetkan lelaki yang sedang memunggunginya itu. "Astaga ayam penyet." latah lelaki itu lalu menatap tajam si pelaku yang menyengir kuda. "Kebiasaan!" ucap lelaki itu datar "Yamaap hehehe, Jan ngambek ya gantengnya aku." ucap Marissa dengan sedikit bujukan membuat lelaki itu memalingkan wajahnya yang memerah. "Ehem... Ya udah ayo masuk, aku pengen denger cerita kamu hari ini." ucap pria itu. "Siap Brigjen satya Yesaya Ambarita!" ucap Marissa dengan tangan yang menggantung di pelipis lalu berjalan memasuki mobil pria itu. Pria itu hanya menggeleng lalu tersenyum geli dan menutup pintu mobil lalu berjalan ke sisi mobil dan duduk di bangku pengemudi, mobil itu melaju membelah jalanan ibu kota. Abis
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN