? Daisy by Ashnikko?
Aghata berjalan menuju kantin dengan Nugi yang selalu mengikuti dari belakang, Agharish tidak ikut bersama mereka karna lelaki itu sudah duluan pergi ke kantin dengan kedua teman gantengnya.
Aghata berdecak, menghentikan langkahnya dan berbalik badan membuat ia dan Nugi saling berhadapan. Nugi mengangkat sebelah alisnya
"Kenapa?"
"Lo bisa gak jalan di samping gue aja? Gue risih tau kalo Lo jalan dibelakang gue," ucap Aghata dengan raut wajah kesal dan mata menyipit
Nugi menghela napas lalu melanjutkan langkahnya tapi kali ini dia berjalan di samping Aghata, senyum Aghata merekah gadis itu menggandeng lengan Nugi membuat pria itu terkejut sebelum menetralkan kembali raut wajahnya.
Banyak pasang mata menatap mereka lebih tepatnya pada Nugi, ada yang diam diam curi pandang atau menatap secara terang-terangan yang dibalas tatapan sinis dari Aghata karna sudah berani menatap Nugi.
Mereka sampai di kantin dan Aghata belum juga melepas rangkulannya pada lengan kokoh Nugi
Gadis itu mengedarkan pandangannya guna mencari ketiga sahabatnya, setelah menemukan mereka dia menarik Nugi menuju teman-temannya.
"Ayok cepat." desak Aghata
"Iya sabar, kaki saya cuma dua." balas Nugi
Aghata mendongak menatap Nugi, "emang yang bilang kaki Lo tiga siapa?"
Nugi menghiraukan ucapan Aghata dan memilih mengikuti langkah gadis yang sedang merangkul lengannya itu.
Aghata dengan semangat menarik Nugi hingga..
Brukk
Prang
Guk guk
Seseorang menabrak pundak Aghata membuat gadis itu oleng dan hampir terjatuh jika saja Nugi tidak menahan pinggangnya.
Suasana kantin berubah sunyi, Aghata menatap Nugi begitupun sebaliknya. Ciwi-ciwi yang melihat adegan seperti di sinetron itu hanya bisa menggigiti kukunya, entah kenapa mereka baper melihat kedua sejoli itu bahkan sampai ada yang mengangkat ponselnya untuk mengambil video atau hanya sekedar foto.
Aghata tersadar dan kembali pada posisinya sembari berdehem, "kamu gapapa kan?" tanya Nugi yang dijawab gelengan oleh Aghata.
Setelah menetralkan wajahnya Aghata menatap tajam orang yang menabraknya, saat mengetahui siapa yang menabraknya tatapan gadis itu berubah jengah.
"Lo lagi, Lo lagi, punya masalah idup apasih Lo, hah?! Demen bat nabrak gue heran."
"A..aku minta maaf,"
"Halah bacot."
"Dahlah, hari ini gue lagi seneng jadi gue biarin Lo lepas." Aghata menarik Nugi untuk pergi dari sana tapi tak jadi karna satu serangga lagi muncul.
"Mau kemana Lo? Lo gak liat dia terluka?" tanya seseorang dari belakangnya
Aghata menggertakkan giginya lalu berdecak, "mau makan lah, masa ke neraka masih lama dong." balas Aghata menyebalkan
Gadis itu berbalik dan menatap Justin lalu beralih pada aura yang masih betah duduk dilantai, "luka apaan? Kagak ada tuh."
Justin terdiam lalu menatap aura yang baik-baik saja sebelum kembali menatap Aghata, "tapi setidaknya Lo bantuin dia berdiri lalu minta maaf." ucap Justin masih dengan nada dingin
Aghata mengangguk dan maju satu langkah didepan aura, gadis itu mengangkat kakinya lalu menoyor kepala aura menggunakan kakinya yang mampu membuat seisi kantin terkejut.
"Aduh sori gue sengaja." ucap Aghata minta maaf tapi dengan nada biasa saja.
Nugi hanya diam, dia tak mau melerai selagi masih batas wajar.
"AGHATA!" teriak Laras yang sejak tadi memperhatikan
Aghata menatap tajam gadis itu, berani sekali dia berteriak padanya
Laras menghampiri keempatnya, gadis itu berdiri didepan Aghata dan menampar pipi Aghata.
Seisi kantin menahan napasnya, cari mati itu si Laras pikir mereka.
Aghata menatap Laras dengan seringai yang terlihat menyeramkan, ada sedikit rasa takut saat melihat raut menyeramkan itu tetapi dia menepisnya.
"Kamu keterlaluan tau gak!? Aku dari tadi udah merhatiin dari jauh, padahal aura udah minta maaf tapi kenapa kam--"
"Arrgghghh." ucapan gadis itu terhenti digantikan dengan geraman tertahan karna Aghata menarik rambut panjangnya.
"Berani banget Lo nampar gue sialan." ucap Aghata masih dengan menarik rambut panjang Laras
"Lepasin.. sa..sakit," ucap Laras merintih
"Kalau Lo tau bakalan sakit, Lo gak bakal berani nampar gue."
"Lepasin tangan Lo!" ucap Ruli—yang sudah berdiri didepan Aghata saat gadisnya menampar Aghata—akhirnya buka suara saat melihat gadisnya dijambak.
Aghata tak mengindahkan ucapan Ruli tersebut dia malah semakin mengeratkan jambakan nya pada rambut panjang itu.
"Lepasin Aghata! Lo gila ya!" lagi-lagi ucapan Ruli hanya dianggap angin lalu oleh Aghata
Aghata menarik rambut Laras dan membenturkan kepalanya pada meja kantin berulang kali, siswa-siswi yang di kantin menjerit.
Ruli bersiap menghentikan Aghata tetapi dihalangi oleh Nugi, Ruli menatap berang padanya.
"Lepasin gue, cewek gue bisa mati karna cewek gila itu."
Nugi tak mengindahkan ucapan Ruli, dia mendorong Ruli menjauh.
"Aghata, pak Aslan menelpon." hanya dengan satu kalimat itu Aghata menghentikan aksi gilanya.
Gadis itu menghempaskan Laras yang kepalanya sudah mengalir darah, bahkan dimeja kantin pun terdapat bercak darah milik Laras.
Aghata membersihkan tangannya dan menghadap pada Nugi.
"Mana? Mana?" ucapnya panik
"Tadi beliau menelpon tapi sudah dimatikan." ucap Nugi
Aghata menghembuskan napasnya lega lalu melirik arloji yang bertengger ditangannya, "yok lah kita makan." gadis itu kembali menggandeng lengan Nugi dan membawanya menuju meja teman-temannya setelah menyebutkan pesanannya.
Semua orang yang di kantin menatap tak percaya pada Aghata, gadis itu cepat sekali berubah seolah tidak terjadi apa-apa.
Justin masih mematung ditempatnya diikuti Dion dan Wildan, sedangkan Ruli dia sudah membawa Laras ke UKS.
Bahu aura bergetar, dia ketakutan. Dia tak mengira jika Aghata senekat itu, gadis itu menutup mulutnya dia merasa mual saat mengigat betapa bengis wajah Aghata tadi.
Saat Aghata duduk teman-temannya menatap dia dengan pandangan yang sulit diartikan, "apa?" tanya gadis itu tanpa menatap ketiganya
"Eng..enggak hehe." Citra menyengir gaje
"Lo mantab bat tadi, gila! Harusnya Lo injak sekalian palanya si auranjing biar mati sekalian nyampah banget idupnnya." ucap Kenzie menggebu-gebu
"Gak ah males," balas Aghata
Pandangan Kenzie beralih pada Nugi yang duduk di samping gadis itu, "tha?"
"Hmm?"
"Itu yang di samping Lo siapa?" tanya Kenzie dengan mata berbinar
"Calon bapak anak-anak gue." ucapan Aghata itu dapat membuat Nugi blussing dan Kenzie yang berubah lesu
"Yah... Padahal pen gue epet ampe ke pelaminan." ucap Kenzie lesu, Citra menepuk-nepuk pundak gadis itu memberi semangat.
"Coba aja," raut wajah gadis imut itu kembali cerah
"Kalau Lo bosan idup, gak papa." lanjut Aghata membuat Kenzie ingin menangis, gadis itu tau jika Aghata sudah mengklaim itu tandanya tidak boleh ada yang macam-macam dengan apa yang sudah diklaim gadis itu.
"Sabar, nanti kita cari sugar Daddy. Yok bisa yok yang seperti om Aslan." bujuk Marissa yang akhirnya membuka suara
"GUE JITAK LO!" teriak Aghata membahana membuat ketiga gadis cantik itu terbahak sementara Nugi hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada yang bisa menyadarinya.
Abis