?terlalu cepat by Isqia Hijri?
Setelah selesai makan malam seperti yang dikatakan oleh sang ayah, Aghata menemui pria paruh baya itu diruang kerjanya.
Aghata masuk tanpa mengetuk pintu dan duduk di kursi yang berada didepan meja kerja sang ayah, Aslan yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon sontak menatap pada si pelaku dan lagi-lagi mendengus, sepertinya dia sering sekali mendengus selama beberapa part ini ya.
Aslan menutup telponnya dan langsung duduk didepan sang putri dengan meja sebagai pembatas mereka.
"Apa?" tanya Aghata to the point sembari memainkan bola dunia yang berada di atas meja.
Aslan berdecak kesal, ada setitik penyesalan saat tau tingkahnya waktu muda dulu menurun pada anak perempuannya.
"Tauran dengan anak sekolah lain hingga membuat salah satunya koma dengan tulang pipi yang retak dan terdapat luka di kepala, bolos sekolah, membully teman, dan terakhir menendang hidung Justin hingga patah." jelas Aslam
"So, there's something you want to say in defense?" tanya sang ayah.
"Nope, but i want to correct aku memang melakukan semua yang daddy bilang tapi aku gak ngebully ya. Enak aja it's not my style ok,"
"Daddy dapat laporan kalau kamu menjelek-jelekkan sahabatmu yang namanya aura."
"Menjelek-jelekkan apaan? Itu kenyataan daddy, kenyataan. Lagian masa cuma bilang kalau napas dia bau udah dibilang menjelek-jelekkan, itukan emang bener napas dia bau kalau ngomong pake nyimprat lagi." jelas Aghata
"Hah, sudahlah. Karna tingkah mu itu daddy punya sesuatu untukmu." Aghata yang semula menatap kukunya kini beralih pada sang ayah dengan tatapan curiga.
"Hadiah apa?" tanyanya membuat Aslan menyeringai, seringainya itu mirip sekali dengan Aghata.
"masuk!" ucap Aslan
Seorang pria dengan Hoodie hitam dan celana jeans hitam pun masuk membuat Aghata menoleh kearah pintu, Aghata menahan napasnya kala menatap pria itu.
Saat pria itu sudah berdiri di samping Aslan, Aslan pun menatap putrinya yang sedang menatap intens pria itu.
"Ehem," deheman itu mampu membuat Aghata mengalihkan pandangannya kepala sang ayah.
"Dia Nugi, Nugi Alvaro bodyguard yang akan menjaga kamu 24 jam." Aghata yang mendengar itu ingin berbicara tapi langsung dipotong oleh Aslan
"Aa~aa~" Aslan menggoyangkan jari telunjuknya, " kamu tidak punya hak untuk menolak."
"Dih.. siapa juga yang nolak? Aghata cuma mau nanya dia umur berapa?" ucap Aghata sinis yang mampu membuat Aslan malu setengah mampus ampe kebawa mimpi.
Berdehem sebentar guna menetralkan raut wajahnya dan kembali menatap Aghata, "umurnya baru 24 tahun, daddy memungutnya saat perjalanan menuju Brazil."
"Pungut, pungut, dikira kucing kali ah." gumamnya dalam lambung
"Dia akan terus bersamamu dan mengawasi mu 24 jam, dia juga akan ikut ke sekolah untuk mengawasi mu, diru–"
"Kalau ke kamar mandi, dia ikut juga?" tanya Aghata menatap pria itu yang hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi tetapi Aghata tau kalau dia salah tingkah dari telinganya yang memerah.
"Ku tebas kepalanya, kalau dia sampe ikut." ucap Aslan datar.
"Yah~ gak bisa nana nina dong, seperti yang dilakukan daddy dan mommy tiap hari." ucap Aghata menyeringai membuat Aslan berdecak
"Sudah, sudah, sana kamu keluar." ucap Aslan
Aghata bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, sebelum benar-benar hilang dibalik pintu Aghata menatap sang ayah. "Agharish bilang kalau sampai dia punya adik, akan di hancurkannya rumah ini."
"AGHATA!" teriak Aslan membuat semua orang yang berada di rumah itu menghembuskan napas panjang.
Aghata memasuki kamarnya lalu menjatuhkan dirinya ke ranjang miliknya, gadis itu termenung menatap langit-langit kamar.
"Nama sama, muka sama." gumamnya
"Apa dia benar-benar si b*****t Nugi? Nugi cowok garing yang ngajak gue pacaran waktu pertama kali masuk SMA dan bilang gak bakal ninggalin gue tapi ternyata dia boong, dia ninggalin gue pas UN pula."
"Masih untung kalau dia pindah negara, lah ini pindah alam anjing! Mati gak ngajak-ngajak gue itu si tekucing." ucapnya lirih dan tanpa sadar dia sudah menyelami alam mimpi.
Nugi adalah kekasih Morgan, kekasih yang sangat dia sayangi hingga ajal menjemput. Sejak Nugi meninggalkannya untuk selama-lamanya karna penyakit karsinoma pankreas yang diderita pria itu membuat Morgan enggan membuka hatinya untuk siapapun, sejak kematian Nugi pula Morgan kembali jadi gadis arogan yang suka ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain dan saat kecelakaan itu gadis itu pikir dia bisa berkumpul dengan Nugi di neraka ternyata Tuhan malah ngajak dia bercanda dengan melemparkannya ke buku yang bikin emosi dan gak jelas.
***
Pagi ini Aghata dan Agharish sudah siap ingin berangkat ke sekolah, saat Aghata ingin menaiki mobil yang dikendarai Agharish suara Aslan membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kamu dan Agharish berangkat bersama Nugi, daddy tidak mengijinkan kalian membawa mobil." ucap sang kepala keluarga itu.
"Apaan sih lebay banget." decak Aghata
"Tak usah membantah," peringat Aslan
"Tik isih mimbintih, najis." ucap Aghata lalu memasuki mobil yang sudah disiapkan Aslan untuk mereka.
Teringat sesuatu Aghata kembali keluar dari mobil dan menghampiri mobil yang biasa dirinya pakai bersama sang adik lalu membuka pintu bagian penumpang dan mengambil barang kesayangannya.
Aslan mengernyit, "untuk apa itu?" tanyanya.
"Untuk memecahkan kepala orang jika dia membuatku jengkel." jawab Aghata acuh
Aslan kembali menghela napas, dia benar-benar menyesali semua kelakuannya waktu muda dulu.
Aghata kembali memasuki mobil dan duduk di bangku penumpang dan Agharish duduk di samping Nugi.
Mobil mereka pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Tak lama kemudian mobil mereka berhenti diparkiran sekolah, Aghata turun terlebih dahulu lalu diikuti oleh Agharish dan Nugi. Semua siswa siswi menatap mereka lebih tepatnya pada Nugi yang tengah memakai kemeja hitam dan celana bahan hitam.
Aghata dan Agharish melanjutkan langkahnya menuju kelas diikuti Nugi dari belakang.
Aghata masuk terlebih dahulu dan duduk di bangkunya diikuti oleh Agharish sedangkan Nugi, pria itu duduk di baris paling belakang Agharish tadi sudah menyuruh salah satu siswa untuk memberikan kursi untuknya.
Bel tanda PBM dimulai pun berbunyi dan guru pun memasuki ruangan kelas.
Seorang guru wanita memasuki kelas 12 MIPA 2, dia mengernyit saat melihat Nugi duduk dibarisan paling belakang tanpa menggunakan seragam sekolah yang dianjurkan.
"Itu yang dibelakang kenapa tidak pakai seragam?" tanya guru itu lantang membuat semua mata tertuju pada Nugi, Nugi hanya diam tak tau harus menjawab apa.
"Dia pacar saya Bu, daddy saya memaksanya untuk ikut ke sekolah dengan saya supaya saya tidak membuat ulah lagi." ucap Aghata, kini semua mata tertuju padanya.
"Tap–"
"Apa? Mau melawan perintah daddy?" guru itupun kembali kicep dan melanjutkan kegiatannya untuk memulai PBM, uang memang bisa membuat orang bungkam ya.
Sedangkan Nugi yang tengah duduk dibelakang sudah memerah telinganya saat mendengar kata 'pacar' yang keluar dari mulut Aghata. Entah kenapa dadanya berdebar-debar.
Abis