Keempat gadis itu sedang asik menikmati makanannya di kantin tetapi tak berselang lama seseorang menggebrak meja mereka.
Keempat mengalihkan pandangan pada si pelaku, di samping meja mereka berdiri seorang gadis dengan pakaian pres body dan d**a di busung-busungkan.
"Apa?" tanya Citra mewakili ketiga temannya.
"Kalian semua emang bener-bener ya, tega banget Lo semua nyuruh Laras bersihin lapangan basket sedangkan kalian enak-enakan makan di kantin." jawab gadis itu marah
"Suka suka kita dong, si Laras aja biasa aja kok Lo yang sewot?" tanya Citra memicingkan matanya.
"Lo gak liat dia kepanasan di lapangan?!" sentak aura
"Kagaklah, kan kita di kantin bukan di lapangan. Lagian jangan lebay deh, segitu doang masa usah pingsan?" celetuk Aghata tanpa menatap Aura
"Lo!" Aura memajukan badannya pada Aghata membuat Aghata dapat melihat belahan d**a gadis itu
"Monmap nih, Lo bisa ngejauh gak? Itu p****l Lo nodain mata gue."
"Terus kalau ngomong bisa gak jauh dikit? Soalnya napas Lo bau." lanjut Aghata yang membuat orang-orang yang di kantin menahan tawanya karna ucapan Aghata tadi cukup lantang.
Aura mengepalkan tangannya dan hendak menampar wajah tengil Aghata tetapi diurungkan saat melihat rombongan Ruli memasuki kantin.
"KAMU TEGA BANGET SIH NGOMONG GITU KE AKU, AKU KAN CUMA NGINGETIN KAMU AJA KALAU LARAS HAMPIR PINGSAN TADI." ucap aura mengeraskan suaranya agar didengar oleh rombongan Ruli.
Aghata refleks menutup hidungnya, "dibilangin gosah ngomong deket-deket, mulut Lo bau jengkol anjing!" ucap Aghata kesal
Aura yang tak terima hendak menampar wajah Aghata tetapi diurungkan saat tangan lain sudah terlebih dulu menamparnya.
Plak
Suara tamparan itu membuat suasana hening, dan sontak membuat Marissa hendak berdiri tetapi dihalangi oleh Aghata.
Aghata menatap kesamping dan mendapati wajah datar plus dingin milik Justin.
"Jangan kurang ajar Lo." ucap Justin penuh penekanan.
Aghata yang merasa tak terima dirinya ditampar membuat ia berdiri dan meregangkan ototnya, "ternyata ada juga orang yang berani nampar gue." gumamnya lalu tersenyum seolah tertantang.
Gadis itu berdiri beberapa meter didepan Justin lalu berputar dan menendang mulut Justin.
Lelaki itu terjatuh akibat tendangan Aghata dan pipinya tertempel tanah yang berasal dari sepatu Aghata serta sudut bibirnya lecet akibat tendangan itu.
"Aduh kudu gue asah lagi nih skill per-tumbukan gue." gumamnya dan menatap remeh pada Justin yang terduduk dilantai sembari memegang sudut bibirnya, dia merasa rahangnya hampir copot karna tendangan Aghata yang tak main-main
Ketiga temannya menatap kagum pada Aghata, mereka tidak tau jika Aghata punya skill bela diri.
"Gila Lo keren banget! Udah kek yaiko kurugaya di anime little busters." ucap Kenzie sambil tepuk tangan dengan excited.
Kini Aghata beralih pada aura, "Lo mau bernasib kek dia juga?" tanyanya menghampiri aura membuat aura mundur perlahan hingga dirinya terjatuh karna tersandung kakinya sendiri.
"Ck, lemah." ejeknya menatap aura yang bergetar ketakutan.
Gadis itu menghampiri Justin yang masih sibuk memegangi rahangnya, lalu berjongkok didepan lelaki itu.
"Dengar! Gue selama ini diam bukan karna takut atau cinta sama Lo, gue cuma gak mau nyokap Lo kena serangan jantung makanya gue gak berulah. Tapi keknya Lo pengen ya nyokap Lo yang nyusahin itu berpulang kepangkuan tuhan? Hm?" tanya Aghata menatap Justin dengan tatapan mengejek tetapi raut mukanya datar.
Justin menatap Aghata dengan pandangan tajam, "wow, wow, pandangan apa itu?" ejeknya
"Jaga omongan Lo," desis Justin
"Kenapa emang? Hm? Gak terima?" tanya Aghata yang tak dijawab oleh Justin.
"Makanya Jan sembarangan Lo nyentuh gue dengan tangan najis Lo itu. Paham!" kini raut wajah yang datar itu berubah jadi dingin dan tatapan menusuk.
Aghata bangkit lalu menatap Justin untuk terakhir kalinya, "keknya dalam waktu dekat ini gue bakal mutusin perjodohan sialan ini, jadi siapin diri Lo buat bawa nyokap Lo ke rumah sakit." ucap Aghata dan pergi dari sana.
"Omongan Aghata jahat banget sih." bisik Kenzie pada Citra dan Marissa, mereka menatap punggung Aghata yang berjalan menjauh.
"Iya gue gak nyangka dia bisa ngomong gitu, tapi mengingat tingkah Justin ke dia selama ini membuat gue gak bisa nyalahin dia. Gue inget banget dulu si Justin sering banget kasarin Aghata dan mempermalukannya didepan umum," balas Citra sedangkan Marissa hanya diam tak menanggapi.
Ruli mengulurkan tangannya guna membantu Justin untuk berdiri yang disambut oleh Justin.
"Cabut." ucap Ruli yang di angguki oleh yang lainnya.
****
Malam ini semua maid di rumah Aghata sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang makan menghidangkan makanan untuk makan malam.
Aileen memasuki ruang makan, "semuanya udah siap mbok?"
"Sudah Bu," jawab kepala pelayan itu.
"Ok makasih ya mbok," ucap Aileen tulus yang dibalas senyuman dari kepala pelayan itu.
"Oh iya, mbok bisa saya minta tolong gak? Buat manggil anak-anak sama Irene soalnya bapak dan Athan sebentar lagi akan sampai." ucap Aileen yang di angguki oleh kepala pelayan itu.
Tak lama kemudian anak kembarnya dan menantunya pun turun, "tumben masak banyak?" celetuk Aghata
"Daddy sama kakak kamu udah pulang, dan sebentar lagi sampai." bertepatan dengan selesainya kalimat sang mommy, suara mesin mobil terdengar dari halaman rumah.
"Nah itu daddy kamu udah sampai, ayo kita sambut mereka." ucap Aileen
"Ngapa kudu disambut segala sih? Emang mereka Jokowi?" sungut Aghata yang mendapat toyoran di jidat dari sang adik
"Itu bokap Lo dodol." ucap Agharish datar lalu menyusul sang mommy dan kakak iparnya dengan Aghata yang berjalan dibelakangnya.
Mereka sampai di pintu utama dan tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan wajah datar sang daddy dan wajah lelah sang kakak dan seorang pria dibelakang keduanya.
Aileen langsung saja melompat memeluk suaminya, "sayang, aku kangen. Kok lama banget ngurusin masalahnya?" ucap Aileen dengan tangan yang tergantung di leher sang suami.
"Najis!" celetuk Aghata mendengar kalimat memualkan itu, Aileen menatap sengit putri semata wayangnya itu.
Aslan—suami Aileen—mengecup kening istrinya lalu beralih menatap anak kembarnya.
"Gimana sekolah kalian!" tanyanya
"B aja," jawab Aghata, Aslan mendengus mendengar ucapan putrinya itu, dari dulu Aghata memang kerap kali bertingkah tengil tetapi baru sebulan dia tinggal ketengilan putrinya itu malah makin menjadi-jadi.
"Kamu, nanti selepas makan malam temui daddy di ruang kerja." ucapnya yang dibalas deheman menjengkelkan dari Aghata.
Aghata menatap Athan yang tengah memeluk Irene dengan tangan yang mengelusi perut buncit itu.
"Heh! Lo kalau gak niat kawin jangan kawin, Lo nyiksa anak gadis orang tau gak Lo? Punya istri, lagi hamil pula malah ditinggalin. liat noh badan istri Lo dah kurus, awas kalau ponakan gue kenapa-kenapa. Bakal biasa aja gue." ucapnya membuat Agharish dan Athan memutar matanya malas
"Ck, ayo makan aga udah lapar." ucap Agharish.
Aghata melirik sekilas kearah belakang dimana seorang lelaki tengah berdiri, Aghata tak dapat melihat wajah pria itu karna posisinya sedang menunduk, saat pria itu mengangkat kepalanya Aghata dapat melihat wajah orang itu.
Aghata terpaku menatap wajah itu, air matanya meleleh. Pria itu berjalan melewatinya tanpa meliriknya sedikit pun.
Aghata memperhatikan punggung tegap itu sarat akan kerinduan.
"Woy chibi sampai kapan Lo berdiri di situ?" ucap Athan saat melihat adiknya malah terbengong didepan pintu.
Aghata yang tersadar segera menghapus air matanya dan menyusul keluarganya.