Part 5

1516 Kata
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, hal itu membuat siswa siswi bersorak senang mereka berbondong-bondong keluar kelas. Aghata membereskan barang-barangnya lalu menoleh pada sang adik yang tengah menunggunya sembari memainkan ponselnya. "Cabut." ucap Aghata membuat Agharish menatap sang kakak lalu mengangguk, keduanya keluar dari kelas menuju parkiran. Sampai diparkiran mereka melihat Marissa, Citra, dan Kenzie sudah menunggu di motor masing-masing. Aghata membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana. "Lo duluan aja, kalo nyokap nanyain gue bilang aja lagi ada misi penyelamatan dunia." ucap Aghata nyeleneh membuat Agharish menatapnya dengan pandangan julid. Agharish menatap tongkat baseball yang baru saja diambil oleh Aghata dari mobil, Agharish tau apa yang akan Aghata lakukan apalagi jika sang kakak sudah mengambil tongkat baseball yang selalu diletakkan di mobil bagian belakang. Lelaki itu menghela napas, "awas Lo kalau sampai bokap tau, gue gak mau nolongin." ucap Agharish "Gak ada juga niatan gue buat minta tolong sama Lo." balas gadis itu membuat Agharish geregetan. "Gue aduin Lo sama mommy." ucap Agharish "Ok, siap siap aja ni tongkat melayang ke pala lo." ucap Aghata santai lelaki itu mendengus lalu memasuki mobilnya dan membanting pintunya dengan keras. "Udah siap?" tanya Marissa yang di angguki oleh Aghata. Aghata menaiki motor Marissa–yang di curi dari tukang kebun dirumahnya– dan melaju meninggalkan parkiran sekolah diikuti oleh motor Citra dari belakang. Saat melewati Ruli dan teman-temannya yang tengah berdiri diparkiran sebelah utara, Aghata yang mengunyah permen karet dengan tongkat baseball bertengger di bahunya mengacungkan jari tengahnya saat pandangan matanya menatap aura. "Loser." begitu kira-kira kata yang ditangkap oleh aura saat Aghata menatapnya. *** Kini empat orang gadis tengah berdiri disebuah lapangan, dengan angkuh menatap kira-kira kurang lebih tiga puluh orang gadis yang sedang berdiri dihadapan mereka. "Segini doang? Halah Cemen." celetuk Aghata masih dengan mengunyah permen karetnya. Gadis didepan mereka—yang diketahui pemimpin dari dua puluh sembilan orang lainnya—menatap berang pada Aghata. "Gosah bacod, kita buktiin aja sekarang." ucap gadis itu sinis. "Gaskanlah." ucap Aghata membuang permen karetnya lalu berdiri tegak. "Serang!" perintah gadis itu pada anggotanya. Dan aksi tauran pun tak terelakkan lagi, Aghata dengan gesitnya menebas mereka dengan tongkat baseballnya, hingga tibalah dia berhadapan dengan seorang gadis berambut jamet dengan tindik di alis kirinya sebut saja namanya Gita "Akhirnya datang juga waktunya, dah lama gue pengen adu jotos sama Lo." ucap gadis itu membuat Aghata memutar matanya malas. Saat Aghata ingin melayangkan tongkat baseball gadis didepannya itu berucap, "ah.. masa pake senjata, tangan kosong kalo berani. Malu dong sama bocah." ejek Gita membuat Aghata melempar tongkat baseball ke bawah kakinya. Gadis berambut jamet itu melayangkan tinjunya yang berhasil ditangkis oleh Aghata, gadis itu kembali melayang tinjunya kali ini dia tidak memberi jeda dan hal itu membuat Aghata agak kewalahan menahan serangan tersebut. Merasa serangannya selalu ditangkis membuat Gita geram dan keluarlah jiwa ceweknya saat berantam, dia menarik rambut Aghata dan menjambaknya membuat pandangan mata Aghata seketika menggelap. Asal kalian tau Aghata akan sangat marah jika seseorang memegang kepalanya terlebih rambutnya tanpa persetujuan darinya. Heh! Butuh uang gede untuk merawat rambutnya. Aghata menatap jamet didepannya ini dengan nyalang, menjauhkan kepalanya dari tangan kotor gadis itu walau itu mengakibatkan rambutnya banyak yang rontok. "Rambut gue sialan!" geramnya. Dia menonjok wajah gadis itu hingga gadis itu limbung dengan tulang hidung yang patah akibat tonjokan keras dari Aghata. Aghata menendang kaki gadis itu lalu beralih ke perut membuatnya muntah darah. Tangannya yang gatal ingin menonjok kini kembali melayangkan tinjunya pada Gita yang sudah tergeletak di tanah, wajah gadis itu sudah penuh dengan darah serta pandangan matanya mulai meredup. Tapi itu tak cukup untuk membuat Aghata puas, dia mengambil tongkat baseball dan memukul gadis itu berulang kali dan menginjak kepalanya "Hah, segini doang kemampuan Lo? Gaya pen ngabisin gue, bikin muka gue bonyok aja kagak bisa Lo. Tapi lumayan juga jambakan Lo." ucap Aghata Aghata menendang pipi gadis itu dengan keras hingga terdengar bunyi 'krek' setelah puas membuat tulang pipi gadis itu retak kini Aghata menginjak-injak perut gadis jamet itu. Kenzie yang melihat Aghata hampir membunuh anak orang membuat ia langsung lari menghampiri Aghata dan menariknya dari sana. "Udah woy, bisa mati anak orang." ucap Kenzie "Lepasin gue, biar gue kirim ni setan kepangkuan Malaikat. Berani bat nyentuh rambut gue." geram Aghata, Kenzie yang hendak membalas ucapan Aghata terhenti karna mendengar suara sirine polisi. Sontak tauran itu terhenti dan mereka sibuk melarikan diri, begitu juga dengan Aghata dan Kenzie mereka berlari kearah motor Citra dan Marissa berada, setelah sampai mereka sudah melihat Marissa dan Citra yang sudah nangkring di atas motor yang sudah menyala. "Cepetan!" teriak Marissa membuat Aghata dan Kenzie berlari. Setelah dirasa Aghata dan Kenzie sudah naik kedua motor itu langsung berlalu dari sana dengan kecepatan tinggi. Pukul setengah enam sore Aghata sampai dirumahnya. Dengan santai dia memasuki rumahnya "Dari mana kamu kak?" tanya sang mommy tanpa menatapnya yang kini tengah duduk di ruang santai. "Tauran." jawab Aghata seringan bulu. "Oh, sudah mandi sana lalu makan." ucap sang mommy Tanpa mengucapkan apapun dia melanjutkan langkahnya menuju kamar guna membersihkan diri. Setelah Aghata pergi, Aileen meraih ponselnya dan menghubungi sang suami "Dad, anak gadismu tauran lagi." ucapnya membuat orang diseberang sana mendengus. "Biarkan saja dulu, pulang nanti aku punya hadiah untuknya." *** "Bagaimana kalian bisa tauran dengan memakai seragam sekolah seperti itu!" ucap seorang guru laki-laki pada keempat gadis yang sedang berdiri dihadapannya. "Ya bisalah, tinggal tauran doang trus pake baju sekolah. Pake nanya lagi nih guru," ucap Citra berbisik pada ketiga temannya. "Gimana jawabnya, gimana aku bisa jawabnya dengan pertanyaan yang gak jelas yang bikin aku emosi." ucap Kenzie membuat guru itu menatapnya tajam sedangkan kedua temannya sudah mati-matian menahan tawa Memang Kenzie is de bes. "Ini terakhir kali saya mendengar kalian tauran dengan menggunakan seragam sekolah." ucap guru itu "Sebagai hukuman kalian membersihkan seluruh lapangan yabg dipakai untuk berolahraga." ucap guru itu membuat Aghata melotot. "Gak bisa begitu dong pak, kan kita cuma tauran doang." ucap Aghata protes. "Tauran doang kamu bilang? Apa kalian tau perbuatan kalian itu bisa berpotensi merusak reputasi sekolah." Aghata berdecak kesal, "sudah kalian jalankan hukuman kalian tidak ada komentar lagi, atau mau saya tambah hukumannya?" Dengan sebal keempat gadis itu keluar dari ruangan tersebut, Kenzie menatap guru BK tersebut lalu memegang meja dan menggoyangkannya. Kebayang gak? Dia tuh kek ngejek gitu. "Dasar guru ngenes." ejak Kenzie lalu berlari menyusul ketiga temannya sebelum guru itu marah. Kini keempatnya tengah berada di lapangan basket dengan tangan yang memegang alat kebersihan. Aghata menatap sapu yang dipegangnya lalu menjatuhkannya, "dih males bat gue nyapunya dirumah aja gue gak pernah pegang sapu." ucap Aghata dan memilih pergi meneduh. Marissa, Citra dan Kenzie hanya dapat menatap Aghata dengan pandangan iri, karna gadis itu begitu berani tak seperti mereka walaupun mereka suka tauran dan membuat masalah lainnya tapi mereka tak cukup berani untuk membantah ucapan guru Bk tersebut. Karna yang jadi guru BK itu adalah kakak Kenzie? Aghata berjongkok di pinggir lapangan sambil memperhatikan ketiga temannya yang sedang bersih-bersih. Merasa bosan gadis itu mengalihkan pandangannya dan tak sengaja menangkap sosok seorang gadis tengah berjalan sendirian "Woy!" panggil Aghata membuat gadis itu menoleh dan menatap kearahnya "Kenapa tata?" ucap gadis itu saat dirinya berdiri di hadapan Aghata, Aghata yang mendengar panggilan gadis itu mengerutkan keningnya sok kenal beut nih cewek pikirnya. "Lo baik kan tuh, suka caffer juga. Nah berhubung kelas si Ruli ada jam pelajaran olahraga Lo bisa dong ya gantiin gue dan teman-teman gue bersihin nih lapangan." ucap Aghata membuat kening Laras mengkerut. "Maksud kamu?" tanyanya "Ck, maksud gue Lo yang bersihin nih lapangan, bentar lagi si Ruli ma kawan-kawannya bakal olahraga. Kapan lagi coba Lo bisa caffer sama mereka dan ngejelek-jelekin gue ma teman-teman gue." ucap Aghata tetapi melihat Laras yang sepertinya belum paham membuat ia geram. "Sudahlah sialan!" ucap Aghata kesal sendiri dan berteriak memanggil teman-temannya untuk pergi kekantin. "WOY! KANTIN LAH." Ketiganya menoleh dan mengangguk, mereka menghampiri Aghata dan Laras. "Lo ngapain disini?" tanya Marissa tak suka "Em... A–aku dipanggil sama tata tadi." ucap Laras menunduk. Marissa menatap Aghata minta penjelasan yang dibalas gidikan bahu oleh Aghata, Aghata merampas alat kebersihan dari tangan ketiganya lalu menyerahkannya pada Laras. "Tolong ya, Lo yang gantiin kita. Fliss kita dah gak sanggup nih, dari pagi belum sarapan juga." ucap Aghata terdengar minta tolong tapi dengan wajah dan nada bicara yang datar. Laras hanya bisa mengangguk kaku, dia tak enak jika menolak. Akhirnya Aghata dan ketiga temannya pun berlaku ke kantin meninggalkan Laras yang tengah membersihkan lapangan basket. Setibanya di kantin mereka memesan nasi goreng dan duduk didekat pintu masuk kantin. "Wak gue mo nanya." ucap Aghata membuka suara membuat atensi ketiga temannya mengarah padanya "Di surga cuma ada kebahagiaan, kedamaian terus disana apa yang kita mau pasti ada? iya kan?" tanyanya yang di angguki oleh ketiganya "Nah, kalau semua manusia udah mati terus masuk surga apa yang kita mau pasti terkabul kan?" lagi-lagi ketiganya mengangguk "Terus nih ya, kalau nanti di surga gue minta tipi bakalan dikasih gak? Terus ntar kalau emang dikasih itu pembuatan pilimnya dimana? Terus apakah Naruto bakalan tayang di jam seperti biasa?" tanya Aghata membuat ketiganya terdiam. Ini mereka yanggoblokk atau Aghata yang kurang pinter? Tolong dijawab man-teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN