Aghata memasuki kelasnya diikuti oleh Agharish yang masih saja menatapnya dalam, membuat gadis itu risih.
"Apaan sih Lo!? Gue risih tau gak!" ucap Aghata yang tak diindahkan oleh Agharish
Aghata berdecak dan memilih duduk di bangkunya diikuti oleh Agharish, kali ini lelaki itu sudah tak menatap pada Aghata lagi. "Njir gue baru inget kalau ada pr." ucap Agharish yang sibuk mengeluarkan buku pr-nya.
"Ta gue nyontek dong." ucap Agharish membuat Aghata menatap kesal padanya, apakah adik kembarnya ini amnesia? Dia kan baru saja kembali sekolah dia tak tau menahu tentang pr itu.
"Cepetan!" desak Agharish menatap Aghata
"Jan ampe Lo gue kekepin di ketiak ya." ucap Aghata membuat Agharish mengingat sesuatu lalu menyengir kuda
"Maap maap." Agharish pun beranjak dari duduknya mencari bahan contekan.
"Heh, cepetan! Gue juga mau nyontek." ucap Aghata membuat Agharish menatap sinis padanya.
Bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi semua anak-anak XII IPA 2 grusak-grusuk kembali ke tempatnya masing-masing, tak lama kemudian guru pun masuk dan PBM pun dimulai
***
Aghata dan Agharish berjalan beriringan menuju kantin, jam istirahat sudah dimulai sejak lima menit yang lalu.
Keduanya memasuki area kantin, Aghata mengamati kondisi kantin tersebut lalu melanjutkan langkahnya. Banyak pasang mata yang menatap kearahnya pasalnya mereka baru kali ini melihat Aghata menginjakkan kaki di kantin tanpa Marissa dan teman-temannya.
Aghata dan Agharish memilih duduk di meja tengah, "Lo mau makan apa?" tanya Agharish
"Samain aja sama Lo." jawab Aghata menatap sang adik, Agharish mengangguk lalu pergi ke stan makanan.
Aghata sibuk dengan ponselnya hingga tepukan di bahunya membuat ia menoleh
"Sialan ya Lo, ke kantin gak ngajak-ngajak." ucap Marissa menatap kesal pada Aghata
Aghata hanya menggidikkan bahu acuh, "oh iya, nanti jangan langsung pulang." ucap Marissa membuat Aghata menatap penuh padanya
"Kenapa?" tanya gadis itu
Marissa menatap Citra memberi kode, Citra pun menunjukkan sesuatu pada Aghata lewat ponselnya. Aghata menatap ketiga temannya lalu menyeringai.
"Ck, makin bergelora nih jiwa preman gue." ucapnya menyugar rambut coklatnya ketiganya ikut menyeringai, asal kalian tau Aghata ini orangnya diam-diam menghanyutkan.
Agharish datang bersama pesanannya dan Aghata. Sedangkan ketiga temannya membawa bekal masing-masing.
Saat ingin menyuapkan makanan itu ke mulut, suara seorang gadis membuat mereka menoleh.
"Permisi.. kita boleh gabung gak?" ucapnya, belum sempat mereka mengiyakan salah satu cowok yang datang bersama gadis itu langsung mengambil tempat diantara Aghata dan Agharish.
Aghata yang tak suka, mengangkat kakinya dan mendorong lelaki itu menggunakan kakinya hingga terjungkal dan kepalanya membentur kursi tak terlalu keras memang tetapi cukup membuatnya meringis.
"Anjing! Sakit!" ucap lelaki itu sebut saja namanya Wildan
Wildan berdiri lalu duduk di samping Agharish sambil menatap Aghata penuh permusuhan, "gak asik lo, Lo gak inget waktu Lo pengen ketemu sama Justin Lo datangnya ke gue?" tanya Wildan mengungkit-ungkit jasanya.
Aghata tak mengindahkan ucapan Wildan lebih memilih menikmati makanannya.
Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga Laras berteriak memanggil seseorang.
"Aura! Sini!" ucapnya memanggil seorang gadis, gadis itu menatap Laras dan berjalan mendekatinya
Laras menatap Aghata dan teman-temannya, "aura boleh gabung ya?" ucapnya yang tak dihiraukan oleh mereka
Aura pun datang dan ikut bergabung dengan mereka, "halo." sapa gadis itu membuat Kenzie dan citra memutar matanya malas, sedangkan Marissa menatap datar pada gadis itu dan Aghata dia menatap gadis itu dan memindai dari atas hingga bawah dengan lidah memainkan pipi bagian dalamnya.
"Wow." ucap Aghata, "kalung Lo cantik, iya gak Ga?" tanya Aghata menunjuk kalung berbandul 'A' dengan lapisan emas putih dan permata yang digunakan Aura sembari menanyakan pendapat Agharish.
Air muka aura langsung pucat, Agharish menatap kalung yang digunakan aura lalu memicingkan matanya.
"Perasaan gue doang atau itu sama kek kalung Lo yang ilang waktu itu?" tanya Agharish masih memperhatikan kalung itu.
pasalnya dari bentuk rantai dan permata yang di gunakan terasa tak asing, hanya beberapa orang yang bisa membuat kalung seperti itu mengingat proses pembuatannya yang lama karna memang kalung milik Aghata yang hilang waktu itu di desain khusus oleh Aslan untuk Aghata saat ulang tahun yang pertama.
"Halah. mana mungkin, kali aja sama. Lo pikir Lo doang yang berinisial 'A'?" ucap Dion membela Aura.
"Oh, gak heran sih penghianat emang cocoknya ama yang bekasan." ucap Aghata menyeruput minumannya dan kembali berbincang dengan Marissa.
"Jaga omongan Lo," ucap Justin yang sedari tadi terdiam. "Lo sahabatnya kan? Gak seharusnya Lo ngomong kek gitu sama dia." ucap Justin dingin
Aghata menatap Justin dengan alis terangkat satu, "sahabat?" tanyanya lalu menyeringai lebar.
"Monmap gue gak selevel sama sampah." ucap gadis itu lalu menepuk bokongnya seolah menghalau debu yang menempel dan berlalu dari sana.
"Hiih. b***h!" ucap Citra dan Kenzie dan pergi dari sana, mata Aura bergetar dengan tangan yang mengepal erat.
"Jadi gak selera gue lanjutin makan," ucap Agharish dan berlalu dari sana meninggalkan keempat lelaki dan dua gadis tersebut.
Seseorang dari mereka memperhatikan punggung Marissa yang berjalan menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
"By, kamu gak makan?" tanya Laras membuat lelaki itu memutuskan tatapannya yang menatap punggung Marissa.
"Ah.. iya ini mau makan kok by," ucap lelaki itu, lelaki itu bernama Frans Ruli panggil saja Ruli, si tokoh utama pria yang dibaca oleh Morgan di novel yang berjudul 'the badboy my boyfriend' sebelum berpindah jiwa, yang ditakdirkan hidup bahagia bersama sang tokoh utama wanita, Angelina Larasati.
Ruli adalah anak yang nakal, dan suka sekali berkelahi dia arogan dan keras kepala. Memiliki wajah yang rupawan membuat ia digilai semua gadis di sekolahnya, terkecuali Aghata tentu saja karna gadis itu sudah cinta mati pada Justin. Ruli dan Marissa adalah teman masa kecil, dan tanpa Ruli sadari Marissa sudah menaruh perasaan padanya sejak duduk di bangku menengah pertama, setiap gadis yang dekat dengan Ruli pasti akan berurusan dengan Marissa and the gang dan Ruli tidak suka dengan Marissa yang seperti itu.
Puncaknya saat memasuki sekolah menengah atas saat Ruli baru pertama kali merasakan hatinya berdebar saat bertemu dengan seorang gadis. dan dengan gencar Ruli selalu mencari masalah pada gadis itu hingga mereka menjalin hubungan, rupanya kabar itu menyebar cepat dan sampai ke telinga Marissa, Marissa yang merasa cemburu tak terima dan membully Laras dengan sedemikian rupa bersama tiga temannya.
Itu membuat Ruli mengamuk dan persahabatan mereka hancur, tak sampai disitu kedua orang tua mereka menjodohkan keduanya, bagi Marissa ini adalah berkat tetapi bagi Ruli ini adalah kesialan. Dia selalu mengabaikan Marissa dan lebih memperhatikan sang pujaan hati membuat Marissa semakin gencar merundung Laras.
Tapi pada akhirnya sama seperti cerita lain, sang pemeran utama pria hidup bahagia bersama pemeran utama wanita. Sedangkan antagonis? Kalau tidak mati ya hidup menderita, lihatlah betapa tak adilnya para penulis ini. Ck ck ck!