Part 3

1444 Kata
Setelah acara makan-makan tadi kini Aghata sudah berada didalam kamarnya lagi pula teman-temannya dan teman-teman sang adik juga sudah pulang ke habitat masing-masing sekitar satu jam yang lalu. Kini gadis itu tengah mengamati setiap sudut kamar itu, "hm, lumayan juga selera nih cewek." ucapnya lebih ke gumaman. Gadis itu duduk ditepi ranjang dan memikirkan sesuatu. "Marissa," gumam gadis itu menatap keluar jendela, "namanya kek gak asing." tambahnya. Dia melarikan maniknya pada meja belajar yang tepat berada di samping ranjangnya, Morgan yang sudah menjadi Aghata itu bangkit dan melihat-lihat apa saja yang ada dimeja belajar gadis yang tubuhnya sedang ditempatinya. Maniknya tak sengaja melirik buku dengan cover coklat dia meraih buku itu dan membukanya, yang pertama dilihat adalah sebuah tulisan besar 'DIARY' "Alay, jaman sekarang emang masih ada yang beginian?" nyinyirnya. Gadis itu membuka halaman pertama dan membacanya dengan serius. Butuh waktu setengah jam untuknya membaca diary tersebut. "Keknya tuhan lagi berjanda nih sama gue, masa gue masuk ke tubuh cewek nolep, b**o, d***o, pendiem kek gini sih. Iyuhh apaan lagi nih, 'iki singit mincintii kimi Jistin' prett! Cinta cinta tay kucing!" umpatnya saat mengingat potongan kalimat yang sempat ingin membuatnya mual. Melempar asal buku tersebut, Aghata memilih berbaring dan bergelung dengan selimutnya melupakan sejenak apa yang tengah dia alami saat ini, mungkin besok tuhan sudah berhenti merajuk kepadanya dan membiarkannya kembali ke tubuh aslinya atau paling tidak mati dengan tenang. Tak sampai lima menit gadis itu sudah terlelap dengan kaki yang menggantung di sisi ranjang. ... Aghata berada disebuah ruangan bernuansa putih, dia melarikan maniknya menatap sana-sini. "Ck, gue dimana lagi nih?" decaknya kesal Tepukan di bahunya membuat ia berjengit kaget dan berbalik hendak menyumpah sarapi orang yang mengagetkannya. Tetapi suaranya seperti tersangkut di tenggorokan saat melihat wajah orang didepannya ini, "Lo... Lo gue?" tanyanya ambigu yang dijawab senyum tipis dari orang didepannya itu. "Wah... Sape Lo? Pasti Lo jin kan? Iyakan?" tuduhnya dramatis. Lagi-lagi orang didepannya itu hanya menanggapi dengan senyum tipis, "aku adalah kamu dan kamu adalah aku." ucap orang itu "Apaan, iki idilih kimi din kimi idilih iki najis banget! Gue gak nolep kek Lo gak d***o juga apalagi bego." sinisnya Orang dihadapannya menghela napas panjang, "aku adalah kamu dimasa lalu, dan kamu adalah aku dimasa depan. Kita itu satu." jelas orang itu "Tunggu-tunggu," Aghata memegang kepalanya, "keknya gue udah gila nih, apa nih orang yang gila?" gumamnya menatap orang didepannya itu. "Terserah kalau kamu tidak percaya, yang pasti kita itu satu jiwa. Dan karna jiwaku sudah mati dimasa depan itulah mengapa kamu terlempar kembali ke masa lalu. Dan sekarang kehidupan ini adalah milikmu kamu bebas melakukan apa saja yang kamu mau." ucap orang yang wajahnya mirip sekali dengannya. "Tanpa Lo bilang pun gue tetap bakalan ngelakuin apa yang gue mau!" tegas Aghata. Gadis didepannya hanya bisa tersenyum miris lalu mengangguk, "betul kamu harus melakukan apapun yang membuat kamu senang, jangan sepertiku." gumamnya "Apa?" tanya Aghata dengan alis berkerut. "Tidak ada," "Ingat, hiduplah sesuai dengan keinginan mu." setelah mengatakan itu gadis yang sebenarnya Aghata dimasa lalu itupun menghilang dari hadapan Aghata. Aghata terbangun karna merasakan seseorang menendang kakinya. "Bangun!" ucap suara bass itu, Aghata menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatannya "Dari mana Lo masuk?" tanyanya pada Agharish "Dari pembuangan dikamar mandi." jawab Agharish menjawab pertanyaan t***l sang kakak. Aghata mendengus lalu bertanya 'ada apa' pada lelaki itu. "Disuruh mandi sama mommy abis tuh turun buat makan malam, dan malam ini kak Irene datang untuk ikut makan malam." jelas Agharish "Emang ini jam berapa? Udah makan malam aja." sahut Aghata menggaruk kepalanya lalu lehernya yang terasa gatal "Jam enam sore." ucap Agharish dan berlalu dari sana. "Gila, lama juga gue tidurnya, tapi perasaan gue tidur cuma lima menit dah." gumam gadis itu lalu beranjak dari sana dan berjalan menuju kamar mandi. ... Selesai mandi Aghata menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan di sana dia dapat melihat sang mommy tengah menata makanan yang sudah dimasak oleh beberapa pelayan bersama seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tiga tahun. Bunyi kursi yang berdenyit mengalihkan pandangan kedua wanita berbeda usia tersebut. "Kamu udah enakan?" tanya wanita di samping mommy nya dengan basa basi "Udah kak." jawab Aghata, dapat Aghata lihat jika wanita tersebut tengah mengandung terlihat dari perutnya yang agak membuncit. "Kakak hamil?" tanya Aghata membuat semua orang di sana menatapnya horor, Aghata menatap mommy dan adiknya dengan alis terangkat. Agharish menarik kakak kembarnya itu untuk duduk di sampingnya lalu berbisik, "ngapain Lo nanya begitu?" "Lah emang salah ya?" tanya Aghata ikutan berbisik "Ck, nanti kak Irene sedih lagi. setiap ditanyain apakah dia lagi hamil pasti dia sedih gegara keinget sama kakak Lo yang gada akhlak itu, istrinya lagi bunting malah pergi ngikut daddy, dihubungin kagak pernah diangkat." ucap Agharish panjang lebar membuat Aghata mengangguk paham. "Kalau gitu kenapa dia gak ikut sama kakak Lo aja? Atau gak ditahan kek kakak Lo, apa kek." ucap Aghata "Ya gak bisa, kakak Lo itu gak bisa dibilangin." balas Agharish "Halah cerai ajalah, ribet amad!" "Iya cerai, abis tuh dia tinggal nama doang karna udah dihabisin sama daddy. Asal Lo tau ya daddy tuh paling gak suka sama perceraian." "Mantap bat daddy gue." decak Aghata kagum "Sudah sudah, dilanjut nanti saja sekarang kita makan dulu." ucap Aileen menginstruksi supaya anak kembarnya berhenti berbicara. Kedua bersaudara itupun menghentikan pembicaraan dan malam itu mereka makan dengan khidmat. Selesai makan keempatnya bersantai ria di ruang keluarga Aileen sedang menonton film bersama Irene sedangkan Agharish sibuk dengan benda pipih di genggamannya dan Aghata sendiri sedang menatap perut Irene yang membuncit dengan pelototan, "dia udah berapa bulan kak?" tanyanya masih fokus pada perut itu Irene mengelus perutnya sembari tersenyum, "jalan enam bulan." "Wah... Aku boleh pegang gak?" tanya Aghata "Boleh dong," ucap Irene Aghata mengelus perut buncit itu, "halo, ini Tante Aghata." ucapnya dan mendapat respon tendangan dari si jabang bayi Aghata melotot, "dia nendang!" ucapnya girang membuat Agharish berjengit kaget dan hampir saja menjatuhkan ponselnya. "Biasa aja dong Jamal!" sentaknya menatap sengit pada Aghata yang tak digubris oleh si kakak. "Mom dia nendang." ucap Aghata lagi membuat Aileen terkekeh lalu menggeleng. "Kamu seneng ya di sapa sama Tante?" ucap Aghata membuat Agharish kepo. Lelaki itu mendorong sang kakak hingga gadis itu terjerembab dan berganti mengelus perut kakak iparnya. "Halo ini kak Agharish," ucapnya "Kakak, kakak, sok muda Lo njing!" "Kakak ngomongnya." tegur sang mommy membuat Agharish tersenyum mengejek Aghata hanya mendengus keras, gadis itu bangkit lalu mendorong Agharish menggunakan kakinya membuat lelaki itu terdorong ke depan dan hampir saja kepalanya membentur perut buncit Irene. "Aghata d***o!" teriak Agharish membuat Aghata yang masih di anak tangga terbahak. ... Hari ini adalah hari pertama Aghata kembali masuk sekolah setelah sembilan hari tak masuk akibat kecelakaan kecil saat dirinya bermain basket dengan teman-temannya. Saudara kembar itu keluar dari Toyota FJ40 saat sudah berada diparkiran sekolah. "Dah sehat Lo?" tanya seorang lelaki saat keduanya melewati parkiran khusus sepeda motor, lelaki itu sedang nangkring di atas motor sportnya bersama dengan teman-temannya. Aghata mengernyitkan keningnya, "bukan urusan Lo!" bukan Aghata yang menjawab tetapi Agharish, lelaki itu merangkul pundak Aghata dan menutup matanya "Ayo lanjut jalan," Agharish menarik sang kakak dari sana. "Woy Aghata! ni si Justin nih." ucap salah satu dari mereka membuat Aghata menoleh ingin menatap pria bernama Justin tersebut tetapi Agharish dengan sigap menarik wajah Aghata kembali lurus ke depan. Mereka berjalan menyusuri koridor kelas Aghata begitu fokus memperhatikan kelas kelas yang dia lewati hingga tiba-tiba seseorang menabraknya. "KALAU JALAN PAKE MATA DONG! AH!" bentak Aghata membuat murid-murid itu memperhatikan mereka. "Ma..maaf." ucap gadis itu dengan menunduk "Maaf, maaf, sakit nih!" ucap Aghata kesal, Agharish hanya menonton tak berniat melerai keduanya dia syok kakaknya yang pendiam sekarang malah senggol bacok. "Ak.. aku gak sengaja." ucapnya lirih hendak menangis "Lo yang nabrak malah Lo yang nangis, sehat Lo!" bentaknya lagi semua orang yang di sana terperangah menatap Aghata yang sedang membentak 'ratunya' para cogan "Apaan nih?" ucap seseorang membelah kerumunan itu dengan diikuti oleh teman-temannya. Orang itu menatap gadis yang tertunduk dengan bahu yang bergetar itu lalu beralih menatap Aghata. "Apa yang Lo lakuin?" tanyanya dingin menatap Aghata "Lo siapa nanya nanya?" tanya Aghata balik menatap tajam padanya Suasana menjadi hening dan mencekam, aura dingin seolah-olah mencekik orang-orang yang berada disana tetapi tidak dengan Aghata tentu saja, dia sudah kebal dengan hal seperti ini. "Gue Justin." ucap lelaki itu dingin Aghata menatapnya dari atas hingga bawah sebanyak dua kali lalu menyeringai. "Jadi Lo yang namanya Justin? Gak seganteng yang gue kira ternyata." ucapnya gadis itu menyeringai lalu melanjutkan langkahnya sembari menabrak bahu gadis yang diketahui bernama Laras itu dengan keras hingga membuat gadis itu limbung kalau saja pria berwajah tampan disampingnya tidak menangkapnya. "A trash." umpatnya dan pergi dari sana dengan Agharish yang senantiasa menatap kakaknya kagum. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN