Langit nampak gelap, berselimut awan tebal yang tenggelam di dalam kegelapan malam. Rintik hujan mengguyur kota, menciptakan kubangan air di sepanjang jalan trotoar. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa untuk menghindari sesuatu nampak jelas terdengar memantul pada dinding gedung-gedung di sepanjang jalan yang nampak kosong. Derap langkah itu memecah keheningan malam.
Waktu sudah menunjukan pukul tengah malam. Seorang wanita berlari-lari kecil menyusuri gang sempit. Gelapnya sekitar tak bisa membuatnya mencari jalan memutar. Ia tak merasa takut untuk melaluinya. Namun nyalinya menciut ketika sesuatu seolah mengincarnya dan kini mengejarnya yang membuatnya begitu ketakutan. Ia berlari dengan langkah yang cepat, terburu-buru. Ia semakin mempercepat larinya. Cipratan air kubangan mengenai sepatu tali berwarna putih yang dipakainya. Tak peduli nafasnya sudah terasa tercekat di kerongkongannya. Ia terus berlari tanpa kenal lelah. Beberapa kali ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari-cari sosok yang terus mengejarnya. Berharap sosok itu tidak akan bisia menangkapnya di sini.
"Liana."Suara-suara bisikan terdengar memekik dalam indra pendengarannya yang membuat Liana semakin dilanda kecemasan. Liana menghentikan larinya lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Suara desisan itu semakin terasa kencang, menusuk Indra pendengarannya. Memaksanya untuk mendengar.
.
"Aku menginginkanmu."
.
.
"Darahmu."
.
.
"Dan aku akan mendapatkanmu."
.
.
Liana memejamkan matanya. Semakin mengeratkan kedua tangannya untuk menutup kedua telinganya rapat-rapat. Hal ini membuatnya gila, Liana tak tahu bagaimana caranya menghilangkan suara-suara mengganggu itu. Hal itu membuat Liana frustasi. Ia begitu ketakutan mendengar suara-suara itu yang seakan berteriak di telinganya.
"Hentikan. Pergi dariku. Jangan ganggu aku."teriak Liana, ia menjerit. Liana kembali berlari lalu seketika langkahnya terhenti ketika melihat pria bertudung hitam berdiri tak jauh di hadapannya.
"MAU APA KAU! PERGI DARIKUUUUUUU!."jerit Liana seraya semakin kuat menutup telinganya.
Goncangan ditubuhnya membuat Liana terbangun. Liana berada di atas kasur. Berbaring telentang dengan Jensen yang berada di sisinya. Liana dapat melihat wajah Jensen yang begitu khawatir. Jensen menyeka keningnya yang berkeringat dengan gerakan lembut. Nafas Liana memburu, dadanya naik-turun akibat mimpi menyeramkan itu.
"Kau baik-baik saja. Kau bermimpi? Apa yang terjadi?."
Liana mencoba untuk bangkit terduduk. Ia mendudukan dirinya yang sedikit sulit karena terlalu lemas, kemudian Jensen langsung menarik Liana ke dalam pelukannya. Merengkuh tubuh Liana ke dalam dekapannya.Hal ini cukup menenangkannya, membuat Liana lebih tenang.
"Kau baik-baik saja. Ada aku di sini jangan khawatir. Kau aman. Aku akan menjagamu."Liana menangis pilu. Merasakan ketakutan mencekiknya. Membuatnya tak bisa bernafas. Jensen mengecup pucuk kepala Liana sayang. Mencoba untuk menenangkannya seraya mengelus bahu Liana lembut.
"Hei.. Kau baik-baik saja?."Liana mengangguk buku-buku tangannya mencengkram baju Jensen. Walau air matanya sudah berhenti. Isakan masih terdengar jelas keluar dari bibir Liana.
"Itu hanya mimpi buruk. Kau akan aman. Aku akan selalu bersamamu. Jangan khawatir."
***
Suara telepon di atas meja kerja mengejutkanku. Mimpi semalam masih menjadi bayangan tergelap yang menguasai ku.Bekas mimpi itu membuat mood pagiku memburuk, suasana hatiku tidak nyaman dan tubuhku terasa lemas. Aku baru saja ingin mengangkat sambungan teleponnya namun terputus. Dering itu terhenti. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 12. Aku menyelesaikan pekerjaanku yang sedikit lagi selesai hingga sebuah suara di daun pintu mengejutkanku.
Tokk... Tokk....
Wajahku mendongak ke arah pintu, mendapati Rena dan Meli berdiri di sana dengan senyum di bibirnya. Rena dan Meli masuk ke dalam ruanganku, menghampiriku.
"Ayo kita pergi makan siang."ajak Rena. Ketika ia sudah berada di depan mejaku. Aku sedikit malas untuk makan karena semua pemikiran ini membuatku kehilangan moodku. Mungkin aku akan tetap pergi untu membeli sesuatu yang bisa membuat moodku sedikit berubah.Mungkin saja setelah aku makan sesuatu mood ku akan menjadi lebih baik.
"Tunggu sebentar."aku merapikan kertas kerjaku di atas meja lalu mengambil dompetku di dalam laci yang kemudian bangkit berdiri menghampiri Rena dan Meli. Rena menatapku dengan kening menyerngit bingung, apa wajahku begitu buruk kenapa Rena menatapku seperti itu.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."Rena mengamati wajahku dengan kening menyerngit. Apa terlihat begitu jelas. Bagaimana gambaran itu nampak tergambar jelas di wajahku. Spontan tanganku menyentuh wajahku lalu memperhatikan pantulan diriku dari balik ponsel. Memang tidak bagus.
"Ya. Hanya sedikit kurang enak badan. Ayo."Aku berjalan bersama dengan Rena, dan Meli yang saat ini berdiri di sisi kanan Meli, sementara aku berada di sisi tubuh Rena. Kami berbicara tentang kepindahan rumah Meli. Membahas apa yang harus disiapkan dan bagaimana sulitnya pindahan. Aku ingat tentang kepindahanku ke Seattle, itu sangat merepotkan karena kami membeli beberapa perabotan untuk mengisi Apartemen. James bersikeras untuk mengisi perabotan dengan brand dari Ikea, sementara Helen menyarankan kami untuk memakai dari brand lain. Aku menyukai ikea dan brand yang Helen infokan. Menurutku dua-duanya bagus. Hingga kini kami berdiri di depan pintu lift. Meli menekan tombol lift untuk membawa kami menuju lobby.
"Tenang saja aku akan membantumu pindahan besok."ucap Rena. Aku mengangguk. Berniat setuju untuk membantu Meli pindahan besok. Besok hari sabtu Rena dan aku tentu bisa membantunya.
"Aku juga."ucapku.
Pintu lift berdentang. Kami semua merapat bersiap untuk masuk. Saat pintu terbuka. Aku terkejut ketika mendapati Jensen di dalam sana. Dia menatapku. Aku menahan senyum. Sementara Rena dan Meli yang menyapanya dengan kesan formal aku mengikuti apa yang mereka berdua lakukan agar tidak ada yang curiga. Entah kenapa aku tak bisa untuk menahan diriku agar tidak melihat Jensen di sana. Daya pikatnya terlalu besar hingga membuat siapapun tidak akan bisa mengabaikannya begitu saja.
Rena dan Meli masuk ke dalam dan aku mengekor di belakang. "Senang bertemu dengan anda nona Megan."sapa Jensen.Aku melirik Rena dan Meli, diam-diam berharap mereka tak berpikir begitu jauh. Jensen tidak pernah menyapa seseorang yang berpapasan dengannya, namun kini dia menyapaku hal ini membuatku gugup karena rasanya akan aneh jika kami terlihat begitu akrab. Tidak ada yang pernah terlihat begitu akrab dengan Jensen. Jensen terkenal dengan sikap dinginnya dan anti sosial, tentu saja akan aneh bukan.
"Senang bertemu dengan anda juga Tuan Harden."aku ingin mentertawakan diriku sendiri. Betapa formalnya aku berbicara pada kekasihku sendiri. Jensen menangkap ke anehan itu, aku tahu dia tidak suka dengan hubungan sembunyi-sembunyi ini, ini juga menjengkelkan bagiku tapi aku tidak mau menjadi bulan-bulanan teman-temannya.
Jensen bergeser, memberikanku ruang untuk berdiri di sebelahnya. Aku memandang lurus ke arah pintu lift. Ketika lift berada di lantai 18 pintu lift terbuka, beberapa orang masuk, membuat kami bergeser ke belakang. Aku merasakan tangan Jensen merayap di sisi tubuhku, lalu ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat, membuat hatiku menghangat. Aku menyukainya bagaimana ia menunjukkan betapa ia mencintaiku.
"Apa kau baik-baik saja?."bisik Jensen. Begitu pelan dan lirih hingga membuatku sedikit mendekat agar bisa mendengar nada suaranya.
"Ya. Hanya... Ada sedikit yang mengganggu pikiranku."Ucapku tak kalah berbisik. Aku tidak mau ada yang mendengar, bahkan memperhatikan kami. Aku selalu mengedarkan pandanganku untuk memperhatikan sekitar, mungkin saja ada yang diam-diam memperhatikan kami dan membuka percakapan lebih dulu jika kami bertingkah aneh.
"Mimpi yang semalam."lanjutnya. Aku mengangguk dan cengkraman Jensen mengencang. Seolah memberikanku kekuatan. Jensen menoleh padaku dan aku menoleh ke arah lain. Menghindari pandangannya. Aku takut sikapnya membuat semua orang berpikir yang tidak-tidak.
"Jangan dipikirkan! Pikirkan saja jika aku begitu mencintaimu."ucapannya membuatku tersenyum. Aku mencengkram genggaman tangan kami dan dia juga menggenggam erat tanganku.Ucapannya benar-benar mempengaruhi ku. Mood ku sedikit lebih baik. Bibirku tersenyum tanpa bisa ku kendalikan, aku senang bertemu dengannya di sini.
"Kau mau kemana?."tanyaku. Masih dengan suara berbisik.Diam-diam meliriknya setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua.
"Ada pertemuan dengan kolega bisnis di sebuah Restoran Italy. Aku harap kau bisa ikut kapan-kapan menemaniku."Aku berharap bisa melakukannya, tetapi mungkin akan lebih baik jika aku tidak ikut. Aku tidak akan merasa keberatan jika tidak dapat hadir di sana, namun aku akan sangat murka jika dia meminta hal itu pada wanita lain. Tiba-tiba saja jiwa posesif itu muncul dalam diriku, Jensen membuat pengaruh buruk pada sisi emosionalku.
"Ya. Kapan-kapan."jawabku.Jensen menatap sisi wajahku yang dapat kurasakan dari ujung mataku.
Lift berdentang di lantai 1. Kami semua keluar dari dalam. Aku melepaskan tanganku dan tiba-tiba rasa kosong menyelimutiku ketika genggaman tangan kami terlepas. Aku berdiri di samping Rena. Menyadari tatapannya di belakangku dan terus berjalan, mencoba untuk menahan diriku untuk tidak membalas tatapannya.
***
Kami sampai di sebuah Restoran. Sebuah meja berbentuk bundar. Rena duduk di sampingku sementara Meli duduk di sebelah Rena. Kami sedang menunggu makanan kami tiba. Sementara itu minuman Frappuccino membuat moodku sedikt mendingan. Aku tidak tahu, ini karena Frappuccinonya atau karena telah bertemu dengan Jensen di lift. Mungkin keduanya.
"Apa aku tadi salah liat atau kau benar-benar memiliki kemistri sekuat itu dengan Tuan Harden."ucapan Rena hampir saja membuatku menyemburkan minuman di dalam mulutku. Meli terkekeh geli. Aku menatap Rena dan dia malah tersenyum-senyum membuat kedua bola mataku berputar malas.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Rena."ucapku memperingatkannya.
"Aku sudah melihatnya. Bahkan Meli juga. Kami pernah melihatmu dan.. "
"Jangan."ucapku. Menyela perkataan Rena. Aku benar-benar malu. Aku harus bagaimana sekarang.
Mengakui atau mencoba untuk tetap tak mengakuinya.Ini membuatku frustasi, bagaimana bisa. Rena menyeruput minumannya. Menatapku dari balik bulu-bulu matanya. "Tidak ada salahnya berpacaran dengan seseorang seperti Jensen Harden. Semua wanita di Kantor bahkan di Seattle berharap bisa berkencan dengannya."
Aku menghembuskan nafasku kasar. Menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Merasa cemburu, aku tidak suka topik pembicaraan ini. Tetapi Rena benar, hal ini membuat perasaanku berkecamuk. Apakah benar jika memamerkan hubungan mereka adalah yang terbaik. Jensen terlalu tersorot hal itu akan membuatnya tidak nyaman. Dan bagaimana bagi ia di sekitar kaumnya, mereka pasti akan semakin gencar untuk membunuhku. "Ya ampun."desahku frustasi.
"Kami bisa menjaga rahasia. Tapi ku pikir itu tidak perlu. Jika kau tidak mau mengakuinya. Bisa-bisa Jensen di rebut wanita lain."ucapan Meli sukses membuat kedua bola mataku berputar malas. Dia benar-benar jago membuat moodku semakin buruk.
"Yang benar saja."desahku frustasi. Seorang waiters datang membawakan pesanan kami. Ia menaruh makanan-makanan tersebut di atas meja lalu pergi meninggalkan kami.Tubuhku bergerak maju untuk mulai menyantap makan siang.
"Kalau begitu sudah berapa lama?."Pertanyaan Rena membuatku tersedak, ia menatapku penasaran seraya memainkan pastanya menggunakan garpu.
"Sudah berapa lama apanya?."tanyaku seolah-olah tak mengerti apa yang dia katakan seraya menyendokan pasta ke dalam mulutku. Aku menyibukan diri dengan makananku dan mencoba untuk mengabaikannya tapi kelihatannya Rena tidak akan menyerah. Dia adalah wanita yang penasaran dengan hal-hal romance.
"Kalian pacaran."lanjut Rena yang membuatku tersedak dengan pastaku sendiri. Meli tertawa terbahak-bahak. Aku melotot pada Rena, bukannya takut dia tersenyum dengan menunjukan cengiran di wajahnya. Sepertinya Rena benar-benar yakin jika ia dan Jensen memiliki sebuah hubungan.
"Baru beberapa hari. Minggu mungkin. Belum lama."aku menyerah. Mengatakan semuanya pada Rena, aku berhara dia mau menjaga rahasia ini.
"Waaahhh... Kau beruntung mendapatkan seorang pria seperti Jensen. Aku jadi iri."seru Meli yang membuat suasana hatiku menjadi canggung, aku tak tahu harus bagaimana. senang atau sedih mendengar hal ini. Tetapi dapat aku rasakan saat ini adalah aku menyukainya bagaimana aku berkata di hadapan mereka tentang status hubungan yang terjalin di antara kami. Walaupun tidak secara gamblang tapi aku tahu Rena dan Meli percaya jika sesuatu terjalin di antara kami berdua.
"Kau pasti jadi trending topik di Seattle."Rena tertawa yang membuatku memutar bola mata malas menanggapi nya. Kami dikejutkan dengan suara TV tak jauh dariku. Menampilkan sebuah berita.
"Ada yang meninggal lagi!."seru Meli terdengar frustasi.Siapapun tentu tidak suka dengan hal ini. Ini sangat menyebalkan.
"Kenapa dengan ular. Apa lingkungan habitat mereka telah di ganggu!."ucap Rena yang membuatku menoleh padanya. Rena meringis, tatapan ngeri tercetak jelas di wajahnya.
"Anehnya semuanya wanita."gumam Meli lirih seraya menatap serius pada layar TV. Aku ikut menatap layar TV plasma berwarna hitam yang tergantung tersebut. Tubuhku menegang. Melihat dua lubang dalam berada di punggung tangannya.
"Jika itu film. Maka vampire adalah tersangka utama."ucapan Rena seketika membuatku terbatuk-batuk. Aku meraih minumanku. Meminum dalam sekali tenguk. Meli menatapku bingung sementara Rena menyodorkan botol air ke arahku. "Ada apa denganmu!."seru Rena.
"Habis pikiranmu terlalu jauh. lucu sekali.... Mana ada vampire di sini. Kau pasti bercanda!."ucapku lalu tertawa garing. Aku harap ekespresiku tidak terlihat canggung, aku tertawa mencoba mengenyahkan pikiran Rena tentang vampire. Aku harap mereka tak lagi berpikir terlalu jauh.
"Ya. Rena ada-ada saja."kata Meli dan aku mengangguk setuju. Rena mengendikan bahunya lalu kembali menyantap makanan. Aku terdiam. Tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ada apa dengan para vampire saat ini. Kenapa mereka semua mulai terang-terangan berburu manusia. Apa mereka mau membuktikan bahwa mereka ada dan tak ingin menjadikan semua ini sebagai rahasia lagi. Hal ini menggangguku, nafsu makanku hilang. Jensen mungkin tahu sesuatu tentang semua ini. Apa maksud di balik semua ini. Mungkin aku harus bertanya padanya nanti, ketika kami bertemu.