BAB 13 - Jealous

1310 Kata
"LIANAAAAA MEGAAAAAAAANNNNN hhmfft-."suara James yang memekik sangat nyaring bagai seekor kucing terjepit seketika terhenti ketika Devian membengkap mulutnya rapat-rapat. James benar-benar membuat Liana kesa. Apa dia harus berteriak hingga sekeras itu hanya Liana hanya karena kini ia sedang bersama dengan seorang pria. Sungguh tidak berperasaan, hal ini membuatnya malu. Ini benar-benar sangat memalukan. Untung saja tidak ada siapapun yang keluar untuk melhat kejadian ini.  "Aishh. Jangan gigit tanganku."omel Devian ketika James mengigit tangannya dengan keras.  "Jangan tutup mulutkku. Tanganmu bau Devian."kesal James karena bisa-bisanya Devian meredam teriakannya dengan cara membekap mulutnya menggunakan telapak tangannya. Devian mencium tangannya lalu melototkan matanya pada James protes. "Tidak benar. Tapi sekarang jadi bau karena ada bekas gigitanmu di sini. akhh bau sekali." James kembali menatap Liana, tatapannya menyipit ketika melihat ke arahnya. "Kau. Kalian berdua benar-benar."James beralih melotot kan matanya pada Liana dan Jensen. Liana bersembunyi di balik tubuh Jensen. Ia merasa tak nyaman akan tatapan membunuh milik James. Laki-laki satu itu sangat merepotkan jika sedang marah-marah. Sama halnya seperti ini.James sudah seperti kakek-kakek tua yang suka mengomeli anak kecil yang tidak menurut. "Bagaimana bisa aku mempercayaimu untuk tidak bersikap lebih jika saat ini saja kau sudah berbuat terlalu jauh."Liana berdecak, ini keterlaluan. Rasanya seperti benar-benar dimarahi. "James. Sungguh kumohon. Jangan berlebihan seperti ini. Rasanya seperti kau tidak pernah saja berciuman dengan banyak wanita. Aku tahu kau juga playboy. Devian berkata padaku kau suka bersama dengan wanita dan minum-minum bersama."ucapan Liana membuat Devian menepuk keningnya seketika. Bagaimana bisa Liana berkata seperti itu. Itu hanya akan membuat James menjadi-jadi untuk membalas perkataannya.Wanita itu sama saja, mereka berdua memang sama-sama bodoh. Devian seharusnya sudah bisa memperkirakan hal ini akan terjadi pada mereka berdua. "Aku tidak pernah begitu. Kau pikir kapan aku melakukan nya. -HUH!."James berkata dengan sauara yang keras, ketika tatapannya beralih pada Devian ia melihatnya dengan marah dan jengkel lalu tatapannya kembali pada Liana. Dan ekspresi itu terlihat lebih kesal. "Padahal tidak apa jika kau melakukannya. Aku juga tidak peduli."gumam Liana dengan suara lirih seraya mengedarkan pandangannya ke arah lain. Berusaha untuk mengalihkan tatapannya dari James yang masih saja mengamatinya sejak tadi. "AKU TIDAK MELAKUKANNYA!."teriak James yang membuat tubuh Liana tersentak kaget. "Oh."respon Liana hanya oh yang membuat kening James mengerut.   "Oh."sahut James sedikit berteriak, menanggapi apa yang Liana katakan. Respon wanita itu yang seperlunya membuat James menjadi kesal. "Lalu aku harus jawab apa. Kau pikir aku percaya. Kau bahkan sudah dewasa begitu juga dengan ku. Terserah apa yang akan aku lakukan dan apa yang ingin ku lakukan."gerutu Liana yang membuat James menghela nafas kesal. Ia kehilangan kata-kata. Liana memang sudah dewasa tapi tetap saja ia tak bisa mengenyahkan rasa khawatirannya pada wanita itu. "Sudahlah sudah malam. Sekarang pergi ke Apartemenmu. Kapan kau akan pergi tuan Harden. Tidakkah kau lihat di jam tangan mahalmu itu sudah jam berapa sekarang!."seru James sarkatis, bibirnya membentuk seringaian mengejek. Jensen tersenyum sinis. Ia melirik Liana di sisi tubuhnya. Mengecup pucuk kepalanya. "Pulanglah."bisik Jensen. Kedua matanya menatap Liana lembut. Liana tersenyum sadar akan arti tatapan itu. Kepalanya mengangguk patuh. Lalu Liana mengecup pipi Jensen sebelum pergi ia melirik James dan meledeknya dengan menjulurkan lidahnya bak bocah berumur 5 tahun.  "Sampai jumpa besok pagi."ucap Liana melepaskan tautan tangan Jensen sebelum pergi meninggalkannya bersama dengan James dan Devian. James dan Devian melangkah masuk ke dalam lift. Devian menekan tombol lift, berdiri tepat di sisi kanan James. Sementara James berdiri di tengah, berdiri di sisi kanan Jensen. James melirik Jensen, lalu mendengus remeh melihat jaket yang dipakainya. "Kau. Benar-benar suka barang mewah." "Aku mampu membelinya. Kenapa tidak."jawab Jensen cuek. Menatap pantulan dirinya di pintu lift. Ia tak begitu tertarik dengan apa yang Mark katakan.  Mendengar hal itu membuat James mendengus remeh lalu memutar kedua bola matanya malas. "Sombong."gumamnya jengkel.  *** Liana masuk ke dalam Apartemennya. Ia menyalakan lampu lalu pergi menuju dapur untuk mengambil minum.Tatapannya mengarah pada jendela kamar, ada beberapa cahaya yang terlihat di balik hordeng kamarnya. Sepertinya akan turun hujan, suara gemuruh mulai terdengar memecah keheningan malam. Dering ponselnya berbunyi, Liana meraih ponselnya yang berada di dalam saku coat panjang miliknya. "Halo."-Sapa Liana. "Kau sudah sampai di rumah?." "Maaf ini dengan siapa?." Orang di sebrang sana terdiam. Membuat Liana sampai mengecek sambungan telponnya apakah masih tersambung atau sudah terputus. Ini adalah nomor baru, Liana tak tahu siapa. "Dulu kau selalu ingat suaraku."Jawaban itu membuat otak Liana berpusat pada seseorang. Seorang pria yang beberapa hari ini menganggu nya. "Mark."ucap Liana. "Gotcha. Senang mendengar kau menebaknya dengan benar."Liana dapat mendengar suara Mark yang terdengar sangat senang. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau sudah sampai di rumah?." Liana mengangguk. Mengiyakan perkataan Mark sebagai jawaban. Walau pria itu toh tidak akan bisa melihatnya. "Sudah."Jawab Liana sekenanya. "Kau sudah makan?." "Ya sudah."Liana menaruh gelas yang dipegangnya ke dalam westafel dan menunggu apa yang akan Mark katakan selanjutnya. "Cuaca besok dingin. Jangan lupa pakai baju hangat." Liana terhenyak. Merasakan rasa aneh ketika mendengar perkataan Mark yang begitu perhatian padanya. Liana tak tahu.. kenapa dia merasa aneh ketika mendengar perkataan Mark. Perhatian pria itu begitu mengejutkannya. Liana menaruh gelasnya lalu berjalan menuju ruang tamu. Melepaskan coatnya lalu melemparnya di atas sofa. "Humm... Terima kasih. Kau juga." "Kaget aku." Liana baru saja berbalik setelah menaruh coat jaketnya di atas sofa dan mendapati Jensen di belakangnya. Jensen mengambil ponsel dalam genggaman tangan Liana dan menaruhnya di telinganya. "Sampai jumpa Mark." Jensen melempar asal ponsel Liana di atas sofa lalu beralih menatap Liana tajam. Kedua tangannya bertolak pinggang.Marah. Sepertinya ia akan dapat masalah dari Jensen. Tapi sejak kapan dia ada di sini. "Aku... "Ucap Liana tergagap. "Ini yang tidak ku sukai jika kita menyembunyikan hubungan kita."ucap Jensen penuh penekanan pada  setiap kata-katanya yang membuat Liana membisu. Liana menggigit bibir bawahnya merasa gugup. Jensen ada benarnya. Dia juga pasti akan cemburu dengan wanita-wanita yang berdekatan dengannya. Tetapi Liana harus bagaimana sekarang... Ia tak mau menjadi topik hangat pembicaraan orang-orang mengenai dirinya yang mengencani seorang miliarder seperti Jensen Harden. Rasanya tidak mungkin berkencan dengan orang sehebat dan seternama Jensen Harder di sini. Jajarannya sudah seperti bintang Hollywood karena kekayaan dan bisnisnya yang sangat besar. "Itu... Bukan ide yang bagus."gumam Liana dengan suara lirih. Jensen mendesah frustasi. Ia berjalan mendekati Liana, menangkup kedua pipinya dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Liana. Meraup bibir ranum berwarna merah muda itu dengan rakus. Ciuman ini begitu emosional, Liana dapat merasakan rasa emosi. Liana menyentuh bahu Jensen, ia dapat merasakan lumatan bibir Jensen di bibirnya. Bagaiaman lidahnya mengekplore di sederet giginya, lalu mengulum bibirnya hingga membuat Liana kewalahan dalam menyamakan ciumannya. Jensen menekan bibirnya, semakin memperdalam ciumannya. Ketika ciuman itu berhenti Liana menarik nafas panjang . "Aku tidak janji ini akan berlangsung lama. Karena aku tidak ingin. Manusia seperti Mark atau bahkan vampire sekalipun. Menaruh hatinya dan mencoba mendekatimu."ucap Jensen tepat di telinga Liana. Sebelum kembali meraup bibir itu. *** Mark benar. Suhu udara nampak begitu dingin. Liana memakai sweater berlengan panjang berwarna merah maroon dengan blazer berwarna hitam dan celana bahan berwarna senada. Ia baru saja keluar dari gedung Apartemen untuk pergi menuju Supermarket Helen. Langkahnya memelan ketika melihat kerumunan orang tak jauh di hadapannya. Liana mengedarkan pandangannya. Beberapa orang bergidik ngeri setelah dari krumunan orang tersebut. Ada yang datang dengan penasaran. Liana ikut penasaran. Ia berjalan menghampiri krumunan orang itu dengan tanda tanya besar di benaknya. Apa yang sedang terjadi. Langkahnya memelan ketika melihat dua kaki manusia yang tergeletak. Liana merasa was-was. Suatu pikiran buruk mulai merayap masuk sepanjang urat nadinya. Jantungnya mulai berpompa cepat. Liana melangkah perlahan mendekati krumumnan itu hingga ia benar-benar bisa melihat sebuah mayat perempuan terbujur kaku di pinggir jalan. "Sepertinya dia digigit ular."ucap seorang laki-laki yang memeriksa kondisi nya. Liana menoleh padanya dengan penasaran. Sekaligus terkejut. Pria itu memperlihatkan dua gigitan di lehernya dan seketika membuat tubuh Liana membeku. Ia jelas tahu apa yang terjadi dengan pria itu. Dan itu tak salah lagi. Benar-benar tidak salah.... . . . . . . . . . Pastilah vampire.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN