Lift berhenti di lantai lobi Apartemen. Seorang pria melangkah masuk yang seketika membuat tubuh Liana membeku. Dia lagi.. seseorang yang tidak Liana harap untuk bertemu lagi dengannya. Bukan berarti Liana belum bisa move on, hanya saja... Siapa juga yang ingin bertemu dengan manatan mereka. Perpisahan yang menyedihkan hanya meninggalkan luka dan pertemuan adalah hal yang sangat dihindari.
"Senang bertemu denganmu Liana."sapa Mark dengan senyuman manis di bibirnya.Liana tak habis pikir pria itu bisa tersenyum selebar itu. Hal ini membuat mood Liana memburuk, harinya pasti akan sial.
Ketika ia melangkah masuk ke dalam lift bergabung bersama dengan Liana. Buru-buru Liana bergeser ke arah kiri dan Mark berdiri tepat di sisi kanannya.Menjauhkan diri sejauh mungkin dari pria itu.
Hanya ada sedikit jarak di antara mereka. Membuat Liana gugup. Liana mencoba untuk bersikap cuek tidak memperdulikan Mark yang kini sedang berdiri di sebelahnya. Rasanya cukup sulit, Liana dapat melihat dari ujung matanya jika sejak tadi Mark terus menatapnya dengan bibir berkedut menahan tawa. Tidak ada yang lucu di sini. Tidak ada yang harus ditertawakan, apa laki-laki itu sedang mentertawakan kegugupannya. Apa terlihat jelas! pemikiran itu membuat Liana bertanya-tanya namun ia enggan untuk mencari tahu dengan membalas tatapannya dan bertanya apa.
Pintu lift berdenting sebelum terbuka lebar yang spontan membuat Liana mengambil satu langkah mundur ke belakang dan yang menyebalkannya Mark malah bergerak mengikutinya, berdiri dengan posisi yang sama yaitu di sisinya. Rena salah satu rekan kerjanya melangkah masuk bersama dua orang wanita masuk dari lantai 2.
"Liana kau sudah datang?."tanya Rena dengan bibir tersenyum memandangnya. Liana mengeryit bingung menatap Rena yang tersenyum geli memandangnya. Bertanya-tanya Liana mengikuti arah pandang Rena dan mendapati Mark tengah memandangnya lalu tersenyum manis membuat Liana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"A... jangan salah paham."tolak Liana yang membuat dahi Rena menyerngit.
"salah paham apa."ucapnya masih dengan senyum geli yang membuat Liana memutar kedua bola matanya malas. Lagi-lagi ift kembali berhenti di lantai 7 tempat kedua orang yang masuh bersama Rena keluar, namun Rena membuat Liana bingung karena wanita itu juga keluar dari lift yang meninggalkan Liana bersama dengan Mark di dalam sana.
"Rena kau mau kemana?."tanya Liana yang membuat Rena berbalik menatapnya ketika sudah berada di luar lift.
"Aku harus ke toilet."ucapnya tetapi matanya melirik ke arah Mark lalu tertawa. Seolah mereka semua sedang berbaik hati untuk membiarkan Liana dan Mark berduaan di dalam lift.Hal ini membuat Liana menghela nafas kesal. Ketika pintu lift tertutup Liana membalikan tubuhnya menjadi menghadap Mark. Pria itu masih sama saja, menatapnya intens dengan bibir tersenyum geli.
"Kau cantik."ucapnya yang membuat Liana tersentak kaget. Sialan. Pujiannya itu malah membuatnya gugup. Padahal Liana sudah bersiap memarahinya tadi. Liana menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia menatap Mark kesal.
"Berhenti menatapku. Kau akan membuat mereka salah paham."
"Memangnya. Apa yang mereka pikirkan? Aku tidak keberatan jika mereka berpikir aku adalah kekasihmu."Liana terdiam. Mereka saling menatap cukup lama hingga lift tiba di lantai 20. Liana mengalihkan arah pandangnya lalu berjalan keluar dari dalam lift. Mark mengikutinya keluar. Ia berjalan tepat di belakang Liana. Liana bergegas menuju ruangannya dan menaruh tasnya di atas meja.
"Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau sudah membuat temu janji untuk bertemu dengan Gilbert?."
"Aku ingin bertemu denganmu."ucapannya membuat Liana menyipitkan tatapannya, menatap Mark dengan tatapan curiga. Mark hanya tertawa ketika melihat wajah Liana seperti itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu. Kemarin aku sudah meneleponnya untuk membuat janji temu. Apa dia sudah datang? tapi jujur aku juga ingin bertemu denganmu bukan hanya dengan Mark."
"Kalau begitu silahkan duduk."Liana menunjuk sofa yang berada tak jauh dari mejanya.
Mark mendudukan dirinya di sana. "Kau mau kopi?."tawar Liana. Jujur saja ia tak ingin melakukan hal ini. Bertemu dengan Mark dia tak pernah berpikir untuk bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Siapa juga yang menginginkan untuk bertemu dengan mantan kekasih. Mark adalah pria yang sangat menyebalkan. Sebenarnya Liana tidak mau melakukannya. Tetapi dia adalah klien perusahaan mereka, tamu bosnya. Tentunya Liana harus bersikap ramah dan baik padanya.
"Kau mau membuatkannya untukku?."tanya Mark yang membuat Liana bingung. Haruskah Liana bilang tidak.
"Hmm.. Ya tentu saja. Kau adalah tamu bosku."Mark mendengus remeh. "Kupikir karena kau menginginkannya."Liana memutar kedua bola matanya malas. Yang benar saja.
"Jadi bagaimana? Mau tidak?."hilang sudah rasa hormat. Liana benar-benar kesal padanya. Apasih yang masih dia harapkan. Semuanya sudah berakhir.
"Aku akan tunggu Gilbert datang saja. Kau bisa duduk dan kerjakan apa yang kau mau. Aku ingin melihatmu dari sini."
Liana hanya bisa menggeleng heran. Terserah apa yang ingin pria itu katakan. Liana akan menganggapnya tidak ada. Sebisa mungkin. Tak lama Gilbert datang membuat Liana berdiri. Liana melirik ke arah Mark dan pria itu sedang menatapnya. Liana kembali menatap Gilbert.
"Pagi..."Sapa Liana ketika Gilbert memasuki ruang kerja.
"Ah Liana. Oh anda sudah datang."Mark menghampiri Gilbert. Menjabat tangannya. Sementara Liana bergegas membuka pintu ruang meeting untuk mereka berdua. Gilbert dan Mark pergi menuju ruang yang Liana siapkan untuk mereka berdua.
"Maaf aku terlambat karena ada keperluan sebentar tadi."ucap Gilbert.
"Tidak apa-apa. Sepertinya aku yang terlalu pagi. Aku ke sini untuk membahas tentang proposal kemarin."balas Mark.
"Aku akan membuatkan kalian kopi."ucap Liana sebelum melengang pergi keluar dari ruangan.
"Jangan terlalu manis untukku."pesan Gilbert sebelum Liana keluar pintu.
"Baik dan anda tuan Mark?."
"Apapun yang kau buat. Aku akan meminumnya."Ucapan Mark membuat Liana melebarkan kedua matanya. Gilbert menatap Liana seolah bertanya. Ini semakin menjengkelkan.
Liana melempar senyum canggung lalu menggelengkan kepalanya perlahan sebelum berjalan pergi dari sana.
***
Liana membanting dirinya duduk di kursi plastik di halaman Supermarket Helen. Wanita itu meliriknya dari meja kasir. Wajah Liana terlihat sangat bad mood. Helen benar-benar penasaran. Ia melihat ke arah seorang wanita paruh baya yang masih sibuk mengambil beberapa barang yang dibelinya. Benar-benar lama. Helen terasa seperti seseorang yang kebakaran jenggot. Dia sangat penasaran apalagi setelah wanita itu mengirim pesan padanya jika akan curhat sepulang kerja mengenai Mark. Ketika bibi itu menaruh keranjang belanjaannya di meja kasir. Dengan cekatan Helen menghitung belanjaannya dan memasukan nya ke dalam plastik.
"Tidak akan salah hitungkan."ucap wanita paruh baya itu sarkatis ketika melihat Helen begitu cepat memasukan barang belanjaannya ke dalam kantung. Helen tersenyum dengan cengiran di wajahnya ketika membalas tatapan wanita itu, ia sudah terbakar rasa penasaran.
"Tentu saja bibi. Saya terlatih jadi tidak perlu khawatir tentang hal ini. Bisa langsung di periksa di notanya."Setelah sang bibi pergi Helen langsung membuat kopi untuk dirinya dan Liana, lalu pergi keluar dan duduk di hadapan Liana.
"Ceritakan padaku. Ada apa dengan mantan terindahmu!."Uacapan Helen membuat Liana mendengus sebal. Helen menyodorkan gelas kopi buatannya ke arah Liana. Liana mengamatinya dengan alis mengeryit bingung.
"Apa kau sudah gila! Kau ini benar-benar menyukai gosip ya. Dia bukan mantan terindahku, kau tahu kan bagaimana sejarahnya antara aku dan dia. Dia adalah b******n. Pria k*****t, kurang ajar dan... akh banyak sekali dulu julukannya aku bahkan sampai lupa."
Helen mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon setuju. Itu benar, sangat benar sekali bahkan Helen masih mengingat tangisan Liana yang begitu sesegukan dan apa saja sumpah serapah yang ia katakan untuk Mark. "Tapi yang jelas dan tak terbantahkan dia adalah pria yang membuatmu begitu jatuh hati."
"Dulu."timpal Liana cepat.
"Memangnya siapa sekarang?."tanya Helen penasaran.
"Je.... "Liana langsung menghentikan perkataannya. Ngomong-ngomong bisa gawat jika Helen tahu. Masalahnya adalah. Bibir Helen sedikit bocor. Ketika Mark meningalkan Liana dulu. Helen yang marah-marah dan mengatai pria itu di sosial media hingga seluruh kampus tahu jika Liana baru saja di campakan Mark.
Jika Helen tahu mengenai kencannya dengan Jensen yang notaben adalah seorang pengusaha muda terkenal di Seattle. Dia mungkin tidak hanya akan menyebarkannya di sosial media. Tapi seluruh pengunjung Super marketnya akan dia beritahu.
"Je.. Je siapa? Kau sudah punya pacar dan tidak memberitahuku."seru Helen penasaran, ekspresinya terlihat memprotes apa yang baru saja Liana katakan. Bisa-bisanya wanita itu menutupi hal cemacam ini darinya. Menyembunyikan rahasia-rahasia itu.
"Bukan siapa-siapa."gumam Liana lirih, kini ia dilanda kegugupan. Bibirnya sendiri gatal karena ingin memberitahu Helen tentang siapa Jensen dalam hidupnya namun Liana harus menutupnya rapat-rapat jika ini ingin bertahan lama.
"Kau belum mau memberitahuku?."tanyanya dengan mata menyipit. Liana tersenyum dengan cengiran di wajahnya lalu kepalanya mengangguk setuju.
"Kami baru pdkt. Jadi. Tidak baik menceritakan nya pada orang lain."
"Benarkah?."tanyanya nampak percaya.
"Tentu saja. Nanti bisa tidak jadi."bohong Liana. Ia menahan senyumnya. Helen benar-benar, jangan tahu dulu. Setidaknya sampai beberapa bulan.
"Pantas saja aku selalu gagal."gumam Helen lirih.
"Kau tahu. Mark menjadi klien perusahaan kami."ucap Liana berusaha mengalihkan pembicaraan. Hal itu membuat tatapan Helen melebar, ia sangat terkejut dengan pertemuan ini.
"Benarkah! Kau pasti bertemu dengannya kan. Apa dia memintamu untuk kembali?."Liana mengangguk. Ia menghela nafasnya lelah. Liana bingung sendiri. Apa yang harus ia lakukan agar Mark menyerah dan menerima kenyataan mereka tidak akan bisa bersama.
"Aku bingung."ucap Liana.
"Bingung kenapa? Jangan bilang kalau kau mau kembali padanya!."ucap Helen dengan sedikit keras. Menjadi saksi atas penderitaan Liana dulu tentu saja Helen tidak akan menerimanya dan mendukungnya untuk itu. Helen masih berhutang pukulan di perut Mark jika bertemu nanti, ia selalu bersumpah akan melakukannya jika mendengar ucapan Liana tentang bertaoa menyebalkannya ia.
"Tidak. Hanya saja. Aku bingung. Aku tidak tahu kenapa aku bingung."gumam lirih Liana.
"Bagaimana bisa kau bingung!."tanya Helen tak mengerti.
"Dia. Dia sedikit berbeda. Dia memintaku untuk kembali. Dia minta maaf dan... Mark sedikit berubah. Dia aarogan, dulu. Tapi sekarang dia. Berbeda.. Sedikit berbeda"
"Kau masih menyukainya? Jangan bilang kau terpesona pada sikapnya yang sedikit berubah. Jika dia melakukannya lagi, menyakitimu aku akan benar-benar menghajarnya."ucap Helen yang sukses membuat Liana terhenyak. Ia terdiam. Nampak berpikir. Liana sendiri tak mengerti.
"James juga pasti tidak akan setuju, kau tahu bagaimana perkelahian mereka dulu."ucap Helen sarkatis. Hal itu membuat Liana tertegun, pikirannya melayang pada kejadian itu. James dan Mark berkelahi, setiap kali ia berkata tentang Mark maka James akan memakinya.
"Balik ke mantan tidak ada dalam kamusku."ucap Liana lalu menyeruput kopinya membuat Helen terkekeh.
"Jika garis jodohmu pada Mark. Kau tidak akan bisa melakukan apa-apa."ucapan Helen membuat Liana memutar kedua bola matanya malas.
"Kenapa kau berkata begitu setelah memarahiku yang berpikir ualng tentangnya."protes Liana dengan wajah menggerut yang membuat Helen tertawa terbahak-bahak.
***
Liana berjalan menuju ke gedung Apartemen. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Mark tengah berdiri di Halte bis. Liana terdiam seraya memperhatikannya dari jauh. Apa benar apa yang dikatakan Helen jika dia masih tertarik pada Mark. Tidak mungkin. Liana tidak mungkin menyukai Mark. Dia sudah memiliki Jensen. Liana mencintai Jensen apa adanya. Tulus. Tidak peduli siapa dirinya. Pembunuh ataupun bukan. Liana tidak peduli. Mark mengedarkan arah pandangnya. Kedua matanya menangkap sosok Liana. Ia tersenyum lalu berjalan menghampiri Liana dengan langkah cepat.
"Senang bertemu denganmu."ucapnya ketika sudah berdiri di hadapan Liana.
"Sedang apa kau di sini? Menunggu seseorang!."Liana mengedarkan pandangannya sebelum kembali menatap Mark yang sedang menatapnya dengan ekspresi teduh,
"Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."Liana mengerjapkan matanya nampak bingung. Ia hanya tediam dan menatap Mark. Mendengarkan apa yang selanjutnya akan pria itu katakan. Liana mulai bertanya-tanya apakah ini bagus untuknya.
"Aku ingin berteman denganmu. Jika kau tidak mau kembali padaku. Setidaknya. Ayo tetap berteman. Aku tidak mau menjauh darimu. Jika kau tidak menginginkanku sekarang. Aku akan menunggu. Tidak apa-apa. Asalkan aku tidak menjauh lagi darimu. Karena aku tidak bisa"
Mark tertunduk menatap kedua kakinya. Ia menggigit bibir bawahnya. Kegelisahan datang, merayap masuk ke dalam hatinya. "Aku mohon maafkan aku. Aku menyesal dan aku ingin kau kembali. Aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu."
"Liana."
Liana dan Mark menolehkan wajahnya ke sumber suara dan mendapati Jensen sedang berdiri dengan kedua tangan dimasukan ke dalam jaket coat hitam panjang yang dipakainya. Ia berjalan menghampiri Liana dan Mark. Jensen berdiri tepat di sisi kanan Liana.
"Penyesalan itu bisa di terima. Tapi kesempatan kedua tidak akan bisa kau dapatkan ketika wanita yang kau inginkan sudah memiliki orang lain."
Liana menatap Jensen dengan kedua mata membesar terkejut. Pria itu menatapnya tajam dan Liana bingung. Apa Jensen marah padanya. Mark tersenyum kecil dengan sudut bibirnya yang tertarik sedikit.
"Aku suka tantangan. Biarkan aku membuktikan. Liana masih menyukaiku."
"Menyerahlah dari sekarang. Karena kau akan kalah."
Jensen menarik tangan Liana. Menyeretnya untuk mengikutinya pergi. Mark terus menatap kepergian Liana. Pria itu bertekad untuk kembali padanya. Liana. Wanita yang tak pernah bisa ia lupakan dan tak bisa berhenti untuk mencintainya.
Jensen memencet tombol lift dengan tidak sabaran. Liana berdiri di sampingnya. Menatapnya takut. Pria tu sedang marah. Jelas. Terlihat begitu kontras di wajahnya yang kelewat dingin saat ini.
"Kau marah padaku?."
"Ya."jawab Jensen begitu cepat. Telalu cepat bahkan. Membuat Liana menunduk gugup. Pintu lift terbuka. Jensen langsung menarik Liana masuk ke daam lift
"Tolong jangan marah padaku."lirih Liana membuat Jensen meliriknya kesal.
Tiba-tiba Jensen menarik kedua pipi Liana. Menangkup wajahnya menggunakan kedua matanya lalu mencium bibirnya. Liana memejamkan mata, merasakan bibir Jensen yang membelai lembur bibir bawahnya. Ada rasa menuntut di dalam ciuman nya. Liana memegang lengan Jensen sebagai tumpuan. Lalu tiba-tiba pintu lift terbuka dan suara teriakan menggema membuat di lorong mengejutkan Liana hingga membuat tubuhnya tersentak kaget.
"LIANA MEGAN."teriak James. Ia sangat terkejut ketika melihat kedua pasangan yang sedang berciuman, seperti dalam sebuah film romansa. Namun darahnya mendidih saat menyadari siapa pemeran wanita dalam film tersebut.
"James."ucap Liana terkejut setelah ia mendorong tubuh Jensen menjauh dan mendapatkan tatapan tajam menyeramkan James yang mengarah padanya. Jensen hanya santai dalam menanggapinya. Ia memang sengaja. Jensen tak mau menutupi siapa Liana baginya di hadapan orang lain. Liana dan Jensen keluar dari dalam lift, Liana tak bisa mengalihkan tatapannya. James terlihat marah.
"Wahhh... Kau cari mati!."ucap Devian yang berdiri tepat di samping James.