Bogor

724 Kata
Jalan tol Ciawi siang itu tidak terlalu ramai, hanya dalam waktu 40 menit keduanya sudah sampai. Cuaca yang sejuk, adem, berangin, belum lagi kondisi kafe yang tidak terlalu ramai, membuat dua manusia yang baru kenal semalam itu menjadi lebih santai mengobrol sambil menikmati kopi hangat. Memang segala sesuatu yang tidak direncanakan biasanya malah lebih mudah direalisasikan. Contohnya ya hari ini, tiba-tiba sudah sampai di Cisarua, Bogor. "Kamu saat ini kepikiran untuk menikah lagi nggak?" Yang bertanya memang sangat to the point, tidak suka bertele-tele, inginnya hari itu juga kalau bisa didapat ya bisa sekalian dibawa pulang. "Untuk saat ini belum sih. Hanya, memang aku kehilangan sosok yang bisa diajak diskusi. Ya sekarang memang ada Papi dan Mami, tapi kan kalau sama orang tua kadang suka beda aja pandangannya. Apalagi soal anak aku yang notabene cucu mereka." "Diskusi sama aku aja kalo gitu." "Loh bukannya tadi kamu bilang kamu belum nikah?" "Iya, emang belum. Anak juga belum ada." Nina tertawa "Lah, terus diskusinya gimana? Aku kan kalau diskusi pasti sama orang yang menguasai bidang yang aku tanyakan." "Aku kan pernah jadi anak remaja, minimal aku ngerti gimana dulu orang tua aku dulu mendidik aku sama kakak ku. Kira-kira tahu lah." "Hahaha kamu nih. Beda tau ngajarin anak sekarang sama ngajarin anak jaman dulu. Tapi sebenarnya anak-anak aku masih termasuk mudah dikasih pengertian. Kita cuma perlu ingatkan tanggung jawab, konsekuensi dan baik buruk resiko pilihan mereka." "Bagus juga pengalaman kamu ya... Tertarik ngga untuk jadi ibunya anak-anak aku?" "Tadi katanya ngga punya anak?" "Nanti kita coba bikin deh..." "Hah?! Ngaco aja kamu!" Keduanya tertawa lepas, kemudian Nina mengambil pisang goreng yang tersaji di meja. Ada juga beberapa jajan pasar yang dia pilih untuk menemani obrolan mereka siang itu. "Mmm.. cobain deh, ini pisang gorengnya enak, pas banget buat ngopi. Kue talam pandannya juga enak." Nina menyodorkan potekan kecil pisang goreng ke arah Pram yang diterimanya dengan senang hati, "Iya, manis ya, enak ini. Sama kok kaya yang di Jogja itu, pakai pisang apa ya..?" "Pisang kepok, biasanya kalau Jawa Barat sini banyak yang pakai pisang tanduk, tapi ini mereka pakai pisang kepok, lebih enak." "Owner-nya sama dengan yang kopi terkenal di Jogja itu." Pram akhirnya mengambil sepotong pisang goreng yang memang enak rasanya. Sedangkan Nina masih bingung kenapa Pram bisa tahu soal owner kafe tersebut. "Kok kamu tahu owner-nya?" "Teman SMA, aku kan ke Jogja terus ke cabang sana, ketemu dan dia cerita mau buka cabang di Bogor. Aku sempat datang juga pas grand opening." Nina asik ber-ooh ria. Obrolan mereka benar-benar seru dan selalu berlanjut. Tak terasa sudah sore dan mereka memutuskan untuk makan malam dulu sebelum pulang ke Jakarta. ** Mobil sudah setengah jam berada di area parkir basement, tapi Pram masih terus mengajak Nina bicara, "Besok aku jemput ya pulang kantor." "Mau ngapain emangnya?" "Ya pengen ketemu aja. Dinner deh kalo ngga." "Hari ini udah seharian kan kita bareng." "Kamu keberatan?" "Ya bukan gitu, keseringan ketemu nanti bosan loh." Pram tertawa kecil, tampaknya harus santai menghadapi Nina. Entah kenapa sejak semalam dia juga jadi orang yang paling tidak sabaran. Berharap Nina mengikuti acara after party ulang tahun CG semalam, tapi laporan dari Davin malah membuatnya tersenyum geli, ngantuk banget katanya. Keduanya menjadi hening di mobil, masing-masing asik dengan pikirannya sendiri. Pram mendekat ke arah Nina, dan Nina yang entah kenapa juga jadi ikut menatap Pram. Saling menatap dan berhadapan, Pram maju menepis jarak diantara mereka. Tangan kanan Pram menyentuh dagu Nina kemudian menariknya mendekati bibir Pram. Lembut, hangat, kenyal. Ciuman yang penuh perasaan dan tidak ada nafsu disana. Baru kali ini Pram merasakan hal itu, biasanya dengan pacar-pacarnya, dia tidak pernah memulai duluan. Ciuman yang berakhir dengan kegiatan ranjang hanya menjadi alat tukar bagi mereka untuk meminta barang-barang mahal yang menjadi identitas sosial. Nina seperti tersadar, segera menarik tubuh dan kepalanya, seketika ciuman keduanya pun terlepas. Nina melihat sedikit rasa kecewa di mata pria itu, namun Pram sadar, Nina mungkin terkejut dan bisa saja membencinya, dia sudah siap jika Nina akan marah atau menamparnya setelah ini "Maaf ya Na. Aku..." "Terbalik, harusnya nanya dulu tadi... Udah malam, aku naik dulu ya. Makasih ya buat hari ini." "Besok aku jemput ya." "Liat besok ya." Pram memukul stir mobilnya dengan pelan. Tapi dia tidak menyesal. Melihat Nina yang sudah masuk ke dalam lift, dia segera membawa mobil keluar dari area parkir dan pulang menuju apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN