08127788xxxx
Hi! Ini Pramudya, boleh ngga saya telpon kamu sekarang?
Nina masih menebak-nebak, hal personal apa yang kira-kira ingin dibahas oleh Pram. Cukup lama Nina berpikir sampai akhirnya dia kaget sendiri ponselnya sudah berbunyi,
08127788xxxx is calling
Ngagetin aja deh nih orang.
Nina segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo Bu Nina"
"Hi Pak, maaf ya semalam saya beneran udah ngantuk banget, maunya segera pulang aja."
"Iya ngga apa-apa, saya minta maaf udah ganggu ya. Sampai rumah jam berapa semalam?"
"Ngga ganggu kok Pak. Kebetulan deket sih dari hotel ke apartemen saya, jam 22.30 kayanya udah sampai sih. By the way, Bapak mau bicara soal apa ya? Kalau ngga salah mas Davin bilang personal."
"Oiya? Davin bilang begitu?"
Terdengar kekehan Pram diseberang sana.
"Saya mau kenalan sama Bu Nina aja. Bukan sebagai klien, tapi. Kalau ngga keberatan apa boleh kita ketemuan, mungkin siang nanti sekalian lunch."
"Boleh aja Pak, mau dimana?"
"Terserah kamu aja yang pilih, mau dimana?"
"Wah... minta ke Bogor sih Pak, kalo terserah."
"Kalo ke Bogor, jalan dari sekarang dong ya? Mau dijemput dimana?"
"Hehe becanda aja Pak, kejauhan. Ketemu di Lotte World aja mau Pak?"
"Ngga apa-apa kalau beneran sih."
"Lotte aja Pak, biar ga kejauhan. Ketemu on the spot aja, jam 11 ya Pak."
"Mm.. by the way karena saya bilang ini personal, boleh ngga panggil Pram aja. Tua banget rasanya dipanggil Pak."
"Haha... Okay kalo gitu, see you soon Pram."
Nina hanya tertawa kecil, berbicara dengan Pram saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar. Sepertinya dia mulai teringat bagaimana rasanya diajak kencan.
Eh?
**
"Kamu single?"
Nina yang sedang mengunyah makan siangnya langsung berhenti sejenak sambil menatap Pram yang duduk didepannya. Untung ngga tersedak, sabar dong main terabas aja. Sembari mengunyah makanan dan kemudian menelannya, barulah Nina menjawabnya,
"Single, tapi aku sudah punya anak 2."
"Loh.. suami kamu kemana?"
"Udah meninggal, 2 tahun yang lalu."
"Sakit?"
"Yes, kanker darah, tipe yang langka. Dan massive."
Pram hanya mengangguk-angguk, dia mulai merasa aman kalau ingin mendekati Nina.
"Kamu anaknya Pak Richard?"
Nina yang posisinya masih mengunyah, hanya mengangguk saja, dia tahu Pram pasti akan melanjutkan pertanyaan-pertanyaan lain.
"Setau aku, Pak Richard anaknya laki-laki semua."
"Boleh aku makan dulu? Nanti aku jawab semua pertanyaan kamu."
Karena memang Nina memesan makanan kesukaannya siang ini. Namun tampaknya lawan bicaranya tidak sabar menunggu jawabannya.
"Oke, sorry ya sebelumnya."
"Iya ngga apa-apa."
**
"Suami aku yang anaknya Pak Richard. Tapi karena dari awal aku diterima dengan baik banget, jadi Papi sama Mami bilang, walaupun Erick sudah ngga ada, aku tetap anak mereka. Jadi sekarang kalau ke beberapa kolega, aku selalu dikenalkan sebagai anaknya."
"Hmm... Gitu.. Davin pernah cerita sih soal keluarga kamu, terakhir memang dia ada bilang kalau anaknya Pak Richard yang no 2 meninggal. Dan aku kemarin kaget juga waktu kamu dibilang anaknya Pak Richard."
"Iya... Emang beneran begitu."
"Terus kalau kamu kerja, anak kamu sama siapa?"
"Mereka tinggal sama Mami Papi. Biasanya kalau weekend atau pas tanggal merah baru aku ketemu mereka. Tapi kebetulan weekend ini mereka diajak keluar kota, jadi hari ini aku ngga kemana-mana juga."
Dirasa Nina sejak awal lebih banyak dia yang menceritakan dan ditanya-tanyai,
"Daritadi aku ditanya-tanyain terus, gantian sekarang, how about you?"
Pram hanya tersenyum mendengar pertanyaan Nina. Dia sadar, pertanyaannya terlalu banyak, terlalu ingin tahu. Ya sudahlah, biar sama-sama kenal juga.
"Aku single. Belum pernah menikah. Umur ku 36 tahun ini."
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa belum nikah? Kan kamu udah mapan. Kayanya aku yakin kalau orang-orang kamu itu most wanted Man, secara dari segi apapun kamu cukup masuk buat kriteria suami idaman."
"Yaaaa... Bener kata kamu, justru karena itu, aku jadi lebih memilih siapa yang aku inginkan untuk jadi pasangan aku, jadi sejauh ini belum ada klik di aku." Pram melanjutkan "aku terakhir pacaran setahun yang lalu. Jenuh sama pattern-nya. Mereka lihat aku mapan, settle, yaa ujung-ujungnya buat status sosial, aku cuma jadi sumber uang buat mereka yang mau flexing. Lama-lama capek juga kaya gitu. Belum lagi request minta ke club, bayarin temen-temannya yang kadang datang se-RT. Dipikiran mereka tuh aku punya pohon duit kali ya... Seenaknya kaya begitu. Akhirnya ya udah, aku putusin, awalnya kaya orang kehilangan, tapi 3 hari abis putus malah aku ngerasa damai gitu. Tenang, kerjaan ku bisa fokus bahkan lebih baik."
"Wow... Luar biasa juga dampaknya ya haha."
"Iya, aku juga kaget awalnya, terus setelah 6 bulan jomblo Davin ngomong, Pak, produktif banget 6 bulan ini. Aku kaget dong, kok tumben dia ngomong gitu. Trus dia bilang, iya, kalau kemaren tuh ada aja yang kusut, ga konsen lah, sering ke night clubs lah. Banyak mangkirnya Pak, ga kaya sekarang, lancar mulus kaya jalan tol. Aku sampai ketawa denger Davin bilang gitu, berarti parah banget ya aku dulu itu. Tapi aku akhirnya mikir ya, mau sampai kapan aku dimanfaatin sama orang-orang kaya begitu."
"Lanjut aja, aku dengerin."
Pram tersenyum hatinya menghangat hanya karena wanita bilang mendengarkan ceritanya, selama ini perempuan yang dipacarinya hanya ingin didengar, semua hanya tau meminta dan merengek. Pram yang mendengar jawaban santai Nina, mulai berani berimprovisasi, kalaupun ditolak ya sudah, belum rejeki, tapi kalau diterima boleh gas terus berarti.
"Ya udah, kita pindah ke Bogor aja mau? Aku bisa cerita banyak nanti."
Nina tertawa kemudian melihat jam tangannya,
"Haha ngga kurang jauh apa?"
"Kamu ngga mau?"
"Iya deh boleh, mumpung masih siang."
Pram mengangkat tangannya dan meminta bill pembayaran. Segera setelah itu keduanya menuju parkiran mobil di basement.
Perjalanan siang ini tentu saja diisi keduanya dengan banyak cerita dan tawa canda. Tanpa jeda, sepertinya tak pernah kehabisan topik pembicaraan.