Nina dan Pram sudah sampai di rumah Nina saat jam makan siang. Keduanya memutuskan untuk makan siang di rumah saja, karena malas keluar mampir-mampir, juga menghindari kalau ada yang tidak sengaja melihat keduanya bersama takutnya ada lagi laporan sama ke Mama Pram.
Siang itu sudah tersaji Soto Betawi, kentang balado udang pete dan tumis seafood tauco Medan beserta tumis sayur bayam Jepang. Nina mengambil sedikit nasi putih dengan Soto Betawi dan Pram memilih sayur lainnya. Tidak tertinggal Mama Papi dan anak-anak juga bergabung di meja makan.
Saat mereka selesai makan dan sedang bersantai di ruang tamu, terdengar suara ponsel Nina berbunyi nyaring,
Henni is calling
+61487 363 xxx
Nina segera menyentuh tombol warna hijau menjawab panggilan Henni,
"Halo Heeennnnn...."
"Uiiii dimana lo?"
"Di rumah, lu jadi ke sini?"
"Jadi, gw dikit lagi sampai tempat lo nih. Lapar gw Na.. masak ngga lo?"
"Ada nih, Mami masak soto Betawi sama sayur tauco Medan. Gw beli batagor juga tuh dari Bandung."
"Ah ngeces gw dengerinnya... Ya udah paling 10 menit lagi gw sampe."
"Ya udah gw tunggu ya. Berapa orang lu Hen?"
"Gw, laki gw, si Kevin, sama Mami Papi gw."
"Okay, jangan mampir-mampir langsung kesini aja ya. Byee"
Nina lekas pergi ke dapur untuk menyuruh salah satu pekerja di rumah membelikan cincau hijau yang biasanya ada di pinggir jalan. Kemudian dia mengeluarkan s**u evaporasi, sirup rasa frambozen, dan meminta mbak Asih mengeluarkan es batu. Dia juga memeriksa persediaan nasi putih apakah masih cukup atau harus beli. Tak lama Mami mendekati dapur dan melihat Nina sibuk sekali,
"Henni udah sampe?"
"Udah dekat katanya Mi. Aku mau bikin es cincau dulu. Makanan masih cukup kan ya Mi?"
"Yang lain-lain cukup, Mami masak banyak. Paling masak lagi horenzonya, yang tadi habis kan. Sini deh Mami yang masak."
Kolaborasi mertua dan mantan menantu jadi anak itu sangat kompak sekali. Inilah salah satu hal yang selalu disyukuri oleh Nina dalam hidupnya, makanya dia sangat berharap calon mertuanya yang selanjutnya juga bisa seperti ini.
"Non, ini cincaunya."
Mbak Atun mengeluarkan mangkok yang berisi cincau hijau polosan yang masih utuh 4 bongkah besar.
"Sudah dibilas air minum?"
"Sudah Non."
"Ya udah tolong disusun aja dekat meja makan, s**u yang udah diracik dikeluarin aja Mbak Atun, sama cemplungin es batunya. Gelasnya ada mbak Atun?"
"Ada."
Aku kembali membantu Mami menyajikan dan memanaskan kuah soto Betawi, menyiapkan kondimen-kondimennya juga.
***
"Bumil makan yang banyak mumpung lagi enak makannya."
"Iya, tenang aja. Gw lama nih disini, kita jadi ke puncak kan?"
"Jadi, mau jalan kapan? Tinggal bilang aja."
Begitu sampai, Nina tampak terkejut dengan penampilan Henni yang ternyata sedang hamil anak keduanya. Nina sampai menitikkan air mata, karena tak menyangka akhirnya sahabat baiknya ini hamil juga. Ternyata kepulangan Henni kali ini karena hendak menjemput kedua orang tuanya untuk menemaninya sampai melahirkan nanti.
"Mom, I wanna play with the twins. Where are they now?"
(Ma, aku mau main sama si kembar. Dimana mereka sekarang?)
"Oh bentar, mbak Asih, tolong panggilkan anak-anak dong."
Kevin yang sudah menyelesaikan makannya sedari tadi tidak sabar ingin bertemu dengan si kembar.
Tak lama Ben dan Christ keluar dari kamarnya dan memanggil Kevin untuk bermain bersama. Mereka memang sempat saling mengenal sebelum Kevin pindah ke Australia 2 tahun yang lalu.
Di ruang tengah kedua Papi, bersama Thomas suami Henni dan Pram sedang asyik mengobrol, sedangkan duo Mami, aku dan Henni masih berada di meja makan.
"Mbak Asih, picnic rollnya tolong dipanasin dong, sajiin ya, sama siapin pirin garpu sama saus sambalnya."
"Iya Non."
"Lagi Hen batagornya."
"Udah ah... Kekenyangan gw malah muntah ntar."
Kami semua tertawa di meja makan. Henni masih mengusap mulutnya dengan tissue.
"Ke puncaknya dari Kamis boleh ngga?"
"Ya boleh aja. Seminggu disana?"
"Kaga lah, hari Sabtu atau Minggu aja baliknya. Btw Na, itu pacar lu?"
"Ya menurut lu kalo udah sampe ngobrol sama Papi disana, apa cuma temen gw?"
Henni tertawa mendengar Nina yang sengit menjawabnya.
"Ih sensi amat sih. Gw baru inget deh, dia mirip temen gereja gw dulu. Tanya deh, kenal ci Nova ngga? Itu dulu deket sama gw di komsel Gereja."
"Lah... Lu kenal ci Nova?"
"Bener berarti itu temen gereja gw. Fix, kawin dah."
"Apaan, orang gw ga direstuin sama Mamanya."