Pram dan Nina masuk ke sebuah restoran sederhana yang menjual masakan khas oriental yang berada di ujung jalan raya. Tempat ini sudah ada sejak lama, rasanya hampir tidak pernah berubah, dan porsinya juga cukup besar.
Kali ini Nina memesan Mie goreng, cah kangkung hotplate dan ikan asam manis. Keduanya memilih untuk makan dahulu sebelum nanti mereka kembali ke hotel.
"Naik apa kesini tadi?"
Tanya Nina sambil menyuapkan mie goreng ke dalam mulut.
"Naik whoosh."
"Oh... Kamu sudah check in?"
"Sudah. Di Gaia."
Nina tidak akan bertanya-tanya lagi, situasi sedikit memanas sepertinya. Selesai makan, keduanya memutuskan untuk kembali ke hotel. Pram yang mengemudikan mobil Nina.
"Kamu baru beli mobil ini? Aku baru liat."
Nina sedang membuka ponselnya tadi, karena dia pikir Pram tidak akan mengajaknya bicara.
"Ini mobil lama, mobil jadul. Cuma emang masih dirawat habis-habisan. Jadi masih enak dibawanya."
"Memorable?"
"Iya, jangan marah ya. Ini mobil pertama yang Erick beli buat aku. Dari jaman pacaran."
Pram bangga sebenarnya kepada Nina, dia tidak pernah gengsi ataupun malu menggunakan barang-barang yang mungkin bagi sebagian orang sudah tidak layak karena sudah ketinggalan jaman. Kalau dari jaman mereka pacaran berarti umur mobil ini hampir 10 tahun, dan masih sangat nyaman digunakan.
Pram membelokkan stir mobil ke sebelah kiri jalan raya karena mereka sudah sampai di hotel. Setelah memarkirkan mobil dengan rapi, keduanya turun dan menuju lobby. Pram mengambil kartu akses yang berada di saku celananya.
Setelah masuk ke kamar hotel. Dia tanpa aba-aba langsung memeluk dan mencium bibir Nina yang tidak sempat menghindar lagi. Ciuman panas keduanya tak terhindarkan. Nina bahkan belum sempat meletakkan tasnya dengan benar. Badannya terkunci oleh Pram yang enggan melepasnya.
Pram mendorong Nina ke arah ranjang hotel yang masih tertata rapi. Sesaat ciuman keduanya terlepas, saat itulah digunakan oleh Nina untuk meminta waktu untuk bicara,
"Aku minta maaf."
Pram menangis, menyembunyikan wajahnya di da** Nina, suaranya kecil terisak, tapi Nina tahu Pram menangis karena bajunya menjadi basah. Nina membelai kepala Pram, mereka masih tiduran sambil bertumpu satu sama lain.
"Maaf sayang. Maaf."
Kata maaf terus terucap dari mulut Nina Pram kemudian berpindah ke sisi kanan Nina. Matanya mulai berani menatap Nina, dia bingung pada dirinya sendiri. Dulu dia tidak pernah seperti ini, hatinya mengeras setiap ada wanita yang meminta maaf padanya. Tapi kali ini berbeda, hanya pada Nina dia bisa menunjukkan kalau dia juga rapuh saat ditinggalkan walau hanya sebentar.
"Aku bikinin teh ya?"
Pram mengangguk saja. Dia menahan perasaannya yang campur aduk sejak tadi. Nina memberitahunya kalau pagi ini dia akan menginap di Karmel. Dan Pram yang memang sudah lama merindukan kekasihnya segera meminta supir untuk mengantarnya ke stasiun whoosh di Halim. Lebih cepat, nanti dia akan menggunakan taksi untuk menuju hotel dan ke Karmel. Pram paham, Karmel adalah tempat selalu Nina datangi kalau hatinya sedang gelisah.
Dua gelas teh sudah tersaji di meja dekat tv, Pram segera bangun untuk meminum tehnya. Pram melepas celana panjangnya dan menggantungnya di lemari, dia melihat Nina yang berjalan ke arah pintu,
"Mau kemana?"
Nina memutar badannya dan tersenyum hangat melihat Pram,
"Mandi sayang, gerah aku."
Pram gegas menghampirinya, mendorong tubuh Nina ke kamar mandi dengan segera,
"Ikut, ngga boleh jauh-jauh dari aku lagi sekarang."
Nina tertawa, dia juga merindukan momen ini, dan keduanya menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi.
***
Nina terbangun saat sudah sore hari. Dia segera menyalakan ponselnya, jam 15.55, hampir jam 4 sore. Terlihat beberapa pesan w******p dan beberapa missed call dari Papinya
Dia segera menelepon Papinya, takutnya ada hal yang penting yang perlu disampaikan,
"Halo Pi, sorry ketiduran. Kenapa Pi?"
"Kamu dimana? Katanya mau balik Jakarta."
"Ooohh... Lagi di Lembang Pi, ke Karmel tadi. Pulang besok palingan Pi."
"Sama Pram?"
"Iya."
Pelukan disebelah Nina mengerat. Mungkin dia tidak diperbolehkan bangun dulu. Hidung Pram menempel di tengah da**nya.
"Ya udah hati-hati jangan sampai hamil."
"Pii..."
"Lah ya emang Papi ngga pernah muda. Makanya buruan nikah."
"Ntar aja lah Pi, masih banyak urusan."
"Ya sudah, nanya aja. Papi mau bolen ya sama picnic roll."
"Okeeee... Ada lagi?"
"Ngga ada lagi. Ya udah, hati-hati pulangnya."
"Okay Pi... Makasih. Byeeee"
Pram yang menggesekkan hidungnya ke tempat dia masih menempel. Mungkin pembicaraan ku dengan Papi sedikit terdengar olehnya,
"Papi?"
"Iya. Dikirain aku pulang hari ini."
"Nanti di Jakarta, kalau mau ketemu, aku ke apartemen aja. Bener kata kamu, ada mata-mata Mama ku di kantor."
"Terus?"
"Ya tiga bulan ini aku sengaja iyain maunya kamu untuk ngga ketemu dulu. Sengaja biar dia laporan, Mama ada telepon kamu lagi ngga?"
"Engga."
"Padahal aku ngga kuat juga berjauhan kaya gini sayang. Tapi kalo memuaskan kamu aku kuat terus."
"Ya ampun say... Baru bangun tidur loh ini..."
"Ya ngga apa-apa kan, ini si Joni juga udah bangun kok. Lagi ya sayang?"
"Tapi aku mau makan. Lapar."
"Iya abis ini, kita take off dulu ya."
Manalah bisa disuruh tunggu nanti malam.