Bertemu Lagi

833 Kata
Tanpa terasa sudah 3 bulan Nina menetap di Bandung. Karena selain mengawasi Fin Tech, dia juga sedang mengawasi pembangunan hotel bintang tiga yang dia bangun bersama Marco di daerah Pengalengan, suatu kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terkenal dengan keindahan alam berupa perkebunan teh luas, udara sejuk, dan pemandangan perbukitan. Walaupun jarang pulang ke Jakarta, setiap dua minggu sekali anak-anak pasti datang menginap ke Bandung. Marco dan Myrcia juga sedang mengikuti KPP jadi dalam sebulan dua kali mereka juga pasti bertemu. Bagaimana dengan Pram? Nina selalu beralasan sedang berada di luar kota Bandung demi menghindarinya, selalu dengan alasan pacaran diam-diamnya dan LDR. Nina sedang berjuang dengan caranya sendiri tanpa Pram ketahui. Adalah Nova yang menghubunginya pertama kali, Nova bilang dia akan membantu Nina supaya bisa mendapatkan restu dari Mamanya. Caranya? Tentu mudah, setiap sebulan sekali Nina akan mengirimkan seloyang lapis legit yang tidak begitu manis untuk Mama Pram, belum lagi berbagai macam oleh-oleh dari Bandung yang tak kalah lezat. Hari ini adalah weekend terakhirnya di Bandung. Minggu depan dia sudah akan kembali berkantor di Jakarta. Nina memutuskan untuk pergi ke Karmel terlebih dahulu, dia menyetir sendiri kali ini sebab dia ingin menginap di Karmel. Pagi tadi dia sudah menelepon pengurus wisma dan sudah dikonfirmasi bahwa kamar yang dia inginkan sudah tersedia. Maka Nina bergegas berangkat sekarang sebelum nanti jalanan akan semakin macet. *** Nina mengikuti langkah Romo Lukas, hari ini dia menerima bimbingan konseling dengan beliau. Romo Lukas adalah pastor penanggung jawab di gereja ini. Wawasannya begitu luas, hidupnya telah jauh lebih lama daripada Nina. "Daripada kamu terus menerus menghindari dia, tapi kamu juga tidak bisa kasih kepastian, lebih baik kamu lepaskan saja. Memang harus merasakan sakit, tapi ini masih awal. Kalau perasaan kalian terikat lebih dalam, akan lebih sakit dan lebih lama untuk menyembuhkannya." Begitu kata Romo Lukas yang memberi masukan untukku. Terdengarnya memang menyakitkan, tapi kapanpun waktunya, rasa sakit itu memang akan selalu menghantui hubungan mereka yang begitu rentan. Setelah selesai sesi konseling, Nina memutuskan untuk mampir sebentar di Taman Doa, tempat yang paling nyaman untuknya sejauh ini. Hampir 30 menit dia berada disana. Merenung, dan berdoa. Nina hendak berjalan kembali ke wisma, rasanya lapar sekali sedari pagi sampai siang ini dia belum mengisi perutnya. Baru saja dia mau menuju arah pintu utama, ada seorang laki-laki yang selama ini dia hindari berdiri menunggunya. Dia mengakui memang dirinya lemah dengan pesona Pram yang selalu terlihat rapi dengan baju apapun. Nina berusaha santai, walaupun jantungnya sedikit berdebar, dia tahu Pram tidak pernah marah dengannya, tetapi kali ini dia siap apabila terjadi hal sebaliknya. Memang kali ini dia juga salah menolak dan menghindari Pram bahkan lebih parah dari terakhir mereka bertemu. "Hai.. kamu disini" Nina menghampirinya, sedikit gugup tapi ditutupi dengan senyum, walaupun akhirnya Nina merasa canggung. Pram masih terdiam, tangannya sedikit mengepal, tidak tahukah Nina betapa Pram merindukannya, hampir setiap hari? Kalau dulu dua minggu dia masih bisa menerimanya, sekarang tiga bulan, apa dia boleh marah atas sikap Nina yang menurut Pram begitu kekanakan? "Kamu mau kemana?" Pram tidak tahan juga terlalu lama diam. Tapi dia tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Aku mau ke wisma, mau mandi dan makan siang. Aku baru selesai konseling." "Ambil barang kamu, ikut aku aja nginep di hotel." "Tapi aku bawa mobil sendiri." "Mana kuncinya?" Nina menyerahkan kunci mobilnya dan memberikannya kepada Pram. "Aku ambil barang dulu sebentar ya, kamu tunggu disini aja. Nanti aku mau makan diujung jalan Lembang itu saja, Chinese food." Pram hanya diam, namun dia tetap setuju dengan permintaan Nina. Dia menunggu di dekat sana sementara Nina berjalan ke arah wisma untuk mengambil barangnya dan memberitahu pengurus wisma bahwa dia tidak jadi menginap disana. Saat Nina kembali dari wisma dia memutuskan untuk membeli rangkaian bunga hidup yang dijual di dekat gereja. Ada berbagai bunga didalam rangkaiannya, dia hanya ingin membelinya saja sebab bunga tersebut terlihat cantik. Setelah itu dia kembali ke tempat Pram menunggunya, dan dia malah mendengar suara Frater Peter dan Pram yang sedang asik berbincang sambil duduk di dalam kedai sate. "Loh... Kok malah ketemu Frater?" "Ya kamu datang kesini kalau ngga ketemu sama saya ya sama Romo Lukas atau Romo yang lain lah. Kata Bu Yanah kamu ngga jadi nginap di wisma?" "Ya abisnya disusulin. Dia mana mau tidur di wisma? Frater udah makan belum?" "Udah, saya udah pesan sate. Katanya kamu mau ke Mandarin?" "Iya, ikut yuk?" "Ngga lah, ntar aku malah konseling sama kalian jadinya. Dah sana, cepat jalan biar cepat bicara dan selesai." "Hehe okay, aku pamit ya, abis ini balik ke Jakarta lagi aku. Nanti kalau kosong waktu kabarin, kita ke Pengalengan. Glamping ku udah jadi." "Puji Tuhan semesta alam. Boleh, nanti kabarin kalau mau pemberkatan." "Makasih Frater." Nina menyisipkan sebuah angpao kecil ke saku baju Peter. Isinya tidak banyak, namun dia selalu rutin memberikan sejumlah uang untuk membantu kebutuhan hidup Peter sehari-hari. Dulu selalu ditolaknya, tapi setelah Nina memarahinya, mengatakan bahwa, untuk dia supaya bisa beli kebutuhan hariannya. Kan Frater juga masih butuh kopi. Peter hanya tertawa, akhirnya sekarang dia tidak pernah mempermasalahkannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN