LDR Dimulai

560 Kata
Minggu siang ini Mami Papi dan Marco sudah kembali ke Jakarta karena anak-anak besok sudah sekolah. Nina dan Pram masih berada di apartemen inventory kantor yang digunakan oleh keluarganya kalau sedang dinas di Bandung. Pram besok juga sebenarnya harus bekerja, tapi dia memutuskan untuk pulang malam nanti saja. "Sayang, ini beneran kamu disini sebulan?" Nina sedang membereskan barang-barang yang tadi dia beli untuk kebutuhannya di apartemen, menatap Pram setengah tak percaya. "Am I look like someone who plays a joke? Kan kamu denger sendiri Papi bilang apa kan?" "Lama banget sayang, kalau aku kangen gimana?" "Naik whoosh. 30 menit sampe. Jangan kaya orang susah say." "Beneran? Aku cuti setahun aja kalau gitu ya." Nina menatapnya dingin. Okay, Pram ngalah aja deh. "Okay aku bercanda, aku naik whoosh aja, seperti saran kamu. Na, sayang..." "Apa Say?" "Are you okay for doing things like these?" "Harus bisa. Kita sama-sama melakukan hal yang akan merubah pandangan Mama kamu tentang aku. Kamu harus bicara baik-baik, orang tua itu sensitif. Aku disini karna pekerjaan ku, dan aku mau buktiin kalau bukan karena materi yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. Tapi karena kamu nya." *** Pram memutuskan menunda kepulangannya ke Jakarta. Dia memilih Selasa saja baru dia akan pulang langsung menemui Mamanya. Selama dua hari ini dia menunggu Nina pulang ke apartemen sambil mengerjakan pekerjaannya secara daring dan melakukan beberapa meeting via Zoom. Awalnya agak kerepotan tapi ternyata Pram mudah mempelajarinya. Pekerjaannya sudah selesai sejak jam 3 sore tadi, kemungkinan dia akan bersiap untuk berkemas pulang. Pram sudah menghubungi Nina, dia bilang dia akan menjemputnya sambil mengajak Nina makan malam, karena dia harus pulang. Nina bilang Pram bisa menjemputnya jam 16.30, tapi dia akan jalan dari sekarang saja. *** Perjalanan dari apartemen ke kantor Nina tidak memakan waktu lama, karena selain belum terlalu macet, jalanannya pun searah. Jadi mudah dijangkau. Mereka memilih untuk mampir terlebih dahulu untuk membeli beberapa bolen khas Bandung dan juga batagor beberapa bungkus untuk stok Nina dan katakanlah sebagai sogokan untuk calon mertua. Kemudian keduanya makan malam di salah satu restoran khas Sunda dan memesan beberapa menu favorit keduanya. Entah kenapa sore ini mereka lebih banyak diam, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan, berinteraksi seadanya namun tatapan keduanya tidak dapat dibohongi. "Sayang..." Pram sudah tidak tahan dengan kesunyian diantara mereka. Keduanya memang bersama memutuskan untuk backstreet dari Mama Pram terutama, karena Nina harus berada di lua kota, terasa akan lebih mudah. "Sabar ya, masih deket kok Bandung Jakarta. Ingat, demi kebaikan kita." Pram menggenggam tangan Nina. Ingin tersenyum namun hatinya perih, Pram tidak sekuat kelihatannya, Nina tahu, namun dia sudah berkomitmen dengan keputusan mereka. "Dah yuk balik, aku naik taksi aja dari sini, nanti kamu bisa langsung lanjut tol." Nina membayar makanan mereka kemudian keduanya berjalan bersama keluar dari restoran menuju parkiran mobil, Nina sudah mencegat armada taksi biru yang lewat di depan restoran, "Masuk dulu ya Pak, mau pindahin barang sebentar." Supir taksi segera membelokkan mobilnya dan mendekati mobil Pram. Nina mengambil belanjaannya, dia hanya mengingatkan Pram untuk memindahkan batagor nya nanti ke kulkas. Lekas Nina menaiki taksinya kemudian membuka jendela dan melambaikan tangannya, "Hati-hati ya, Jumat aku ke Jakarta kok." Pram mengangguk senang. Dia balas melambaikan tangannya, "Kamu juga hati-hati ya." Nina menutup jendelanya, kemudian berbicara dengan supir taksi yang masih menunggunya. "Ke apartemen xxx ya Pak." "Baik Bu, sudah tidak ada yang kelupaan lagi?" "Aman Pak, boleh jalan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN