Pram dan Nina kembali menuju ke kamarnya setelah mengantar Peter tadi. Nina berhenti sebentar di tengah lorong,
"Kamu ada acara sendiri atau mau ikut anak-anak?"
"Aku ikut kamu, kita masih perlu bicara lagi."
"Okay, kita ke kamar Mami dulu. Aku mau kasih tau mereka kalau kita ngga ikutan."
Pram mengikuti langkah Nina yang maju beberapa pintu dari kamar mereka berdua.
***
Dua manusia yang sudah lama memendam rindu itu baru saja selesai bercin**. Setelah memastikan anak-anak mau ditinggal dengan Opa Omanya dan supir. Alasan Pram tentu saja kangen berat, sebenarnya dia sempat marah sebentar karena hanya dia yang tidak tahu siapa Peter saat mereka sarapan bersama tadi. Nina juga menunda untuk memberikan informasi apapun, dia sengaja. Ingin melihat reaksi Pram, apalagi Peter juga mengenakan baju santai namun tetap terlihat rapi.
"Jadi Peter itu teman kamu kan sayang?"
"Sahabat baik aku banget dari jaman SMA. Dari dulu lurus orangnya."
"Sayang banget sama kamu dia itu, kelihatan."
"Jealous?"
"Engga dong. Dia sayang sebagai keluarga sama kamu. Engga perlu di-jealous-in, justru harus dibaikkin."
Nina segera bangun dari tidurnya kemudian menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Pram pun melakukan hal yang sama, karena sudah jam 1. Satu jam lagi mereka akan dijemput untuk menuju Bandung kota.
"Mama telepon kamu lagi ya?"
"Habis ibadah peringatan Erick iya. Ngajak ketemuan, di kafe. Aku dimarahin. Bikin kamu sama Mama jadi ribut. Aku sudah jelaskan ke Mama kalau aku kerja juga bahkan sebelum kita kenal pun aku ngga miskin-miskin banget kan, tapi kata Mama aku cuma membela diri."
"Iya, besoknya pas aku nginep di tempat kamu itu, aku memang pulang ke rumah, maksudnya mau ngebujuk Mama supaya kenal dulu lebih dekat sama kamu. Eh aku dibilang durhaka karena ngga mau dengerin Mama, katanya perempuan yang lebih baik dari Nina itu banyak. Kenapa harus Nina, gitu."
Nina membuang nafas dalam, pelik juga soal restu kali ini.
"Menurut kamu gimana sebaiknya?"
"Kita jalanin dulu, sambil aku bujuk Mama untuk lebih kenal sama kamu. Supaya penilaian Mama berubah."
"Aku ngga begitu yakin sebenarnya. Mungkin bisa kamu pertimbangkan kita backstreet dulu. Dan kita pisah dulu sementara."
"Maksud kamu apa?"
"Ada ngga kira-kira orang yang berada di sekitaran kamu, entah itu asisten kamu atau supir yang melapor ke Mama?"
Pram berpikir, kemungkinan iya, orang terdekatnya juga bisa saja melapor kepada Mamanya.
"Mungkin ada, aku harus cek dulu sih. Jadi, apa rencana kamu?"
"Setahun kita backstreet dulu. Kita targetkan setahun pacaran, kalau Mama kamu masih ngga setuju, kita udahan aja. Ngga perlu muluk-muluk. Aku juga butuh kepastian. Dan sebulan ini kita LDR ya. Aku dapat tugas untuk mengawasi cabang Bandung ini sebulan."
***
Mereka berenam sedang berada di salah satu toko yang menjual batagor yang berada di kota Bandung. Nina memesan beberapa besek untuk yang dibungkus dibawa pulang dan 3 porsi untuk makan ditempat.
Pram terlihat sedang menemani Ben dan Christ duduk sambil menunggu pesanan mereka, Mami dan Papi pergi dengan supir mampir ke toko kue Ny. Liem yang terkenal seantero Bandung.
Selesai melakukan pembayaran Nina segera menghampiri mereka. Tak lama setelah itu pesanannya keluar dan terutama anak-anak sangat menyukai batagor disini.
Pram masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dia kerjakan. Nina enggan bertanya. Dia memilih memperhatikan kembar yang masih asyik dengan batagornya.
"Sayang, minta nomor rekening kamu dong."
"Mau buat apa?"
"Ya udah aku minta aja sini."
Nina menyodorkan ponselnya yang berisi mengenai informasi dan nomor rekeningnya. Setelah selesai mencatat, dia kembali menatap layar ponselnya. Tak lama setelah itu, berbunyi notifikasi di ponsel Nina dan muncul pop up pesan
Layanan BI-FAST transaksi uang masuk sejumlah
Rp 80.000.000,-
"Apaan sih kamu?"
"Kita wujudkan doa Mama menjadi kenyataan."
"Maksudnya?"
"Nafkah."
"Ih ga jelas, aku balikin ah."
"Engga, kamu balikin aku tambahin malahan loh. Pegang buat kamu perawatan, buat nyenengin diri kamu. Buat anak-anak juga boleh, kalo kurang tinggal ngomong. Pokoknya pake aja buat kamu."
Nina merasa tidak enak menerima uang tersebut, tapi kalau dia kembalikan Pram malah akan menambahnya. Serba salah. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menyimpannya saja, nanti kalau suatu saat mereka berpisah Nina akan mengembalikan uang tersebut. Nina mentransfer uang tersebut ke satu rekening yang memang menyimpan uang darurat.
"Makasih, anggap aja kamu nitip uang ke aku ya, sebenarnya kita ga ada ikatan apapun. Aku ngga mau dianggapnya aku beneran minta uang ke kamu."
"Biarin aja, kan aku bilang, kita wujudkan doa Mama satu per satu."
"Ga jelas kamu mah."