Sarapan Pagi Di Hotel

898 Kata
Di bab ini author pilih menyebutkan namanya saja ya, karena ceritanya Peter sedang diluar lingkungan gereja dan sedang tidak tugas. *** "Ayo Pet, sarapan bareng di hotel." "Skip deh, ngga enak nanti kalau ketemu jemaat." "Ya senyumin aja, tinggal bilang aja keluarga. Susah amat, jangan nolak rejeki, anak soleh." Peter hanya bisa tertawa mendengar ledekan sohib baiknya ini. "Ikut aja Frater. Deket kok di Gaia. Nanti dianterin lagi pulangnya." "Iya deh boleh. Hehe... Saya ke sekretariat dulu sebentar lapor keluar." "Ya udah, aku ke mobil duluan ya Ci, nyusul aja nanti." Nina berjalan bersama Myrcia sampai pintu masuk, dan Myrcia duluan ke mobil. Sampai di parkiran, Myrcia meminta Peter duduk di bangku depan sebelah Marco, sedangkan dia dan Nina duduk dibaris kedua. "Selamat pagi Marco, saya ikutan ya." "Selamat pagi Frater. Ayolah sekalian sarapan di hotel." "Iya nih, diajak sama Ibu satu itu, anak soleh ngga boleh nolak rejeki katanya." Satu mobil tertawa mendengar lelucon itu. Begitu sampai di parkiran, Nina mengabari Pram bahwa dia sudah sampai, dan menunggunya di restoran untuk sarapan. Mereka berempat berjalan bersama masuk langsung menuju ke restoran. Tanpa Nina tahu, sebenarnya Pram malah sudah duduk berhadapan dengan Papinya di salah satu meja, dan di sebelahnya ada Mami juga anak-anak. Papi yang melihat kedatangan mereka semua segera melambaikan tangannya dan memanggil, "Selamat pagi Peter, wah lama ngga jumpa ini." Peter segera menghampiri Papi dan bersalaman dengannya. Kemudian Nina mengenalkan Pram kepadanya, "Kenalkan ini Pram, Pet." "Oh iya, halo, saya Peter." "Pramudya." Keduanya bersalaman, namun jelas wajah Pram yang bingung karena tidak menyangka akan ada laki-laki lain di meja makan ini selain mereka. "Ko Pram kapan datang? Kok kita ngga tahu ya?" Tanya Marco yang baru ingat semalam dia belum tahu kalau Pram menyusul. Jangankan Marco, Nina juga kaget tiba-tiba Pram sudah ada dihadapannya. "Katanya nyusul Nina semalam dia. Cuma kita semua udah pada masuk kamar kayanya." "Iya Pi. Hampir jam 9 kayanya aku sampai semalam." "Kamu kenapa malah ngeliatin Pram Na? Emang kenyang cuma liatin dia? Ambil makan sana, ajakin Peter gih." Nina hanya mendengus dengar Papinya mulai iseng menjahilinya. Kemudian dia dan Peter bangun dari duduknya untuk berkeliling restoran. "Itu pacar mu?" "Iya." Nina langsung menuju ujung buffet mengambil lontong sayur yang tampak menggiurkan. "Lontongnya dua ya Bu, saya juga mau." Nina hanya tertawa mendengar permintaan Peter. Tapi dia juga membuatkannya. Peter kemudian mengambil salad sayur untuk dirinya, dan Nina ikutan membalas, "Saladnya dua ya A' kayanya enak tuh." Peter terkekeh mendengarnya, susah memang kalau sahabat satu frekuensi sudah lama tidak berjumpa. Selesai mengambil salad, Peter menaruhnya di meja, sementara dia kembali membawa lontong sayur yang tidak mungkin dibawakan oleh Nina sendiri. Keduanya duduk kembali di meja makan, Pram melihat lontong yang Nina ambil, sepertinya menggiurkan, "Enak ngga?" Nina menghentikan suapannya, mumpung belum dicicipinya, dia melihat ke arah Pram, "Mau? Cobain nih, masih bersih." Pram mencobanya sesuap. Menganggukan kepala, enak rasanya. Tapi dia enggan mengambil sendiri, nanti saja dia minta Nina ambilkan untuknya, karena kalau dia yang meracik bisa berbeda nanti rasanya. "Kamu makan aja, nanti aku ambil lagi. Aku makan salad dulu." "Boleh emangnya?" Nina menyodorkan lontong sayurnya, dia memilih menghabiskan saladnya terlebih dahulu. Pram tentu senang dia tidak perlu menunggu lama. "Mamiiii..." Christ yang datang menghampiri Nina kemudian meminta digendong. Tubuh Christ yang sudah besar tentu saja menyulitkan Nina untuk meneruskan makannya. Namun Nina memilih mengehentikan makannya dahulu. "Kenapa sayang?" "Aku mau ke zoo nanti, kata Opa, Opa ngga mau ikut, Opa maunya beli batagor. Tapi aku juga mau batagor." Kami semua tersenyum melihat tingkah manja Christ yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan usianya. Pram yang duduk disebelah Nina mengusap kepala Christ dengan sayang, dia gemas juga iri dengan Christ yang bisa dengan bebas memeluk Nina dimana saja. "Eh, disebelah situ ada Frater Peter, kata Tuhan tidak boleh serakah. Harus pilih satu saja ya, kalau mau ke zoo, berarti tidak boleh beli batagor. Juga sebaliknya." "Tapiii aku mau ke zoo sama mau batagor juga Mamiii...." Nada suaranya mulai naik turun merengek, kami semua gemar menggodanya, tapi kali ini karena sedang di area publik, aku hanya menggodanya sebentar. "Oh okay okay, habis ini ke zoo ya, nanti sore baru beli batagor kalo gitu. Opa diajak ngga?" "Opaaa ke zoo dulu please..." "Opanya mana kuat kalau dengar cucunya merengek begitu." Semua tertawa mendengar Oma komplain soal kelakuan suaminya. Christ yang masih menempel pelukannya ke Nina, menjadi tersenyum karena keinginannya terpenuhi. "Tuh Opa ikut katanya, sekarang makan dulu, habiskan. Nanti di zoo lapar loh. Mami mau makan dulu ya." "Maunya peluk aja. Mami diam sini aja, ngga usah makan." "Loh nanti Mami ngga kuat jalan di zoo." Pram mengambil sesendok salad dan menyuapi Nina. Semua orang menatapnya, Pram masa bodo dengan hal itu, Christ sedang ingin bermanjaan dengan Maminya. "Tuh bisa makan, disuapin sama Om Pam." Christ benar-benar manja kali ini. *** Selesai sarapan, Peter pamit untuk langsung kembali ke Gereja. Lagipula dia tidak ada kepentingan untuk pergi dengan Nina dan keluarganya, "Kamu harus katakan sama Mamanya yang sebenarnya, kalau dia masih tidak merestui, ya baru kamu putuskan baiknya bagaimana. Karena tidak mungkin juga kan kamu malah jadi kerikil dalam hubungan orang tua dan anak itu. Pram juga harus bisa menahan emosi, bagaimanapun itu orang tua kamu. Luluhkan hatinya dengan lembut, supaya nanti saat hatinya terketuk untuk menerima kamu, Mamanya sudah tidak ada keterpaksaan. Sama-sama saling legowo." Begitu pesan Peter sebelum dia pamit pulang. Peter diantar oleh supir Papi yang stand by di hotel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN