Nina menyeduh teh yang disediakan di kamar hotel untuk menenangkan pikirannya. Rasanya benar-benar kalut, dia tidak ingin membuat hubungan ibu dan anak itu menjadi retak hanya karena dirinya. Jangan lupakan bahwa dia juga seorang ibu dari dua orang anak laki-laki. Posisinya nanti juga akan sama seperti Mama Pram, tapi dia sudah memutuskan untuk menjadi mertua seperti Mami Erick.
Terdengar suara bel pintunya ditekan dua kali. Nina mengintip dari lubang kecil di pintu dan dia melihat Pram berdiri disana. Segera dibukanya pintu, dan menyuruh Pram untuk masuk.
"Kamu mau teh?"
"Iya boleh."
Nina menyeduh segelas teh lainnya untuk Pram. Posisi Pram duduk dipinggir kasurnya, terlihat rambutnya masih setengah basah, wajahnya yang letih lebih kentara daripada sebelumnya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Tadi aku berhenti di rest area. Kamu kenapa menghindari aku? Dua minggu loh."
Ctakk.... Suara mesin pemanas air yang menandakan air sudah mendidih berbunyi tanda air sudah panas dan dapat digunakan. Nina belum menjawab pertanyaan Pram, dia menuang air panas ke cangkir yang tersedia. Tidak terlalu penuh, supaya nanti bisa dicampur dengan air suhu ruang supaya tehnya jadi hangat dan bisa langsung diminum.
Pram yang gemas menunggu Nina menjawab pertanyaannya, memegang kedua tangan Nina supaya mereka saling berhadapan walaupun posisi Pram masih duduk.
"Aku ada salah apa sama kamu? Sampai kamu giniin aku?"
Air mata Nina mulai jatuh, mengenai tangan Pram. Berat sekali rasanya ingin Nina sampaikan, dia tak sampai hati, tapi dia juga punya batas.
"Soal Mama aku ya?"
Lepas sudah tangis Nina malam itu. Sudahlah, biar dia luapkan dulu di depan sumber masalahnya langsung, besok pagi baru dia mengadu pada Tuhannya.
Pram yang baru kali ini melihat Nina menangis sesenggukan, sudah menebak pasti ini soal Mamanya. Memang beberapa hari setelah ibadah peringatan Erick, dia pulang menemui Mamanya. Dia menegur Mamanya yang meminta Nina menjauh darinya, tentu saja Pram tidak terima dan tidak mau menuruti Mamanya. Keduanya sama-sama berkeras, tidak mau mengalah. Sampai Nova harus menyuruh Pram pergi dulu, supaya amarah Mamanya mereda. Namun kemarahan Pram malah berimbas kepada Nina secara tidak langsung.
"Maaf ya sayang. Maafin aku, aku akan bicara lagi sama Mama ya. Tolong kamu sabar, jangan pergi dari aku ya."
Pram hanya bisa memeluk erat kekasihnya itu, karena Nina yang terus menerus menangis akhirnya Pram menariknya ke kasur dan mengeratkan pelukannya kembali. Sampai keduanya tertidur karena sama-sama merasa lelah.
***
Suara alarm ponsel membangunkan Nina, dia masih berada dalam pelukan Pram dan mencoba melepasnya sepelan mungkin. Kemudian dia meraih ponselnya dan mematikan alarmnya.
"Jam berapa sayang?"
Nina terkejut tidak menyangka Pram malah jadi terbangun,
"Jam 5.45, kamu tidur lagi aja ya, aku tinggal sebentar ya, aku mau ibadah dulu di Karmel."
"Aku ikut sayang."
Pram mulai mengumpulkan kesadarannya, dia tidak ingin jauh dari Nina.
"Aku pergi sama yang lain, nanti ketahuan kalau kamu disini. Padahal kamu sewa kamar sendiri, tapi malah tidur disini."
Pram terkekeh mendengar protes Nina. Dia masih terus menguap, karena memang sebenarnya dia juga masih mengantuk.
"Iya deh aku pindah. Bener kata kamu, aku masih ngantuk banget. Nanti kalau kamu sudah balik hotel, ketok kamar aku ya. Kita sarapan bareng. Kamu sampai jam berapa di Gereja?"
"Mungkin jam 8 sudah disini"
"Ya udah, jangan tinggalin aku lagi ya sayang."
Pram kembali memeluk Nina, mengecup kepalanya berkali-kali. Sakit rasanya melihat Nina begitu tidak berdaya seperti semalam. Dia bertekad harus merubah pandangan Mamanya mengenai Nina.
"Aku ke kamar ku ya, telepon aku loh, jangan sampai enggak."
Nina mengangguk tersenyum. Mungkin kali ini dia harus berusaha lebih keras daripada biasanya, kalau dulu dengan Erick dia hampir tidak pernah kesulitan beradaptasi dengan Mami, kali ini berbeda sekali. Baik dengan statusnya, juga dengan keadaannya.
***
Taman Doa Gereja Karmel Lembang memang selalu memenangkan hati. Waktu Erick meninggal, hampir setiap hari Nina mendatangi tempat ini. Dia sampai tinggal di villa kerabatnya yang berada di dekat sini. Nina hampir depresi kala itu, maka Valent, sepupu Erick, dan suaminya membawa dan mengajak Nina ke gereja ini supaya bisa lebih terawasi. 3 bulan lamanya dia bergumul dengan rasa duka karena kepergian Erick.
Nina sedang asik mengenang masa-masa berkabung yang menyedihkan baginya, sampai dia tersadar ada seseorang yang datang duduk di sebelahnya. Dia kemudian menengok ke arah orang itu, dan menemukan Frater Peter yang merupakan teman masa SMAnya, duduk tersenyum melihat kedatangannya.
"Selamat pagi Frater Pet"
(bacanya Pit, kalau Peter bacanya Piter)
Sapa Nina melihat siapa yang datang, Frater Peter mengulurkan tangannya untuk bersalaman yang langsung disambut baik oleh Nina.
"Selamat pagi Na. Sendiri?"
"Iya, ditemenin sama adek ipar sih. Dia lagi diluaran jajan. Apa kabarnya Frater?"
"Puji Tuhan baik... Kamu sehat? Kayanya habis bikin pengaduan ya?"
Tawa ku pecah dan Frater Peter terkekeh mendengarnya. Sejak SMA kami berteman baik dan cukup dekat, saat itu Peter sudah mengatakan padaku bahwa dia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah seminari. Dia berkeinginan untuk hidup selibat (komitmen sukarela untuk tidak menikah dan berpantang secara seksual, sering kali sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan), dan sejak SMA dia sudah menerapkan hal itu, walaupun dia sering diejek oleh orang lain, tapi imannya cukup kuat, jangan dengarkan kata orang, biarkan saja, nanti ada Tuhan yang balas.
Tawa Nina masih bersisa, sampai harus menarik dan menghela nafas cukup panjang. Lelah menangis semalam, dan barusan, lalu tak lama dibuat tertawa oleh teman baiknya.
"Iya nih, habis bikin pengaduan hidup. Rasanya baru kemaren aku setiap hari kesini, eh tau-tau 3 tahun kemudian aku balik lagi dengan masalah yang berbeda."
Frater Peter tersenyum mendengar jawaban Nina. Diamnya ingin memancing Nina untuk bercerita lebih, dia siap mendengarkan, seperti waktu masa SMA dulu.
"Aku pacaran sama seorang laki-laki, mamanya ngga setuju karena menganggap aku cuma manfaatin anaknya untuk membiayai si kembar. Mamanya tidak tahu aja kalau aku mampu walaupun tanpa anaknya."
"Kenapa kamu ngga jelaskan? Sepele sebenarnya, apa dia ngga cari tahu soal Opanya si kembar?"
"Sepertinya sih engga, informasinya hanya terbatas aku single mother dengan dua anak, punya bakery dan aku masih bekerja. Sebenarnya aku enggan meluruskan, pasti aku dianggap hanya membela diri. Kalau anggapannya sudah jelek begitu, susah buat aku mengatakan yang sebenarnya, salah aja terus jadinya."
"Tanggapan anaknya, si pacar kamu itu bagaimana? Belain kamu atau dengerin Mamanya?"
"Belain aku. Mereka sampai ribut, itu yang aku hindari sebenarnya. Bagaimana pun aku juga seorang ibu dari dua anak laki-laki."
"Doa kamu kurang tekun berarti."
Frater Peter terkekeh geli dan Nina hanya tersenyum. Tak lama Myrcia datang menghampiri mereka berdua, juga terlihat beberapa ikatan bunga dalam pelukannya.
"Selamat pagi Frater."
"Selamat pagi calon pengantin. Sudah dapat jadwal KPP belum?"
"Sudah Frater, di sekretariat sudah dikasih jadwalnya. Sekalian serahin berkas juga."
"Hmm... Bimbingan dengan siapa?"
"Romo Lukas, Frater."
"Oh iya... Seru banget beliau kalau kasih bimbingan KPP. Sukses ya lancar terus acaranya."
"Terima kasih Frater, mohon ijin kalau boleh mengundang Frater ke acara pernikahan saya nanti."
"Iya, nanti kalau saya tidak tugas diusahakan datang. Terima kasih undangannya."
Mereka memang sekalian mengantar Myrcia dan Marco mendaftar untuk mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan, sebab mereka berencana untuk melakukan pemberkatan pernikahan di gereja ini. Jadwal KPP diminta supaya tidak bentrok dengan pekerjaan.
"Cici sudah selesai atau masih mau disini? Marco bilang Papi sudah ngajakin sarapan di hotel."