Dua minggu sudah Nina menolak untuk bertemu dengan Pram, awalnya dituruti, Nina bilang dia sedang banyak pekerjaan dan banyak pesanan. Andi dan asistennya sedang menginap di apartemennya jadi Nina bilang Pram jangan datang dulu. Tapi akhirnya dia tidak sanggup juga. Maka jumat malam ini dia mendatangi apartemen Nina, namun resepsionis bilang bahwa Nina belum pulang dan unitnya kosong.
Pram mencoba menghubungi ponsel Nina namun berkali-kali juga panggilannya tidak dijawab. Khawatir terjadi sesuatu padanya, Pram segera pergi ke rumah Nina, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi dengannya sampai dia menghindari Pram.
"Bapak sekeluarga sedang pergi ke Bandung mas. Mbak Nina juga ikut, mereka sudah berangkat sejak pagi tadi. Ditelepon saja coba mas, mungkin sedang diisi daya ponselnya."
"Terima kasih infonya ya Pak. Biasa mereka kalau ke Bandung ke area mana ya Pak?"
"Oh biasanya menginap di area Lembang situ, karena mereka pasti ke Gereja Katolik yang ada disana. Gereja Karmel kalau tidak salah namanya. Kemungkinan mereka ikut ibadah pagi besok mas, sekitar jam 7 pagi kalau tidak salah. Dulu saya sering antar mereka kesana."
Pram menyelipkan uang ke tangan Pak Gyo saat berpamitan, sungguh orang tua ini banyak membantunya. Pram segera mengarahkan mobilnya menuju ke apartemennya untuk mengambil pakaian ganti dan peralatan mandinya. Dia memutuskan untuk berangkat ke Lembang malam ini juga.
***
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 2.5 jam dari Jakarta, Pram sampai di sebuah hotel bintang lima yang masih berada di area Setiabudi. Matanya mencari parkiran kosong untuk memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Tanpa dia duga, dia malah melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal, dan plat mobilnya memang pesanan khusus, jadi mudah diingat B 235 NBC, dan pemilik mobil itu yang memang sedang dia cari. Dia sengaja memarkirkan mobil merek bersebelahan, yang kebetulan juga kosong.
Pram bersyukur Tuhan memang memudahkan jalannya tanpa harus bersusah payah. Dia hanya harus bangun pagi esok hari, supaya bisa bertemu dengan Nina. Dia segera turun dari mobilnya masih menggunakan pakaian kerjanya yang tidak terlalu tebal, tentu langsung merasa kedinginan menghadapi hawa Lembang yang sejuk di malam hari.
Setelah check in, dia segera menuju lift untuk naik ke kamarnya. Dan saat dia berjalan di lorong, tanpa sengaja matanya malah bertemu dengan Nina yang sedang berada di depan pintu kamarnya. Ternyata kamar mereka bersebrangan, tentu saja Pram sangat bahagia, sudahlah tidak bertemu selama dua minggu, begitu menyusul ke Lembang semuanya dipermudah.
"Kamu ngapain kesini?"
Suara Nina terdengar sedikit ketus di telinga Pram. Harusnya dia segera masuk kamar saja, namun kalau begitu Pram malah jadi tahu dimana kamarnya.
"Loh emang ngga boleh? Kan ngga ada larangan kalau aku mau kemana atau mau menginap di hotel manapun."
Pram mencoba mengikuti permainan Nina, tes ombak. Padahal dia sudah kangen berat, namun respon Nina ternyata kurang baik. Dia belum tahu apa yang membuat Nina jadi ketus begini. Baiklah, mungkin mereka akan bicara panjang lebar nanti. Sekarang dia hanya ingin mandi dulu, karena badannya terasa lengket sekali. Sebelum itu Pram ingin bicara sedikit dulu dengan wanita yang sejak tadi hanya melipat tangannya dan memandanginya sedikit dingin.
"Aku mandi dulu ya, sini kamu tunggu di kamar aku. Kita harus bicara. Dan jangan tolak aku please."
Pram merendahkan suaranya, dia hanya rindu pada kekasihnya ini, dia kemudian meraih tangan Nina, namun Nina segera menarik tangannya lagi. Pram melihatnya sengit,
"Mandi aja, aku nunggu di kamar ku. Kamu ketok aja nanti kalau sudah selesai."
Setelah selesai bicara, Nina segera menempelkan kartu akses untuk membuka pintu kamarnya sendiri. Dia masih berdiri dibelakang pintu, mengintip lewat lubang kecil yang ada pintu. Dia melihat akhirnya Pram masuk juga ke dalam kamarnya. Ingin rasanya dia kabur ke kamar Mami dan Myrcia, namun dia juga tidak bisa menghindari Pram terus menerus. Dia hanya bisa menangis, dia juga rindu sebenarnya. Tapi kata-kata Mama Pram beberapa hari yang lalu membuat hatinya menjadi perih.
Flash back on
"Pintar sekali kamu mengadu domba saya dan anak saya, ini kan mau kamu, membuat anak saya jadi benci dengan saya. Sekali lagi ya, saya tidak suka kamu masih berhubungan dengan Pram, sebaiknya kamu pergi, karena saya mau menjodohkan dia dengan anak teman saya yang jelas lebih baik dari kamu."
Nina hanya bisa menangis dilabrak seperti itu, apalagi ini di tempat umum, walaupun agak pojok, namun suara Mama Pram cukup terdengar walaupun restoran tidak terlalu ramai. Hatinya kembali perih, satu-satunya cara adalah menghindari Pram.
Namun dia tidak bisa langsung menyuruh Pram berhenti mencarinya, tentu dia akan curiga. Setelah ibadah malam itu, mungkin Pram menemui dan menegur Mamanya soal kata-katanya terhadap Nina, hal itu malah memperkeruh keadaan.
Nina hanya bisa beralasan sedang sibuk sehingga sudah dua minggu ini mereka tidak bertemu. Tapi dia tidak yakin berapa lama dia mampu menahannya. Sedangkan untuk meminta putus dia merasa belum punya alasan yang kuat untuk melakukannya.
Kebetulan Papi mengajaknya ke Lembang weekend ini, Nina memutuskan untuk ikut saja, jadi dia pikir dia tidak perlu mencari alasan-alasan untuk menghindari Pram kalau di Lembang. Rencananya dia ingin sekalian tinggal selama sebulan, karena dia harus melakukan pengawasan di kantor cabang Bandung.