Siapa Yang Datang?

841 Kata
Pram's POV Aku pulang semalam dengan hati yang gamang dan sedikit kecewa, hubungan ku dengan Nina memang baru terjalin beberapa minggu. Tapi jujur saja ingin rasanya segera menikah dengannya, aku tidak mempermasalahkan statusnya, justru aku sangat penasaran dengan anak kembarnya, Nina sempat menunjukkan pada ku foto mereka di ponsel, menggemaskan sekali. Mungkin nanti kalau kami menikah dan punya anak, aku akan punya anak ku sendiri yang juga tak kalah menggemaskan. Semua yang Nina katakan memang ada benarnya, aku mengakui memang sejauh ini dia benar tentang Mama. Aku memang belum bercerita soal apapun, tapi niat ku mengajak Nina dan mengenalkannya ke Mama sudah bulat. Ah jatuh cinta padanya malah membuat pikiran ku sedikit macet. Sampai di apartemen, aku segera mandi dan bersiap tidur, rencananya besok pagi aku ingin tetap datang berkenalan dengan keluarga Nina walaupun resikonya dia akan marah. Ada seorang teman pernah bilang, lebih mudah minta maaf daripada minta ijin. *** Sebelum berangkat aku mencoba menelpon Nina dahulu, takutnya nanti saat aku tiba malah ternyata dia pergi. "Halo?" Suaranya Nina terdengar seperti orang yang baru bangun tidur, "Halo sayang, baru bangun ya?" "Hmm.. iya.. kenapa?" "Engga aku nanya aja, kamu ga ada rencana mau keluar gitu? Kan mumpung anak-anak lagi nginep." "Paling nanti siang sih, soalnya pagi ini mereka ngajakin berenang." "Ooo gitu, ya udah kalo gitu. Maaf aku jadi bangunin kamu ya.." "Iya nggak apa-apa. Ya udah ya, nanti jangan chat duluan ya." "Iya sayang. Bye" Sambungan telepon ku segera dimatikan olehnya. Aku segera turun ke parkiran karena memang aku sudah mandi dan rapi. Rencananya aku berniat membawakan sarapan pagi untuk Nina di jalan sebelum nanti menyambangi apartemennya. *** Sebelum naik, aku bertanya pada resepsionis di lobby, bertanya apakah dia melihat Nina keluar, katanya dia belum melihat Nina ataupun keluarganya pagi ini, lalu aku meminta tolong untuk dibantu naik lift karena aku tidak punya kartu akses. Untungnya resepsionis ini sudah sering melihat aku berkunjung ke unit Nina. Saat berjalan di lorong menuju unit, kebetulan aku melihat sepasang lansia yang keluar dari pintu unit Nina tinggal. Aku mengenali pria tersebut yang adalah Pak Richard, pemilik FinTech, dugaanku dia bersama istrinya mungkin hendak mencari sarapan pagi. "Loh, ini bukannya Pak Pramudya Citra Gemilang ya?" "Iya Pak Richard, betul saya Pram dari CG. Apa kabarnya Pak?" "Kabar baik, wah kebetulan bertemu disini, sedang menginap atau bagaimana?" "Saya mau berkunjung Pak, ke unitnya Nina." Pak Richard dan istrinya saling berpandangan lalu keduanya kompak menatap bingung ke arah ku. "Kita sambil sarapan bareng aja mau ngga Pak? Nanti saya ceritakan di dalam." "Ya boleh lah, sebenarnya mau ajak istri saya beli sarapan tadinya." Akhirnya Bu Richard inisiatif menekan bel pintu, karena posisinya yang masih dekat dengan pintu. Terdengar suara pintu dibuka, dan aku melihat Nina yang mungkin baru saja selesai mandi karena dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Lah kok cepet baliknya Pi? Oh astaga kok ada kamu Pram? Ngapain kamu kesini?" Lucu sekali wajah Nina yang kaget melihat ku. Pak Richard dan istrinya yang sudah masuk duluan lalu meninggalkan aku dan Nina yang berada di dekat pintu. "Kan aku bilang jangan datang dulu..." "Aku mau sarapan bareng sama kalian sayang. Nih aku beli bubur ayam kesukaan kamu, sama ada jajan pasar nih." Aku menyerahkan kantong belanjaan ku tadi ke Nina, dia masih terlihat marah karena aku ingkar janji. Aku mengecup pelipisnya pelan, sembari masuk ke dalam ruangan keluarga. "Maaf ya sayang, tapi aku butuh modal juga supaya nanti aku pede ngelamar kamu. Belum tentu juga Papi kamu langsung okay kalo liat aku kan." Nina yang masih kesal hanya berjalan meninggalkan ku ke dapur. Dalam hati, tidak masalah kalau dia marah sekarang, tapi kemungkinan kalau aku sudah berkenalan dia harusnya senang juga. "Duduk sini Pak Pram. Repot-repot bawain sarapan untuk kami. Sudah sering datang kah sebelumnya?" "Tidak repot kok Pak, toh beli semua itu. Engga sering juga, baru beberapa kali kok Pak." "Oh gitu.. Na, sini sebentar Na. Temani Papi ngobrol sama Pak Pram juga disini." "Pak, maaf, Pram saja panggilnya Pak. Kalau ngga salah, saya sepantaran dengan Erick kok." "Loh.. kenal dengan Erick juga?" "Tidak juga Pak, Nina yang sering cerita." "Ooohh..." Pak Richard hanya tersenyum saja mendengar kata-kata ku yang sejak tadi untungnya lancar semua. Nina yang sudah selesai menyajikan sarapan yang tadi ku bawa di meja makan. Ada juga teko berisi teh dan kopi panas yang baru dibuat sepertinya. "Di meja makan aja Pi, yuk nak Pram, sekalian sarapan." Bu Richard memanggil ku dan suaminya untuk duduk di meja makan. "Terimakasih ya nak Pram sarapannya, jadi merepotkan kamu." "Ngga repot Tante, sekalian ingin sarapan bareng aja kok." "Na, buatkan Papi kopi ya, Pram mau minum apa? Biar sekalian dibuatkan sama Nina." "Saya mau kopi aja Pak." "Loh.. istri saya dipanggil Tante, kok saya dipanggil Pak? Harusnya panggil Om dong. Ya kan Na? Kalau Nina dipanggil apa? Sayang atau bebeb?" "Panggil nama aja Pi." Nina menjawab seadanya pertanyaan pak Richard, dia sembari menyiapkan kopi untuk ku jadi mungkin sedang fokus. "Wah, ga romantis dong, Mami Papi aja masih pakai panggilan sayang loh biar sudah keriput begini. Ya kan mi amor?" Sungguh, diluar prediksi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN