Pak Richard duduk di ujung meja, disisi kirinya ada Pram, dan disisi kanan ada Mami dan Nina.
Nina memilih menyantap bubur ayam yang Pram belikan, di meja sudah tersedia berbagai macam kudapan asin dan manis produksi salah satu bakery yang cabangnya banyak di Jakarta.
"Oh jadi kenalannya di acara kemarin pas CG ulang tahun... Berarti ada bagusnya juga ya Papi suruh Na yang datang?"
Nina yang sedang dikerjai oleh Papinya hanya menatap si sumber masalah yang sejak tadi hanya menebar senyum sumringahnya. Nina masih kesal padahal sejak semalam sudah dibilang untuk tidak usah datang, tapi pagi ini malah bertemu dengan Papi dan Maminya duluan.
"Kok diam aja Na? Kenapa daritadi banyakan diam? Na ngga lagi sakit gigi kan?"
"Lagi makan Pi, takut kesedak."
"Oo Papi kirain sariawan."
"Sudah Pi, makan dulu, biar Nina selesai makan dulu. Ayo Pram, dimakan juga... Jangan kami saja yang makan, sama-sama yuk."
Dari arah kamar, terlihat Ben dan Christ sudah bangun, mereka keluar masih dengan baju tidur dan rambut yang acak-acakan, benar-benar baru bangun rupanya.
"Mamiiii...." Ben sedikit teriak manja, dia belum sadar sedang ada tamu di meja makan, manjanya masih belum hilang. Mood bangun tidur, Christ juga melakukan hal yang mirip, hanya dia pergi bergelendot manja kepada Nina.
"Waduh... Ini anak sd apa masih bayi sih? Masa Maminya masih digelendoti? Ngga malu apa ini ada Om nya datang?"
Papi mencoba untuk mengalihkan perhatian Ben dan Christ yang belum sepenuhnya sadar. Mereka hanya menoleh kemudian melihat ke arah Pram,
"Selamat pagi Om, Om pacarnya Mami ya?"
***
Pram sudah digandeng oleh Ben dan Christ yang sangat senang, dan mereka memutuskan untuk bermain di wahana permainan di mall yang agak jauh dari apartemen.
Nina akhirnya hanya duduk dan mengamati mereka bermain, karena dia juga ingin Pram mencoba dekat dengan anak-anaknya.
Hampir setengah jam mereka bertiga bermain dan Nina mulai merasa lapar, akhirnya Nina memasukkan ponselnya ke dalam tas dan malah melihat mereka bertiga menghampiri Nina yang menunggu.
"Mamiiii aku lapar..."
Christ hari ini terlihat senang, biasanya anak ini cenderung diam saja, berbeda dari biasanya. Mungkin kehadiran Pram membuat mereka lebih semangat.
"Mainnya udahan? Seru ngga?"
"Udah, seru banget Mi. Om bantuin aku, jadi banyak menangnya. Omnya baik kok Mi."
"Oiya? Christ suka ya ditemenin main sama Om? Kan biasanya Uncle Marco juga suka temenin kamu main, sama Aunty Myrcia."
"Beda Mi... Om itu kaya Papi... Papi kan suka ajakin aku main dulu, sampe Mami omelin aku sama Ben. Tapi aku suka Mi."
***
Si kembar merengek minta makan bakmi yang gerainya banyak di mall itu. Sudah lapar sekali katanya, ya jelas saja, mereka asyik bermain dengan Om barunya, berpindah-pindah mesin permainan. Belum lagi melompat-lompat kesenangan kalau menang.
Pram banyak mengambil alih pekerjaan Nina dalam membantu Ben dan Christ makan. Pram dan si kembar memilih menu mie ayam sebagai pengganjal sebelum makan lagi malam nanti. Karena masuk jam tanggung aku hanya memesan menu siomay.
Nina mengeluarkan ponselnya berinisiatif menelepon Maminya untuk bertanya soal rencana makan malam,
"Halo Mi, lagi ngapain?"
"Lagi nemenin Papi ngeteh. Kalian sudah selesai?"
"Lagi makan di bakmi di mall Mi, anak-anak lapar katanya. Mami Papi ada titipan ngga? Nanti aku bawain."
"Beli kue soes aja kalau ada Na, belilah beberapa dessert. Makan malam di sini aja, nanti Marco datang sama Myrcia. Mami sudah suruh mbak di rumah masak dan nanti diambil sama supir."
"Ooh ya udah, coba nanti aku liat ada apa yang manis-manis disini. Makanannya cukup atau mau ada tambahan Mi?"
"Eh boleh deh kamu beli ikan sama mie goreng ya, Mami suruh mbak masak capcay sama ayam krispi. Kamu ada beras kan di apartemen? Kalau ngga ada, nanti bawa nasi dari rumah aja."
"Beras ada Mi, di lemari dekat dispenser, aku baru beli. Iya nanti aku beli tambahan deh Mi. Ya udah ya Mi."
Begitu mereka sampai apartemen, ternyata sudah ada Marco dan Myrcia disana. Marco yang sudah mendengar cerita tentang Pram langsung meledek keponakannya
"Wah uncle nggak laku lagi kayaknya nih..."
Christ yang memang dekat dengan Marco sejak dini, segera menghampiri Marco,
"Tapi aku kan sayang banget sama Uncle juga."
"Iya deh Uncle sayang sama Christ aja, Ben ikut sama Om aja ya."
"Ah... Uncle gitu aja marah, nggak seru"
Jelas semua orang dewasa di situ tertawa mendengar ocehan Ben, Nina segera mengenalkan Pram kepada Marco,
"Co, Myr, kenalin ini Pram. Dan Pram, kenalin ini Marco adik aku dan ini Myrcia, tunangannya."
"Yayangnya Cici ya? Disayang ya Ko Ciciku ini, biar nggak galak."
"Siapa sih yang galak? Perasaan biasa aja..."
"Tuh kan... Hahaha.."
Tak lama Mami memanggil mereka untuk segera makan bersama di meja makan. Ada banyak makanan tersedia yang begitu menggugah selera. Nina membeli mie goreng, ikan kakap tahu tausi dan ikan fillet asam manis di restoran Salemba, Nina sudah cocok dengan rasanya jadi dia juga ingin keluarganya mencicipi, semoga saja mereka juga cocok.
"Ini mie gorengnya enak, beli dimana?"
Tanya Papi dan hampir semua mengangguk setuju,
"Di restoran Salemba Pi. Yang dekat stasiun sini."
"Loh ada tah? Papi baru tau."
"Aku juga diajak sama Pram, pas coba pertama cocok rasanya, ya udah. Sekalian biar semuanya bisa nyobain."
"Bolehlah kapan-kapan kami diajak makan disana ya Pram?"
"Boleh banget Om. Besok juga boleh. Kalau bisa."
Pram tentu bangga bahwa rekomedasinya bisa diterima oleh keluarga Nina. Apalagi Pak Richard sampai bersedia diajak makan ditempat.
"Ya ngga besok juga sih Pram. Kapan-kapan aja kan tadi kata Papi."
Nina meminta Pram supaya tidak terlalu agresif, dia menatap Pram dan menaikkan alisnya, dan berkata dengan suara pelan,
"Easy Man."