Makan malam sudah berakhir dua jam yang lalu, Marco dan Myrcia sudah pamit pulang. Sedangkan Mami Pami dan si kembar sudah masuk ke kamar masing-masing 10 menit yang lalu. Sekarang keduanya duduk di sofa ruang tamu sembari meminum teh yang diseduh oleh Nina tadi.
"Sayang, maaf ya. Tapi aku senang banget deh hari ini, makasih ya udah kasih aku kesempatan untuk kenalan sama keluarga kamu."
"Kamu tuh ngga bisa apa dengerin omongan aku?"
Okay, keadaan sedang tidak kondusif. Suara Nina sangat tidak ramah, ini bukan sekedar ngambek biasa. Siaga 2. Ternyata Nina sangat hebat menahan rasa kesalnya dari pagi tadi, ini diluar perkiraan Pram.
Pram merasa tidak enak, tapi dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya, yang ada dipikirannya hanya ingin kenal dengan keluarga Nina. Dia harus membujuk Nina, tapi terlihat sekali bahwa Nina masih marah.
"Kamu pulang aja ya, aku capek banget. Dan tolong ya, besok pagi kamu ngga perlu datang lagi. Aku bisa beli sarapan sendiri kok."
"Sayang... Maafin aku."
"Pulang dulu aja. Nanti aku hubungin kamu lagi. Dan please, jangan kaya gini lagi."
Nina tersenyum tipis, Pram yang hanya bisa menuruti keinginannya tidak lagi berkata apapun.
"I love you sayang."
"Hmm hati-hati."
Pram mengecup puncak kepala Nina, dan Nina hanya balas mengusap lengannya.
***
Sudah 3 hari ini Nina belum menghubungi Pram, ia hanya ingin memantapkan hatinya bahwa keputusan untuk menemui orang tua Pram tidak salah. Dia tidak ingin gegabah seperti Pram, mungkin kalau belum ada anak-anak dia mau-mau aja, tapi dia paham, dia juga tidak memaksa orang harus mengerti kondisinya.
Flashback on
"Na, kamu pacaran sama Pram?"
Hari Minggu ini anak-anak meminta berenang di kolam renang apartemen, Papi dan Maminya juga ikut tapi hanya menemani. Ada Marco yang datang jam 9 pagi tadi, dan sekarang dia sedang asik bermain air dengan Ben dan Christ.
"Temenan aja Pi."
Papinya menghembuskan nafas pelan, dia tahu pasti menutupi hubungan mereka yang lebih dari berteman. Namun dia juga sadar, bahwa Nina merasa kurang percaya diri setelah ditinggal Erick, bukan secara fisik, tapi dia tahu status Nina yang janda anak dua itu bisa saja menjadi batu sandungan bagi keluarga calon suaminya kelak.
"Papi Mami ngga apa-apa kalau kamu mau menikah lagi. Anak-anak biar tetap tinggal sama Papi Mami."
"Masih jauh dari bayangan Pi. Lihat nanti aja."
Nina menyunggingkan sedikit senyumnya. Hatinya galau, dia punya keinginan menikah, tapi juga belum siap kalau nanti ada omongan yang menyakitkan hati dari calon mertuanya.
Flashback off
Ponsel Nina bergetar dan menyala, ada pesan baru masuk di layar,
Bu, hari Sabtu pesanan cake ultahnya jadi?
Kepala toko rotinya, Bu Riyanti menghubunginya karena ingin mengkonfirmasi pesanan kue yang ingin dia berikan untuk Mama Pram. Nina segera menghubungi Bu Riyanti, dan tanpa perlu menunggu lama, sambungannya langsung dijawab
"Halo Bu, maaf saya lupa kabarin. Jadi ya Bu, buat lapis Surabaya ukuran 24x24cm dan pakai lapis Philippine untuk yang tingkat atas, ukuran diameter 16cm. Cover pakai buttercream ya Bu, untuk orang tua. Pakai warna merah gold saja variasinya."
"Baik Bu, soalnya hari Sabtu saya ada orderan custom juga untuk ulang tahun. Makanya saya konfirmasi lagi ke Ibu."
"Oh, langganan ya. Untuk orang tua atau anak-anak?"
"Untuk orang tua Bu, langganan Bu, namanya Bu Nova, untuk mamanya katanya."
"Oh ya sudah. Mm.. nanti tolong totalannya nanti kirim ke wa ya. Makasih Bu."
***
Pram sudah berada di apartemen Nina sejak pagi, rencananya mereka akan jalan dari apartemen jam 4.30 sore karena acaranya dimulai jam 6 sore.
"Sarapan yuk Pram. Aku beli lontong sayur nih."
"Wow... Berat sekali makan pagi kali ini."
"Biar kuat menjalani hari."
"Haha... Segitunya. Anak-anak sehat?"
"Sehat, mereka nanyain kamu, katanya kapan kita ke mall lagi Mi sama Om Pram? Aku bilang iya nanti ya, kalau ngga sibuk."
"Minggu depan deh, kita jalan-jalan keluar kota yuk."
"Nanti aja, bentar lagi kan mereka ujian, terus ambil raport kenaikan kelas. Biasanya aku pasti ajak mereka keluar kota sih."
"Nah boleh tuh.. seminggu gitu ya minimal."
"Buset lama amat, paling 4-5 hari aja. Kelamaan bosen."
Saat seseorang asik berbicara, tiba-tiba bel apartemen berbunyi, Nina segera berlari dan membuka pintu.
Pram menunggu di meja makan sambil meneruskan makan paginya. Sesaat dia melihat Nina membawa kotak bermerk nama bakery yang dia tau itu kesukaan keluarganya.
"Beli apa?"
"Birthday cake, buat Mama kamu."
"Loh... Kok sama?"
"Sama apanya?"
"Cici aku juga pesen di bakery ini. Kemarin aku dikasih tahu, tapi kuenya nanti dikirim ke tempat acaranya langsung. Kamu tahu bakery ini enak banget loh. Beneran bikin ingat Omaku dulu kalau lagi bikin kue."
Ada rasa bangga sebenarnya dalam hati Nina mendengar testimoni langsung dari customer setianya. Nina tersenyum, Pram masih belum paham kenapa Nina tidak menanggapi omongannya barusan.