Pukul 6.45 pagi Nina sudah melajukan mobilnya menuju ke arah Pasar Minggu, dimana rumahnya berada. Sabtu Minggu begini memang jatah waktunya untuk menghabiskan waktu dengan Ben dan Christ yang sudah meneleponnya semalam,
"Mami, besok jadi kesini kan? Anterin aku sama Christ nonton ya Mi, aku udah janjian sama temen-temen sekolah. Nonton di Kemang Village."
"Yaaa kok nonton sama temen-temen sih Ben? Sama Mami aja ya nontonnya..? Jarang-jarang ketemu Mami kan?"
"Tapi kita udah janjian Mi, dari minggu lalu. Kita lunch aja ya Mi. Terus kan minggu depannya lagi bisa ketemu juga.."
Hufft... Sudah mulai asik dengan dunianya sendiri rupanya mereka.
Nina memberhentikan mobilnya disisi jalan depan rumahnya. Kemudian membuka pintu kecil yang biasa digunakan untuk lalu lalang orang keluar masuk.
"Selamat pagi Pak Wagyo."
"Selamat pagi Non, sini mobilnya saya masukkan saja ya."
"Ini pak, makasih ya."
Nina kemudian masuk ke dalam rumah dan saat melewati carport memang dia melihat mobil adik iparnya yang terparkir disana. Masuk melalui pintu depan kemudian langsung menuju ke ruang keluarga dan terlihat wanita yang masih sangat cantik walaupun kerutan sudah cukup banyak menghiasi wajah.
"Selamat pagi Mi!"
"Selamat pagi sayang. Sudah sarapan?'
Nina menghampiri Maminya, memeluk dan mencium pipi kanan kirinya,
"Hehe aku sengaja mau sarapan disini. Anak-anak sudah bangun Mi?"
"Belum, capek kayanya semalam mereka pulang dari les sampai sore. Yuk sarapan bareng, ada Papi sama Marco tuh baru datang juga."
Keduanya berjalan menuju meja makan yang terletak agak belakang, menghadap ke sebuah lahan kecil yang banyak ditumbuhi tanaman dan terdapat sebuah kolam ikan yang berisi beberapa ekor ikan koi.
"Selamat pagi Pi, Marco!"
"Selamat pagi Na."
Nina menghampiri Papinya, cipika cipiki juga lanjut menghampiri Marco yang merupakan adik Erick.
"Hi Ci! Gimana kabarnya?"
"Kabar baik. Kamu gimana? Kantor okay?"
Marco tidak tinggal disini, karena sebenarnya ini adalah rumah yang Nina dan Erick tempati setelah menikah. Saat Erick meninggal, Nina meminta Mami dan Papi pindah kesini supaya bisa menjaga dan mengawasi anak-anak sementara dia bekerja dan pindah ke apartemen supaya lebih dekat dengan kantor.
"Sehat Ci... Kantor aman." Jawab Marco sambil mengangkat jempolnya. " By the way Ci, Sabtu depan ikutan ya, ketemu keluarga besar sekaligus lamaran Myrcia. Ramai-ramai nanti sama keluarga yang lain."
"Oh waahh.... Udah mau lamaran ya... Selamat ya! Semoga lancar semua urusannya. I'm happy to hear that."
"Kalau kamu, sudah ada yang lamar lagi belum?" suara Papi mengalihkan fokus kami semua.
"Aku?" Nina hanya tersenyum, dia tahu maksud Papinya baik. "Kalau boleh jujur sih, belum bisa lupa sama Erick. Masih fokus kerjaan dulu aja Pi. Anak-anak masih butuh perhatian."
"Yaa betul sih, ngga salah. Tapi kamu juga pasti butuh perhatian laki-laki dewasa kan?"
"Nanti aja, nanti kalau memang aku merasa waktunya tepat, aku pasti akan buka lowongan."
Semua terkekeh mendengar jawaban ngeles Nina yang cukup halus.
"Sarapan dulu Na, nanti ke KemVill jam berapa?"
"Jam 11 paling Mi."
Nina membalikkan piring kemudian mengambil nasi kuning yang tersedia di meja makan lengkap dengan beberapa kondimen-kondimennya yang menggugah selera.
Nina tidak pernah melewatkan sarapan pagi bersama setiap akhir pekan di rumah ini kalau semua sedang berkumpul, rasanya hampir tidak ada yang berubah, kecuali kepergian Erick saja.
**
Jam 10.20 Ben dan Christ sudah turun dan bersiap untuk pergi. Nina kemudian pamit dan segera membawa mobilnya menuju KemVill.
Sampai di bioskop teman mereka sudah berkumpul dan ada orang tua murid yang lain yang akan menemani mereka nonton. Cukup ramai juga ternyata yang ikutan, ada 8 orang kalau tidak salah termasuk 2 anak ku.
"Mama, aku titip Ben dan Christ ya."
"Siap Ma, tenang saja, ini ditemenin sama 3 Mama yang lain juga."
"Titip ya Mama. Terimakasih sebelumnya."
"Santai Mam."
Nina menghampiri Ben dan Christ yang masih asyik mengobrol dengan teman mereka
"Kalian kalau nontonnya sudah selesai, segera telpon Mami ya. Dengerin dan patuh sama Mamanya Arkana ya."
"Iya Mi. Mi, boleh minta uang jajan ngga? Hehe.."
Nina mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar uang seratus ribu untuk keduanya.
"Cukup kan? Nanti lunch sama Mami kan?"
"Cukup, makasih Mi. Iya, aku mau Pepper Lunch ya Mi hehe..."
**
Jam 3 sore Nina dan kedua anaknya sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, Ben dan Christ masih asyik membahas cerita film yang mereka tonton tadi. Sesekali Nina menimpali, karena sebenarnya Nina sudah menonton duluan beberapa hari yang lalu, sengaja, supaya tidak dianggap kudet alias kurang update oleh mereka.
"Nanti malam mau makan apa? Mau masak atau makan diluar aja?"
"Mi, aku mau pizza boleh?" tanya Christ yang duduk di belakang
"Nanti liat ya Oma mau makan apa, kalau misalnya Oma ngga mau pizza, nanti kita take away aja ya."
"Aku apa aja Mi. Yang penting sama Mami."
Ben, sulung ku yang paling supel. Di mudah akrab dengan siapapun, dan mudah bergaul. Dulu ketika aku dan Erick pergi ke Singapura untuk berobat, anak-anak ini lebih sering ikut dengan Mami mertua ku. Saat itu sebenarnya aku sedikit dilema meninggalkan kedua anak itu, karena aku dan Erick masih turun tangan sendiri mengurus keduanya sejak bayi. Christ lebih pendiam, dia sering merengek minta ikut dengan ku. Masalahnya waktu itu tidak memungkinkan membawa Christ sebab kami masih harus bolak balik ke rumah sakit untuk kemoterapi.