Undangan

537 Kata
Berangkat ke kantor sekaligus memantau bakery lalu pulang ke rumah atau apartemen, menghabiskan waktu bersama anak-anak dan keluarga adalah hal yang membuat Nina tetap waras sejauh ini. Selama 2 tahun berpacaran dan 10 tahun menikah, Nina memang terkadang pergi berdua dengan Erick ke beberapa klub untuk hangout dengan beberapa sahabat mereka. Dia belum lupa bagaimana dulu Papi dan Mami Erick mendorong Nina untuk tetap bekerja di perusahaan yang Erick tinggalkan, "Kamu harus bekerja untuk mengalihkan pikiran kamu, sebab kamu harus tetap waras, anak-anak butuh Maminya sehat secara mental juga. Kamu ngga perlu memikirkan biaya pendidikan dan biaya hidup anak-anak sudah kami siapkan untuk mereka. Kamu hanya perlu menolong dirimu sendiri agar bisa melewati fase yang tidak mudah ini. Erick selama ini selalu bergantung dengan kamu, sekarang waktunya untuk keluar, habiskan waktu untuk dirimu sendiri dengan cara yang sehat. Berkabung atau bersedih boleh saja, wajar. Tapi Erick juga ngga akan senang kalau kamu terlalu berlarut dalam kesedihan." ** 3 bulan kemudian ** "Selamat pagi Bu, ini ada beberapa dokumen yang kemarin Ibu minta saya untuk check." Nina menghentikan sementara kegiatan membaca beberapa surel yang terpampang di layar laptopnya. Memfokuskan dokumen yang kemarin sore dia minta pada Andi, sekertaris Erick yang sekarang banyak membantunya beradaptasi dengan kegiatan barunya. "Duduk Ndi." Andi menarik kursi yang ada di hadapan bos besarnya ini. 2 tahun sudah Andi bekerja untuk Nina, ada rasa hormat dan kagum akan kebaikan dan dedikasi Nina untuk pekerjaannya. Teman-teman di kantor pun merasakan hal yang sama, tidak mengira bahwa istri bos yang selama ini mereka anggap hanya ibu rumah tangga biasa ternyata mampu membawa perusahaan menjadi lebih baik dikemudian hari. "Ndi, sudah okay ini. Jangan lupa di follow up, supaya ngga molor ya. Berasa tuh budget segitu." "Siap Bu." Nina segera membubuhkan tanda tangannya di dokumen tersebut. Begitu selesai, Nina menaikkan kacamatanya ke atas kepala. "Bu, mau info, Pak Hardi, sama Big Boss kena SP3. Hari ini terakhir kerja." "Hmm... Biarin deh, kalau saya kemarin masih mikir kita butuh skill dia, tapi ya ternyata tidak dibarengi dengan sikap yang baik, akhirnya Big Boss turun gunung. Sebenarnya urusan masing-masing sih, cuma kadang kalau udah sampai ke Big Boss, endingnya bisa lebih menyakitkan. Buat pelajaran ke yang lain juga sebenarnya, jangan macem-macem gitu di kantor. Kerja aja yang baik, yang benar." Salah satu Manager di perusahaan memanfaatkan jabatannya untuk meniduri bawahannya. Sampai akhirnya terjadi sedikit ribut di kantor minggu lalu. Aku memberikan SP1 untuk Pak Hardi, namun kemudian saat ada yang melapor kepada Papi, secara langsung Papi menghubungi HRD untuk memberikan SP3. Sah-sah saja, sebab Papi juga menjadi salah satu BOD di perusahaan ini. "Ada info apalagi?" "Ini ada undangan gala dinner, dari Citra Gemilang, ulang tahun perusahaan. Kebetulan kita ada kerjasama dengan mereka, iklan-iklan di tv, talentnya banyak dari mereka." "Wajib ya? Hmm... Hari Sabtu lagi.." "Sebenarnya ini undangan buat Big Boss, cuma dari Amelia tadi bilang, minta Ibu aja yang mewakili." "Gitu... Ya udah, RSVP lagi, konfirmasi aja ke mereka. Yang sering kontak sama mereka tuh bagian apa ya Ndi?" "Kalau ngga salah si Pak Jonathan deh Bu, Manager Marketing, atau si Charles. Nanti saya tanya ke Ribka, sekertarisnya Marketing." "Ya udah nanti minta yang biasa berhubungan sama CG ikut juga, bingung juga kalo sendirian kesana." "Iya Bu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN