06. Rahwana adalah Penjahat

2552 Kata
*A B I M A N Y U* Rahwana adalah Penjahat. Sedangkan Rama adalah pahlawan. Pemahaman ini telah meluas dalam masyarakat. Bahkan kisahnya telah abadi dalam sebuah lagu yang cukup terkenal dan melegenda. Namun, sebagai sesama laki-laki, dalam urusan cinta aku ingin memperdebatkan pemahaman ini. Aku percaya bahwa sejatinya manusia itu punya dua sisi. Tidak ada yang sepenuhnya hitam, pun tidak ada yang sepenuhnya putih. Saat ini aku ingin melihat dari sudut pandang Rahwana sebagai seorang yang sedang jatuh cinta. Dalam sebuah kisah lalu diceritakan, Rahwana hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya. Istrinya ... Dewi Setyawati namanya. Sampai kemudian sang dewi meninggal dan kemudian jiwanya menitis kepada dewi Sinta. Meskipun sosok wanita yang ia cintai telah pergi, tapi cinta di hati Rahwana tak pernah padam. Sampai pada akhirnya Rahwana bertemu dengan Sinta, dengan perasaan cinta yang masih sama. Hanya saja sangat disayangkan waktunya salah. Rahwana kalah selangkah, karena kenyataanya kini Sinta telah menjadi istri Rama, seorang Raja Ayodya setelah berhasil memenangi sayembara. Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rahwana hanya mempunyai dua pilihan sebagai seorang lelaki sejati. Merelakan atau merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan dengan nyawa dan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ia akan mempertaruhkan segala yang ia punya untuk Sang kekasih hati. Dan Rahwana mengambil pilihan kedua. Singkat cerita yang kutelisik selama ini, Rahwana berhasil menculik Sinta dan dibawa pulang ke Alengka, kerajaannya. Selama tiga tahun disekap, Sinta diperlakukan bak ratu oleh Rahwana. Meski dia bisa saja memaksa atau bahkan memperkosaaa Sinta, Rahwana tak pernah mau melakukan hal itu. Rahwana bahkan tak sedikitpun menyentuh Sinta sebab Rahwana tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa. Dia tak pernah menyentuhnya. Dia hanya menunggu agar Sinta luluh kepadanya. Karena bagi Rahwana menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Sama sebagaimana ia mencintainya dan mereka saling mencintai dulu kala. Kelak suatu saat nanti. Entah itu kapan Rahwana tak akan pernah memaksa. Padahal Rahwana tahu benar, bahwa titisan Dewi Setyawati itu terlahir begitu setia pada suaminya. Dia juga yakin bahwa Sinta tau mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dipermainkan oleh takdir. Sebagaimana Dewi Setyawati yang begitu setia pada Rahwana, Sinta pun demikian kepada Rama. Setiap hari Rahwana mendatangi Sinta dengan beragam puisi. Membacakan setiap kalimat itu berharap agar sampai ke hati. Ucapan maaf terus berulang pada lisan dan kesungguhan hati karena telah menculiknya. Padahal semua itu ia lakukan agar Sinta bersedia menjadi permaisurinya. Satu-satunya istri terkasih untuk hidup di Alengka bersama kembali. Namun, Sinta selalu menolak dengan dalil bahwa kini ia telah bersuami Rama. Akan tetapi, keyakinan Rahwana tentang ketulusan tak pernah padam. Apa yang datang dari hati, pasti sampai ke hati. Sekejam apa pun Rahwana, ketulusannya pelan-pelan dirasakan oleh Sinta. Selama dirinya di Alengka, Rahwana berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana kerajaan menjadi baik pula dan penuh kedamaian. Sinta mulai luluh, tapi di sisi lain ia tak mau mengkhianati suaminya. Namun, demikian Sinta juga wanita. Ia mulai gamang karena hampir tiga tahun lamanya, Rama tak kunjung datang untuk menjemputnya di sini. Apakah suaminya itu sudah tak mencintainya lagi? Atau mungkin Rama telah menemukan cinta yang lain? Aku menggela napas untuk menjeda kisah panjang yang sedang aku jabarkan di sini. Mataku beralih dari anak-anak kecil di depan menjadi ke arah Utari yang duduk bersendang dagu di dekat tiang beton penyangga jembatan ini. Kulemparkan senyum padanya yang begitu antusias mendengarkan penjabaranku tentang kisah cinta raksasa bernama Rahwana. Aku kembali menatap Buku .... Dalam diam mereka saling bicara. Lisan yang tetap bungkam, melemparkan segala pertanyaan lewat pandangan mata. Lama dibebat sunyi, Rahwana pun bersuara. "Tidak kah, kau juga mencintaiku Sinta? Tidak kah, kau mengingatku walau sedikit saja? Sebagai pria yang pernah kau cintai sampai mati?" "Aku sebenarnya juga mencintaimu. Namun, aku telah terikat dengan Rama. Karena itu, jika kau benar mencintaiku, tolong lepaskan aku dan relakan aku hidup bersama Rama." Kata-kata Sinta ibarat mantra yang menyihir Rahwana. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti. Seolah memberikan Rahwana sebuah perintah untuk memperjuangkan dirinya, bukan sebaliknya mundur begitu saja sebagai seorang pengecut. "Jika itu maumu, sebagai kesatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan merelakanmu bahagia bersamanya." Selang beberapa hari kemudian, ucapan Rahwana seperti sebuah mantra yang dikabulkan oleh Sang Hyang Widhi. Rama benar-benar datang dengan balatentara Wanara juga Hanoman, dengan gagah berani Rahwana menyambutnya. "Aku mencintai Sinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut 'mengacau' sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan cintaku kembali." Pertarungan pun terjadi selepas Rahwana mengucapkan kalimatnya itu. Singkat cerita dengan bantuan Hanoman, Rama berhasil mengalahkan bahkan membunuh Rahwana dengan gampang. Pertahanan Rahwana untuk memperjuangkan Sinta telah sampai pada titik paling genting dalam hidupnya, saat ia bahkan rela mengorbankan nyawa untuk merebut kembali cintanya. Setelah peperangan itu, Sinta pun kembali jadi miliknya. Wanita itu berlari menghambur ke pelukan Rama. Namun, sambutan Rama justru tak dia duga. Rama curiga, jangan-jangan Sinta telah dinodai oleh Rahwana. Berkali-kali Sinta menjelaskan bahwa dirinya masih suci. Bahwa Rahwana tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Akan tetapi, Rama tak juga percaya. Hingga akhirnya, Sinta nekat membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke bara api. Karena ia masih suci, api tak bisa membunuhnya. Barulah setelah itu Rama mau menerimanya kembali. Kini yang tersisa hanya tinggal sukma Rahwana yang menangis sejadi-jadinya karena nestapa cinta. Menyaksikan kekasihnya yang harus membuktikan sesuatu kepada orang terkasih. Kenapa takdir tidak memilihnya untuk bersanding dengan Sinta? Seandainya ia mengikuti perlombaan sudah bisa dipastikan Sinta akan menjadi miliknya. Bukankah kesaktian Rama masih jauh di bawahnya? Namun, Dewa telah mengirim Hanoman untuk membuatnya kalah dalam takdir perjalanan cinta ini. Kenapa pula Sinta memilih pria yang tidak mempercayainya seutuhnya? Sementara bagi Rahwana, Sinta ternoda atau tidak, cantik atau tidak ia tetap akan mencintainya. Di sudut pandang lain yang tak terlihat. Sinta tersedu pilu karena Rahwana sudah tak ada lagi di dunia yang ditempatinya. Rahwana tak lagi menghirup udara yang dihirupnya. Sosok yang telah ia sia-siakan karena terikat janji sayembara. Sosok yang mencintainya tanpa tapi. Kututup notebook berwarna hitam yang penuh dengan coretan tangan. Sambil tersenyum kupandangi satu persatu anak-anak luar biasa yang malang nasibnya. Mereka hanya melongo mendengar ceritaku barusan, sambil sesekali berbisik pada temannnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang aku bicarakan. "Mungkin, kalian belum paham hal-hal kayak gini. Aku juga nggak maksa kalian buat memahami cerita tadi," ucapku sambil memasukkan buku catatan tersebut ke dalam ranselku. "tapi suatu saat, di waktu yang tepat nanti. Kalian pasti akan tau kalau nggak ada hitam yang sepenuhnya kelam, atau putih yang selalu bersih. Kita, selalu punya dua sisi yang saling bersinambungan." Gibran sedari tadi berdiri di belakang anak-anak yang duduk bersila dengan alas kardus itu bersedekap d**a sambil menggeleng menatapku heran. Kulihat ia berdecak menatapku dengan malas. Lantas aku melemparkan senyum padanya, namun Gibran justru melengos. Ia bertepuk tangan untuk mencuri perhatian anak-anak yang masih fokus padaku. "Oke, kalian nggak usah dengerin bacotnya, Mas Abi. Sekarang kalian baris yang rapi, Kakak mau bagiin buku sama makanan buat kalian. Yok!" Ucapan Gibran sontak membuat anak-anak tersebut mengalihkan fokus dariku. Mereka hanya berjumlah sembilan orang, berjejer di depan Gibran menunggu giliran mendapatkan buku tulis, buku bacaan, serta nasi kotak dan makanan ringan. Senyum tipis muncul begitu saja melihat anak-anak itu ikut tertawa. Hanya hal kecil seperti ini yang bisa kulakukan saat senggang. Memberikan sedikit kebutuhan untuk mereka yang tak mampu terlebih anak kecil. Ah, perlu kuingatkan lagi. Kalau aku ini memang selalu dicap b******n tengik. Tapi, aku rutin memberikan pelajaran gratis, buku serta makanan untuk anak-anak jalanan. Meski hanya sekedar berhitung dan membaca, setidaknya mereka mempunyai bekal utama untuk bekerja kelak, kan? Hanya bermodal baca dan tulis, siapa tau mereka akan menjadi menejer di sebuah perusahaan. Mana tau? Mana mungkin juga? Ha-ha Tapi, hey! Takdir Tuhan selalu penuh dengan kejutan. Tak ada yang tak mungkin selama kamu mempunyai keyakinan. Yah, setidaknya dengan baca, tulis mereka mempunyai sedikit bekal untuk masa depannya kelak. Aku bukan orang pintar, jadi akan kubuat mereka menjadi orang yang lebih mengerti. Mengerti caranya cari duit. Mengerti caranya menghadapi orang lain kelak. Mengerti caranya memanusiakan sesama manusia. Puas mengamati Gibran dan anak-anak, aku memutar tubuh. Di sebuah tiang besar yang menjadi penyangga jembatan beton ini seseorang duduk menopang dagu sejak tadi. Aku tau fokusnya sedari tadi tak lepas dariku. Wanita tercantik dan paling sulit untuk kudapatkan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Utari? Aku menjatuhkan diri di sebelahnya. Meski kini pandangannya tak lagi untukku, aku masih tak pernah puas menatapnya dari berbagai sisi. Bagiku ia cantik dalam segala kondisi, meski dengan beberapa luka memar baru yang menghiasi wajahnya. Utari mengamati anak-anak yang kini duduk melingkar bersama Gibran. "Aku nggak nyangka kalau kamu punya sisi kayak gini," gumamnya tanpa menatapku. "Karena udah terlanjur meluas pemahaman bahwa yang berengsek, ya tetap aja berengsek." Ia menoleh juga. Masih menopang dagu sambil menatapku dengan pandangan tak biasa. Ah, sialan kecantikannya bertambah dua kali lipat. Aku makin melebarkan senyum khusus untuknya. Membiarkan jantungku berdegup tanpa irama. Sungguh detaknya terasa sangat abnormal. "Kenapa? Udah terpesona sama aku, ya? Sekarang naik berapa angka?" kuhujani ia dengan banyak tanya. Namun, Utari masih diam. Matanya seolah sedang menelisik manikku lebih dalam. Gadis ini sedang mencari sesuatu yang membuatnya ketakutan juga ragu. Dan aku tau bahwa Utari hanya bimbang tentang kebenaran perasaanku kepadanya. "Sama kayak kisah Rahwana. Dia udah terlanjur dikenal sebagai penjahat yang menculik istri Rama. Tapi, kalau kamu lihat kisahnya itu lewat permasalahan hati, justru kebalik. Yang berengsek itu Rama, bukan Rahwana, Tar." "Dapet sumber dari mana kamu bisa ngomong kayak gitu?" Kini aku tersenyum remeh padanya. Kusandarkan punggung pada tiang beton yang tinggi menjulang. "Anak sastra kayak kamu, paling taunya cuma kisah Hamlet, Romi dan Juli, Napoleon. Padahal kebanyakan cerita-cerita itu kalau kamu tela'ah betul-betul, cuma menampakkan satu sisi putih tanpa cacat. Sama kayak kisah Ramayana yang sering di kisahkan dalang, semuanya putih untuk tokoh protagonis. Dan hitam gelap untuk antagonis, Rahwana." Utari membisu, ia masih menyimak menunggu kelanjutan ceritaku. Sengaja aku diam cukup lama menunggunya agar lebih dulu meminta. "Lanjutin," ucapnya setelah terdiam cukup lama. Aku menang kali ini. Kembali aku menegakkan tubuh. Merapatkan posisi duduk di anatara kami berdua. "Kita jadian dulu. Baru aku lanjutin." Kelopak matanya berkedip beberapa kali. Kemudian menoleh ke belakang merogoh entah apa dalam tas ranselnya. Sebuah kamus bahasa Indonesia mendarat di kepalaku secara tiba-tiba. Kuat sekali, sampai aku mengumpat. Untung tengkorakku baik-baik saja. "Mau lagi?" tanyanya mengangkat tinggi kamus tersebut. "Beneran pengen aku mati? Itu berat banget loh, Tar? Setara sama sekarung beras," kataku menunjuk buku tebal tersebut. "Lebay!" Akhirnya ia letakkan juga buku laknat tersebut. Lantas aku berpaling enggan menatapnya. Masih dengan tangan yang mengusap-usap kepala yang pening. "Aku suka ngulik sisi lain dari setiap cerita yang pernah k****a. Khususnya kisah-kisah jaman dulu. Salah satunya kisah ini. Seseorang yang dikenal membawa angkara murka, berwajah dasamuka, berwujud raksasa, lambang dari segala dosa-dosa pun masih punya hati nurani kayak manusia. Padahal waktu kelahirannya, banyak dewa yang menentang kehadiran Rahwana. Tapi, kemudian, Tar ...," ucapku menggantung saat menatapnya yang ternyata juga tengah fokus memandangku. Kini tangannya menopang tubuh ke belakang dengan kaki selonjoran. "Rahwana itu, sama juga kayak manusia. Kayak kita, zaman dulu dia dicap jahat, kejam sampai dia hampir bunuh diri karena merasa putus asa dengan hidupnya. Tapi, para Dewa yang dulu menentang kehadiran Rahwana justru mendatangkan Dewi Setyawati yang menitis menjadi Sinta untuk menghibur Rahwana, juga kemudian menumbangkannya." Aku berhenti lagi dan menoleh padanya. "Tau kenapa?" tanyaku. Ketika ia masih saja diam. Sengaja kujatuhkan kepala tepat di pangkuan Utari. Ia tak protes, hanya menatapku sekilas kemudian mengelilingi seantero kolong jembatan ini. "Karena dia terlanjur dicap jahat, sedangkan bumi masih harus tetap seimbang. Sama seperti katamu tadi, kalau nggak ada yang sepenuhnya hitam dan nggak ada yang sepenuhnya putih. Kehadiran Rahwana harus diakui untuk menyeimbangkan bumi. Karena nggak fair kalau semuanya jadi orang baik. Mungkin, kalau itu emang terjadi ... nggak akan ada yang namanya surga dan neraka." Utari menatap segala objek secara nyalang. Aku diam, cukup terpukau dengan jawabannya barusan. Lebih dari itu, nada luka jelas terdengar pada setiap kata yang ia ucapkan. Gadis ini menyimpan terlalu banyak pedih sendirian, padahal aku selalu bersedia menerima semua kisahnya. Sekelam apapun itu. "Setelah denger ceritamu barusan, jujur aku kagum. Pikiranku yang selama ini cuma tentang nunggu kematian. Tapi, nggak lagi. Kalau ada kespatan untuk lari, aku bakalan ambil itu, Bi. Kalau memang aku dilahirkan untuk dilukai, aku terima sebisa mungkin." "Mau lari bareng aku? Nggak usah jauh-jauh. Yang penting kamu pergi dari nerakamu itu," ucapku menatap Utari masih dalam pangkuannya. Kali ini ia tersenyum menunduk untuk menatap mataku. Tangannya sudah terangkat seperti biasa. Dan tentu saja aku sudah menggunakan kedua tanganku sebagai tameng untuk melindungi diri. "Setelah genap sepuluh angka. Aku bakalan pergi, ke mana pun kamu mau." Seperti tersengat aliran listrik bermuatan tinggi. Jantungku berdetak kencang saat jemari kurus Utari menyisir rambut lebatku dengan pelan. Perlahan, kuturunkan tangan yang tadinya kusiapkan sebagai tameng. Wajahnya sendu menyambut pandanganku. Kali ini dengan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Berapa angka lagi, Tar?" "Tiga," jawabnya singkat. Kuhela napas pendek. Pelit sekali perempuan ini. Padahal aku sudah berceloteh panjang lebar tentang kisah Rahwana yang ingin ia dengar. Tapi, tak apa. Akan kubawakan lebih banyak puisi, serta kisah yang kelak membuatnya bahagia. Demi Utari, apa pun itu akan kulakukan. Sama seperti Rahwana pada Sinta. Akan kukirimi puluhan bahkan ratusan puisi untuknya kelak. Karena sepasang mata sendu itu memiliki kisah yang mengingatkanku pada masa lalu. Sepasang mata sayu itu, selalu berhasil menghipnotisku. Utari, selangkah lagi. Jadilah kekasihku! "Bi?" ucapnya memanggil. Aku tersentak. Kupikir bagian ini telah berakhir karena sudah kuucapkan keinginanku padanya. Kutatap ia dengan tanya. "Makasih, Abimanyu." Mendadak ucapan terimakasih itu menjadikanku patung bernyawa. Aku membatu dalam pangkuannya dengan jantung yang berdetak dua kali lipat lebih cepat. Pada Suatu Hari Nanti Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati, Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari. Usai sudah kubacakan sebuah puisi utuh milik Eyang Sapardi yang sangat mewakili perasaanku pada Utari. Biar saja, sekali-kali gadis itu tau bahwa aku lebih suka menghapal puisi di kepala. Ketimbang ucapan gombal yang kuucapkan hanya untuk kesenangan belaka. Meski aku sadar, apa yang kulihat kini tak sepenuhnya nyata. B e r s a m b u n g.... Gas pol Bi, ojo lali dibalyer slur :v Halo gais! Buat yang udah vote, dan menyempatkan diri untuk komen di cerita ndak jelas bin unfaedah ini, Makasih banyak, yo Lur. Saya terharu, segini aja terharu. Hehe. Cuma mau bilang, makasih banyaaak, tanpa kalian saya itu cuma remahan genteng yang dipakai buat nutupin eek ayam di halaman rumah tetangga. :') Btw, maaf sekali di bagian ini terlalu panjang menceritakan kisahnya Rahwana. Ndak tau kenapa saya suka banget. Ini aja cuma tak ambil sebagian, aslinya saya udah ngetik panjaaaang, ada kali 1500word :v Karena jujur, kisah Rahwana itu bikin saya mewek sekaligus melted. Tapi, balik lagi di sini kan harus fokus juga sama Abi dan Tari. Jadi maaf kalau banyak sampah. Kuy di filter, ambil bagian yang bermanfaat ya. ^^ Akhirnya saya bikin AN setelah panjangnya part yang berlalu ini. Wkwk. Padahal respon juga minim, tapi ya bdmt. Udah gitu aja. Sekali lagi, Terimakasih ❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN