07. Kabur

2081 Kata
Happy reading! Yang Fana Adalah Waktu Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. - Sapardi Djoko Dhamono *U t a r i* Tempat ini masih asing. Sebuah ruangan kecil yang masih kosong, namun lebih baik dari pada kamar pengap itu. Aku menatap sekeliling. Menyentuh temboknya yang terlihat usang lalu tersenyum simpul. Pada akhirnya aku berhasil meninggalkan neraka itu malam ini. Saat perlahan pandanganku turun pada lengan yang terluka. Luka sayatan itu tak dalam, tapi terlihat jelas membekas. Luka lebam di bagian mata kanan juga sudut bibir yang robek masih terasa perih. Semua tamparan yang dilayangkan lelaki itu terasa nyata, dan masih membekas dalam ingatanku sampai detik ini. "Lepasin aku!" sentakku. Sepulang dari mendengarkan cerita Abi tentang kisah Rahwana tadi, entah keberanian dari mana yang membuatku memberontak begitu kuat. Sebab dalam benakku masih begitu hangat kisah Rahwana yang sangat ditentang kehadirannya, sebelum kemudian para Dewa membiarkan raksasa itu hidup dan bertahan bersama istrinya yang kemudian pula membuatnya tumbang dalam peperangan. Sebuah lakon kehidupan yang pelik dan tak adil, tetapi harus tetap berjalan sampai cerita yang ditentukan akan berakhir. Hidupku, seperti demikian. Seolah takdirku hanya untuk dilukai dan disakiti. Namun, hari ini aku telah memutuskan semuanya. Aku ingin mengakhiri semua perih yang menikam d**a tanpa jeda. "Kamu pikir bisa pergi dari sini semudah itu?" lelaki itu menamparku dengan keras. Sampai tubuhku hampir saja limbung ke lantai karenanya. "Anak pelacurrr sepertimu, memang sudah sepantasnya ada di posisi ini. Biar hidupmu nggak jadi beban, seenggaknya hasilkan banyak uang buatku," ucapnya lagi. Mulut busuk beraroma tembakau dan alkohol itu begitu kuat menyeruak dari bibirnya. Aku memicingkan mata dengan perasaan yang memanas. Aku bahkan begitu benci menatap wajahnya yang angkuh. Tangannya yang begitu kasar dan mengerikan. Bagiku semua yang ada pada sosok lelaki tua ini adalah sebuah kutukan. Jantungku bergemuruh hebat menatapnya penuh dengan amarah yang selama ini hanya kutekan dalam angan. "Ibuku bukan pelacurrr!" Ia tertawa kencang, memenuhi ruangan ini dengan suaranya yang mengerikan. "Kamu salah, dia pelacurr. Pelacurr yang sangat andal dalam merayu laki-laki, jadi kamu seharusnya bersikap manis seperti mendiang ibumu." Kedua tanganku terkepal erat, sedetik setelah kucoba menahan emosi ini yang ada justru kemarahan yang semakin memuncak. Kudorong lelaki itu hingga tersungkur ke belakang sambil berteriak kencang. "Kamu yang berengseeek! Kamu lelaki nggak berguna, kamu yang selalu menyiksa anak dan istrimu sendiri untuk kesenanganmu. Manusia egois, kamu bahkan nggak pantas jadi seorang ayah. Kamu nggak pantas untuk hidup!" Kedua tanganku sudah mengangkat sebuah balok berukuran sedang yang selalu berada di dekat pintu masuk kamar. "Pergilah ke neraka!" Saat aku bersiap untuk mengayunkan benda itu, tanpa kusadari gerakannya yang begitu cepat menarik kakiku hingga jatuh. Aku tersungkur sebelum kemudian ia menendang tubuhku sambil kembali memaki tanpa jeda. Punggung, perut, d**a, bahkan kepalaku, entahlah malam itu aku merasa remuk di sekujur tubuh saat ia menginjakku tanpa ampun. "Bangsaaat! Dasar anak nggak tau diuntung, masih mending aku membiarkan kamu hidup. Masih mending aku nggak membunuh kamu seperti ibumu." Di sela rasa sakit dan pertahanan itu, aku masih berusaha melindungi diri. Kedua tanganku bergerak melindungi kepala, dengan napas sesak aku menahan air mata sialan yang sudah mengenang di pelupuk mata. Sedetik kemudian, saat itu juga aku berhasil untuk berdiri, berusaha melarikan diri. Namun, ia juga dengan gesit menarik lenganku dan menyayat lenganku dengan pecahan botol kaca dalam genggamannya. "Bunuh aku!" kataku tak sedikit pun meringis kesakitan, "bunuh aku sekarang juga!" teriakku kemudian. Ia tertawa miring seperti iblis, kembali menampar wajahku dengan keras tanpa melepaskan genggaman tangannya pada lenganku. Sehingga aku masih berdiri tegak di depannya dengan sangat terpaksa. "Lihatlah, kamu bahkan nggak menangis?" Entah, dengan tujuan tanya atau apa yang menyertai kalimat itu keluar dari bibirnya. Hanya saja, di telingaku semua itu terdengar seperti sebuah kalimat tantangan. Yang memaksaku untuk melawan atau tetap diam. "Aku sudah mati." Kutatap lelaki biadab itu tepat pada manik matanya. "Aku sudah mati di dalam sini, jadi kamu nggak perlu repot berusaha membunuhku lagi," desisku merasa sesak yang kian merajam hati. "Kamu—." "Apa? Aku memang sudah mati karena tanganmu sendiri, jadi bunuh saja aku secepatnya!" teriakku kembali memenuhi ruang kamar pengap tersebut. Saat itu juga, kurasakan ia menghantam kepalaku dengan kuat. Aku tersungkur, mencoba bangkit dan melakukan pergerakan apapun untuk menyelamatkan diri. Malam ini, aku harus pergi dari sini, meskipun aku harus keluar dengan keadaan mati. Aku, hanya ingin mengambil sebuah kesempatan yang mungkin saja dapat menuntunku ke jalan yang lebih layak. *U t a r i* Dalam pelarian tadi, lelaki yang ditakdirkan sebagai ayahku sempat melukaiku sebelum kutendang sembarangan hingga ia tumbang dan hilang kesadaran. Entah, tak begitu jelas kuingat bagaimana aku bisa kabur darinya. Hanya saja saat ini luka itu tak lagi seperih tadi, karena telah dibalut rapi oleh Anjani yang dengan berani masuk ke kamarku sendirian. Segelintir tanya masih menggantung dalam benak, entah tahu dari mana gadis itu bahwa aku tinggal di sana. Padahal sebelumnya aku tak pernah menunjukkan alamat tempat tinggalku kepada siapapun. Mungkin, teman tak terlihatnya yang memberi tahu Anjani. Bisa jadi Suri, atau bahkan teman-teman Suri yang lain. Ah, aku jadi merindukan sosok putih itu. Bagaimana dia nanti setelah aku pergi? Pintu mendadak terbuka, menampakkan Anjani yang tersenyum membawakanku keperluan yang lain. Seperti alas tidur yang lebih layak dari pada sepotong kardus yang kini menjadi tempatku merebah, dan juga makanan untuk hari ini. Ia menutup kembali pintu tersebut lalu duduk di lantai meletakkan makanan yang ia bawa sambil menatapku dengan sepasang matanya yang tajam. Sampai mati aku tak akan pernah melupakan kebaikannya. Teman yang bahkan selalu datang tanpa kuminta, yang tak pernah lari saat aku terluka. "Makan dulu," ucapnya. Aku menyusul duduk si sebelahnya tentu saja dengan bantuan Anjani. Jujur saja, aku sudah kelaparan meski rasa sakit ini belum sepenuhnya hilang, tetapi nafsu makanku tetap saja stabil sepertinya biasa. Sedetik kemudian aku membuka bungkusan kantung plastik hitam tersebut. "Cuma sebungkus?" tanyaku mengerutkan dahi. Menatap Anjani yang sibuk membuka bungkus rokok baru. "Aku udah makan di sana sambil nunggu bungkusan buat kamu. Jam segini antri, banyak sopir istirahat buat makan," jawabnya panjang. Aku tak banyak bicara. Kubuka bungkusan nasi yang masih hangat. Ia kembali menyulut rokok dan memperhatikan sekitar. "Masih sakit?" tanya Anjani menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki diikuti kepulan asap beraroma tembakau yang keluar dari bibirnya. "It's okey," balasku pendek. Ia diam, setelah kemudian aku memasukkan satu suap nasi hangat ke dalam mulut dan misuh dengan pelan. Sudut bibirku yang terluka begitu perih saat aku mulai makan, dan hal itu justru membuat Anjani tertawa dengan puas. "You're not wonder women, My dear!" Anjani berdecak dengan wajah annoying, "Kamu nggak bisa selalu baik-baik, aja, Tar." Aku masih berusaha menelan makanan dalam mulut susah payah, mengabaikan Anjani yang tengah memelototiku. Tampaknya gadis itu tak begitu menyukai jawabanku barusan. "I'm good, Jan. I mean, masih beruntung aku bisa keluar dari sana. Dan itu udah lebih dari cukup," balasku serius. Cukup lama kami saling diam menyelami pikiran masing-masing. Aku sibuk dengan makanan dan rencana ke depannya seperti apa, sedangkan Anjani ia masih asik dengan sebatang rokok yang tinggal separuh itu. "Sekarang kamu aman di sini. Pelan-pelan nanti kubawakan kasur dan keperluan lainnya." "Nggak perlu. Setelah gajian aku bisa beli sendiri. Kamu udah banyak bantuin aku," ucapku menolak. Ia tertawa miring lalu menatapku dengan geli. Bibirnya kembali mengembuskan asap tembakau beracun. "Baguslah kalau sadar diri," ucapnya kurang ajar. Ruangan seluas 6x6 itu kembali sepi. Aku sibuk dengan makanan, dan Anjani yang asik dengan sebatang rokoknya. Lagi-lagi kesunyian membebat kami dalam keheningan yang begitu tenang. Entah kenapa, bayangan Abi kembali datang menari-nari. Polahnya mulai dari awal pertemuanku sebagai peserta Maba. Saat ia mencuri tasku dan membawanya ke perpustakaan. Memaksaku untuk minum kopi pahit berdua, dan kemarin saat ia menculikku setelah pulang kerja. Kemudian menceritakan kisah tentang sisi lain Rahwana. Lantas aku tersenyum samar. Kembali kumasukkan sesuap nasi membayangkan Abi. Takdirnya begitu indah. Jalan di depan Abi mungkin tak pernah gelap. Tawanya juga mungkin tak akan lenyap. Ia terlalu banyak tersenyum. Memiliki orang tua yang utuh. Yang menyayanginya bahkan kaya raya. Ia tampan, dan mengerti. Kurang apa lagi? "Ada, tapi nggak kelihatan. Kelihatan, tapi nggak bener-bener nyata." Tiba-tiba saja suara Anjani membuat segala bayangan tentang Abi lenyap seperti kabut asap. Aku menoleh menatap Anjani yang ternyata tengah menatapku. Bibirnya kembali mengepulkan asap beracun, lantas menyunggingkan senyum. "Sama kayak kamu. Rata-rata setiap orang pasti mengukur kebahagiaan orang lain lewat apa yang mereka lihat. Bukan apa yang mereka rasakan. Apa yang kelihatan baik-baik aja, belum tentu bener-bener baik-baik aja. Pun sebaliknya, apa yang kelihatannya hancur berantakan, nggak selalu begitu kenyataannya, Tar," imbuh Anjani santai. Selalu demikian. Senyum tak pernah pudar. Mata bulatnya yang teduh memberikan kesan baik bahwa ia adalah seseorang yang selalu sigap untuk mendengarkan. Kemudian ia menatapku sambil melumat putung rokok dengan tangan ke atas plastik kosong. "Kalau aku bilang semua manusia itu makhluk paling munafik, kamu terima?" tanyanya. Aku terdiam. Ia tak memberi kesempatan padaku untuk menjawab karena tawanya terdengar menyenangkan. "Harus terima, Tar. Dunia ini emang dipenuhi sama manusia munafik. Mereka ketawa dan kelihatan bahagia, padahal di dalam berantakan. Mereka selalu sok kuat, padahal sebenernya udah mentok pengen mati, aja. Bukan kamu yang aku maksud, tapi semuanya." "Aku nggak yakin semua orang gitu," balasku menyatukan alis tanpa menatapnya. "Karena kamu cuma meyakini apa yang udah kamu lihat. Kayak Abi misalnya," ucap Anjani meluruskan kedua kakinya dan menggunakan kedua lengannya untuk menopang tubuh ke belakang. Rambut panjang yang tergerai hitam itu bergoyang pelan. Kutatap ia lekat-lekat. Dari mana Anjani tahu kalau aku sedang memikirkan Abimanyu? Ah, mungkin dengan kemampuan sixth tense yang dia miliki? "Percaya deh, dia emang b******k. Tapi, kisahnya nggak jauh beda sama kamu. Untuk sekarang, dia emang beruntung. Tapi, jalan di depan yang terang benderang bisa jadi jalan buntu yang bikin dia makin tersesat," sambung Anjani misterius. "Kamu ngomong apa, sih? Nggak paham aku," ucapku seperti orang bodoh. Tanganku yang lemas meremat kertas nasi yang sudah kosong tak bersisa dan memasukkan sampah ke dalam plastik. Ia kemudian tertawa lagi. Lebih kencang dari sebelumnya. "Nggak ada, cuma kebawa dongeng yang pernah k****a aja. Penulisnya misterius, sajaknya lumayan, karyanya juga biasa aja. Tapi judulnya bikin aku suka." "Kamu baca buku?" Kutatap wajahnya yang tak pernah murung. Anjani terlalu misterius. Ucapannya belakangan ini, seolah sedang meramal apa yang nanti akan terjadi. Ia melepaskan sepatu dan melemparkannya ke sudut ruangan tepat di belakang pintu. "Lah, iya. Menurutmu? Cewek kayak aku nggak pantas pegang buku? Sembarang, Cuk!" katanya sambil merebahkan diri, "numpang rebahan sebentar. Satu jam lagi aku mau balik," susul Anjani. "Balik ke mana?" tanyaku. Kuberesi bungkus nasi dan abu rokok yang berceceran di lantai. Kulirik ia yang memejamkan mata dengan posisi telentang. "Ke tempat di mana kamu nggak bisa nemuin aku, Tar." Suasana kembali hening, hanya sesekali terdengar suara gesekan dedaunan. Jangkrik yang menyanyi malam itu menemani lamunan panjangku. Meski terkesan biasa saja dan bahkan seolah aku menikmatinya. Tak bisa kupungkiri bahwa sesekali anganku berkelana, mencari jawaban atas pertanyaan kapan hidupku akan berubah? Apakah mungkin selamanya akan terus bergelut dengan luka-luka, atau sebaliknya? Sama seperti manusia pada umumnya, aku pun ingin bahagia. Namun, karena terlalu banyak rasa sakit yang hadir dan nampak jelas di atas kulit, rasanya ingin kutinggalkan dunia ini. Mati dengan tenang, tanpa harus menikmati rasa sakit yang kerap kali gagal. Kupandangi Anjani yang memejamkan mata. Kenapa semuanya terlihat mudah bagi orang lain? Tapi, segalanya begitu sukar untuk kulakukan. Dua puluh tahun lebih hidup menghirup udara sesak yang menikam, untuk kali pertamanya aku memutuskan ingin hidup lebih lama. Tak banyak orang yang mengenalku. Hanya Anjani yang kumiliki saat ini. Tetapi, Abimanyu juga tak pernah berhenti menemuiku. Lelaki itu ... Janji dan puisinya terasa amat nyata. Meski sesekali aku ragu, tepat pada sepasang mata yang senantiasa memberikan keteduhan. Selalu ia suguhkan kejujuran. Kutemukan swargaloka yang menawan pada manik mata hitamnya. Ada kekuatan menyusup saat ia suguhkan senyum semanis madu padaku. "Sialan!" Aku meraup wajah untuk mengenyahkan bayangan Abi sialan. Namun, sedetik kemudian aku tertawa kecil mengingat alur hidup yang berjalan secara abstrak ini. "Sejak awal mengenal rasa sakit yang kuingini hanyalah mati. Namun, setelah Kerub datang melindungi Sang Bidadari dengan kepak sayapnya yang rapuh. Keinginan untuk hidup semakin kuat. Seiring dengan kesempatan hidup yang semakin singkat. Kadang, dunia memang selucu itu bukan?" Senyumanku lenyap digantikan dengan ekspresi heran. Anjani seolah tahu segalanya yang akan terjadi. Mata yang tadinya terpejam itu, kembali terbuka. Menatapku dengan isyarat yang tak pernah bisa kuartikan. U t a r i B e r s a m b u n g! Bacanya kalem-kalem, sebagian sambil saya revisi ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN