08. I did, Tari!

1705 Kata
Sajak Tafsir Kau bilang aku burung? Jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu. Aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting yang membenci angin. Aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku yang memimpikan tanah, tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu. Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam. Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu. Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja — aku selembar daun terakhir yang ingin menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba. Sapardi Djoko Dhamono *A b i m a n y u* Masih kuamati seseorang yang duduk di bawah pohon tabebuya. Tangan yang sejak tadi bergerak mencoret buku dalam pangkuan, entah apa yang sedang ia tulis. Namun, Tari benar-benar terlihat serius. Tanpa sadar senyum merekah di bibirku. Gadis kasar dan bar-bar yang selalu menentangku dari dulu itu. Kini justru membuatku luluh pada sosoknya yang sangat sederhana. Awalnya, aku hanya penasaran tentang luka yang tersembunyi di balik baju lengan panjangnya. Tapi, ternyata takdir sudah tertulis bahwa aku harus jatuh cinta pada sosok Utari. "Lu suka sama dia?" Aku menoleh dan mendapati Gibran sudah berdiri di sebelahku bersedekap dadaaa. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan cowok berparas imut itu duduk di sana. Gibran menatapku setelah bosan memandang Utari dengan waktu yang lama. "Dari sekian banyak cewek, kenapa harus Utari, sih? Cuma cewek kayak gitu aja, kamu kejar-kejar." Aku hanya melengos. Sejujurnya malas menanggapi, namun jika tak kujelaskan, Gibran juga tidak akan paham bukan? Kini aku duduk di atas tanah bersandar pada pohon tabebuya yang sebentar lagi mekar bunganya. Pohon ini memang ditanam di sekitar kampusku berada. Berada di setiap sudut kampus dekat dengan gazebo yang biasanya digunakan untuk ngaso para mahasiswa di siang bolong saat matahari sedang gencar membakar kulit kepala. Aku mencabut sebuah rumput dan memainkannya sambil terus memandang Utari. "Justru karena dia cuma cewek kayak gitu, bisa bikin Abimanyu jadi kayak gini," ucapku ambigu. Kudengar Gibran tertawa mendengus. Aku tahu dan paham betul sejak awal memang Gibran tak menyukai Utari. Sebab gadis itu terlihat aneh dan tidak normal. Ia terlalu sering sendiri, padahal ia bisa bersosialisasi dengan anak-anak lain. Terlebih kelakuannya yang kelewat sadis saat membalas perbuatan jahilku padanya. Itulah sebab mengapa Gibran menentang perasaanku pada Utari. "Dia itu aneh, Bi. Gua nggak suka lu deket sama dia. Cari cewek lain, kan bisa," ucapnya lagi. "Cewek lain banyak, tapi Utari cuma ada satu." "Bi! Are you seriously? Dia itu bermasalah, lu nggak lihat luka-luka di tubuhnya?" Jika biasanya kami memang jarang berdebat, dan justru bersikap seperti orang gila. Saat ini aku menegakkan tubuh menatap Gibran yang sedang melayangkan protes kepadaku. "So what?" tanyaku tak mengerti, "lu pernah bilang sama gua, jangan menghakimi kehidupan orang lain sebelum tau seluk beluknya." "Dan lu tau?" tanya Gibran cepat. Aku terdiam. Ada apa dengan anak ini? Gibran sangat nggak seperti biasanya bersikap agresif dan keras kepala. Meskipun ia tak suka dengan seseorang, tapi Gibran pasti akan mendengarkan penjelasan dariku, setidaknya. "Seenggaknya gua lagi nyoba," balasku tanpa mengalihkan tatapan darinya. "Kita emang temenan, Gib. Tapi, kalau soal perasaan, sorry. Gua nggak bisa nurutin apa yang lu bilang. Sedangkan gua udah nemuin orang yang bikin gua nyaman." "Susah ngomong sama lu." Kulihat punggungnya yang semakin menjauh. Bisa kujamin, marahnya Gibran tak akan bertahan sampai sepuluh detik. Toh, nanti saat bertemu ia pasti sudah kembali seperti tidak pernah terjadi apa pun. Gadis di depanku juga masih diam di tempatnya. Jaket hitam yang ia kenakan sampai menutup sebagian wajahnya hari ini membuatku mengingat kembali pertemuan pertama dengan gadis itu. Entah kenapa aku bisa segila ini jatuh pada Utari. Padahal, benar kata Gibran bahwa banyak gadis yang lebih dari Utari. Aku merogoh tas mengambil pensil dan secarik nota. Senyum masih kusuguhkan untuk sang bidadari yang terluka. Kupejamkan mata untuk menikmati suasana agar ilham datang menghampiri. Beriak saat berkedip Tercipta sungai kecil yang mengkristal indah Isak dibebat kesunyian sesaat Jejakmu tak kentara lelaki bermata telaga Ada keindahan yang menenggelamkan di irismu Swargaloka yang sengaja kau persembahkan bagiku Sekejap, sekedip mata indah bak telaga Lenyap hilang digantikan mengalirnya sungai kecil yang mengkristal lagi Malam mengelam Menghadirkan sunyi, pun dengan rasa yang fana Tersisa sedetik untuk menatap dia Lelaki bermata telaga Setelah lenyap, bersama semburat jingga yang hadir dari ufuk timur Dia datang dalam sekejap menghadirkan cinta Dan tak kuijinkan dia menghilang meski hanya untuk sesaat Suara itu seperti ilusi. Namun, saat kubuka mata Tari masih di sana. Bersimpuh sambil menyuguhkan senyum indah padaku. Alah ... aku tau ini memang cuma mimpi. Mana mungkin Utari menerimaku secepat ini? Dalam mimpi di siang bolong itu, kepalanya teleng ke samping membuatnya terlihat semakin menggemaskan meski dengan luka lebam baru di pelipis dekat mata juga sudut bibirnya yang menyisakan darah kering. Aku tertawa menatap sekeliling yang cukup ramai. Sedetik kemudian kufokuskan diri pada sosoknya. "Sayang, kamu cuma ilusi." Kini bayangan Utari yang tersenyum mendadak kembali tegak menatapku serius. "Kamu nggak delusi, Abi." Ia bahkan bersuara. Mataku semakin membulat melihatnya lagi-lagi tersenyum. "Kamu nyata? Kamu beneran ada?" tanyaku entah pada siapa. Ia mengangguk sebagai jawaban. Sedetik kemudian wajahnya mendekat. Memangkas jarak yang ada di antara kami berdua. Kini kurasakan embusan napasnya menerpa wajahku lembut. Dan secara otomatis mataku terpejam. PLAK! "Auh! Sakit bege!" umpatku mengusap pipi kiri yang terasa panas. "Kamu bukan ilusi? Kamu bener-bener ada? Dan, perasaan ini," kata Utari dengan kalimat rumit yang tak bisa kucerna. Gadis itu sudah menyandang tas di sebelah bahu. Ia hendak beranjak, tapi tanganku sudah lebih dulu menahannya sehingga kini kami kembali bersipandang. Kugenggam lengan yang terbungkus jaket hitam itu, lalu fokusku menusuk tepat pada iris matanya yang indah. Kini ia duduk bersimpuh di bawah pohon berhadapan denganku. Matanya sayu dengan luka yang semakin membiru tersebut kusentuh dengan amat sangat pelan. Seolah-olah Tari adalah sebuah patung paling rapuh yang akan hancur hanya karena embusan angin. "Siapa, Tar? Tolong bilang, siapa yang udah bikin kamu kayak gini?" bisikku nyaris tak bersuara. Bagaimana bisa gadis ini menerima begitu banyak luka dan membiarkannya dalam waktu yang lama? Bidadari bermata sendu Menyimpan rasa dalam bisu Memendam rahasia sedalam luka yang membiru Tersenyumlah, karena hari ini, esok dan seterusnya Akan kulindungi tawamu Seiring detak jantung yang masih berdegub Selepas kubalas puisinya, aku menarik lengan Utari sampai kami saling berdekatan. Tanpa jarak. Aku bahkan tak peduli dengan beberapa mahasiswa yang bergunjing saat menatapku dengan Utari dalam posisi seperti ini. "Jangan main-main lagi, Tar. Aku bisa aja beneran cium kamu tadi," ucapku memperingati. Ia tak menjawab hanya kulihat ia meringis menahan sakit. Dahinya berkerut sedangkan sebelah tangannya berusaha melepaskan cekalan tanganku. "Let's do it! And I'm gonna die." Sesaat aku tersentak lalu tanganku turun menggenggam telapaknya yang dingin. Kusingkap lengan jaketnya hingga sebatas siku. Membuatku geram melihat tangannya yang terluka dibalut perban yang warnanya sudah memerah. Gila, gadis ini benar-benar sudah gila karena menyembunyikan luka sebasah ini di tempat seperti ini. Aku menarik tengkuk Tari seketika dan menjatuhkan sebuah kecupan singkat di bibir gadis itu. Hal yang membuat Tari berontak dan segera menamparku dengan kencang, namun hal itu tak juga membuatku melepaskan genggaman tanganku padanya. "I did it!" ucapku penuh dengan nada penekanan, "Kalau kamu nggak mau bilang, aku akan jadi orang pertama yang menemani kematianmu, Utari." Utari bungkam, aku tahu tak akan mudah mendapatkan jawaban dari gadis keras kepala ini. Namun, lewat sepasang matanya kulihat dengan jelas ketakutan itu menguasai dirinya. "Nggak akan kulepasin kalau kamu nggak mau ngaku," imbuhku lagi. "Emang kalau aku kasih tau, kamu bisa apa? Dia, bukan orang yang bisa kamu lawan," jelasnya masih berusaha melepaskan diri. "Lepasin sekarang!" nada bicaranya mulai tajam. "Kalau pun aku nggak bisa lawan dia, seenggaknya aku bisa bawa kamu lari." "Nggak perlu." Jawaban singkat itu membuatku kesal. Kusentak tangannya tanpa sadar sampai Utari kembali meringis ngilu. "Sampai kapan Tar? Sampai kamu mati, baru mau ngaku? Atau kamu masih belum percaya kalau aku serius sama kamu?" Masih belum kudengar jawaban Utari. Ia menunduk, tapi kudengar jelas helaan napasnya yang berat. Beberapa detik kami saling membisu dalam posisi aku yang masih mempertahankan genggaman ini. Kutarik pelan dagunya. Mataku melembut melihat air matanya turun. Untuk kali pertamanya, kulihat Utari menangis di depanku. Gadis ini menangis di hadapanku. Gadis yang begitu keras dan tegas. Meski dengan luka-luka yang tak kentara itu, Utari selalu terlihat sebagai gadis kuat yang sering menyendiri. Yang seolah tak pernah menyimpan kesedihan karena yang ia jalani adalah pilihan. Entah kenapa dadaaaku sesak melihatnya seperti ini. Kuusap pipinya yang basah. Ia menarik lengan yang masih kugenggam. Sejujurnya masih ingin kupertahankan Utari agar tidak lari. Tetapi, melihatnya menangis seperti itu tak ayal membuatku luluh juga. Ia bergegas pergi setelah lengannya kulepaskan. Sedangkan aku menatap punggung kurus yang semakin menjauh itu dengan kekecewaan. Padahal, aku sudah cukup senang karena ini kali pertamanya puisi-puisiku terbalas olehnya. Apa mungkin ia dijodohkan secara paksa, menikah tanpa cinta lalu mendapat penganiayaan dari suaminya? Tapi, ini terlalu dramatis, anjir! Ah, atau mungkin ia menderita self injury karena masalah keluarga mungkin? Tapi, apa iya? Luka yang tampak di tubuh Utari tidak seperti luka yang diciptakan sendiri. Lebam di wajah dan sekitar lengan, itu jelas dilakukan oleh orang lain. Atau mungkin ... "Bangsssat!" umpatku dengan kencang. Membuat perhatian orang di sekitar tertuju padaku yang musuh tak karuan. Seiring detak jantung yang berpacu makin cepat, aku masih celingukan saat sebuah peluru karet melesat tepat di sebelah wajahku. Hampir saja mengenai kepala dan kini menancap pada batang pohon tabebuya yang menjadi tempatku bersandar. Dengan dadaaa berdebar aku mengumpat sampai ke akar-akarnya. Kepalaku menoleh ke berbagai arah untuk menemukan siapa sialan yang berani membidikku barusan. Gila saja, ia bermain-main dengan peluru karet yang bisa membuat mataku buta. Sampai kemudian kurasakan seseorang menepuk pundakku pelan. Aroma tembakau bercampur mint yang kuat menguar dari tubuhnya. Ia mengenakan jas hitam, sepatu pantopel, kaca mata hitam juga sebuah topi yang menutupi wajah. "Berhenti atau mati?" ucapnya dingin, jelas terdengar sebagai ancaman. Ia berlalu pergi setelah mengucapkan kalimat sialan barusan. Namun, sebelum sempat ia menjauh tangannya menyelipkan sebuah kertas padaku. "Jauhi Utari, atau dia akan mati." Kuremas kertas tersebut lalu kubanting ke tanah. "b******k, sialan!" teriakku tak menemukan orang itu di mana pun. *A b i m a n y u* B e r s a m b u n g ATENTTION! CERITA INI MENGANDUNG BANYAK UNSUR MELANKOLIS KALIMAT PUITIS. BAGI YANG NGGAK SUKA BOLEH SKIP JANGAN BACA. MAKASIH ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN